Sampah

Sampah itu, kalau dilihat dari pikiran negatif pasti tak berfaedah, menjijikkan dan membuat kita masa bodoh, emang gue pikirin, lantak lah situ, itu kan urusan pemerintah, ada dinas yang mengurus, kita kan bayar pajak. 

Mentalitas sampah macam itu melahirkan perilaku menyampah sesuka hati. Tempat menyerak yang paling lekas dan mudah adalah ke tepi jalan sambil lewat. Sering pula saya menjumpai, sampah melesap dari tingkap mobil mewah yang melintas di jalan raya. 

Yang paling brengsek adalah jiran tetangga yang suka membuang sampah saban hari ke pekarangan tanah jiran sebelah. Dia mau pekarangan rumahnya bersih tapi mengotori pekarangan kebun orang lain. Bahkan ada warga di komplek perumahan yang dengan muka selamba menyangkutkan kantong sampah di tempat penyangkut sampah milik pribadi tetangganya. Perangai manusia sampah..!

Lain soal kalau sampah dilihat dengan pikiran positif. Banyak faedah yang dapat ditambang dari sampah, mulai dari skala individu sampai ke skala industri. 

Jiran saya yang sabaran hari memulung sampah laki-bini bisa meraih penghasilan paling sedikit lima jutaan rupiah per bulan. Jauh di atas Upah Minimum Kota (UMK) Kota Pekanbaru. Dapat menghidupi dua anak. Volume sampah perkotaan jauh berkurang. 

Daur ulang sampah basah dapat menghasilkan pupuk organik untuk tanaman hias dan sayur-mayur, mulai skala pekarangan rumah sampai pertanian pinggir kota (peri urban agriculture). Sampah padat (kaca dan logam) membuat pewirausaha sampah kaya raya melalui bisnis Industri Pendaur Ulang Sampah (IPUS). Mulai skala individu, korporasi, bahkan negara. 

Hampir semua negara maju memiliki IPUS. Singapura sampai harus membeli sampah dari negara lain untuk kebutuhan bahan baku IPUS, karena jumlah penduduknya sedikit dan kebiasaan hidup bersih warganya. 

Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai 270,4 juta jiwa tahun 2020 rasanya tidak akan kekurangan sampah. Tidak perlu harus sampai mengimpor sampah yang mengandung limbah B3 dari negara lain.

Beda dengan Walikota Paris -- Eugène-René Poubelle. Keberhasilannya mengurus sampah Kota Paris membuat dia mewakafkan namanya sendiri untuk sebutan Tong Sampah (Pubelle; France). Beliau lahir di Caen (Normandia) --- kota dimana saya memperdalam Bahasa Perancis 1998.  

Walikota yang ahli hukum, administrator dan Diplomat Perancis yang lahir pada 15 April 1831 dan meninggal pada 15 Juli 1907 itu prihatin melihat sampah yang berserak harai di jalanan kota-kota di Perancis sehingga menyebakan Perancis ketika itu dilantak wabah penyakit menular (la peste noir) yang menelan korban ribuan penduduk meninggal dunia pada pertengahan abad XVII.

Pekerjaan pembersihan lumpur akibat pembusukan sampah itu dimulai pada awal era kebangkitan renaissance. Akan tetapi hubungan antara masalah hygienis dengan kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh kuman (mikrobia) hasil timbunan sampah yang membusuk di jalan itu baru berhasil diungkap oleh Louis Pasteur di awal abad XIX. 

Sejak itulah warga Perancis sangat peduli terhadap masalah kesehatan lingkungan. Kesadaran itu pula menginspirasi Wali Kota La Seine (nama sungai terkenal yang membelah Kota Paris) pada tahun 1884 mewajibkan warga Kota Paris menggunakan Pubelle alias Tong Sampah yang terbuat dari logam (besi) sebagai wadah untuk menampung sampah rumah tangga.

Memang tidak mudah mengurus sampah, tapi tetap harus diurus. Apalagi sudah diberi amanah. Jika tidak, siap-siaplah bersalin nama menjadi Kota Sampah. Jauh panggang dari api hendak menjadi Kota Madani. Bagaimana caranya?

Persoalan sampah sesungguhnya berkait kelindan dengan masalah persepsi-perilaku, Kebiasaan-Sikap-Budaya individu atau warga masyarakat. Hasil dari solusi pendekatan psikologis pendidikan masyarakat ini butuh waktu lama (jangka panjang), tetapi mendasar dan berdampak sistemik bagi pembangunan kota yang berkelanjutan. 

Sebaliknya, pendekatan pragmatis dengan hasil relatif cepat (jangka pendek) adalah membangun IPUS tetapi butuh investasi yang relatif besar. Jalan tengah yang bisa ditempuh adalah memadukan kedua pendekatan di atas. 

Mengurangi limbah dari sampah, melindungi lingkungan hidup, mencegah pencemaran, konservasi sumberdaya alam, penciptaan lapangan kerja, merupakan lima upaya yang sekaligus dapat diwujudkan melalui Program Seleksi Sampah Sebelum Dibuang (PSSD). 

Selebihnya serahkan ke pihak IPUS untuk menjemput sampah di tong-tong sampah milik warga hasil PSSD dan membawanya ke dapur IPUS untuk didaur-ulang menghasilkan produk bernilai tambah.

Sampah akan  selalu  menjadi  persoalan  sepanjang  hayat  dikandung  badan.  Selagi  ada  manusia mengkonsumsi bahan, selama itu pula sampah akan hadir. 

Pekanbaru yang menjulang motto menjadi Kota Madani, di penghujung 2020 dan awal 2021 sekarang ini lebih menampakkan diri macam  Kota “Mada Ni” - sampah berserak dan bertumpuk di tepi-tepi jalan sekeliling pinggang Kota Pekanbaru. 

“Selalu ada cara terbaik”, kata Thomas Alfa Edison. Temukan lah…! Dari mana harus memulai? Mulailah dari niat dan kesungguhan hati individu, keluarga, tetangga, warga, masyarakat, pemerintah, dan negara.

Nama Walikota Eugène-René Poubelle menjadi besar dan legendaris karena keberhasilannya mengurus perkara sampah yang bagi kebanyakan pejabat (huruf ‘p’ kecil) dianggap kecil “If you can not do great thing, do small in a great way”~Napoleon Hill. “Leadership is action, not position” (Donald H. MacGannon). Wallahualam...


L.N. Firdaus
Pemerhati Sampah Kehidupan

Editor : Aziz

Berita Terkait