Back to Top

Murka Panglima

Penulis : aziz | Selasa 25 April 2017, 08:25 WIB | Dibaca: 235 Kali | Kategori : Serba serbi|Siak

Makam Putri Kaca Mayang di Desa Gasib kecamatan Koto Gasib Kabupaten Siak. foto. aziz

Dua orang paling penting di kerajaan itu sama-sama memilih pergi. Bermula dari kematian putri.

Ini kali pertama Panglima Gimbam murka sejadi-jadinya. Mata lelaki sakti ini melolot, giginya gemeretak, tubuhnya menggigil saat melihat orang-orang bergelimpangan tak bernyawa. “Apa yang terjadi yang mulia?” Gimbam bertanya kepada Raja Gasib yang termenung di istana.

“Pasukan Raja Aceh datang menyerang,” kata Raja.

“Hamba bersumpah yang mulai, untuk membalaskan ini semua. Dan hamba akan membawa pulang tuan putri,” tegas suara Panglima Gimbam. Bara amarah masih menggelegak di dadanya.

“Pergilah. Bawa pasukanmu,” Raja Gasib merestui keinginan sang panglima.

Adalah kerajaan Gasib di hulu Siak Sri Indrapura sekarang. Sang raja punya putri semata wayang bernama Kaca Mayang. Kecantikan sang putri sudah berpendar ke seantoro negeri. Meski begitu, tak ada yang berani melamar sang putri lantaran takut dengan Panglima Gimbam.

Tapi belakangan, Raja Aceh mencoba peruntungan. Dia mengutus dua orang anak buahnya untuk melamar sang putri. Tapi lamaran itu langsung ditolak oleh Raja. Inilah yang membikin Raja Aceh marah besar.

Sangking marahnya, dia yang langsung memimpin penyerbuan ke Gasib. Tujuannya, selain memberi ‘pelajaran’ kepada Kerajaan Gasib, juga akan mengambil paksa sang putri.

Raja Gasib sudah menduga serangan akan datang. Hanya saja, dugaannya meleset, dia menyangka kalau Raja Aceh akan nongol dari sungai, makanya dia suruh Panglima Gimbam berjaga-jaga di sungai Siak itu.

Yang ada justru, Raja Aceh memilih menyerbu lewat darat. Dia memanfaatkan pemuda Gasib menjadi penunjuk jalan hingga kemudian sampai ke komplek kerajaan. Kerajaan dibikin rusak masai, Putri Kaca Mayang pun diboyong paksa.

“Hei Raja Aceh! Kembalikan sang putri kepada kami, atau kerajaan ini saya porakporandakan!” hardik Panglima Gimbam di halaman istana Raja Aceh. Di kiri kanan panglima berdiri kokoh dua ekor gajah raksasa.

Bukan main kagetnya Raja Aceh melihat pemandangan di depannya. Dia tak menyangka gajah ganas yang dia siapkan untuk menghadang Gimbam, justru bisa jinak dan dibawa ke depan istana.

Tak mau ambil resiko, Putri Kaca Mayang langsung diserahkan. Tapi penampilan putri sudah awut-awutan dan sakit. Gimbam tak sempat mempersoalkan itu. Dia langsung membawa putri dan pasukannya ke Kerajaan Gasib.

Tapi sayang, saat mengarungi Sungai Kuantan, putri meregang nyawa. Meski teramat sedih, Gimbam tetap membawa putri pulang. Dia tak membayangkan sesedih apa raja kelak saat melihat putrinya pulang sudah tinggal mayat.

Di kejauhan, Raja Gasib nampak senang melihat rombongan Panglima Gimbam datang. Tapi hanya sekejab. Sebab ada yang aneh, kenapa putri justru dibopong. Bukan berjalan atau ditandu?

Setelah tahu apa yang terjadi, tak ketulungan sedihnya raja termasuk semua rakyat kerajaan. Kesedihan inilah yang membikin raja memilih pergi ke pengasingan di Gunung Ledang, Melaka. Dia menitipkan kerajaan kepada Gimbam.

Meski berat hati, Gimbam menerima amanah itu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Raja Gasib tak kunjung datang. Panglima makin tak enak hati.

Lantaran kerajaan sudah aman-aman saja, dia pun mengikuti jejak raja, pergi dari kerajaan menyusuri sungai Siak ke arah hulu. Hampir sampai ke pertemuan sungai Tapung Kiri dan Tapung Kanan, panglima memutuskan untuk naik ke darat. Di sana dia membikin perkampungan hingga kemudian bernama Senapelan dan sekarang dikenal bernama Pekanbaru. (dari berbagai sumber)

 


Editor : Aziz



Ingin mengirimkan berita menarik di sekeliling anda ? SMS ke nomor : 0822 8311 0007 atau kirim Email ke alamat : redaksi@katakabar.com (harap cantumkan data diri anda).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :



 

Download Aplikasi Android