Teknologi

Sorotan terbaru dari Kategori Teknologi

Hisense Perkenalkan RoamView, Layar Bisa Mengikuti Aktivitas Penggunanya Teknologi
Teknologi
11 jam yang lalu

Hisense Perkenalkan RoamView, Layar Bisa Mengikuti Aktivitas Penggunanya

Tiongkok, katakabar.com - Hisense, merek peralatan elektronik dan rumah tangga terkemuka di dunia, memperkenalkan RoamView, produk terbaru dari Lifestyle Series. RoamView hadir untuk menjawab kebutuhan sederhana dalam kehidupan modern: pengalaman menikmati layar tidak lagi harus terpaku di satu ruangan atau posisi tertentu. Mulai dari mencari resep saat memasak di dapur, berolahraga di ruang keluarga, hingga bersantai sambil menonton film sebelum tidur, pengguna kini membutuhkan layar yang dapat mengikuti aktivitasnya. Televisi konvensional memiliki posisi tetap, sementara tablet terkadang belum mampu memberikan pengalaman menonton dengan ukuran layar yang imersif. Hisense menghadirkan RoamView yang menawarkan keleluasaan maksimal untuk menikmati konten di mana saja. Pengguna bisa membawanya dari satu ruangan ke ruangan lain, kemudian memutar, memiringkan, atau mengangkat layarnya agar mendapatkan sudut pandang yang paling pas. Berkat baterai bawaan yang tahan lama, RoamView dapat digunakan untuk menikmati konten favorit tanpa harus terus mencari stopkontak, baik saat bersantai, bekerja, berkreasi, maupun berinteraksi. RoamView tidak hanya untuk menikmati tayangan. Pengguna dapat menuangkan gagasan melalui fitur Whiteboard, mengembangkan proyek kreatif dengan digital sketchpad, mempercantik suasana ruangan lewat Art Gallery, hingga mengubah ruang apa pun menjadi panggung karaoke dengan Karafun. Untuk waktu bersantai, dukungan streaming 4K menghadirkan pengalaman menonton dengan kualitas gambar yang tajam dan imersif. Dari sisi performa, RoamView dibekali platform processing kinerja tinggi, RAM 8 GB, dan penyimpanan 128 GB. Kombinasi tersebut mendukung penggunaan berbagai aplikasi secara bersamaan dengan lancar, serta menyediakan ruang penyimpanan data untuk film, acara, foto, dan beragam konten favorit pengguna. RoamView melengkapi lini CanvasTV yang menghadirkan karya seni digital sebagai bagian dari interior rumah, serta DécoTV yang memadukan desain elegan dengan pengalaman menonton premium. Kehadiran RoamView semakin memperkaya Lifestyle Series Hisense sebagai pilihan layar yang tak hanya menyatu dengan hunian, namun juga dapat berpindah mengikuti aktivitas dan kebutuhan penggunanya sehari-hari.

Peringatan Bos AI Guncang Pasar, Investor Mulai Waspadai Saham Teknologi Teknologi
Teknologi
Kemarin

Peringatan Bos AI Guncang Pasar, Investor Mulai Waspadai Saham Teknologi

Jakarta, katakabar.com - Perkembangan industri kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi perhatian pasar setelah sejumlah pemimpin perusahaan AI terbesar di dunia mulai menyerukan agar laju pengembangan teknologi tersebut tidak dilakukan tanpa batas. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran investor dan menekan saham-saham yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pendorong utama reli sektor teknologi. CEO Anthropic Dario Amodei menjadi salah satu tokoh yang paling vokal. Ia menyerukan agar industri AI memperlambat pengembangan teknologi frontier untuk memberikan lebih banyak waktu bagi perusahaan, pemerintah, dan peneliti untuk memastikan sistem AI dapat dikembangkan dengan lebih aman. Seruan tersebut kemudian mendapat dukungan dari CEO OpenAI, Sam Altman serta Elon Musk. Situasi ini menjadi perhatian pasar karena Anthropic dan OpenAI merupakan bagian penting dari ekosistem AI yang selama ini mendorong investasi besar-besaran pada chip, pusat data, cloud computing, dan infrastruktur teknologi. Kekhawatiran Terhadap Perkembangan AI Dalam pernyataannya, Amodei memperingatkan bahwa kemampuan model AI berkembang sangat cepat dan dapat menimbulkan risiko yang semakin sulit dikendalikan. Ia bahkan memperingatkan bahwa sistem AI dapat memperoleh kemampuan untuk mengambil alih aktivitas internet dalam waktu relatif singkat apabila perkembangannya tidak dikelola dengan baik. Anthropic kemudian mendorong pendekatan yang lebih terkoordinasi untuk mengembangkan teknologi AI. Salah satu gagasannya adalah meningkatkan pengawasan independen dan evaluasi keamanan terhadap model AI sebelum teknologi tersebut dikembangkan lebih jauh. Sam Altman juga menyatakan dukungan terhadap gagasan tersebut. CEO OpenAI itu mengatakan bahwa pengembangan AI perlu dilakukan dengan ritme yang lebih terukur dan menyambut ide penggunaan evaluator independen yang memiliki akses cukup untuk menilai keamanan model. Pernyataan dari dua perusahaan AI terkemuka ini menjadi penting karena selama beberapa tahun terakhir industri teknologi justru berlomba meningkatkan kemampuan model AI secepat mungkin. Saham AI Mulai Tertekan Kekhawatiran mengenai kemungkinan perlambatan perkembangan AI langsung berdampak terhadap sentimen pasar. Saham perusahaan yang memiliki keterkaitan erat dengan AI dan infrastruktur pusat data mengalami tekanan di sejumlah pasar global. Di Asia, SoftBank menjadi salah satu saham yang mengalami penurunan tajam dengan koreksi sekitar 13,2%. Saham perusahaan semikonduktor seperti Kioxia dan SK Hynix juga ikut tertekan. Di Eropa, ASML turun sekitar 4%, sementara saham teknologi global secara umum mengalami pelemahan. Tekanan tersebut menunjukkan bahwa investor tidak hanya memperhatikan perusahaan pembuat model AI, tetapi juga seluruh rantai pasok yang mendapatkan manfaat dari meningkatnya investasi AI. Selama ini, perkembangan AI telah menjadi salah satu alasan perusahaan teknologi dan cloud meningkatkan belanja modal untuk membeli chip, membangun pusat data, serta memperluas kapasitas komputasi. Jika perkembangan AI melambat, investor mulai mempertanyakan apakah tingkat investasi tersebut masih dapat menghasilkan keuntungan sesuai ekspektasi. Ancaman bagi “AI Trade” Fenomena tersebut berpotensi mengubah apa yang selama ini dikenal sebagai AI trade di pasar saham. Investor sebelumnya banyak membeli saham perusahaan yang dianggap akan menjadi penerima manfaat dari ledakan AI. Nvidia menjadi salah satu contoh utama karena chip GPU perusahaan digunakan secara luas untuk menjalankan dan melatih model AI. Perusahaan cloud, pusat data, produsen memori, hingga pemasok energi juga ikut mendapatkan sentimen positif dari meningkatnya kebutuhan komputasi. Namun, apabila pengembangan AI mulai diperlambat karena alasan keamanan, regulasi, atau keterbatasan infrastruktur, asumsi pertumbuhan yang sangat agresif dapat kembali dipertanyakan. Investor kini perlu melihat apakah investasi AI yang sangat besar benar-benar dapat menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang sebanding. Kekhawatiran tersebut semakin relevan karena pembangunan infrastruktur AI membutuhkan modal dalam jumlah sangat besar. Bukan Berarti AI Akan Berhenti Meski demikian, seruan untuk memperlambat pengembangan AI tidak berarti industri tersebut akan berhenti berkembang. Justru, pendekatan yang lebih hati-hati dapat menjadi upaya untuk membuat pertumbuhan AI lebih berkelanjutan dalam jangka panjang. Anthropic sendiri masih memiliki prospek bisnis yang kuat dan tengah mempersiapkan rencana penawaran umum perdana atau IPO di Nasdaq. Perusahaan tersebut juga telah mencatat beberapa kuartal dengan profitabilitas yang meningkat. Di sisi lain, OpenAI terus mengembangkan berbagai produk dan layanan AI untuk konsumen maupun perusahaan. Dengan demikian, fokus pasar kemungkinan akan bergeser dari sekadar seberapa cepat kemampuan AI berkembang menjadi seberapa aman, efisien, dan menguntungkan teknologi tersebut dapat diterapkan. Apa Artinya bagi Investor? Perubahan sentimen ini menjadi pengingat bahwa tren besar di pasar saham tetap memiliki risiko. Perusahaan yang berada di pusat perkembangan AI memang memiliki potensi pertumbuhan besar, tetapi valuasi saham juga sangat bergantung pada ekspektasi investor terhadap pertumbuhan tersebut. Jika ekspektasi berubah, harga saham dapat ikut bergerak meskipun fundamental perusahaan belum mengalami perubahan besar. Karena itu, investor perlu memperhatikan tidak hanya perkembangan teknologi, tetapi juga regulasi, belanja modal perusahaan, permintaan chip, pembangunan data center, serta kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi AI. Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai koin kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang dapat menjadi pilihan bagi investor di Indonesia. Bagi investor yang baru ingin memulai berinvestasi, kamu juga tidak perlu khawatir karena Nanovest memiliki perlindungan dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui website Nanovest. Aplikasi Nanovest juga sudah tersedia di Play Store maupun App Store. Dengan munculnya peringatan dari para pemimpin industri AI, investor kini memiliki alasan baru untuk melihat kembali prospek saham teknologi. Perlombaan AI kemungkinan masih akan berlanjut, tetapi pertanyaannya bukan lagi hanya siapa yang dapat mengembangkan AI paling cepat, melainkan siapa yang mampu melakukannya secara aman, efisien, dan menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Apple Masuk ke Pasar Foldable, Bisakah iPhone Duo Saingi Samsung? Teknologi
Teknologi
Selasa, 15 September 2026 | 10:28 WIB

Apple Masuk ke Pasar Foldable, Bisakah iPhone Duo Saingi Samsung?

Jakarta, katakabar.com - Persaingan di industri smartphone semakin menarik setelah Samsung mengungkap adanya peningkatan signifikan jumlah pengguna iPhone yang beralih ke perangkat foldable Galaxy. Momentum ini datang tepat ketika Apple akhirnya memasuki pasar smartphone lipat dengan memperkenalkan iPhone Duo pada September 2026. Kondisi tersebut membuka babak baru persaingan dua raksasa teknologi. Samsung selama bertahun-tahun telah membangun posisi di pasar foldable, sementara Apple baru mulai masuk ke segmen tersebut. Bagi investor, perkembangan ini juga menjadi perhatian karena keberhasilan atau kegagalan produk foldable berpotensi memengaruhi prospek bisnis serta pergerakan saham kedua perusahaan. Pengguna iPhone Mulai Beralih ke Samsung Samsung menyebut tingkat perpindahan pengguna iOS ke seri Galaxy Z Fold8 mencapai 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan tingkat perpindahan ke generasi Fold7 dan Flip7 tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa perangkat foldable Samsung mulai memiliki daya tarik yang lebih besar di kalangan pengguna iPhone. Di Amerika Serikat, sekitar 30% pembeli Galaxy Z Flip8 disebut berasal dari pengguna perangkat merek lain. Menariknya, sebagian besar dari mereka merupakan konsumen yang baru pertama kali membeli smartphone foldable. Samsung juga berupaya membuat proses perpindahan dari iPhone menjadi lebih mudah. Melalui pembaruan fitur Smart Switch, pengguna iPhone dapat memindahkan data ke perangkat Galaxy menggunakan pemindaian kode QR tanpa perlu memasang aplikasi tambahan. Langkah tersebut menjadi strategi penting bagi Samsung karena salah satu hambatan terbesar dalam berpindah ekosistem adalah proses transfer data dan adaptasi terhadap sistem operasi baru. Samsung Punya Keunggulan sebagai Pelopor Samsung mulai memasuki pasar foldable pada 2019 melalui Galaxy Fold. Artinya, perusahaan Korea Selatan tersebut memiliki pengalaman sekitar tujuh tahun dalam mengembangkan dan memasarkan perangkat dengan layar lipat. Keunggulan sebagai pelopor memungkinkan Samsung memiliki waktu lebih panjang untuk mengembangkan desain, mekanisme engsel, software, serta pengalaman pengguna pada perangkat foldable. Apple kini harus menghadapi tantangan untuk mengejar pengalaman tersebut. Namun, masuknya Apple ke pasar foldable juga dapat memperluas ukuran pasar secara keseluruhan karena basis pengguna iPhone yang sangat besar. Menurut Counterpoint Research, Samsung diproyeksikan tetap memimpin pasar foldable pada 2026 dengan pangsa sekitar 32%, sedangkan Apple diperkirakan langsung mengambil sekitar 25% setelah memasuki pasar tersebut. Huawei juga masih menjadi pemain penting, khususnya di pasar China. Apple Akhirnya Hadirkan iPhone Duo Setelah bertahun-tahun menjadi bahan rumor, Apple akhirnya memperkenalkan perangkat foldable pertamanya yang diberi nama iPhone Duo pada acara 9 September 2026. Perangkat tersebut dibanderol mulai US$1.999 untuk kapasitas 256 GB dan mencapai US$3.199 untuk varian 2 TB. iPhone Duo memiliki layar internal berukuran sekitar 7,6 inci dan layar eksternal 5,4 inci dengan bodi berbahan titanium. Harga tersebut menjadikan iPhone Duo sebagai salah satu perangkat paling premium yang pernah diperkenalkan Apple. Pre-order dijadwalkan dimulai pada 16 Oktober, sementara penjualan perdana berlangsung pada 23 Oktober di Amerika Serikat dan lebih dari 70 negara lainnya. Peluncuran tersebut juga menjadi momen penting bagi CEO baru Apple, John Ternus, yang baru menggantikan Tim Cook pada 1 September 2026. Karena itu, iPhone Duo bukan hanya produk baru, tetapi juga menjadi salah satu ujian awal bagi arah Apple di bawah kepemimpinan baru. Saham Apple Menghadapi Efek “Sell the News” Meski peluncuran iPhone Duo menjadi perhatian besar, reaksi pasar terhadap saham Apple tidak langsung positif. Saham Apple ditutup di sekitar US$315,34, turun 0,28% setelah acara peluncuran. Pola tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Analis Bank of America Wamsi Mohan mencatat bahwa saham Apple pernah turun pada hari setelah peluncuran produk dalam 10 dari 24 acara sebelumnya. Fenomena ini sering disebut sebagai “sell the news”, ketika investor yang telah membeli saham berdasarkan ekspektasi positif sebelum sebuah acara memilih merealisasikan keuntungan setelah katalis tersebut benar-benar terjadi. Tetapi, secara historis, penurunan tersebut tidak selalu berlangsung lama. Data yang dikutip Yahoo Finance menunjukkan bahwa pergerakan saham Apple dalam pola serupa cenderung berbalik dalam rentang sekitar 30 hingga 60 hari. Persaingan Foldable Jadi Katalis Baru Persaingan antara Samsung dan Apple di pasar foldable menjadi menarik karena keduanya memiliki kekuatan yang berbeda. Samsung memiliki pengalaman lebih panjang serta portofolio foldable yang sudah berkembang. Sementara itu, Apple mempunyai basis pengguna iPhone yang sangat besar dan ekosistem produk yang terintegrasi. Jika Apple mampu meyakinkan pengguna iPhone untuk melakukan upgrade ke iPhone Duo, perangkat tersebut berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru. Sebaliknya, jika konsumen tetap memilih perangkat Samsung karena harga, pengalaman foldable, atau fleksibilitas Android, Samsung berpeluang mempertahankan keunggulannya. Bagi investor, perkembangan ini menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan karena persaingan produk dapat berdampak pada penjualan, pendapatan, hingga sentimen terhadap saham perusahaan teknologi. Pantau Saham AS dan Aset Investasi di Nanovest Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai koin kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang dapat menjadi pilihan bagi investor di Indonesia. Bagi para investor yang baru ingin memulai berinvestasi, kamu juga tidak perlu khawatir karena Nanovest memiliki perlindungan dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui www.nanovest.io. Aplikasi Nanovest juga sudah tersedia di Play Store maupun App Store, sehingga investor dapat mengakses berbagai pilihan aset investasi melalui satu aplikasi. Persaingan Apple dan Samsung di pasar foldable pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang memiliki teknologi layar lipat terbaik. Perkembangan ini juga menjadi gambaran bagaimana perusahaan teknologi besar terus mencari sumber pertumbuhan baru di tengah pasar smartphone yang semakin kompetitif. Bagi investor, respons konsumen terhadap iPhone Duo dan kemampuan Samsung mempertahankan pengguna iPhone akan menjadi cerita yang menarik untuk dipantau sepanjang 2026.

Biaya WhatsApp Naik? Ini 7 Cara Bisnis Menekannya Teknologi
Teknologi
Senin, 14 September 2026 | 17:25 WIB

Biaya WhatsApp Naik? Ini 7 Cara Bisnis Menekannya

Jakarta, katakabar.com - Barantum adalah solusi aplikasi all in one CRM terbaik untuk bisnis yang menyediakan WhatsApp CRM, broadcast, chatbot, AI Agent, omnichannel, dan call center dalam satu platform terintegrasi. Kelola dan optimalkan seluruh perjalanan customer, mulai dari customer masuk, closing, dan repeat order. Ketika balasan WhatsApp mulai diperhitungkan, bisnis tidak cukup hanya melihat tarif per pesan. Hal yang lebih penting adalah memastikan setiap respons benar-benar membantu pelanggan bergerak menuju penyelesaian. Chat panjang, pertanyaan berulang, dan perpindahan agent tanpa konteks dapat menambah biaya sekaligus memperlambat layanan. Penghematan juga bukan berarti membatasi pelanggan. Bisnis perlu mengurangi pesan bernilai rendah, memakai kanal yang sesuai, dan tetap menjaga akses ke manusia saat keputusan atau empati dibutuhkan. 7 Cara Menekan Biaya WhatsApp Ada tujuh langkah yang dapat diterapkan secara bertahap. Mulailah dari penyebab volume pesan terbesar, lalu ukur dampaknya sebelum memperluas perubahan ke seluruh alur layanan. 1. Manfaatkan kuota gratis bulanan. Prioritaskan kuota untuk interaksi yang memang membutuhkan balasan langsung, bukan untuk pertanyaan dasar yang sebenarnya dapat dijawab melalui panduan. Pantau pemakaiannya sepanjang bulan agar tim tidak baru menyadari lonjakan biaya setelah tagihan keluar. 2. Maksimalkan window 72 jam dari Click-to-WhatsApp. Siapkan jawaban utama, kualifikasi, dan tindak lanjut sejak awal agar periode gratis tidak habis untuk sapaan dan pertanyaan pembuka yang terpisah-pisah. Pastikan chat dari iklan di luar jam kerja tetap mendapat respons sesuai ketentuan. 3. Arahkan pertanyaan berulang ke FAQ atau portal self-service. Jam layanan, persyaratan, langkah penggunaan, dan panduan dasar dapat diselesaikan tanpa membuka chat. Gunakan data pencarian dan riwayat percakapan untuk menentukan artikel yang paling perlu dibuat atau diperbarui. 4. Gunakan WhatsApp Form untuk mengumpulkan data sekaligus. Nama, nomor transaksi, kategori kebutuhan, dan detail awal dapat diterima dalam satu alur sehingga agent tidak perlu menanyakannya satu per satu. Hindari field yang tidak memengaruhi routing atau keputusan berikutnya. 5. Gunakan AI secara selektif. AI sebaiknya menjawab berdasarkan knowledge base, memberi respons yang lengkap, dan menyerahkan percakapan ke manusia ketika kasus membutuhkan keputusan atau empati. Respons melalui WhatsApp tetap dihitung, sehingga kualitas jawaban lebih penting daripada jumlah jawaban otomatis. 6. Pindahkan kebutuhan ke kanal yang lebih sesuai. Pengunjung website dapat dilayani melalui Live Chat, audiens sosial melalui Facebook atau Instagram, sedangkan konsultasi atau komplain kompleks dapat dialihkan ke panggilan. Pertanyaan sederhana tetap lebih praktis melalui chat. 7. Ukur hasil, bukan hanya jumlah pesan. Pantau rata-rata balasan, waktu penyelesaian, qualified lead, deal, closing, serta percakapan yang harus dibuka ulang. Pesan yang turun karena pelanggan berhenti merespons bukan efisiensi. Jaga Pengalaman Pelanggan saat Alur Diubah Tujuh langkah tersebut baru bekerja jika perpindahan kanal dan penggunaan teknologi tidak memutus konteks. Bisnis membutuhkan satu sistem yang membuat agent tetap mengetahui siapa pelanggan, apa yang sudah ditanyakan, dan mengapa percakapan dialihkan. Barantum dapat menjadi salah satu sistem yang mendukung alur tersebut. AI Agent Barantum membantu menjawab pertanyaan umum berdasarkan knowledge base dan meneruskan kasus yang membutuhkan keputusan atau empati kepada manusia. Ketika handoff terjadi, agent perlu menerima konteks yang sudah terkumpul, bukan memulai kembali dari sapaan dan pertanyaan dasar. Dengan demikian, penggunaan AI membantu memadatkan alur tanpa mengurangi akses ke manusia. Untuk menjaga konteks ketika pelanggan berpindah kanal, Omnichannel Barantum menyatukan percakapan dari WhatsApp, Live Chat, media sosial, dan kanal lain dalam satu inbox. Ukur Dampaknya sampai Penyelesaian Buat baseline sebelum mengubah alur: jumlah percakapan, rata-rata balasan, waktu penyelesaian, dan proporsi kasus yang perlu eskalasi. Bandingkan data tersebut setelah perubahan diterapkan. CRM Barantum dapat menghubungkan histori percakapan dengan lead, pipeline, deal, dan hasil closing. Fokus akhirnya bukan mengirim pesan sesedikit mungkin, melainkan memastikan setiap respons memiliki tujuan yang jelas dan tetap menghasilkan penyelesaian, produktivitas, serta nilai bisnis yang sehat. Review dilakukan per kategori, bukan hanya secara total. Percakapan informasi, komplain, penjualan, dan dukungan teknis mempunyai kebutuhan serta nilai akhir yang berbeda. Dengan evaluasi tersebut, bisnis dapat menekan biaya tanpa membuat layanan terasa lebih sulit diakses.

Siap-siap! Balasan WhatsApp Bisnis Jadi Berbayar Per 1 Oktober 2026 Teknologi
Teknologi
Sabtu, 12 September 2026 | 19:05 WIB

Siap-siap! Balasan WhatsApp Bisnis Jadi Berbayar Per 1 Oktober 2026

Jakarta, katakabar.com - Barantum adalah solusi aplikasi all in one CRM terbaik untuk bisnis yang menyediakan WhatsApp CRM, broadcast, chatbot, AI Agent, omnichannel, dan call center dalam satu platform terintegrasi. Kelola dan optimalkan seluruh perjalanan customer, mulai dari customer masuk, closing, dan repeat order. Mulai 1 Oktober 2026, cara bisnis membalas pelanggan melalui WhatsApp Business API akan berubah. Balasan kategori service atau non-template di dalam customer service window tidak lagi gratis tanpa batas. Pesan yang dikirim agent manusia, chatbot, maupun AI tetap dihitung sebagai pesan keluar bisnis. Perubahan ini penting disebabkan biaya komunikasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah pelanggan yang menghubungi, tetapi juga oleh panjang alur dan banyaknya respons. Bisnis yang masih menanyakan data satu per satu atau mengulang jawaban dasar akan merasakan dampaknya lebih besar. Apa yang Berubah pada Biaya Balasan WhatsApp Pesan yang dikirim pelanggan ke bisnis tetap tidak berbayar. Biaya muncul ketika bisnis mengirim balasan service atau non-template. Karena itu, pembeda utamanya bukan siapa yang mengetik, melainkan apakah ada pesan keluar dari sisi bisnis. Balasan otomatis tetap perlu dihitung bersama balasan agent. Perubahan tersebut perlu diterjemahkan menjadi aturan operasional. Tim harus mengetahui kapan percakapan dimulai, jenis pesan yang dikirim, dan bagian mana dari alur yang menghasilkan respons berulang tanpa membantu pelanggan maju menuju penyelesaian. Perubahan juga perlu dibahas lintas fungsi. Marketing memahami sumber percakapan, customer service mengetahui pertanyaan yang paling sering berulang, sales melihat kualitas lead, dan finance membutuhkan proyeksi biaya. Tanpa koordinasi, satu tim dapat mengurangi pesan sementara tim lain menambah follow-up yang tidak terukur. Tujuannya bukan mengurangi akses layanan. Satu respons yang langsung menjawab kebutuhan lebih efisien daripada beberapa pesan pendek yang memecah informasi dan membuat pelanggan menunggu lebih lama. Keringanan Masih Bisa Dimanfaatkan Meta tetap menyediakan kuota 1.000 pesan service gratis setiap bulan untuk setiap akun bisnis. Kuota ini dapat menahan sebagian biaya, terutama bagi bisnis dengan volume rendah. Namun, perusahaan dengan ribuan percakapan tetap perlu mengendalikan jumlah respons setelah kuota habis. Keringanan lain berlaku pada percakapan yang berasal dari iklan Click-to-WhatsApp. Ketika pelanggan memulai chat dari iklan dan bisnis memberikan respons dalam 24 jam, window gratis 72 jam dapat terbuka sejak balasan pertama bisnis terkirim. Periode tersebut dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan, melakukan kualifikasi, dan menyiapkan tindak lanjut. Kuota dan window gratis tetap bukan pengganti desain alur. Jika agent masih meminta informasi secara bertahap atau pelanggan harus mengulang konteks, volume pesan akan kembali meningkat setelah masa gratis berakhir. Siapkan Alur Layanan Sebelum Aturan Berlaku Sebelum menambah anggaran, bisnis perlu memetakan pertanyaan berulang, jenis kasus yang membutuhkan manusia, serta kanal yang paling sesuai untuk setiap kebutuhan. Langkah ini membentuk kebutuhan terhadap sistem yang menjaga konteks ketika pelanggan berpindah dari satu jalur layanan ke jalur lain. Untuk kebutuhan tersebut, bisnis dapat menggunakan WhatsApp Business API Barantum agar percakapan pelanggan dikelola dalam alur yang lebih terukur. Penggunaannya tetap perlu disertai pemetaan jenis pertanyaan, aturan eskalasi, dan pilihan kanal agar setiap respons memiliki fungsi yang jelas. FAQ atau portal self-service dapat digunakan untuk jawaban yang stabil, Form untuk mengumpulkan data sekaligus, AI untuk pertanyaan umum, dan panggilan untuk kasus yang memerlukan banyak klarifikasi. Ketika pelanggan perlu berpindah kanal, Omnichannel Barantum dapat menyatukan chat dari WhatsApp, Live Chat, media sosial, dan kanal lain dalam satu inbox sehingga konteks tidak terputus. Tetapkan pula metrik awal seperti rata-rata balasan per percakapan, persentase kasus yang selesai pada kontak pertama, jumlah eskalasi, dan percakapan yang dibuka ulang. Data tersebut dapat ditinjau melalui CRM Barantum agar histori, lead, pipeline, dan tindak lanjut tetap berada dalam satu alur, sekaligus membantu tim menilai apakah efisiensi berasal dari alur yang lebih baik atau sekadar penurunan aktivitas pelanggan. Penutupnya, persiapan terbaik bukan sekadar mengirim pesan sesedikit mungkin. Tetapkan baseline jumlah percakapan, rata-rata balasan, dan waktu penyelesaian, lalu tinjau hasil setelah satu siklus tagihan. Detail kebijakan tetap perlu dicek melalui dokumentasi resmi Meta sebelum SOP dan proyeksi biaya ditetapkan.

Palantir dan Apple Jadi Sorotan, Saham Teknologi AS Masih Punya Katalis Pertumbuhan Teknologi
Teknologi
Sabtu, 12 September 2026 | 15:20 WIB

Palantir dan Apple Jadi Sorotan, Saham Teknologi AS Masih Punya Katalis Pertumbuhan

Jakarta, katakabar.com - Saham teknologi Amerika Serikat kembali menjadi perhatian investor seiring munculnya sejumlah katalis baru dari perusahaan besar seperti Palantir Technologies (PLTR) dan Apple (AAPL). Di satu sisi, Palantir terus memperkuat posisinya di industri kecerdasan buatan (AI) melalui ekspansi kerja sama dengan perusahaan besar. Di sisi lain, Apple bersiap memasuki fase baru dengan peluncuran produk terbarunya yang berpotensi menjadi kejutan bagi pasar. Kedua perusahaan tersebut menunjukkan bagaimana perkembangan AI, inovasi teknologi, dan ekspansi bisnis masih menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan saham teknologi AS. Namun, di balik prospek pertumbuhan tersebut, investor juga perlu mencermati valuasi saham yang sudah relatif tinggi. Palantir Perkuat Bisnis AI Lewat Kemitraan Enterprise Palantir kembali menunjukkan pertumbuhan yang kuat setelah membukukan salah satu kuartal terbaik dalam sejarah perusahaan. Pada kuartal kedua 2026, pendapatan Palantir mencapai US$1,935 miliar, meningkat 93% secara tahunan. Bisnis perusahaan di Amerika Serikat juga mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 115% menjadi US$1,573 miliar. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap platform AI dan data analytics milik Palantir, baik dari sektor pemerintah maupun perusahaan komersial. Pendapatan komersial AS bahkan tumbuh 149% secara tahunan, sementara pendapatan dari pemerintah AS meningkat 90%. Palantir juga mencatat US$2,132 miliar dalam commercial bookings di AS selama kuartal tersebut. Angka ini hampir US$800 juta lebih tinggi dibandingkan rekor sebelumnya. Perusahaan turut membukukan adjusted free cash flow sebesar US$1,22 miliar dengan margin mencapai 63%. Kerja Sama dengan PwC Jadi Katalis Baru Momentum pertumbuhan Palantir semakin diperkuat melalui ekspansi kerja sama dengan PwC U.S. Pada 3 September 2026, kedua perusahaan mengumumkan perluasan aliansi strategis yang berfokus pada penggunaan AI untuk berbagai kebutuhan enterprise, termasuk merger dan akuisisi serta modernisasi sistem ERP. Keduanya juga memperkenalkan platform transaksi berbasis AI yang dibangun menggunakan Foundry dan Palantir AI Platform (AIP). Teknologi tersebut ditujukan untuk membantu perusahaan menyelesaikan proses merger, akuisisi, dan divestasi dengan lebih cepat sekaligus menekan biaya transaksi. Palantir sebelumnya juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan dan institusi besar, termasuk Nvidia serta Angkatan Darat Amerika Serikat. Serangkaian kemitraan ini memperkuat posisi Palantir dalam ekosistem AI yang semakin berkembang. Meski fundamental bisnisnya kuat, valuasi tetap menjadi perhatian. Dengan kapitalisasi pasar sekitar US$419 miliar, saham Palantir telah menghasilkan kenaikan yang sangat besar sejak IPO. Kondisi tersebut membuat investor perlu mempertimbangkan apakah pertumbuhan bisnis perusahaan masih cukup cepat untuk membenarkan valuasi sahamnya. Apple Bersiap Hadirkan Kejutan September Sementara itu, perhatian investor juga tertuju pada Apple menjelang acara peluncuran produk pada 9 September 2026. Acara yang diberi nama “Surprise and Shine” tersebut diperkirakan menjadi salah satu momen penting bagi Apple, terutama karena merupakan peluncuran produk besar pertama di bawah CEO baru, John Ternus. Apple diperkirakan memperkenalkan lini iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Namun, salah satu rumor terbesar adalah kemungkinan hadirnya iPhone lipat pertama Apple. Perangkat tersebut berpotensi menjadi produk baru yang membawa Apple masuk lebih jauh ke pasar smartphone foldable. Saham Apple sendiri telah mencatat performa positif sepanjang 2026. Menjelang acara tersebut, saham Apple dilaporkan telah naik hampir 21% secara year-to-date dan mengungguli pasar secara keseluruhan. Jika iPhone lipat benar-benar diperkenalkan, produk tersebut dapat menjadi katalis pertumbuhan baru bagi Apple. Tetapi, investor tetap akan memperhatikan harga, penerimaan konsumen, serta seberapa besar kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan. Dua Strategi Berbeda di Era AI Palantir dan Apple menunjukkan dua pendekatan berbeda dalam menghadapi perubahan industri teknologi. Palantir secara langsung memanfaatkan pertumbuhan AI dengan menyediakan platform data dan kecerdasan buatan bagi perusahaan serta pemerintah. Sementara itu, Apple lebih mengandalkan kekuatan ekosistem hardware dan software, sekaligus berupaya mempercepat inovasi AI dan menghadirkan kategori produk baru. Bagi investor, perkembangan kedua saham ini menunjukkan bahwa peluang di sektor teknologi tidak hanya datang dari perusahaan yang membangun AI, tetapi juga dari perusahaan yang mampu mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam produk dan layanan mereka. Meski demikian, performa bisnis yang kuat tidak selalu berarti harga saham akan terus naik. Investor tetap perlu mempertimbangkan valuasi, kondisi pasar, prospek pertumbuhan, serta risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Pantau Saham Teknologi AS di Nanovest Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai koin kripto lainnya. Nanovest aplikasi investasi saham dan kripto yang dapat menjadi pilihan bagi investor di Indonesia. Bagi investor yang baru ingin memulai berinvestasi, kamu juga tidak perlu khawatir karena Nanovest memiliki perlindungan dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui website Nanovest. Bagi para penggiat investasi yang ingin menggunakan Nanovest, aplikasinya juga sudah tersedia di Play Store maupun App Store. Dengan perkembangan AI yang semakin pesat dan inovasi produk yang terus bermunculan, saham seperti Palantir dan Apple masih akan menjadi perhatian investor. Namun, memahami fundamental perusahaan dan risiko tetap menjadi langkah penting sebelum menentukan strategi investasi.

CRM WhatsApp untuk Klinik: Uraga Rilis Sistem Terintegrasi Teknologi
Teknologi
Jumat, 11 September 2026 | 09:09 WIB

CRM WhatsApp untuk Klinik: Uraga Rilis Sistem Terintegrasi

Jakarta, katakabar.com - CRM WhatsApp untuk klinik adalah sistem yang menyatukan chat calon pasien, pipeline follow-up, dan data performa iklan dalam satu dashboard. Uraga Digital Agency (PT Senang Bikin Konten) merilis paket yang menghubungkan CRM ini langsung ke Meta, sehingga data pasien yang benar-benar closing dipakai untuk memperbaiki campaign iklan berikutnya. Alurnya berjalan lima tahap. Iklan Meta mengarahkan calon pasien ke chat WhatsApp lewat format Click to WhatsApp. AI Bot membalas dalam hitungan detik selama 24 jam dan menyaring calon pasien yang serius. Percakapan masuk ke CRM sebagai lead lengkap dengan catatan sumber iklannya. Reminder H-1 dan follow-up pasca kunjungan berjalan otomatis. Data pasien yang booking dikirim balik ke Meta lewat Conversions API. Tahap terakhir yang membedakan sistem ini dari CRM yang berdiri sendiri. Setelah algoritma menerima data siapa yang benar-benar membayar, anggaran bergeser ke audiens serupa, sehingga jumlah lead naik tanpa menambah anggaran. Tim yang sama juga menyusun campaign, jadi pertanyaan yang paling sering muncul di CRM dipakai sebagai angle materi iklan periode berikutnya. Data kampanye internal Uraga menunjukkan, sistem ini sudah menangani lebih dari 5.685 lead klinik. Satu klinik gigi mencatat 3.390 lead dari anggaran iklan Rp5,5 juta selama lima minggu, setara Rp1.635 per lead. Klinik lain menurunkan cost per result dari Rp84.841 menjadi Rp14.582 dalam satu bulan optimasi. Tingkat pasien tidak hadir pada klinik yang memakai reminder otomatis tercatat di bawah 10 persen. Tersedia tiga paket. CRM Klinik Rp499 ribu per bulan tanpa pengelolaan iklan, Growth Klinik Rp3,9 juta per bulan dengan pengelolaan iklan Meta, dan Full Klinik Rp4,9 juta per bulan dengan tambahan 15 konten sosial media. Harga di luar anggaran iklan yang dibayarkan langsung ke Meta. Uraga berkantor pusat di Malang dengan kantor di Jakarta dan Surabaya, menangani lebih dari 300 brand, dan berstatus Meta Business Partner serta TikTok Marketing Partner. CRM WhatsApp untuk klinik adalah sistem yang menyatukan chat calon pasien, pipeline follow-up, dan data performa iklan dalam satu dashboard. Uraga Digital Agency merilis paket terintegrasi yang menyambungkan iklan Meta, produksi konten, dan CRM WhatsApp sampai tahap pasien benar-benar datang ke klinik. Sebagian besar klinik yang sudah beriklan menghadapi masalah yang sama. Chat masuk setiap hari, admin membalas satu per satu, lalu sebagian calon pasien hilang di tengah percakapan. Di sisi lain, Ads Manager hanya melaporkan biaya per chat, tanpa memberi tahu iklan mana yang benar-benar menghasilkan pasien duduk di kursi dokter. Data nomor pasien tersebar di WhatsApp, spreadsheet, dan catatan manual. Apa itu CRM WhatsApp untuk klinik? CRM WhatsApp untuk klinik adalah perangkat yang mengubah setiap chat masuk menjadi lead dengan status yang bisa dilacak, mulai dari percakapan pertama sampai kunjungan. Berbeda dengan pencatatan manual, setiap nomor otomatis masuk ke tahap pipeline mulai dari Baru, Chat, Booking, sampai Datang. Admin klinik bisa melihat siapa yang harus dihubungi hari ini tanpa menggulir riwayat percakapan. Sistem Uraga berjalan di atas WhatsApp Business API resmi, dilengkapi AI Bot yang menjawab pertanyaan jam operasional, lokasi, layanan, dan kisaran harga selama 24 jam. Jawaban bot diambil dari basis pengetahuan milik klinik itu sendiri, sehingga tidak menghasilkan informasi karangan dan tidak bercampur dengan data klinik lain. Bagaimana alur lead klinik berjalan dari iklan sampai booking? Alur akuisisi pasien dalam sistem ini berjalan dalam lima tahap yang saling terhubung. Iklan Meta mengarahkan calon pasien langsung ke chat WhatsApp lewat format Click to WhatsApp. AI Bot membalas dalam hitungan detik, menjawab pertanyaan dasar, lalu menyaring calon pasien yang serius. Percakapan itu otomatis masuk ke CRM sebagai lead lengkap dengan catatan iklan mana yang membawanya. Reminder H-1 dan H-day dikirim otomatis sebelum jadwal, disusul follow-up setelah kunjungan selesai. Pada tahap terakhir, data pasien yang closing dikirim balik ke Meta sebagai offline conversion lewat Conversions API. Tahap kelima yang membuat sistem ini tertutup. Setelah algoritma Meta menerima data siapa yang benar-benar booking, targeting iklan berhenti mengejar chat murah dan mulai mencari profil yang mirip dengan pasien yang sudah membayar. Periode pembelajaran algoritma umumnya memakan waktu empat sampai enam minggu sebelum efeknya terbaca di biaya akuisisi. Apa hasil yang tercatat dari klinik pengguna sistem ini? Berdasarkan data kampanye internal Uraga, sistem ini sudah menangani lebih dari 5.685 lead klinik. Nama klinik tidak disebutkan atas pertimbangan kerahasiaan klien. Sebuah klinik gigi menjalankan kampanye selama lima minggu dengan anggaran iklan Rp5,5 juta dan menerima 3.390 lead, atau setara biaya Rp1.635 per lead, dengan proyeksi pendapatan Rp118 juta dari layanan yang dipesan. Klinik gigi lain yang beroperasi di tiga lokasi menghabiskan anggaran iklan Rp21 juta dan menerima 2.295 lead WhatsApp yang langsung terdistribusi ke pipeline masing-masing cabang, dengan proyeksi pendapatan Rp80 juta. Klinik ketiga menjalani satu bulan optimasi dan mencatat penurunan cost per result dari Rp84.841 menjadi Rp14.582. Pada periode yang sama, rasio klik iklan naik dari 0,26 persen ke 0,47 persen. Angka proyeksi pendapatan dihitung dari nilai layanan yang dipesan di dalam pipeline, bukan pendapatan yang sudah dibukukan klinik. Tingkat pasien tidak hadir pada klinik yang mengaktifkan reminder otomatis tercatat di bawah 10 persen. Berapa biaya CRM WhatsApp dan pengelolaan iklan untuk klinik? Layanan ini dibagi menjadi tiga paket. Paket CRM Klinik seharga Rp499 ribu per bulan mencakup CRM WhatsApp, AI Bot, reminder otomatis, dan atribusi Meta CAPI, tanpa pengelolaan iklan. Paket Growth Klinik seharga Rp3,9 juta per bulan menambahkan pengelolaan iklan Meta, riset audiens, empat materi iklan per bulan, dan landing page click-to-chat. Paket Full Klinik seharga Rp4,9 juta per bulan menambahkan 15 konten sosial media per bulan beserta penjadwalan posting di Instagram dan TikTok. Harga tersebut di luar anggaran iklan yang dibayarkan langsung ke Meta. Pesan broadcast follow-up ditagih Rp500 per chat terkirim, juga dibayarkan langsung ke Meta tanpa markup. Data lead sepenuhnya milik klinik dan bisa diekspor dalam format CSV kapan saja. Kenapa Uraga menggabungkan iklan, konten, dan CRM dalam satu paket Klinik yang membeli tools secara terpisah harus mengurus sendiri integrasi antara platform iklan, WhatsApp, dan pencatatan pasien. Titik putus paling sering terjadi di antara sistem, bukan di dalam salah satunya. Uraga Digital Agency (PT Senang Bikin Konten) menempatkan keempat komponen dalam satu alur sehingga sumber iklan setiap lead tetap terbaca sampai tahap closing. Detail paket dan proses onboarding tersedia di halaman layanan klinik Uraga. Klinik yang ingin mengukur kondisi awal bisa meminta audit gratis atas iklan, pixel, dan alur WhatsApp yang sedang berjalan. Keluarannya berupa daftar kelemahan dan peta perbaikan 90 hari.

Saham Apple Bersiap Hadapi Kejutan September, iPhone Lipat Jadi Katalis Baru Teknologi
Teknologi
Kamis, 10 September 2026 | 08:03 WIB

Saham Apple Bersiap Hadapi Kejutan September, iPhone Lipat Jadi Katalis Baru

Jakarta, katakabar.com - Saham Apple Inc. (AAPL) memasuki September 2026 dengan perhatian investor yang semakin besar. Perusahaan dijadwalkan menggelar acara peluncuran produk pada 9 September usung tema “Surprise and Shine”. Meski Apple belum mengungkap seluruh produk yang akan diperkenalkan, investor dan pasar menaruh ekspektasi tinggi terhadap kehadiran lini iPhone terbaru, termasuk potensi iPhone lipat pertama Apple. Menurut laporan Yahoo Finance, saham Apple telah mencatat kenaikan hampir 21% sepanjang tahun berjalan hingga menjelang acara tersebut. Kinerja itu menunjukkan bahwa investor masih memiliki optimisme terhadap prospek perusahaan, meskipun Apple menghadapi tantangan dalam persaingan kecerdasan buatan (AI). Karena itu, acara September kali ini dipandang bukan sekadar peluncuran produk tahunan, tetapi juga momentum penting untuk melihat arah pertumbuhan Apple di bawah kepemimpinan CEO baru, John Ternus. iPhone 18 Pro Jadi Sorotan Salah satu produk yang paling dinantikan adalah iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Kedua perangkat tersebut diperkirakan membawa sejumlah peningkatan, termasuk penggunaan chip A20 Pro yang disebut akan dibuat menggunakan proses manufaktur 2 nanometer. Apple juga diperkirakan menghadirkan perubahan pada sistem kamera, termasuk kamera utama dengan aperture variabel. Selain itu, varian Pro kemungkinan mendapatkan pilihan warna baru. Meski perubahan tersebut belum tentu tergolong revolusioner, kombinasi peningkatan hardware dapat menjadi daya tarik bagi pengguna kelas premium yang ingin melakukan upgrade. Namun, perhatian terbesar pasar justru tertuju pada kemungkinan Apple memperkenalkan perangkat yang benar-benar baru: iPhone lipat. iPhone Lipat Bisa Jadi “Surprise” Terbesar Apple Apple dikabarkan tengah mempersiapkan iPhone lipat yang berpotensi menggunakan nama iPhone Ultra. Perangkat tersebut diperkirakan menggunakan desain lipat bergaya buku, dengan layar sekitar 5,5 inci ketika ditutup dan sekitar 7,6 inci ketika dibuka. Jika benar diluncurkan, iPhone lipat akan menjadi langkah besar bagi Apple karena perusahaan akhirnya memasuki kategori smartphone yang telah lebih dahulu diisi oleh sejumlah kompetitor, terutama Samsung. Pasar smartphone lipat sendiri masih berkembang. Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan tersebut, IDC memperkirakan pengiriman global perangkat foldable dapat tumbuh 12,6% pada 2026. Kondisi ini memberikan peluang bagi Apple untuk masuk ke segmen baru ketika permintaan terhadap perangkat lipat masih menunjukkan pertumbuhan. Potensi kontribusinya terhadap bisnis Apple juga cukup besar. Morgan Stanley memperkirakan iPhone lipat dapat menghasilkan sekitar US$14 miliar pendapatan bagi Apple pada kuartal Desember. Produksi perangkat tersebut diperkirakan mencapai sekitar 7 juta hingga 8 juta unit pada paruh kedua 2026, sementara total produksi dalam siklus produk pertamanya berpotensi mencapai 20 juta unit. Meski demikian, harga akan menjadi salah satu faktor penting. Produk baru dengan harga premium harus mampu memberikan alasan kuat bagi konsumen untuk melakukan upgrade. Jika harga terlalu tinggi dan konsumen tidak melihat manfaat yang signifikan, potensi pertumbuhan penjualan dapat menjadi lebih terbatas. Kinerja Bisnis Apple Masih Solid Di tengah spekulasi mengenai produk baru, kinerja bisnis Apple tetap menjadi fondasi penting bagi valuasi sahamnya. Pada kuartal Juni, pendapatan iPhone Apple tumbuh 22% secara tahunan menjadi US$54,3 miliar. Sementara itu, total pendapatan perusahaan meningkat 16% menjadi US$109,4 miliar. Untuk kuartal September, manajemen Apple memperkirakan pertumbuhan pendapatan sekitar 9% hingga 11%, dengan pendapatan iPhone diproyeksikan tumbuh pada kisaran pertengahan belasan persen. Konsensus pasar juga memperkirakan pendapatan Apple sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar US$477,7 miliar, atau tumbuh sekitar 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun Apple tengah mencari sumber pertumbuhan baru, bisnis utamanya masih memiliki momentum yang kuat. Keberhasilan produk baru, terutama iPhone lipat, berpotensi memberikan tambahan katalis bagi pertumbuhan perusahaan. Era Baru di Bawah CEO John Ternus Peluncuran September 2026 juga memiliki arti strategis karena menjadi acara produk besar pertama Apple setelah John Ternus mengambil alih posisi CEO pada 1 September, menggantikan Tim Cook yang telah memimpin perusahaan selama hampir 15 tahun. Ternus merupakan eksekutif lama Apple yang memiliki latar belakang kuat di bidang hardware. Karena itu, investor akan mengamati bagaimana dirinya membawa Apple memasuki fase baru, terutama ketika perusahaan menghadapi tekanan untuk mengejar ketertinggalan dari kompetitor dalam perkembangan AI. Acara 9 September pun menjadi kesempatan bagi Ternus untuk membangun kepercayaan investor sekaligus menunjukkan visi Apple di bawah kepemimpinannya. Apakah Saham Apple Menarik untuk Investor? Meski prospek Apple masih menarik, valuasi saham juga perlu menjadi perhatian. Laporan tersebut mencatat Apple diperdagangkan sekitar 37,1 kali estimasi laba ke depan, sehingga sahamnya tidak dapat disebut murah. Di sisi lain, potensi iPhone lipat dapat menjadi katalis baru yang membuat prospek Apple lebih menarik. Konsensus analis saat ini memberikan rating “Moderate Buy”. Dari 41 analis yang mengikuti saham Apple, 21 memberikan rekomendasi “Strong Buy”, tiga “Moderate Buy”, 13 “Hold”, dua “Moderate Sell”, dan dua “Strong Sell”. Target harga rata-rata berada di sekitar US$328,70, sedangkan target tertinggi mencapai US$400. Dengan demikian, investor perlu mencermati hasil acara Apple pada 9 September, termasuk respons konsumen terhadap produk baru, strategi harga, serta kemampuan Apple menghadirkan inovasi yang dapat menopang pertumbuhan jangka panjang. Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai koin kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang dapat menjadi pilihan bagi investor di Indonesia. Bagi investor yang baru ingin memulai investasi, kamu juga tidak perlu khawatir karena aset kamu mendapatkan perlindungan dari risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas. Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui website Nanovest. Aplikasi Nanovest juga sudah tersedia di Play Store maupun App Store, sehingga investor dapat mulai mengeksplorasi berbagai pilihan aset investasi dengan mudah dalam satu aplikasi.

Ingin Tingkatkan Closing Rate dengan Telemarketing Software, Ini Tujuh Tipsnya Teknologi
Teknologi
Minggu, 06 September 2026 | 20:13 WIB

Ingin Tingkatkan Closing Rate dengan Telemarketing Software, Ini Tujuh Tipsnya

Jakarta, katakabar.com - Keberhasilan closing telemarketing tidakhanya bergantung pada seberapa banyak panggilan yang dilakukan agen. Kualitas percakapan, kemampuan memahami kebutuhan prospek, konsistensi follow-up, hingga performa agen juga menjadi beberapa aspek yang perlu dipantau untuk memahami apa yang mendorong terjadinya penjualan. Di sinilah telemarketing software dapat membantu tim telemarketing bekerja lebih terukur. Dengan fitur seperti analisis percakapan, transkripsi otomatis, dan integrasi CRM, perusahaan dapat mengubah data panggilan menjadi insight untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan mengoptimalkan proses sales.  Berikut 7 strategi praktis yang dapat Anda terapkan untuk memaksimalkan performa telemarketing perusahaan Anda. 1. Pahami Profil Prospek Sebelum Memulai Panggilan Salah satu kesalahan terbesar dalam aktivitas telemarketing adalah melakukan pemanggilan (cold calling) tanpa persiapan data yang matang. Sebelum menghubungi calon pelanggan, agen harus memahami profil dasar, kebutuhan, dan kendala (pain points) yang mungkin dihadapi oleh prospek. Gunakan data histori interaksi yang tersimpan dalam sistem CRM untuk mempersonalisasi percakapan. Ketika agen menyampaikan penawaran yang relevan dengan kebutuhan spesifik prospek, tingkat kepercayaan (trust) akan meningkat pesat, yang pada akhirnya memperbesar peluang terjadinya closing. 2. Optimalkan Talk-to-Listen Ratio Meningkatkan Closing Rate  Banyak agen telemarketing yang terlalu berfokus untuk menjelaskan keunggulan produk tanpa memberikan ruang bagi prospek untuk berbicara. Padahal, penjualan yang sukses berawal dari pemahaman mendalam atas kebutuhan pelanggan. Agen harus mengajukan pertanyaan terbuka (open-ended questions) yang memancing prospek untuk mengutarakan kendala mereka. Dengan mendengarkan secara aktif, agen dapat menyusun solusi yang tepat dan tidak terkesan memaksakan penjualan (hard selling). 3. Analisis Percakapan Telemarketing dengan Telemarketing Software Intonasi suara, kecepatan berbicara, serta pilihan kata memiliki dampak psikologis yang sangat besar dalam komunikasi jarak jauh. Berbicara terlalu cepat dapat membuat prospek merasa terburu-buru, sementara nada suara yang monoton dapat mengurangi ketertarikan. Teknologi modern kini memungkinkan evaluasi gaya bicara secara presisi. Dengan memanfaatkan telemarketing software yang sudah menggunakan AI seperti MiiTel Phone, supervisor dan agen dapat menganalisis talk-to-listen ratio, kecepatan bicara (words per minute), hingga overlapping percakapan melalui visualisasi data intuitif. Fitur analisis suara ini membantu agen menyadari dan memperbaiki kebiasaan bicara mereka agar lebih persuasif dan penuh empati. 4. Tingkatkan Kemampuan Telemarketing dengan Objection Handling  Penolakan atau keberatan dari prospek adalah hal yang wajar dalam telemarketing. Agen yang handal harus dibekali dengan skrip dan kerangka kerja penanganan keberatan yang terstruktur. Melalui pendokumentasian percakapan yang rapi, tim manajemen dapat mengidentifikasi pola penolakan yang sering muncul dan menyusun respon terbaik. Pemanfaatan fitur transkrip otomatis dari MiiTel Phone memudahkan supervisor mendeteksi kata kunci khusus (keyword search) dalam ribuan rekaman panggilan. Hal ini memungkinkan pencarian best practices dari agen berkinerja tinggi untuk dijadikan bahan pelatihan bagi agen lainnya. 5. Integrasikan Telemarketing Software dengan CRM  Pekerjaan administratif, seperti mencatat hasil panggilan secara manual, sering kali menyita waktu produktif agen telemarketing. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk menghubungi lebih banyak prospek justru terbuang untuk tugas repetitif. Otomasi menjadi jawaban atas ketidakefisienan ini. Dengan mengintegrasikan sistem telepon dan CRM, seluruh rekaman, transkrip teks, dan ringkasan panggilan dapat tersimpan secara otomatis. Hal ini menjaga konsistensi data, memastikan follow-up tepat waktu, dan memberikan gambaran utuh mengenai perjalanan setiap prospek dalam sales funnel. 6. Berikan Pendampingan dan Evaluasi Berbasis Data Pendampingan (coaching) yang efektif membutuhkan bukti objektif, bukan sekadar asumsi. Supervisor sering kali mengalami kesulitan dalam memberikan masukan karena tidak memiliki waktu untuk mendengarkan seluruh rekaman panggilan satu per satu. Dengan dukungan sistem berbasis AI, evaluasi kinerja dapat dilakukan dalam hitungan menit. Supervisor dapat melihat dashboard performa agen, membaca transkrip teks percakapan penting, dan memberikan masukan yang spesifik pada bagian panggilan yang membutuhkan perbaikan. Pendekatan evaluasi berbasis data ini mempercepat proses onboarding agen baru dan meningkatkan kualitas komunikasi seluruh tim. 7. Lakukan Follow-Up Konsisten untuk Meningkatkan Closing Rate  Tidak semua prospek siap mengambil keputusan pada kontak pertama. Itu sebabnya, follow-up yang konsisten menjadi bagian penting dalam proses penjualan.  Prospek potensial dapat terlewat ketika follow-up tidak dilakukan secara konsisten atau tepat waktu. Tetapkan jadwal follow-up yang jelas dan manfaatkan pengingat otomatis dalam sistem operasional Anda. Ketika interaksi lanjutan dilakukan dengan pemahaman mendalam atas hasil diskusi sebelumnya, prospek akan merasa dihargai, sehingga memperbesar probabilitas keputusan pembelian. Metrik Apa yang Perlu Dianalisis dalam Telemarketing? Untuk mengevaluasi performa telemarketing secara menyeluruh, perusahaan tidak cukup hanya melihat jumlah panggilan atau closing rate. Analisis dapat mencakup metrik komunikasi seperti Talk-to-Listen Ratio, speaking speed, dan overlap, kemudian dikaitkan dengan metrik hasil seperti conversion rate dan closing rate. Dengan begitu, supervisor dapat melihat bukan hanya berapa banyak panggilan yang menghasilkan penjualan, tetapi juga bagaimana percakapan tersebut berlangsung. Meningkatkan closing rate tim telemarketing membutuhkan kombinasi antara keterampilan komunikasi agen, proses kerja yang efisien, dan ketersediaan data yang akurat. Dengan menerapkan strategi seperti riset prospek, menjaga rasio mendengarkan, evaluasi gaya bicara, serta penanganan keberatan secara terstruktur, kinerja penjualan dapat ditingkatkan secara signifikan. Implementasi teknologi seperti telemarketing software berbasis AI memegang peranan krusial sebagai enabler. Kehadiran inovasi seperti MiiTel Phone yang dapat membantu bisnis memangkas tugas administratif melalui fitur transkrip otomatis, analisis suara, dan integrasi CRM. MiiTel Phone juga membantu bisnis mengoptimalkan proses coaching, serta memberikan wawasan mendalam untuk mendorong efisiensi operasional secara berkelanjutan. Siap Meningkatkan Efisiensi dan Closing Rate Tim Telemarketing Anda? Pelajari bagaimana MiiTel Phone dapat membantu perusahaan Anda menganalisis setiap percakapan telemarketing secara otomatis dan meningkatkan produktivitas tim secara nyata. Konsultasikan kebutuhan dan tantangan tim telemarketing Anda dengan tim MiiTel di sini.

Human Firewall: Kenapa Karyawan Anda Benteng Pertahanan Siber Terkuat Teknologi
Teknologi
Minggu, 06 September 2026 | 11:10 WIB

Human Firewall: Kenapa Karyawan Anda Benteng Pertahanan Siber Terkuat

Jakarta, katakabar.com - Human firewall jadi lini pertahanan pertama dari serangan siber. Simak cara membangunnya, mengapa penting, dan strategi efektif menerapkannya di tim Bayangkan perusahaan Anda baru saja menghabiskan miliaran rupiah untuk firewall tercanggih, sistem deteksi berbasis AI, dan enkripsi berlapis. Lalu satu email palsu yang tampak meyakinkan berhasil membuat seorang staf keuangan mengklik tautan dan memasukkan kredensialnya. Semua investasi teknologi itu pun jadi sia-sia dalam hitungan detik. Ini bukan skenario langka. Riset Data Breach Investigations Report 2025 dari Verizon menemukan bahwa unsur manusia terlibat dalam sekitar 60% insiden kebocoran data, dengan definisi yang dirancang untuk mencerminkan hal-hal yang benar-benar bisa diperbaiki lewat pelatihan dan kesadaran keamanan. Artinya, celah keamanan terbesar organisasi bukan ada di server, melainkan di kotak masuk email karyawan. Di sinilah konsep human firewall menjadi relevan: bukan sekadar istilah keren, tapi strategi nyata untuk mengubah orang-orang di organisasi Anda dari titik lemah menjadi lini pertahanan pertama. Apa Itu Human Firewall? Human firewall adalah istilah untuk menggambarkan karyawan, manajemen, hingga mitra kerja dalam suatu organisasi yang memiliki kesadaran, dan keterampilan keamanan siber yang cukup tinggi untuk mendeteksi, menolak, dan melaporkan upaya serangan sebelum menyentuh sistem teknologi. Berbeda dengan firewall teknis yang bekerja otomatis menyaring lalu lintas data, human firewall bekerja lewat kewaspadaan dan insting verifikasi setiap individu. Sehebat apa pun sistem keamanan yang dipasang, semuanya bisa runtuh jika satu orang secara sukarela menyerahkan kredensial login karena termakan manipulasi psikologis alias social engineering. Mengapa Manusia Jadi Target Favorit Peretas? Peretas modern jarang repot membobol kode enkripsi yang rumit. Jauh lebih efisien bagi mereka untuk memanipulasi psikologi manusia. Laporan resmi Verizon 2025 DBIR mencatat bahwa 22% insiden kebocoran data diawali penyalahgunaan kredensial curian dan 16% diawali serangan phishing — dua vektor akses yang berakar dari kelalaian manusia, bukan celah teknis semata. Beberapa pola serangan berbasis manipulasi psikologis yang paling sering muncul: 1. Urgensi palsu. Korban dibuat panik, misalnya lewat ancaman pemblokiran akun kerja, sehingga bertindak cepat tanpa berpikir logis. 2. Kamuflase identitas. Pelaku menyamar sebagai atasan, rekan kerja, atau vendor resmi lewat email dan pesan yang tampilannya nyaris identik dengan aslinya. Pola ini juga sering muncul lewat SMS palsu (smishing) yang meniru notifikasi resmi — selengkapnya bisa dibaca di Waspada Phishing dan Smishing. 3. Eksploitasi momen lengah. Serangan phishing sengaja dilancarkan saat hari libur panjang, ketika kewaspadaan staf operasional biasanya menurun. 4. Kode QR berbahaya (quishing). Modus terbaru menyisipkan tautan phishing di balik kode QR pada poster, invoice, atau email, sehingga korban langsung memindai tanpa sempat memeriksa alamat situs tujuan — bahaya ini dibahas lebih lengkap di Waspadai Quishing. Dampaknya bisa sangat besar. Salah satu contoh nyata adalah kasus Toyota Boshoku, pemasok komponen otomotif Grup Toyota, yang pada 2019 kehilangan lebih dari 37 juta dolar AS setelah stafnya mengikuti instruksi pembayaran palsu lewat skema Business Email Compromise (BEC) — bukti bahwa komunikasi kerja sehari-hari saja bisa menembus pertahanan teknis paling canggih sekalipun kalau karyawan tidak terlatih melakukan verifikasi. Strategi Efektif Membangun Human Firewall Membangun budaya keamanan siber tidak bisa selesai lewat satu seminar tahunan yang membosankan. Dibutuhkan pendekatan berkelanjutan, interaktif, dan bisa diukur hasilnya. 1. Edukasi Berbasis Simulasi Nyata Pelatihan berbentuk slide presentasi panjang sering kali tidak membekas. Pendekatan yang jauh lebih efektif adalah simulasi serangan mandiri secara berkala, seperti simulasi phishing terkendali. Efeknya terbukti signifikan: laporan tahunan KnowBe4 tahun 2024 yang menganalisis lebih dari 11,9 juta pengguna di 57.000 organisasi mencatat rata-rata 34,3% karyawan gagal dalam simulasi phishing pertama sebelum mendapat pelatihan, namun angka itu turun menjadi hanya 4,6% setelah setahun menjalani program kesadaran keamanan secara konsisten. Dengan mengalami langsung skenario "terjebak" dalam lingkungan yang aman, karyawan jadi jauh lebih waspada saat menghadapi situasi serupa di dunia nyata. 2. Tanamkan Prinsip Zero Trust pada Setiap Individu Konsep Zero Trust — "jangan pernah percaya, selalu verifikasi" — tidak hanya berlaku untuk mesin, tapi juga manusia. Setiap karyawan perlu dilatih memiliki insting verifikasi: Jika menerima permintaan data sensitif atau transfer dana mendesak dari atasan lewat pesan teks, lakukan verifikasi silang lewat saluran komunikasi lain. Jika menerima pembaruan dokumen kerja yang mencurigakan, pastikan kebenarannya dulu sebelum membuka file tersebut. Insting sederhana ini sering kali cukup untuk menggagalkan skema Business Email Compromise (BEC) yang secara global tercatat merugikan korban hingga miliaran dolar AS setiap tahun. 3. Buat Jalur Pelaporan Insiden yang Mudah Karyawan sering enggan melaporkan kesalahan karena takut disalahkan. Organisasi perlu membangun budaya di mana melaporkan potensi ancaman atau kesalahan sendiri dianggap sebagai tindakan yang tepat, bukan aib. Jalur pelaporan idealnya sesederhana satu tombol "Report Phishing" di email kerja, sehingga tidak ada friksi yang membuat karyawan malas melapor. 4. Jadikan Keamanan Siber Bagian dari Budaya Kerja Gunakan pendekatan gamification — pembelajaran berbasis kompetisi atau poin — untuk menjaga keterlibatan karyawan tetap tinggi. Berikan apresiasi bagi divisi atau individu dengan rekor keamanan terbaik atau paling cepat mendeteksi simulasi serangan. Pendekatan ini mengubah keamanan siber dari kewajiban yang membebani menjadi bagian dari identitas tim. Cybersecurity bukan lagi tugas eksklusif tim IT atau divisi keamanan informasi. Sehebat apa pun teknologi pengamanan yang dipasang, benteng itu akan tetap runtuh jika pintunya dibukakan dari dalam oleh satu klik yang salah. Dengan memperkuat human firewall, organisasi tidak hanya melindungi aset digital dari serangan bermotif finansial, tapi juga membangun reputasi dan kepercayaan di mata nasabah maupun regulator. Mulailah dari langkah kecil: audit tingkat kewaspadaan tim Anda lewat simulasi phishing pertama, lalu bangun jalur pelaporan yang mudah diakses semua orang. Kesadaran ini juga berlaku untuk aktivitas keuangan sehari-hari. BPR KS mendorong setiap nasabah untuk tetap waspada terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan bank, termasuk phishing, smishing, hingga quishing. Kenali ciri-cirinya lebih lanjut di halaman edukasi keamanan digital BPR KS.