Back to Top

Cerita Perempuan Andalan Penoreh Canting

Penulis : aziz | Selasa 02 Mei 2017, 14:08 WIB | Dibaca: 178 Kali | Kategori : Lifestyle|Pelalawan

Fitri (meniup canting) bersama teman-temannya saat membatik di Rumah Batik Andalan Pangkalan Kerinci, Kamis pagi pekan lalu. foto. aziz

Perusahaan telah membikin para perempuan ini menjadi andalan di rumah tangga dan juga daerah. Sebab lewat tangan mereka tradisi budaya terjaga. 

Pangkalan Kerinci (katakabar) - Lima orang perempuan itu sedari tadi mengerumuni wajan malam (lilin) cair yang ada di tengah mereka. Wajan yang bertengger di atas anglo (kompor kecil).

Bergantian tangan-tangan itu mencelupkan canting yang mereka pegang ke wajan berisi malam tadi. Tak jauh dari mereka ada pula yang melukis motif di atas kain. Tak ada suara, semuanya larut dalam pikiran masing-masing.

Di sudut pintu masuk, lemari kaca penuh berisi hasil karya mereka. Ragam motif tersusun indah di dua rak yang ditata rapi. Di rak atas khusus batik tulis dan dibawah batik semi tulis. Dibilang batik tulis lantaran hasilnya adalah paduan metode printing dan tulis.

Di depan lemari kaca tadi, beberapa lembar kain batik digerai. Motifnya juga macam-macam. Mulai dari motif Bono, Bono Akasia dan sederet motif lain ada di sana, di Rumah Batik Andalan (RBA) yang sudah sejak empat tahun lalu dibina oleh PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

RBA berukuran 8x7 meter itu berada di komplek Balai Pelatihan dan Pengembangan Usaha Terpadu (BPPUT), Community Development (CD) Program RAPP, Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan.

"Yang digerai ini, batik yang baru selesai. Nanti dilipat dan disusun di lemari," kata Fitri Rahmadani, salah seorang di antara lima perempuan tadi saat berbincang dengan katakabar.com, kamis pagi pekan lalu.

Tak pernah terbayang oleh perempuan 32 tahun ini bakal piawai membatik seperti sekarang. Sebab di kampungnya di Pangkalan Kerinci, tak ada aktivitas semacam itu. Kalaupun ada kerajinan dari kain, paling tenun songket.

Tapi setelah perusahaan pabrik kertas terbesar di Asia Tenggara itu menyodori mereka untuk dilatih menjadi pebatik, semuanya berubah.

Tak hanya urusan keterampilan yang kemudian ada, tapi kocek merekapun sudah bisa dirogoh untuk membeli rumah lewat fasilitas kredit, beli sepeda motor, peralatan lain dan biaya anak-anak, dari hasil membatik itu. "Alhamdulillah, kami sudah bisa jadi andalan di rumah," ujar ibu tiga anak ini.

Tak terasa Fitri terbayang kisah lalu, awal-awal mereka ikut pelatihan membatik. Saat itu, yang ikut pelatihan mencapai 100 orang. Tapi lantaran banyak yang ndak sabar, perlahan jumlah mereka menciut hingga yang tersisa hanya 10 orang.

"Awal-awal dulu memang susah. Untuk menutupi minyak sepeda motor saja ndak cukup. Saya malah sempat ingin berhenti saja membatik. Tapi itu urung. Saya dan teman-teman berusaha sabar. Ada keyakinan kami bahwa usaha ini akan maju. Soalnya perusahaan sangat mensupport," cerita Fitri.

Prediksi Fitri tak meleset. Dua tahun kemudian, persis 2015, perusahaan mulai memesan batik bikinan mereka. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, mencapai 1500 lembar kain.

Siti Nurbaya 50 tahun, yang sehari-hari menjadi pimpinan kelompok RBA ini, sumringah. Apalagi setelah sejumlah satuan kerja di Pemerintahan Kabupaten Pelalawan dan orang di Pekanbaru mulai memesan, semangat mereka kian membuncah. "Nggak sia-sia memupuk kesabaran," kata Fitri.

Yang paling membikin perempuan ini terharu, bahwa perusahaan tak pernah jera untuk terus mensupport mereka. "Kami tak sekadar di kasi ilmu, tapi juga dikasi tempat usaha dan dibantu pemasaran. Ini sangat luar biasa bagi kami," katanya.

Kini, tak kurang dari 100 lembar kain batik tulis dan semi tulis bisa mereka produksi dalam sebulan. "Bikin batik tulis itu lebih lama. Bisa seminggu. Sementara batik semi tulis hanya 4 hari," terang Fitri.

Lantaran membikinnya lebih lama, harganya pun lebih mahal dibanding batik semi tulis. "Harga batik tulis itu antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per helai. Sementara semi tulis hanya di kisaran Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per lembar," Fitri merinci.

Walau makin hari makin sibuk, Fitri dan kawan-kawan masih tetap kepikiran bahwa hasil karya mereka musti mendapat pengakuan.

Makanya sejumlah motif dari sederet motif yang mereka bikin, mulai dipatenkan. Hingga tahun ini, sudah 5 motif yang menjadi hak paten RBA; Bono, Akasia, Ekaliptus dan Lakum.

Tahun lalu, jejak mereka mulai diikuti oleh kaum perempuan di Kuantan Singingi. Perempuan di sana pun dibina oleh RAPP untuk mengembangkan motif jalur Andalan.

Sampai sekarang sudah ada 15 orang pengrajin batik di sana. Lantaran masih baru, dalam sebulan mereka baru bisa menghasilkan 80 lembar kain batik.

Bagi Fitri, membatik tidak lagi hanya sekadar mendapatkan uang. Lebih dari itu, perempuan ini dan juga teman-temannya yang sudah lolos dari masa paling sulit sadar bahwa motif yang mereka toreh di lembaran kain yang kemudian dinamai batik, adalah kekayaan daerah yang harus dilestarikan.

Perusahaan yang membina merekalah yang kemudian membikin mereka sadar bahwa tradisi budaya tidak melulu dipertahankan dan ditunjukkan lewat bunyi-bunyian, tapi lewat selembar kain, juga bisa.


Editor : Aziz



Ingin mengirimkan berita menarik di sekeliling anda ? SMS ke nomor : 0822 8311 0007 atau kirim Email ke alamat : redaksi@katakabar.com (harap cantumkan data diri anda).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :



 

Download Aplikasi Android