Back to Top

Kelas Tanpa Dinding Pulau Sugi (2)

Penulis : aziz | Senin 26 Juni 2017, 06:51 WIB | Dibaca: 78 Kali | Kategori : Kabar Khusus|

Villa di Teluas Private Island. foto. aziz

Jangan pernah berpikiran kalau wisatawan yang datang ke pulau ini adalah orang Indonesia. Yang ada justru wisatawan mancanegara. Mereka datang dari Singapura, Korea Selatan, Bangladesh, Hongkong, hingga Kanada. "Kalaupun ada orang Indonesia paling 1 persen," kata Asisten Manager Guest Relations TPI, Gideon Partogi Panjaitan di restoran villa TPI.

Selain lantaran kawasan itu kental dengan nuansa kampung, signal telepon genggam juga nyaris tidak ada, boro-boro fasilitas wifi atau televisi. Kondisi semacam ini sengaja dibikin Telunas demi menghadirkan nuansa yang berbeda. Dan ternyata nuansa semacam ini sangat membikin para tamu yang datang ke TPI berasa nyaman meski harus merogoh kocek di kisaran Rp10 juta untuk dua malam.

Baca juga: Kelas Tanpa Dinding Pulau Sugi (1)

Duit sebanyak itu sekaligus untuk biaya transport pulang pergi TPI-Sekupang dan semua fasilitas yang ada di TPI, kecuali Bar. "Harga itu untuk satu villa yang dihuni maksimal dua orang. Selain makan tiga kali sehari, mereka juga mendapat fasilitas kolam renang, SPA, Kayak, dan Kits Club. Kita mewajibkan tamu menginap minimal dua malam, biar lebih santai," kata Gideon. Jika membawa anak berumur di atas lima tahun, tamu masih akan dikenai biaya tambahan Rp2 juta untuk dua malam.

Meski sama-sama wajib minimal dua malam, harga di TBR masih relatif longgar. Sepasang tamu yang datang hanya dikenai biaya Rp5,5 juta untuk transport pulang pergi TBR-Sekupang, makan dan kamar Deluxe. Ada tambahan biaya Rp1,6 juta jika membawa seorang anak berumur di atas tahun.

Kalau dipukul rata, tingkat hunian di dua tempat ini tergolong tinggi. TPI mencapai 40-65 persen sementara TBR 40-70 persen. Angka ini kemudian menjadikan Telunas Resort menjadi kawasan wisata penyetor pajak tertinggi di Kabupaten Karimun.

Khusus TBR, sejak awal berdiri, tamu-tamu dari School Group sudah ada, termasuk Etno Group. Bermula dari kedatangan sepupu pemilik resort yang memboyong anak-anak sekolah dari Singapura bertandang ke sana. Tak hanya sekadar menikmati eksotisnya alam Telunas, tapi anak-anak sekolah ini justru belajar banyak hal di kawasan itu. Mulai dari mengenal mangrove, satwa, hingga berbaur dengan anak-anak sekolah yang ada di desa terdekat.

Lama kelamaan cerita tentang ‘kelas tanpa dinding’ ini menyebar hingga ke sejumlah negara. Tak hanya anak-anak sekolah yang datang, tapi juga sejumlah mahasiswa yang kemudian belajar budaya di sejumlah desa yang ada di pulau itu. "Saban tahun kita kedatangan tamu tur budaya dari Amerika," kata William.

Desa Mentangun di Timur, Desa Pauh di Selatan, Teluk Bakau, Cengkui, Selat Binga dan Desa Sugi sudah merasakan dampak positif kedatangan para wisatawan ini. Sebab mereka tidak hanya sekadar datang, tapi juga berbagi ilmu. Jika siswa setingkat SMA yang datang, mereka akan mengajar bahasa inggris di sekolah-sekolah yang ada di desa itu. Membangun sejumlah fasilitas umum seperti jalan, sumur, pagar sekolah hingga fasilitas olahraga, malah sudah menjadi rutinitas dua kali setahun rombongan wisatawan ini.

Biasanya mereka datang pada rentang waktu Februari hingga Mei dan September hingga awal November. Jumlah yang datang bahkan bisa mencapai 250 orang. Mereka tinggal di sana sepekan. Yang tur budaya lebih lama lagi, mencapai dua minggu.

Rutinitas semacam ini membikin desa-desa yang ada mulai berbenah. Yang punya budaya lokal mulai serius menjaga kebudayaan yang ada biar lebih menarik para wisatawan yang datang. Sementara anak-anak sekolah yang sudah kadung bergaul dengan anak-anak sekolah mancanegara itu, semakin semangat belajar. Sebab tanpa sadar ada komunikasi di antara mereka untuk saling tukar pelajar.

Inilah yang kemudian membikin Telunas Resort punya pemikiran baru untuk menyekolahkan anak-anak kampung yang berprestasi ke luar negeri, khususnya ke sekolah-sekolah tamu yang datang, seperti Singapura Internasional School. "Ada pemikiran kami seperti itu dan mudah-mudahan bisa segera terlaksana," ujar William.

Seiring waktu, TBR kemudian menambah bangunan Cottage untuk Free Independent Traveller (FIT). Tapi kalau di TPI hanya untuk FIT dan Corporate Group.

Tak terasa fajar sudah menyemburat di ufuk timur. Biru laut dan cuitan burung-burung di hutan Pulau Sugi seakan menahan langkah saya untuk kembali ke Sekupang meski waktu saya menikmati alam di sana masih beberapa jam lagi menunggu trip pemberangkatan kedua pada pukul 14.00 wib.

Yang pasti, Pulau Sugi, Telunas telah menghadirkan cerita baru pada industri pariwisata di Negeri ini. Bahwa ternyata potensi alam tidak menjadi satu-satunya yang bisa membikin wisatawan mau datang dan berlama-lama di sana. Social service, pelayanan dan persahabatan yang dibangun, justru membikin bisnis wisata kian langgeng. "Mereka selalu kembali ke sini lantaran sudah menganggap kawasan ini rumah kedua mereka. membangun komunikasi layaknya keluarga, itu yang kami lakukan," ujar William.*

 

 


Editor : Aziz



Ingin mengirimkan berita menarik di sekeliling anda ? SMS ke nomor : 0822 8311 0007 atau kirim Email ke alamat : redaksi@katakabar.com (harap cantumkan data diri anda).


Berita Terkait :

Komentar Via Facebook :



 

Download Aplikasi Android