Berpotensi Ekspor, Stevia dan Ketela Rambat Dibudidaya

Katakabar.com - Petani di Karanganyar didukung mengembangkan tanaman stevia sebagai pengganti gula tebu. Budidaya saat ini masih terkonsentrasi di wilayah Kelurahan Kalisoro dan Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu yang terletak di lereng Gunung Lawu. Luasan petaknya masih sekitar lima hektare.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Karanganyar, Siti Maisyaroch mengatakan petani stevia di Tawangmangu sudah membididayanya 15 tahun terakhir.

Lantaran cukup sulit melakukan pengolahan pascapanen, belum begitu banyak yang melirik. Padahal, harga jualnya cukup tinggi. Untuk daun kering dihargai Rp 17 ribu perkilogram. Sedangkan daun basah Rp 2 ribu-Rp 3 ribu per kilogram.

"Enam kilogram daun stevia basah diolah menjadi satu kilogram daun stevia kering," tutur Kepala Dinas Pertanian Perikanan Peternakan dan Pangan Karanganyar, Siti Maesyaroch kepada Gatra.com, Senin (24/2).

Tanaman stevia menjadi pengganti gula tebu makin diminati, khususnya penderita diabetes. Kandungan kalorinya boleh dibilang nol. Ini membuat daun stevia banyak diburu industri jamu untuk pengganti gula.

Rasa daun stevia segar 10-15 kali lebih manis ketimbang gula tebu. Adapun kualitas ekstraknya diklaim bisa 200-300 kali lebih baik. Rasa manis daun stevia berasal dari kandungan di dalam daun yang disebut steviosida.

Siti mengatakan stevia layak menjadi komoditas unggulan dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri.

"Mengemban amanat pemerintah pusat untuk meningkatkan komoditas ekspor hingga tiga kali lipat. Ini upaya kami. Selain stevia, kami melirik budi daya ketela rambat di Kecamatan Ngargoyoso. Ketela rambat yang kuning utamanya diolah menjadi stick. Dikirim ke Korea untuk teman minum," ujar dia.

Menurut dia, budi daya ketela rambat kuning di Kecamatan Ngargoyoso sudah dilaksanakan dua tahun ini. Siti mengklaim produksi ketela rambat kuning di Kabupaten Karanganyar termasuk nomor satu se-Jawa Tengah. Gatra.com

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait