Sukses! PT Bestari dan BPDP Tuntaskan Pelatihan Budidaya Sawit untuk 172 Pekebun Swadaya di Riau Sawit
Sawit
2 jam yang lalu

Sukses! PT Bestari dan BPDP Tuntaskan Pelatihan Budidaya Sawit untuk 172 Pekebun Swadaya di Riau

Pekanbaru, katakabar.com - PT Pusat Perkebunan Berkelanjutan Setara Indonesia (Bestari) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sukses tuntaskan Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026, lewat Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Angkatan I–V yang diikuti 172 pekebun swadaya asal Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Pelatihan berlangsung pada 5 hingga 12 Juli 2026 dengan agenda pembelajaran efektif selama 6 hingga 11 Juli 2026. Penutupan kegiatan digelar di Novotel Pekanbaru, Sabtu (11/7), menandai berakhirnya rangkaian peningkatan kapasitas pekebun yang difokuskan pada penerapan budidaya kelapa sawit berkelanjutan. Komisaris Utama PT Bestari, Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO., mengapresiasi tingginya antusiasme peserta selama mengikuti pelatihan. Menurutnya, semangat belajar para pekebun menjadi modal penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus profesionalisme perkebunan rakyat. "Saya sudah 34 tahun mengikuti berbagai pelatihan. Terus terang, saya belum pernah merasakan pelatihan yang sekompak ini. Kekompakan peserta, panitia, dan narasumber benar-benar luar biasa," kata Gulat saat menutup kegiatan. Ia berharap semangat tersebut terus terjaga ketika peserta kembali ke daerah masing-masing sehingga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil panen dan kualitas pengelolaan kebun. Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi komprehensif mulai dari regulasi dan kebijakan sektor perkebunan, persiapan lahan, penggunaan benih unggul, teknik penanaman, pemupukan, pengendalian gulma, hama dan penyakit tanaman, hingga praktik budidaya langsung di lapangan. Sebagai bagian dari pembelajaran, para peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke PT Ivomas Tunggal Sei Rokan Estate, anak usaha PT Sinarmas di Kandis, Kabupaten Siak. Di lokasi tersebut, mereka mempelajari penerapan standar operasional budidaya kelapa sawit modern, mulai dari teknik panen, pemupukan mekanis, aplikasi janjang kosong, penyemprotan, hingga pengelolaan pembibitan. Direktur PT Bestari Indonesia, Dr. Mulono Apriyanto, S.P., M.Si., mengatakan seluruh rangkaian pelatihan dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan praktik budidaya yang baik di kebun masing-masing. "Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti pelatihan ini dari awal hingga akhir. Semoga seluruh ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam pengelolaan kebun sehari-hari sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekebun," jelasnya. Kata Mulono, materi yang diberikan mencakup seluruh tahapan penting dalam budidaya tanaman kelapa sawit, mulai dari penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemupukan hingga pengelolaan tanaman belum menghasilkan (TBM). "Kegiatan ini memberikan pelatihan teknik budidaya kelapa sawit mulai dari penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemupukan hingga pengelolaan tanaman belum menghasilkan. Harapan kami seluruh peserta dapat mengaplikasikan ilmu tersebut di kebun masing-masing," terangnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada BPDP yang kembali mempercayakan PT Bestari sebagai penyelenggara program pengembangan SDM bagi pekebun sawit rakyat. "Terima kasih kepada BPDP atas kepercayaan yang diberikan kepada PT Bestari dalam menyelenggarakan pelatihan bagi 172 pekebun swadaya pada tahun 2026. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak petani sawit yang memperoleh manfaat dari program pengembangan SDM," ucapnya. Selama pelaksanaan kegiatan, Komite Pengarah BPDP turut melakukan monitoring dan evaluasi guna memastikan seluruh tahapan pelatihan berjalan sesuai ketentuan, baik dari sisi kualitas pembelajaran maupun pemanfaatan anggaran. Sedang, di sesi integrasi rangkuman hasil pelatihan, Head of International Relation APKASINDO, Dr. (Cn) Djono A. Burhan, S.Kom., MMgt (Int. Bus), CC, CL., mengingatkan seluruh peserta agar konsisten menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama pelatihan. Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu kunci utama untuk mendongkrak produktivitas perkebunan sawit rakyat yang hingga kini masih belum mencapai potensi maksimal. "Semoga seluruh materi yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan di lapangan sehingga mampu meningkatkan produktivitas kebun sekaligus mendorong kesejahteraan pekebun sawit rakyat," tukasnya. Di akhir acara, panitia menyerahkan penghargaan kepada peserta paling aktif dan kelompok terbaik, serta membagikan berbagai perlengkapan praktik budidaya kelapa sawit sebagai bentuk dukungan agar peserta dapat langsung mengimplementasikan ilmu yang diperoleh. Melalui Program SDMP 2026 ini, PT Bestari dan BPDP berharap semakin banyak pekebun sawit rakyat yang memiliki kompetensi teknis, menerapkan praktik budidaya berkelanjutan, serta mampu meningkatkan produktivitas, kesejahteraan, dan daya saing perkebunan kelapa sawit nasional.

India dan Indonesia: Dua Sahabat Sejiwa di Era Baru Internasional
Internasional
9 jam yang lalu

India dan Indonesia: Dua Sahabat Sejiwa di Era Baru

Jakarta, katakabar.com - India-Indonesia Track 1.5 Dialogue merupakan inisiatif kerja sama selama dua tahun yang digagas oleh Gateway House: Indian Council on Global Relations di Mumbai dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia di Jakarta. Forum ini mempertemukan para pakar dari lembaga pemikir, pejabat pemerintah, serta pelaku usaha dari kedua negara setiap dua tahun sekali untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan penguatan hubungan strategis India dan Indonesia. India dan Indonesia memiliki hubungan strategis komprehensif yang dibangun di atas ikatan sejarah panjang, baik pada masa kuno maupun modern. Hubungan tersebut terus berkembang melalui perdagangan, kerja sama ekonomi, serta interaksi antar masyarakat yang semakin erat. Seiring kedua negara terus tumbuh sebagai kekuatan penting di kawasan, terbuka pula berbagai peluang baru untuk memperluas kerja sama yang saling menguntungkan, khususnya di bidang pertahanan dan keamanan, energi, serta kawasan Indo-Pasifik. Pada konteks tersebut, Track 1.5 Dialogue menjadi wadah yang tepat untuk mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Forum ini bertujuan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mendorong inovasi sekaligus membantu kedua negara merespons berbagai tantangan tata kelola yang terus berkembang melalui kerja sama bilateral maupun multilateral. Sebagai langkah awal, pada 23 hingga 24 September 2024, Gateway House bersama CSIS Indonesia menyelenggarakan India-Indonesia Track 1.5 Dialogue perdana di Mumbai. Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri India, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi, serta didukung oleh Pemerintah Negara Bagian Maharashtra, India, bersama Indorama dan Sinarmas dari Indonesia. Selama dua hari penyelenggaraan, forum ini mengangkat gagasan untuk mentransformasikan hubungan India dan Indonesia dari konsep "companion souls" atau sahabat sejiwa yang pernah diperkenalkan oleh Rabindranath Tagore saat kunjungannya ke Indonesia pada 1927, menjadi kemitraan geopolitik, geostrategis, dan geoekonomi yang relevan dengan tantangan abad ke 21. Semangat tersebut mencerminkan posisi India dan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar dan ketiga terbesar di dunia yang memiliki peluang untuk semakin memperkuat peran di panggung global. Berbagai sesi diskusi dirancang untuk menyoroti keunggulan masing-masing negara sekaligus mengidentifikasi bidang-bidang kerja sama teknis yang dapat dikembangkan secara bersama. Forum dialog diselenggarakan secara tatap muka di Mumbai dengan menghadirkan pejabat pemerintah, pelaku usaha, wirausahawan, akademisi, serta para pakar terkemuka dari India dan Indonesia. Acara pembukaan dihadiri oleh Ashish Kumar Sinha, Joint Secretary (South), Kementerian Luar Negeri India; Y. Jatmiko Heru Prasetyo, Direktur Asia Selatan dan Tengah, Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia; Sandeep Chakravorty, Duta Besar India untuk Indonesia; serta Ina H. Krisnamurthi, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk India.

Makna Strategis Kunjungan Modi ke Indonesia bagi Asia Opini
Opini
10 jam yang lalu

Makna Strategis Kunjungan Modi ke Indonesia bagi Asia

Oleh: Rajiv Bhatia Jakarta, katakabar.com - Setelah melewati perjalanan panjang yang diwarnai kedekatan, periode saling menjauh, hingga hubungan yang sempat berkembang di bawah potensi sebenarnya, India dan Indonesia kini memasuki babak baru dalam kemitraan strategis mereka. Sejak kedua negara meningkatkan hubungan menjadi Comprehensive Strategic Partnership pada 2018, berbagai upaya terus dilakukan untuk memberikan makna yang lebih besar bagi hubungan bilateral tersebut. Momentum itu semakin menguat setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 yang dinilai sukses membuka babak baru kerjasama kedua negara. Sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dalam 18 bulan terakhir dan bagaimana hubungan tersebut akan berkembang ke depan akan semakin terlihat ketika Perdana Menteri India Narendra Modi mengunjungi Jakarta pada pekan pertama Juli. Indonesia menjadi salah satu tujuan dalam lawatan tiga negaranya, bersama Australia dan Selandia Baru. Kunjungan ini juga berlangsung saat penting dalam dinamika kawasan. Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi lebih dahulu melakukan kunjungan ke India. Rangkaian diplomasi tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian India terhadap kawasan Indo-Pasifik. Di tengah munculnya tanda-tanda melemahnya komitmen Amerika Serikat terhadap Indo-Pasifik maupun Quadrilateral Security Dialogue (Quad), dialog Modi dengan para pemimpin empat negara demokrasi utama di kawasan memiliki arti strategis yang jauh melampaui hubungan bilateral semata. Saat ini, hubungan India dan Indonesia berada pada kondisi yang sangat kondusif. Tidak terdapat sengketa besar ataupun isu yang berpotensi mengganggu hubungan kedua negara. Hubungan personal antara Perdana Menteri Modi dan Presiden Prabowo juga terjalin dengan baik. Prabowo dikenal mengapresiasi berbagai kebijakan pembangunan yang dijalankan Modi di India, sementara Modi melihat Presiden Prabowo memiliki pendekatan yang lebih seimbang dan realistis dalam memandang peran Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik. Kedekatan tersebut memberikan ruang bagi kedua pemimpin untuk mendorong para pejabat pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar mempercepat implementasi berbagai agenda kerja sama yang telah disepakati. Semangat tersebut tercermin dalam Pertemuan Komisi Bersama (Joint Commission Meeting) India–Indonesia ke-8 yang digelar pada 7 Juni lalu dan dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar dan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono. Setelah melakukan peninjauan menyeluruh terhadap hubungan bilateral, kedua menteri mengidentifikasi berbagai peluang baru untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang, mulai dari politik, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, perdagangan dan investasi, farmasi dan kesehatan, ekonomi digital, energi, konektivitas, antariksa, pendidikan, pelayanan konsuler, kebudayaan, hingga hubungan antar masyarakat. Dari hasil pertemuan tersebut, besar kemungkinan kunjungan Modi ke Jakarta akan menghasilkan sejumlah nota kesepahaman baru sekaligus peta jalan yang lebih jelas untuk memperdalam hubungan kedua negara dalam beberapa tahun mendatang. Tetapi, arti penting kunjungan ini sesungguhnya jauh melampaui penandatanganan berbagai kesepakatan. India dan Indonesia diperkirakan akan semakin menyelaraskan pandangan mereka terhadap berbagai perkembangan global, terutama setelah perang di Ukraina dan Timur Tengah, serta munculnya kemungkinan membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Jika dinamika tersebut benar-benar berkembang, dampaknya akan sangat besar bagi kawasan Indo-Pasifik, tempat India dan Indonesia sama-sama memainkan peran penting. Indo-Pasifik merupakan rumah bersama bagi India dan Indonesia, sebagaimana juga bagi Jepang, Australia, Filipina, dan Korea Selatan. Keenam negara tersebut memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan sebagai fondasi bagi kesejahteraan ekonomi masyarakatnya. Dalam situasi ketika sejumlah forum kerja sama seperti Quad mulai menghadapi tantangan internal akibat berkurangnya perhatian Amerika Serikat, muncul kebutuhan akan wadah konsultasi politik dan diplomatik baru yang lebih inklusif bagi negara-negara demokrasi utama di kawasan. Inilah salah satu dimensi strategis yang layak dicermati selama kunjungan Modi ke Jakarta. Di bidang pertahanan, terdapat harapan baru bahwa kedua negara akhirnya akan mencapai kesepakatan mengenai rencana pembelian rudal jelajah supersonik BrahMos oleh Indonesia. Menteri Pertahanan India Rajesh Kumar Singh sebelumnya mengungkapkan dalam forum Shangri-La Dialogue bahwa negosiasi mengenai transaksi tersebut telah mendekati tahap final. Apabila terealisasi, kerja sama tersebut berpotensi menjadi tonggak penting dalam hubungan pertahanan kedua negara dan membuka jalan bagi peningkatan kerja sama industri pertahanan di masa mendatang. Di bidang ekonomi, target peningkatan perdagangan bilateral dari 30 miliar dolar AS menjadi 50 miliar dolar AS memang belum tercapai sesuai jadwal. Meski demikian, target tersebut tetap menjadi agenda penting karena akan memperkuat keterkaitan ekonomi kedua negara melalui perdagangan dan investasi yang lebih produktif. Kerja sama dalam pengembangan mineral kritis serta perdagangan digital juga diperkirakan akan menjadi salah satu fokus utama pembahasan kedua pemimpin. Pernyataan bersama yang akan dikeluarkan setelah pertemuan diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai strategi kedua pemerintah dalam mewujudkan target-target tersebut. Di era diplomasi plurilateral yang semakin berkembang, India dan Indonesia juga dipastikan akan membahas cara memperkuat koordinasi dalam berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, maupun Indian Ocean Rim Association (IORA). Keanggotaan Indonesia sebagai anggota baru BRICS membuka peluang besar untuk memperdalam kerja sama dengan India sebagai salah satu anggota pendiri organisasi tersebut. Di sisi lain, India juga memerlukan dukungan Indonesia dalam menyukseskan penyelenggaraan KTT BRICS mendatang di New Delhi. Dalam konteks kawasan, India juga diperkirakan akan menyoroti semakin eratnya hubungan dengan ASEAN, di mana Indonesia selama ini memainkan peran sentral. Kedua pemimpin kemungkinan juga akan bertukar pandangan mengenai perkembangan situasi di Myanmar. Perbedaan pendekatan masih terlihat antara ASEAN yang tetap mengedepankan implementasi Konsensus Lima Poin dan kebijakan India yang mulai beradaptasi dengan realitas politik baru di Myanmar, sebagaimana tercermin dari kunjungan resmi pemimpin Myanmar Min Aung Hlaing ke New Delhi beberapa waktu lalu. Sementara itu, pengumuman India mengenai Great Nicobar Project pada 1 Mei lalu juga memberikan dimensi baru bagi hubungan kedua negara. Proyek yang bertujuan menjadikan Kepulauan Andaman dan Nicobar sebagai pusat maritim dan ekonomi strategis tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan Indonesia mengingat kedekatan geografis kedua wilayah. Pada konteks yang sama, kedua negara juga memiliki kepentingan bersama untuk memperkuat konektivitas kawasan dan mendorong pengembangan Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation (BIMSTEC). Indonesia dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mewujudkan visi terbentuknya komunitas ekonomi Teluk Benggala yang lebih terintegrasi. Berbagai isu tersebut sesungguhnya telah menjadi pembahasan dalam dua putaran Dialog Track 1.5 antara Gateway House: Indian Council on Global Relations dari Mumbai dan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia yang diselenggarakan di Mumbai dan Jakarta pada September 2024 dan September 2025. Rekomendasi yang dihasilkan dari dialog tersebut bahkan mendapat pengakuan resmi dan dicantumkan dalam pernyataan bersama India dan Indonesia pada Januari 2025. Kini, kedua ibu kota telah memiliki berbagai gagasan kebijakan yang bersifat visioner sekaligus pragmatis. Tantangan berikutnya bukan lagi mencari ide baru, melainkan menerjemahkan berbagai gagasan tersebut menjadi langkah nyata yang mampu mempererat hubungan India dan Indonesia, sekaligus memperkuat keterhubungan antara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Ikatan Indonesia dan India Tak Terpisahkan Opini
Opini
11 jam yang lalu

Ikatan Indonesia dan India Tak Terpisahkan

Oleh: Ashish Bharadwaj dan Manjeet Kripalani Jakarta, katakabar.com - India dan Indonesia dipisahkan oleh Samudra Hindia, tetapi dipersatukan oleh sejarah, budaya, perdagangan, dan nilai-nilai yang sama. Hubungan kedua negara tidak pernah semata-mata dibangun melalui perdagangan atau perjanjian diplomatik, melainkan tumbuh dari penghormatan terhadap keberagaman, toleransi, dan persahabatan yang telah terjalin selama berabad-abad. Kini, ada satu dimensi baru yang perlu mendapat perhatian lebih besar, yakni pendidikan tinggi dan riset sebagai jembatan strategis yang akan memperkuat hubungan kedua negara di masa depan. Hal ini menjadi semakin penting di tengah perubahan geopolitik dan pesatnya perkembangan teknologi. India dan Indonesia merupakan dua negara berkembang yang tengah bertransformasi menjadi kekuatan menengah (middle powers) dengan potensi besar untuk memainkan peran yang lebih menentukan dalam tatanan global. Agar mampu memanfaatkan momentum tersebut, keduanya perlu berinvestasi bukan hanya pada infrastruktur fisik dan ekonomi, tetapi juga pada ilmu pengetahuan, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Perjalanan pembangunan India dan Indonesia memiliki banyak kesamaan. Rata-rata usia penduduk India sekitar 29 tahun, sementara Indonesia 31 tahun. Secara bersama-sama, kedua negara mewakili hampir seperlima populasi dunia. Keduanya juga termasuk masyarakat yang sangat terkoneksi secara digital. Kawasan Asia-Pasifik merupakan pengguna media sosial terbesar di dunia, dengan India dan Indonesia menjadi dua negara yang paling aktif memanfaatkan berbagai platform seperti Facebook, WhatsApp, X, dan YouTube, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun dalam situasi darurat. Bonus demografi yang besar ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan, yakni bagaimana memastikan generasi mudanya memperoleh pendidikan yang lebih baik, kesempatan ekonomi yang lebih luas, dan kualitas hidup yang semakin tinggi sebelum momentum tersebut berlalu. Selama bertahun-tahun, kedua negara mengandalkan sistem pendidikan tinggi dan model penelitian yang banyak mengacu pada Barat. Namun, model tersebut kini menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari sisi pendanaan maupun relevansinya terhadap tantangan masa depan. Seiring semakin memudarnya warisan kolonial dan hadirnya generasi baru yang tumbuh bersama teknologi, menjadi wajar apabila pemerintah India dan Indonesia mulai memberikan perhatian yang jauh lebih besar pada pembangunan kapasitas riset dan inovasi di bidang-bidang yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Indonesia telah mengambil langkah penting melalui pembentukan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada 2010 dengan dana abadi sekitar 10 miliar dolar AS untuk mendukung pendidikan tinggi, penelitian, dan beasiswa. Pada 2023, lebih dari 35.500 penerima manfaat memperoleh dukungan dari program tersebut. Di sisi lain, India melalui National Education Policy 2020 membentuk National Research Foundation (Anusandhan) yang mulai beroperasi pada 2023 dengan dana sekitar 14,5 miliar dolar AS untuk memperkuat riset dan inovasi di berbagai perguruan tinggi. Salah satu mekanisme kerja sama yang telah terbukti efektif sepanjang sejarah adalah kemitraan antar lembaga pendidikan dan riset. Ilmu pengetahuan berkembang melalui kolaborasi, bukan kompetisi. Karena itu, hubungan akademik antara India dan Indonesia seharusnya menjadi salah satu prioritas utama dalam memperkuat kemitraan strategis kedua negara. Sayangnya, kondisi saat ini masih jauh dari ideal. India mengalokasikan sekitar 56 miliar dolar AS untuk pendidikan tinggi pada 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia sendiri menganggarkan sekitar 43 miliar dolar AS untuk sektor pendidikan, dengan sekitar 11 persen dialokasikan bagi program beasiswa, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia. Tetapi, keterhubungan kedua sistem pendidikan masih sangat terbatas. Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman masih menjadi tujuan utama mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi ke luar negeri. India bahkan belum menjadi salah satu destinasi pilihan. Pada 2022, hanya sekitar 115 mahasiswa Indonesia yang belajar di India, sementara jumlah mahasiswa India yang menempuh pendidikan tinggi maupun riset di Indonesia bahkan kurang dari sepuluh orang. Padahal, dari sudut pandang ekonomi, kerja sama pendidikan memberikan manfaat jangka panjang yang sangat besar. Investasi di bidang pendidikan menghasilkan peningkatan produktivitas, mendorong pertumbuhan pendapatan, memperbaiki distribusi kesejahteraan, serta menciptakan lingkungan sosial ekonomi yang lebih baik bagi kedua negara. Apabila abad ke 21 benar-benar akan menjadi Abad Asia, maka dua demokrasi terbesar di kawasan ini harus memperbanyak kemitraan akademik, membangun lebih banyak jembatan riset, dan membuka kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa serta peneliti untuk belajar dan berinovasi bersama. India dan Indonesia pernah menjadi pelopor Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Pada masa itu, kedua negara berupaya mencari model pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter negara-negara yang baru merdeka. Saat itu, keduanya masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi, politik, dan sosial. Kini, kondisinya telah jauh berbeda. India dan Indonesia telah berkembang menjadi negara dengan pengaruh ekonomi dan politik yang jauh lebih besar serta mulai memainkan peran aktif dalam membentuk tatanan geopolitik dan ekonomi internasional yang baru. Untuk menjalankan peran tersebut, kedua negara perlu memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi, lembaga riset, serta sektor swasta. Pemerintah India dan Indonesia telah menempatkan banyak tokoh terbaiknya untuk memimpin transformasi di bidang pendidikan dan penelitian. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan melalui berbagai bentuk kolaborasi yang lebih konkret. Universitas-universitas swasta terkemuka di India seperti BITS Pilani, yang dikenal memiliki keunggulan di bidang teknik, riset mutakhir, inovasi teknologi, dan kewirausahaan, dapat menjadi pelopor berbagai proyek penelitian bersama dengan perguruan tinggi di Indonesia. Kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui pertukaran mahasiswa, penyelenggaraan konferensi ilmiah, pengembangan kurikulum baru, hingga penelitian bersama mengenai berbagai isu yang menjadi kepentingan kedua negara. Peluang kerja sama riset juga sangat luas. Keberhasilan Indonesia dalam menurunkan angka kemiskinan secara drastis selama empat dekade terakhir dapat menjadi bahan pembelajaran penting bagi para ekonom pembangunan dan pembuat kebijakan di negara-negara Global South. Empat puluh tahun lalu, sekitar 74 persen penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan ekstrem. Kini angkanya telah turun menjadi kurang dari dua persen. Sebaliknya, India memiliki berbagai pengalaman yang dapat dibagikan kepada Indonesia. Industri farmasi India menjadikannya dikenal sebagai "apotek dunia", sementara infrastruktur digitalnya yang digunakan lebih dari satu miliar orang setiap hari menjadi salah satu sistem digital publik terbesar dan paling canggih yang pernah dibangun. India juga termasuk kelompok kecil negara yang berhasil mengembangkan program antariksa dengan berbagai pencapaian penting. Karena itu, bidang-bidang seperti farmasi, kesehatan masyarakat, pengentasan kemiskinan, transfer teknologi berbasis kekayaan intelektual, riset antariksa, telekomunikasi, rekayasa semikonduktor, komputasi kuantum, oseanografi, deep technology, perusahaan rintisan berbasis teknologi, hingga kemaritiman seharusnya menjadi bagian dari agenda riset bersama antara India dan Indonesia. Kerja sama di bidang pendidikan tinggi merupakan awal yang sangat baik untuk mempererat hubungan kedua negara. Ketika perguruan tinggi, mahasiswa, peneliti, dan ilmuwan bekerja bersama pada bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama, hubungan India dan Indonesia akan berkembang jauh melampaui diplomasi dan perdagangan.

Perkokoh Daya Saing Global, Tembakau Premium PTPN I Andalan Industri Cerutu Dunia Ekonomi
Ekonomi
12 jam yang lalu

Perkokoh Daya Saing Global, Tembakau Premium PTPN I Andalan Industri Cerutu Dunia

Jakarta, katakabar.com -  Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) terus perkuat daya saing komoditas tembakau nasional melalui PTPN I (Persero). Berbekal pengalaman panjang dalam pengelolaan perkebunan tembakau premium, dua produk unggulan perusahaan, yakni Tembakau Besuki Bawah Naungan (TBBN) dan Tembakau Deli, semakin diminati pasar internasional sebagai bahan baku pembungkus (wrapper) cerutu premium. Karakter daun yang elastis, bertekstur halus, memiliki stabilitas pembakaran yang baik, warna premium, serta cita rasa dan aroma khas menjadi keunggulan yang menarik minat pembeli dari Eropa, Amerika Latin, dan berbagai kawasan lainnya. Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, menyampaikan prospek pasar tembakau premium terus menunjukkan perkembangan positif. Dalam rapat gabungan di Jakarta, Kamis (25/6), ia menegaskan komitmen perusahaan untuk meningkatkan produksi melalui perluasan areal tanam sekaligus menjaga kualitas produk yang selama ini menjadi keunggulan utama PTPN I. “Kami yakin bisa mengembalikan kejayaan produk tembakau premium yang punya sejarah keemasan sejak lama. Optimisme kami lebih yakin karena progres permintaan pasar ekspor, terutama dari Eropa dan negara-negara makmur lainnya meningkat signifikan. Lebih dari itu, tembakau kita adalah produk eksklusif yang tak kenal krisis. Artinya, tingkat influence-nya sangat rendah,” kata Teddy. Menurut Teddy, Tembakau Besuki Bawah Naungan (TBBN) dan Tembakau Deli telah lama diakui secara global sebagai bahan baku pembungkus (wrapper) cerutu premium terbaik di dunia. Perkembangan transaksi ekspor kedua varietas tersebut dalam beberapa tahun terakhir semakin memperkuat reputasi Indonesia sebagai salah satu produsen tembakau premium dunia. "Tembakau premium kita memiliki karakteristik khas yang berbeda dengan produk Kuba maupun Amerika Latin. Keunggulan kami terletak pada tingkat elastisitas daun yang baik, struktur daun yang halus, kemampuan pembakaran yang stabil, serta warna yang menarik," ujarnya. Ia menambahkan, konsistensi kualitas tersebut menjadikan produk PTPN I sebagai pilihan utama industri cerutu premium dunia. Kinerja operasional komoditas tembakau PTPN I juga menunjukkan tren yang positif. Berdasarkan data perusahaan, volume produksi tembakau premium meningkat secara konsisten dalam lima tahun terakhir. Produksi tercatat sebesar 748.638 kilogram pada 2021, kemudian mencapai 729.544 kilogram pada 2022, meningkat menjadi 932.837 kilogram pada 2023, naik lagi menjadi 974.489 kilogram pada 2024, dan tetap terjaga pada level 972.243 kilogram sepanjang 2025. Sejalan dengan pertumbuhan produksi, produktivitas lahan juga terus mengalami peningkatan. Produktivitas tercatat sebesar 1.238 kilogram per hektare pada 2021, 1.090 kilogram per hektare pada 2022, meningkat menjadi 1.372 kilogram per hektare pada 2023, mencapai 1.382 kilogram per hektare pada 2024, dan mencatatkan capaian tertinggi sebesar 1.397 kilogram per hektare pada 2025. Untuk menjawab meningkatnya permintaan pasar global, PTPN I melalui Divisi Komoditi Kopi dan Aneka Tanaman melakukan langkah strategis dengan memperluas areal tanam tembakau hingga 500 hektare pada musim tanam 2026. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan keberlanjutan pasokan dalam memenuhi berbagai kontrak ekspor. Menurut Teddy, segmen cerutu premium tetap memiliki prospek yang menjanjikan meskipun industri tembakau global menghadapi berbagai regulasi yang semakin ketat. Permintaan terhadap produk premium terus tumbuh, terutama dari pasar luxury products, premium lifestyle, kolektor, hingga sektor high-end hospitality. Selain itu, meningkatnya tren produk berbasis asal-usul (origin-based products) semakin membuka peluang bagi Tembakau Besuki dan Deli untuk memperkuat posisinya di pasar internasional. Meski demikian, PTPN I tetap mewaspadai tantangan perubahan iklim yang berpotensi memengaruhi produktivitas komoditas tembakau. Untuk menjaga konsistensi mutu, perusahaan menerapkan strategi mitigasi secara menyeluruh mulai dari penyesuaian kalender tanam, penguatan pemantauan kondisi cuaca secara real-time, penggunaan varietas yang adaptif, penerapan praktik budidaya berkelanjutan (sustainable farming), hingga penguatan sistem pengendalian mutu dan traceability sejak proses pembibitan hingga pascapanen.

Perkuat Akses Air Bersih, PTPN IV PalmCo dan Polres Langkat Bangun Sumur Bor Masyarakat Sumut
Sumut
13 jam yang lalu

Perkuat Akses Air Bersih, PTPN IV PalmCo dan Polres Langkat Bangun Sumur Bor Masyarakat

Langkat, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo bersama Kepolisian Resor (Polres) Langkat membangun sumur bor bagi masyarakat Dusun Bukit Barat, Desa Tanjung Putus, Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Program yang dilakukan dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 ini merupakan wujud sinergi antara BUMN Perkebunan dan Polri dalam menghadirkan akses air bersih sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sumur bor dengan kedalaman sekitar 70 meter tersebut dibangun untuk menyediakan sumber air bersih yang lebih aman dari potensi pencemaran serta dapat dimanfaatkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kapolres Langkat, AKBP David Triyo Prasojo, mengatakan pembangunan sumur bor merupakan bagian dari pengabdian Polri kepada masyarakat sekaligus bentuk kepedulian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar warga. "Melalui pembangunan sumur bor ini kami berharap masyarakat Dusun Bukit Barat memperoleh akses air bersih yang lebih baik dan fasilitas ini dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang," kata David. Menurutnya, peringatan Hari Bhayangkara tidak hanya dimaknai sebagai momentum memperkuat tugas kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menjawab berbagai kebutuhan sosial masyarakat, termasuk penyediaan infrastruktur dasar di wilayah pedesaan. “Untuk itu kami sangat berterimakasih dengan perusahaan yang memfasilitasi sehingga kegiatan pembangunan sumur bor bagi warga ini dapat terwujud,” tukasnya. Program penyediaan sarana air bersih tersebut mendapat dukungan penuh melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PTPN IV PalmCo sebagai bagian dari komitmen Holding Perkebunan Nusantara dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah operasional perusahaan. Selain di Kabupaten Langkat, pada tahun 2026 perusahaan juga menargetkan pembangunan fasilitas serupa di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, dan Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Ketiga lokasi tersebut diproyeksikan dapat melayani kebutuhan air bersih sedikitnya 90 kepala keluarga. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan penyediaan sarana air bersih merupakan program berkelanjutan yang terus dijalankan perusahaan di berbagai daerah. "Hingga saat ini, program penyediaan sarana air bersih maupun sumur bor telah terealisasi di 131 titik lokasi. Angka ini akan terus kami upayakan bertambah karena air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat," ujarnya dalam keterangan tertulis. Menurut Jatmiko, akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak memiliki pengaruh langsung terhadap kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, perusahaan terus memperluas pembangunan sumur bor dan perbaikan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), terutama di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses air bersih maupun saat musim kemarau. Ia juga menilai kolaborasi dengan kepolisian dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam mempercepat pelaksanaan program di lapangan sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat. Sepanjang 2024–2025, PTPN IV PalmCo mencatat program penyediaan air bersih dan sanitasi telah menjangkau 3.811 kepala keluarga di berbagai wilayah operasional perusahaan, mulai dari Sumatera hingga Kalimantan. Manfaat program tersebut turut dirasakan masyarakat di berbagai daerah. Di Dusun Menanti, Desa Sungai Jaman, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, misalnya, pembangunan sumur bor membantu masyarakat memperoleh air bersih ketika debit Sungai Stengko menurun pada musim kemarau. "Kami bersyukur atas bantuan sumur bor ini. Fasilitas tersebut sangat membantu warga memperoleh air bersih dan kami akan menjaganya agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang," kata Ketua RT 03 Dusun Menanti, Abil. Apresiasi juga disampaikan Kepala Desa Pondok Meja, Kecamatan Mestong, Jambi, Martoyo. Menurutnya, pembangunan sumur bor dan tangki air sangat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih, terutama pada musim kemarau. Sementara, perwakilan masyarakat Desa Alue Gadeng Dua, Kabupaten Aceh Timur, Handoko Apri, mengatakan bantuan sarana sanitasi dan sumur bor telah meringankan beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Berita Daerah

Sorotan terbaru dari berbagai wilayah