katakabar.com - Gelombang laut di bibir pelabuhan Bandar Sri Laksamana di pulau seberang, Bengkalis tampak tenang berkejaran hingga ke tepian terhenti di dinding kapal sedang bersandar, dan karang, serta turap beton.
Sedari tadi, para calon penumpang, kendaraan roda dua dan roda empat beda latar belakang antre panjang jenuh mulai tak sabar menunggu arahan dari petugas pelabuhan menaiki kapal.
Di tengah hiruk pikuk penduduk Bengkalis melakukan aktivitas ada sosok figur publik yang tegas, dan aktif sebagai birokrat tulen pemerintahan belum begitu tersohor.
Figur publik yang satu ini memiliki jiwa kepemimpinan melekat harmoni sastra, organisatoris, dan semangat olahraga yang mendunia selaras dengan sisi lain penuh kelembutan.
Adalah Darma Firdaus Sitompul, SAP, M.Si., AIFO., disapa Ucok bukan sekadar pemimpin di atas kertas atau lapangan. Figur kelahiran Bengkalis, 30 Januari 1986 lampau ini ternyata memiliki denyut nadi yang begitu dekat dengan dunia seni, yakni puisi dan sastra.
Menemukan Rumah di Antara Kata dan Rima
Bagi Darma Firdaus Sitomoul, menulis dan membaca puisi bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan sebuah bentuk perayaan atas kejujuran rasa. Kecintaan yang mendalam pada seni mengambil peran lebih jauh dari sekedar penikmat. Lihat, periode 2019 hingga 2023 lalu, ia dipercaya pegang tampuk kepemimpinan sebagai Ketua Rumah Sastra Bengkalis (RSB).
Di bawah kepemimpinannya, RSB menjadi wadah yang menghidupkan ekosistem literasi lokal, tempat di mana para penyair, pemikir, dan pencinta seni berkumpul berkumpul makna. Baginya, puisi adalah medium terbaik untuk merangkum kompleksitas kehidupan, mulai dari renungan spiritual, dinamika sosial, hingga kecintaan yang mendalam terhadap tanah kelahiran.
Di Antara Harmoni Ketegasan dan Kelembutan
Menariknya, kecintaan pada puisi tidak membuat langkahnya di dunia kepemimpinan melunak dalam artian negatif: justru sebaliknya, seni memberikan jiwa pada setiap keputusan yang diambilnya.
Keseharian Darma adalah potret dari sebuah lingkaran multitalenta yang luas:
• Pengabdi Negara: Berdedikasi sebagai pegawai di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bengkalis sejak tahun 2009 hingga saat ini.
• Tokoh Olahraga: Jiwa kompetitif dan kepemimpinannya membawa kepercayaan memimpin KONI Kabupaten Bengkalis selama dua periode berturut-turut (2018–2023 dan 2023–2027).
• Dunia Bisnis & Kewirausahaan: Pernah menjabat sebagai Bendahara Umum HIPMI Riau (2014–2017) dan Ketua APJI Kabupaten Bengkalis (2015–2019).
• Aktivis Sosial & Keagamaan: Aktif sebagai Bendahara Umum BKPRMI Riau (2024–2029) dan Ketua Umum Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kabupaten Bengkalis (2021–2026).
Di tengah kesibukan yang luar biasa—termasuk saat ini tengah menempuh studi sebagai Kandidat Mahasiswa Doktor di Universitas Islam Riau—ia tetap merawat kepekaan kreatifnya sebagai seorang penulis dan pencinta puisi.
Pena Menuliskan Kebaikan
Bagi Ucok, puisi dan kepemimpinan memiliki benang merah yang sama: keduanya menuntut ketulusan, visi, dan empati. sama bait-bait puisi yang berupaya merangkai kata demi memberikan arti, perjalanan hidup adalah sebuah komitmen untuk terus berkembang, memberikan hasil kerja terbaik, serta menebar manfaat bagi masyarakat luas.
Dari balik jeruji Lapas tempatnya mengabdi, hingga gelanggang olahraga dan panggung sastra, Darma Firdaus Sitompul membuktikan seseorang bisa menjadi pemimpin yang tangguh di medan laga, sekaligus seorang penyair yang lembut merawat hati nurani di bumi Melayu.
Puisi Karya Darma Firdaus Sitompul, yakni:
Di Ujung Koma, Senyummu
Umpan-umpan itu tak lagi agung Barisan kata menyerah menuju titik Kusajakkan dirimu saat membiarkan rindu Mengindahkan luka pada palung hati paling sunyi
Perihal bulir-bulir yang jatuh tak terseka Seabai sebab pedih itu merintih Adalah hal antara samudra dan tepian pantai Menerpa sepoi dari balik tebing-tebing curam yang kaulukis di mataku
Engkau tak tereja Sedangkan koma kautitip pada senyummu
(Bengkalis, 05042021)
Kepada Cebu dan Pulauku
Tempias debu itu menerpa mukaku Di kelilingi laut-laut yang membentang ke cina Dan bukit-bukit yang mengokohkan segumpal tanah ini Kausenandungkan pelan namamu di tiap angin yang melewati telingaku
Malam yang mengeluarkan sedikit bintang itu, sepi Dan perempuan jalanan melontarkan kata Tagalog semu seketika menguncupkan bunga kehidupan Ke mana? Kemana! Engkau, kamu dan semua teman-teman disana? Kenapa! Kenapa tak tahan sebentar saja? Padahal irama itu baru dimulai Gendang perang baru ditabuh Dari cebu di malam hari Kuteriakkan sepi Berhenti, jangan kaulari
Tempias debu-debu itu kini menyatu dengan tetesan bersama embun pagi itu Mengaburkan kenangan tentang persatuan dan kebersamaan Dan dosa itu kini abadi Gemuruh roda-roda dari ban truk kontainer yang melaju Kau berhenti dengan rem kaki yang tak pernah kau injaki
Lirih-lirih itu berhenti di simpang kota mandaue
Hotel mayo yang sunyi Saat subuh tak berbunyi Tiada arti
Dari cebu dimalam hari Kuteriakkan sepi Dan pulau-pulau abadi menyatu dalam hati Mencari getir yang mencoba lari Dari cebu di malam hari tertutupi debu orang-orang mati
(Cebu, Filipina, 02052021)
Sajak Purba
Wahai jenggala raya
Di mana tertitip kata-kata
Dari sembunyi yang tak hilang
Aku tertuduh sumpah
Oleh ucapan di tanah ini
Sedang rindu kautoreh pada jejakmu
Aku terbiar
Di bait puisi purba
Tak terbaca
(Bengkalis)
Persimpangan
Jalan-jalan berbatu Selokan-selokan sumbat Dan pohon-pohon mati Adalah aku
Gema tertebing Suara samar-samar Burung-burung mati Adalah kamu
Perlintasan itu hilang Disambar angin sepoi-sepoi Dari balik pohon
Di bawah senyummu
Aku adalah kamu Dipersimpangan sepi Menanti abadi Mejelang pagi
Aku, kamu dan semua tangis Adalah sisa-sisa pertempuran Sebelum hujan
(Bengkalis, 28112021)
Puisi-puisi dalam antologi Darma Firdaus ini tidak hanya sarat dengan personifikasi. serupa tampak pada kutipan puisi di atas, depersonifikasi pun banyak digunakan untuk melukiskan situasi ke-batinan dalam hubungan antarpribadi. Hubungan rindu antara “aku” dan “kau” banyak digambarkan melalui deskripsi yang dirangkai dari berbagai benda dan peristiwa sehari-hari. Deskripsi semacam itu menunjukkan adanya persenyawaan antara manusia, alam, dan peristiwa".
(Joko Pinurbo, penyair indonesia)
Mereka yang membaca puisi dalam buku Darma Firdaus ini memang perlu mengerutkan kening, ulang sampai pada ujung khayalan: segala kenang ada tempat pulang. Kata-kata sepedih apa mana, serupa vitamin yang menguatkan, bisa menjadi bunga. Karya tak biasa, lahir dari tangan luar biasa, jadi inspirasi pencinta puisi. Tahnia".
(Kunni Masrohanti, Ketua Penyair Perempuan Indonesia)
Figur Darma Firdaus Sitompul Melekat Harmoni Sastra dan Semangat Olahraga dalam Jiwa Kepemimpinan
Diskusi pembaca untuk berita ini