Khitanan dan Tarian Jaran Kepang di Karanganyer 1

Duri, katakabar.com - Doa keselamatan Sunat Rasul sekaligus doa Akikah Panca Radika Setiawan Putra dari Ketua RT 02, Siswanto dipandu Ustadz Mbah Sujatno, digelar pada Jumat (13/5) sekitar pukul 19.30 WIB malam di Jalan Karanganyer 1, Kelurahan Air Jamban, Kecamatan Mandau.

Kegiatan yang dihelar di rumah Ketua RT 02 itu turut dihadiri Lurah Air Jamban, Rahmadhani dan mengaminkan doa keselamatan.

Sunat Rasul atau Khitanan sebuah tradisi masyarakat muslim saat anak laki-laki menginjak umur 6 hingga 12 tahun, sebagai tanda anak laki-laki tersebut telah akil balik.

Uniknya, keluarga besar Ketua RT 02 ini h
menyiapkan hiburan tarian tradisonal Jawa, dengan menampilkan sekelompok prajurit perang yang tengah menunggang Kuda Lumping atau disebut tarian Jaran Kepang atau Tarian Jathilan.

Setelah Doa dan makan bersama para tamu undangan tersebut, di halaman rumah Ketua RT 02 disuguhkan tarian yang berasal dari Ponorogo tersebut untuk menghibur pihak keluarga hajatan dan sekaligus menghibur para tamu undanga.

Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda, dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang digelung atau dikepang.

Tarian kuda lumping biasanya menampilkan adegan prajurit berkuda, tapi Paguyuban Tradisonal Jawa Kuda Lumping Sawung Walingi dalam
penampilannya menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut.

Jaran Kepang bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Ponorogo Pulau Jawa. Tarian ini diwariskan kaum Jawa yang menetap di Pulau Sumatra.

Konon, tari kuda lumping ada pula versi yang menyebutkan, tari kuda lumping menggambarkan kisah seorang pasukan pemuda cantik bergelar Jathil penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan Lodaya di serial legenda Reog abad ke 11.

Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri.

Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Editor : Sahdan

Berita Terkait