Ini Dia Wisata Edukasi Sampah di TPA Terbaik Indonesia

Katakabar.com - Pemerintah Kabupaten Bantul belajar pengelolaan sampah ke tempat pembuangan akhir  (TPA) terbaik di Indonesia, TPA Manggar, Balikpapan. Sistem pengelolaan TPA ini bisa jadi solusi di TPA Piyungan, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang overload.

Predikat TPA terbaik itu terbukti saat pertama kali menyambangi TPA yang dikelola Pemkot Balikpapan, Kalimantan Timur, itu. Usai melintasi pintu gerbangnya, sama sekali tak tercium bau menyengat sampah dan tak terlihat gerombolan lalat, seperti layaknya 'sambutan' di TPA daerah lain.

Pengunjung TPA itu justru disuguhi area publik taman nan asri sebagai sarana edukasi tentang sampah. Di sana, pengunjung disuguhi berbagai wujud manfaat positif sampah.

Antara lain berbagai peralatan listrik dengan energi yang memanfaatkan gas dari air lindi sampah. Ada pula ruang sauna dengan uap air dari api gas mentana yang diproses dari sampah.

Dengan kondisi itu, wajar saja Presiden Joko Widodo menyebut TPA ini terbaik di Indonesia saat meresmikannya pada 18 Desember 2019. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat (PUPR) pun menjadikan TPA Manggar dengan anggaran Rp160 miliar sebagai percontohan nasional.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kominfo Pemkab Bantul Fenty Yusdayati bersama rombongan, termasuk Gatra.com, mengunjungi TPA Manggar,  Kamis (27/2). Kunjungan diterima oleh Kepala UPTD TPA tersebut, Tonny Hartono.

"Kawasan ini pertama kali dikembangkan di 2007 dan resmi dibuka Januari 2012. Awalnya luasanya hanya 27,1 hektar dan sekarang sudah diperluas hingga menjadi 45 hektar," jelas Tonny.

Menurut Tonny, dengan daya tampung 700 ton, TPA ini mengelola 350-450 ton sampah per hari dari sekitar 750 ribu penduduk. Sejak awal, TPA ini menerapkan sistem sanitary landfill yang berkelanjutan yakni dengan menumpuk, memadatkan, dan menimbun sampah dengan tanah.

Namun sebelum sampah ditumpuk, gas metana dan air lindi sampah 'ditangkap' dan dialirkan di sistem perpipaan. Kedua materi itu dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk listrik.

TPA ini memiliki tujuh zona pembuangan sampah. Satu zona beroperasi dengan tiga zona cadangan, sedangkan tiga zona telah ditutup karena penuh. TPA Manggar diprediksi mampu menampung sampah hingga 20 tahun mendatag.

"Kata kunci penerapan sanitary landfill berkelanjutan adalah kedisiplinan. Tumpukan sampah dengan ketinggian maksimal dua meter harus diuruk tanah setebal 20 centimeter, baru diratakan dan dipadatkan," kata Tonny. Sumber tanah berasal dari penggalian tiga zona awal yang telah ditutup.

Sampah di tiga zona awal ini juga bisa dimanfaatkan. Namun langkah ini butuh teknologi pembakaran sampah non-organik untuk menghasilkan minyak sebagai bahan bakar. Adapun sampah organik dijadikan tanah uruk atau pupuk kompos.

"Dari zona yang sekarang beroperasi, kami bisa menggunakan gas metana sebagai bahan bakar yang sebagian disalurkan ke warga di RT 36 dan limbah air lindi digunakan untuk menghasilkan listrik penerangan jalan," katanya.

Penerapan sanitary landfill berkelanjutan ini juga menjawab tantangan setiap TPA yaitu muncunya bau tak sedap dan lalat. Ketiadaan bau dan lalat ini menjadikan perumahan dapat dibangun kurang dari satu kilometer di sisi timur TPA itu.

Menurut Asisten I Pemkot Balikapapan Syaiful Bachri, keberhasilan penanganan sampah ini mencetuskan ide untuk menjadikan kawasan TPA Manggar sebagai objek wisata edukasi sampah sejak dua tahun lalu.

"Sekitar dua hektar area di depan kami jadikan taman pendidikan tentang sampah yang sejak tiga tahun lalu kami jadikan muatan lokal di sekolah," jelas Syaiful.

Kawasan wisata edukasi sampah ini akan mendorong masyarakat untuk mengelola sampah dengan memisahkan sampah sejak dari sumbernya. Syaiful mengatakan, pemkot juga menerapkan jam pembuangan sampah pada pukul 18.00-06.00 WIB. Di luar jam itu, warga atau armada sampah akan mendapat sanksi.

Fenty mengapresiasi langkah Pemkot Balikpapan dalam mengelola sampah. "Penanganan sampah di TPA Manggar sangat ideal diterapkan di TPA Piyungan yang selama ini belum mendapat solusinya. Namun itu menjadi ranah Pemda DIY. Pemkab Bantul bisa meniru dalam menciptakan ekosistem persampahan di tingkat hulu," katanya.

Sistem Jaring Pengaman Sosial (JPS) bisa menjadi ujung tombaknya. Petugas JPS di tingkat desa dapat ditugaskan memberi edukasi ke masyarakat untuk memisahkan sampah sejak dari rumah.

Pemkab Bantul bisa meniru jam pembuangan sampah pada malam hari sehingga masyarakat tertib mengelola sampah. Fenty juga mengakui selayaknya anak-anak diajak mengelola sampah sejak dini melalui pendidikan muatan lokal di sekolah.

"Pelajaran penting lainnya, iuran persampahan yang diterapkan Pemkot Balikpapan rasanya bisa dicontoh karena itu mendorong masyarakat untuk lebih peduli sampahnya," ujarnya.

Di Balikpapan, iuran tiap orang Rp5000 per bulan mampu membantu 25-30 persen biaya penanganan sampah oleh pemkot yang mencapai Rp65 miliar per tahun. Gatra.com

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait