Hari Gizi Nasional ke 61, Remaja Sehat Bebas Anemia

Jakarta, katakabar.com - Perkembangan saat remaja sangat menentukan kualitas seseorang untuk menjadi individu dewasa. Masalah gizi yang terjadi di masa remaja bakal meningkakan kerentanan terhadap penyakit di usia dewasa serta berisiko melahirkan generasi yang bermasalah gizi.

Pesan itu disampaikan Plt Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat drg. Kartini Rustandi, M. Kes saat temu media virtual Hari Gizi Nasional ke-61 bertajuk “Remaja Sehat Bebas Anemia,” pada Jumat (22/1).

Diceritakan drg Kartini, 3 dari 10 remaja mengalami anemia, ini berpengaruh kepada masalah kesehatan yang selanjutnya.

Pihaknya menyebutkan anemia pada remaja bakal sebabkan timbulnya masalah kesehatan, seperti penyakit tidak menular, produktivitas dan prestasi menurun, termasuk masalah kesuburan.

Remaja putri yang menderita anemia berisiko menjadi wanita usia subur yang anemia, selanjutnya menjadi ibu hamil anemia, bahkan mengalami kurang energi protein. Ini meningkatkan kemungkinan melahirkan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dan stunting, komplikasi saat melahirkan, serta beberapa risiko terkait kehamilan lainnya.

“Untuk remaja putri, kami mengharapkan mereka menjadi calon-calon ibu yang sehat, sehingga pada saat mereka hamil, akan melahirkan anak-anak yang sehat, Indonesia bisa bebas stunting,” ujarnya.

Anemia pada remaja puteri kata drg Kartini, disebabkan gaya hidup yang kurang sehat. Merujuk pada data Riskesdas tahun 2018, sekitar 65 persen remaja tidak sarapan, 97 persen kurang mengonsumsi sayur dan buah, kurang aktivitas fisik serta konsumsi Gula, Garam dan Lemak (GGL) berlebihan,

Sejalan dengan drg. Kartini, Guru Besar Departemen Gizi FKM UI, Prof. dr. Endang L Achadi, MPH., DrPH menyebutkan, penyebab remaja puteri menderita anemia disebabkan 2 hal, meliputi rendahnya asupan zat gizi dan meningkatnya pengeluaran zat gizi. Tapi, di Indonesia sendiri, sebagian besar disebabkan kurangnya zat besi.

“Rata-rata makanan penduduk Indonesia mengandung zat gizi besi lebih rendah dari yang dibutuhkan untuk membentuk Hb. Untuk itu, asupan gizi seimbang sangat penting,” jelas Prof. Endang.

Dijabarkannya, untuk melengkapi kebutuhan zat gizi besi pada tubuh tidak hanya mengandalkan satu jenis makanan saja, melainkan kombinasi dari berbagai jenis makananan.

“Lantaran tidak cukup cuma karbo saja, tidak cukup protein hewani dan nabati, buah saja atau sayur saja, tapi harus semua karena berbagai macam zat gizi adanya di berbagai macam makanan, sehingga kalau mau melengkapi kebutuhan semua zat besi maka pola makannya harus seimbang,” ulasnya.

Untuk mencegahnya, Kementerian Kesehatan melakukan intervensi spesifik dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja puteri dan ibu hamil. Begitu pula Kemenkes RI sudah melakukan penanggulangan anemia lewat edukasi dan promosi gizi seimbang, fortifikasi zat besi pada bahan makanan, serta penerapan hidup bersih dan sehat.

Komitmen Indonesia untuk mengatasi triple burden of malnutritions dengan memberikan tablet tambah darah untuk remaja putri dari tahun 2016 silam.

“Kita melakukan komunikasi perubahan perilaku, diharapkan adek-adek remaja bisa menjadi agent of change untuk melakukan perubahan perilaku,” pesannya.

Masalah Kesehatan Mesti Didukung Lintas Sektor

Plt Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat drg. Kartini Rustandi, M. Kes
menegaskan, persoalan kesehatan dan gizi remaja tidak dapat diselesaikan bidang kesehatan saja, melainkan perlu dukungan dari lintas sektor dan lintas program. Termasuk dukungan dari UNICEF Indonesia.

Chief Nutrition UNICEF, Jee Hyun Rah Indonesia menimpali, Kemenkes menjalin kerja sama dengan UNICEF untuk melakukan program penanggulangan masalah gizi pada remaja, lewat Aksi Bergizi dengan 3 paket intervensi dengan memperkuat pemberian TTD mingguan bagi remaja putri, pendidikan gizi berbasis sekolah dan melakukan sosialisasi untuk perubahan perilaku. Program tersebut dilakukan pengujian di 2 tempat, di Klaten dan Lombok.

Program ini menunjukkan hasil yang positif, yang mana remaja puteri yang minum TTD meningkat, remaja yang mengonsumsi buah dan sayur meningkat, serta remaja yang melakukan aktivitas fisik juga meningkat. Dengan hasil ini, dirinya berharap kerja sama ini akan terus terjalin.

“Kami bekerjasama dengan Kemenkes untuk mengatasi masalah kesehatan dan gizi bagi remaja, kami bakal terus berusaha untuk meningkatkan kesehatan para remaja di Indonesia,” tandasnya.

Editor : Sahdan

Berita Terkait