Percepat Pemulihan TTM, PHR Hadapi Tantangan dengan Kolaborasi
Jakarta, katakabar.com - PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) tegaskan komitmen menjalankan penugasan pemulihan Tanah Terkontaminasi Minyak Bumi (TTM) di Zona Rokan secara bertanggungjawab, transparan, dan sesuai ketentuan berlaku. Optimis proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat seiring terpenuhinya berbagai prasyarat teknis dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan Sebagai perusahaan yang memegang teguh prinsip bisnis berkelanjutan, PHR menjalankan penugasan yang diberikan regulator berdasarkan Surat SKK Migas Nomor SRT-0406/SKKMA0000/2021/S1 pada 26 Juli 2021 terkait kegiatan pasca operasi dan penanganan TTM di Zona Rokan yang berasal dari operasi kontraktor sebelumnya. Sebanyak 250 lokasi pemulihan tersebar di lima kota dan atau kabupaten di Provinsi Riau dengan estimasi luas area terdampak mencapai sekitar 9,3 juta meter persegi atau sekitar 6 juta meter kubik volume tanah terkontaminasi. Sebagian besar lokasi berada di lahan milik masyarakat dengan total sekitar 3.000 persil lahan. Hingga akhir April 2026, PHR telah menyampaikan 88 dokumen Rencana Pemulihan Fungsi Lingkungan Hidup (RPFLH) kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Dari jumlah tersebut, 63 lokasi telah memperoleh persetujuan RPFLH dan tengah atau sudah dilakukan pemulihan. Dari 63 lokasi yang telah disetujui, sebanyak 20 lokasi telah selesai dilakukan pemulihan, dan saat ini sedang dalam proses evaluasi keberhasilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Selain itu, terdapat 162 lokasi lainnya yang saat ini sedang dalam proses persiapan sebelum dapat masuk ke tahap pemulihan. Proses persiapan tersebut antara lain meliputi penyiapan akses lahan, pengumpulan/validasi data, pengadaan, koordinasi dengan para pihak terkait, serta penyusunan dokumen teknis yang dibutuhkan untuk mendukung proses persetujuan dan pelaksanaan pemulihan. Untuk mendukung percepatan, PHR bekerja sama dengan tiga kontraktor pelaksana yang ditunjuk melalui proses pengadaan resmi, dan transparan. Seluruh kegiatan pemulihan juga berada dalam pengawasan aparat penegak hukum, mulai dari Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) hingga Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel). “Pemulihan TTM proses panjang yang melibatkan persetujuan teknis, akses lahan, validasi data, hingga evaluasi hasil pemulihan oleh KLH. PHR berkomitmen penuh untuk menyelesaikan penugasan ini sesuai arahan regulator, dengan tetap menjaga aspek keselamatan, lingkungan, sosial, serta keberlanjutan operasi Zona Rokan,” ujar Aryo Banowo, Pjs VP Remediation & Asset Retirement PHR Regional 1 Sumatra. Sebagai bagian dari upaya percepatan tersebut, PHR bersama SKK Migas dan KLH juga telah menyepakati roadmap percepatan pemulihan hingga tahun 2030 ditambah satu tahun periode monitoring yang sangat agresif. Roadmap tersebut menjadi acuan pelaksanaan pemulihan secara bertahap, terukur, dan sesuai ketentuan yang berlaku. PHR berharap proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat seiring terpenuhinya berbagai prasyarat teknis, perizinan, akses lahan, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan. PHR juga memastikan bahwa seluruh pelaksanaan penugasan tetap memperhatikan aspek keselamatan, lingkungan, sosial, dan keberlanjutan operasi di Zona Rokan. Tentang PHR Regional 1 Sumatra PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menjalankan tugas dari Subholding Upstream Pertamina untuk mengelola bisnis dan operasional kegiatan usaha hulu migas di Wilayah Kerja Regional 1 – Sumatra yang terbentang dari Aceh hingga Sumatra Selatan. PHR menghasilkan sepertiga produksi minyak bumi Pertamina Subholding Upstream. Menjadi salah satu produsen minyak dan gas utama di Indonesia yang berkontribusi dalam pemenuhan energi nasional. Pada 2025, PHR menyelesaikan restrukturisasi organisasi yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan ketahanan energi nasional. Integrasi organisasi ini mencakup Zona 1, Zona Rokan, dan Zona 4 ke dalam struktur Regional 1 demi memastikan operasional yang lebih optimal dan berkelanjutan. Restrukturisasi ini membawa dampak positif dalam pengelolaan aset hulu migas dari ujung utara hingga selatan Sumatra, sejalan dengan program Swasembada Energi yang dicanangkan pemerintah. Dengan organisasi yang lebih efisien, PHR berupaya menjaga pasokan energi nasional dan menghadapi tantangan industri migas ke depan.
Harkitnas ke-118, Pemko Binjai Perkuat Semangat Kebangsaan dan Kedaulatan Digital
Pemerintah Kota Binjai menggelar upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional
Dari Toko Sparepart ke Precision Parts Sourcing: Transformasi Bisnis Otomotif di Era Digital
Surabaya, katakabar.com - Bravo Motor, bisnis sparepart otomotif asal Kedungdoro, Surabaya, yang didirikan pada 1996 silam oleh Hengky Purnomo dan kini diteruskan oleh Kenny Purnomo, menyoroti perubahan besar dalam industri sparepart otomotif di era digital. Semakin banyak pemilik kendaraan kini membeli sparepart sendiri melalui marketplace, WhatsApp, dan platform online karena ingin membandingkan harga atau menghindari markup bengkel. Tetapi di balik kemudahan tersebut, muncul masalah baru berupa miskomunikasi antara bahasa bengkel, nama resmi sparepart, dan pemahaman konsumen. Menurut Kenny Purnomo, banyak pelanggan datang hanya dengan informasi minim seperti foto buram, istilah umum bengkel, atau tanpa data kendaraan lengkap, tetapi tetap berharap sparepart langsung cocok dan dapat dipasang tanpa kendala. Di sisi lain, ujar Kenny, satu gejala kerusakan kendaraan juga dapat memiliki banyak kemungkinan penyebab, sehingga sparepart sering menjadi pihak pertama yang disalahkan ketika perbaikan tidak menyelesaikan masalah. Artikel ini juga membahas bagaimana banyak konsumen masih belum memahami perbedaan antara genuine part, OEM, aftermarket, dan produk imitasi, sehingga sering memiliki ekspektasi kualitas yang tidak sesuai dengan harga produk yang dibeli. Untuk mengurangi kesalahan identifikasi dan konflik setelah transaksi, Bravo Motor menerapkan SOP identifikasi dan retur yang ketat, termasuk meminta dokumentasi part lama, nomor rangka kendaraan, serta detail pemasangan sebelum memproses komplain atau retur barang. Menurut perusahaan, sistem tersebut berhasil menekan kesalahan identifikasi hingga mendekati nol apabila seluruh prosedur diikuti dengan benar. Saat ini Bravo Motor melayani penjualan melalui toko offline, marketplace, WhatsApp, hingga kebutuhan bengkel dan pelanggan luar kota, dengan lebih dari 6.700 chat pelanggan tercatat hanya dalam 12 hari aktif pada Mei 2026. Melalui pendekatan “precision and reliable parts sourcing”, Bravo Motor menilai masa depan industri sparepart tidak lagi hanya bergantung pada stok barang, tetapi pada kemampuan mengidentifikasi kebutuhan kendaraan secara akurat, membangun komunikasi teknis yang baik, dan menjaga kepercayaan pelanggan di era otomotif digital. Di sebuah kawasan perdagangan otomotif di Kedungdoro, Surabaya, aktivitas toko sparepart tidak lagi sesederhana “jual barang lalu selesai.” Telepon masuk, chat WhatsApp, foto part buram, screenshot percakapan bengkel, hingga voice note customer kini menjadi bagian dari ritme harian bisnis sparepart modern. Perubahan perilaku konsumen otomotif dalam beberapa tahun terakhir memaksa banyak pelaku industri beradaptasi. Pemilik mobil kini semakin sering membeli sparepart sendiri tanpa melalui bengkel. Alasannya beragam sepertiingin membandingkan harga, lebih percaya membeli langsung, hingga kekhawatiran adanya markup dari proses pengadaan bengkel. Tetapi di balik tren tersebut, muncul persoalan baru yang jarang dibahas secara terbuka: miskomunikasi antara bahasa bengkel, bahasa katalog sparepart, dan pemahaman konsumen. Fenomena inilah yang banyak ditemui Bravo Motor, bisnis sparepart otomotif asal Surabaya yang berdiri sejak 1996 dan kini diteruskan generasi kedua oleh Kenny Purnomo. Menurut Kenny, perubahan industri sparepart saat ini bukan lagi sekadar soal stok barang atau harga murah. “Sekarang tantangan terbesar justru ada di identifikasi part. Orang bisa beli sparepart sendiri dengan sangat mudah, tapi belum tentu tahu barang yang sebenarnya dibutuhkan,” ucapnya. Bahasa Bengkel Tidak Selalu Sama dengan Nama Resmi Part Dalam praktik sehari-hari, banyak konsumen datang hanya dengan istilah umum seperti “support,” “laher,” “sensor atas,” atau “karet kaki-kaki.” Padahal dalam dunia sparepart, satu istilah dapat merujuk pada beberapa komponen berbeda. Belum lagi perbedaan generasi kendaraan, facelift, tipe mesin, hingga kode produksi yang membuat satu model mobil tampak sama tetapi menggunakan part berbeda. Cerita Kenny, kondisi ini semakin kompleks karena sebagian besar pembeli sebenarnya bukan mekanik atau orang teknis. “Ada yang disuruh beli oleh bengkel, ada yang diminta bos kantor, ada yang bantu keluarga. Kadang mereka cuma bawa foto buram atau nama part yang sebenarnya bukan nama resmi,” tuturnya. Marketplace dan media sosial ikut mempercepat perubahan pola pembelian tersebut. Konsumen kini terbiasa mencari sparepart secara instan hanya bermodal nama kendaraan atau gejala kerusakan. Padahal, menurut pelaku industri, gejala kerusakan kendaraan tidak selalu mengarah pada satu komponen tertentu. Misalnya, bunyi pada kaki-kaki mobil bisa berasal dari berbagai sumber: rack steer, tie rod end, rack end, shock breaker, hingga support shock. Sementara pada beberapa model tertentu, pola kerusakan juga mulai terlihat berulang. Untuk Honda Brio dan Mobilio misalnya, sensor oksigen menjadi salah satu part yang cukup sering dicari. Sedangkan pada HR-V, masalah yang kerap muncul berada pada laher roda belakang dan rack steer. Kenny menerangkan, tantangan sebenarnya bukan hanya pada kerusakan kendaraan, melainkan ekspektasi konsumen yang menganggap semua sparepart dapat dipastikan cocok hanya dari model mobil. “Satu model mobil bisa punya beberapa versi part berbeda. Kadang tahun produksi beda sedikit saja sudah beda barang,” ulasnya. Ketika Sparepart Jadi “Tersangka Pertama” Dalam industri otomotif, proses diagnosis kendaraan sering kali menjadi area abu-abu yang tidak sederhana. Satu gejala kerusakan dapat memiliki banyak kemungkinan penyebab. Akibatnya, ketika penggantian part tidak menyelesaikan masalah, sparepart sering menjadi pihak pertama yang disalahkan. Kenny menekankan, tidak sedikit kasus di mana masalah sebenarnya berasal dari diagnosis awal kendaraan yang kurang tepat. “Kalau masalah belum selesai setelah part diganti, biasanya barang langsung dianggap tidak cocok atau tidak berfungsi. Padahal belum tentu sumber masalahnya di situ,” imbubnya. Ia menilai fenomena ini semakin sering terjadi sejak konsumen mulai aktif membeli sparepart sendiri. Di satu sisi, konsumen merasa lebih aman membeli langsung karena bisa membandingkan harga pasar. Namun di sisi lain, sebagian bengkel juga lebih nyaman apabila proses pengadaan sparepart dilakukan melalui mereka sendiri agar pengerjaan lebih mudah dikontrol. Perbedaan kepentingan tersebut kadang memunculkan konflik baru di lapangan. Masih Kenny, tidak sedikit toko sparepart menerima komplain bahwa barang dianggap tidak original, tidak presisi, atau kualitasnya buruk, meski belum ada proses pengecekan teknis yang benar-benar mendalam. “Kadang ada perbedaan persepsi antara ekspektasi customer, hasil diagnosis bengkel, dan karakter produk yang dibeli,” bebernya. Genuine, OEM, dan Aftermarket: Konsumen Sering Salah Ekspektasi Persoalan lain yang menurut Kenny masih sering terjadi adalah minimnya pemahaman mengenai kategori sparepart. Banyak konsumen belum memahami perbedaan antara genuine part, OEM, aftermarket, hingga produk imitasi. Padahal masing-masing memiliki karakteristik, tingkat presisi, dan harga berbeda. Genuine part umumnya memiliki tingkat presisi tertinggi karena dibuat mengikuti standar pabrikan kendaraan. Konsekuensinya, harga genuine juga lebih mahal. Sementara, produk aftermarket memiliki pasar tersendiri karena menawarkan alternatif yang lebih ekonomis. Masalah muncul ketika konsumen menginginkan harga murah tetapi tetap berharap kualitas identik dengan genuine bawaan pabrik. “Kalau beli aftermarket atau imitasi, tentu ada risiko toleransi tertentu. Tidak semua bisa 100 persen sama seperti genuine,” sebut Kenny. Ia menilai edukasi mengenai jenis sparepart dan ekspektasi kualitas masih menjadi pekerjaan besar dalam industri otomotif Indonesia. SOP Ketat Jadi Kunci Berbeda dengan banyak toko sparepart tradisional yang masih mengandalkan pendekatan informal, Bravo Motor mulai membangun sistem identifikasi dan verifikasi yang lebih ketat. Menurut Kenny, langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan kesalahan identifikasi sekaligus mengurangi konflik setelah transaksi. Dalam beberapa kasus, Bravo Motor meminta dokumentasi part lama, nomor rangka kendaraan, hingga detail pemasangan sebelum memproses komplain atau retur. Pendekatan ini memang membuat proses transaksi terlihat lebih panjang dibanding pembelian biasa di marketplace. Namun menurut Kenny, industri sparepart memang tidak bisa diperlakukan seperti penjualan produk umum. “Kesalahan kecil dalam identifikasi part bisa bikin bongkar pasang ulang, buang waktu, bahkan biaya jadi lebih besar,” timpalnya. Menariknya, Kenny mengklaim sistem SOP ketat tersebut berhasil menekan kesalahan identifikasi hingga mendekati nol. “Kalau semua data lengkap dan prosesnya diikuti benar, sebenarnya kemungkinan salah identifikasi bisa sangat kecil,” imbuhnya lagi. Saat ini Bravo Motor menangani penjualan melalui berbagai jalur, mulai dari toko offline, marketplace, WhatsApp, hingga webstore. Dalam 12 hari aktif selama Mei 2026 saja, sistem internal mereka mencatat lebih dari 6.700 chat pelanggan dengan rata-rata lebih dari 560 percakapan per hari. Angka tersebut menurut Kenny menunjukkan bahwa bisnis sparepart modern semakin bergeser menjadi bisnis berbasis komunikasi dan presisi data. Dari Toko Sparepart Menjadi Precision Parts Sourcing Didirikan oleh Hengky Purnomo pada 1996, Bravo Motor awalnya beroperasi sebagai toko sparepart konvensional di Surabaya dengan fokus utama kendaraan Honda. Tetapi, seiring perkembangan industri otomotif dan perubahan perilaku konsumen, bisnis tersebut mulai berkembang menjadi layanan precision and reliable parts sourcing untuk berbagai merek kendaraan. Menurut Kenny, masa depan industri sparepart tidak lagi hanya bergantung pada stok barang. “Ke depan, yang paling penting bukan cuma punya barang. Tapi kemampuan menerjemahkan kebutuhan kendaraan menjadi identifikasi part yang akurat,” katanya. Ia menilai toko sparepart modern kini berperan sebagai penghubung antara bahasa bengkel, data kendaraan, kebutuhan konsumen, dan informasi teknis produk. Di tengah semakin terbukanya akses pembelian sparepart secara online, Kenny justru melihat edukasi dan konsultasi akan menjadi nilai paling penting dalam industri ini. “Semakin mudah orang membeli sparepart sendiri, semakin penting juga komunikasi yang benar supaya tidak salah beli,” ulasnya.
Kunci Kemandirian Industri Pertahanan RI Hilirisasi Tembaga
Jakarta, katakabar.com - Indonesia menghadapi sebuah paradoks, menguasai 3 persen cadangan tembaga dunia, tetapi masih mengimpor bahan baku amunisi dari luar negeri. Kondisi itu kini mendorong sinergi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan untuk membangun kemandirian dari hulu ke hilir. Data Kementerian Investasi/BKPM menempatkan Indonesia di urutan ketujuh cadangan tembaga dunia dan ke 11 dalam produksi tambang. Tetapi, industri hilir tembaga Indonesia hanya berada di peringkat ke 18, berada di bawah Jepang, India, Korea, bahkan Bulgaria, yang tidak memiliki sumber daya mineral tembaga sama sekali. Salah satu produk hilir strategis yang kini menjadi sorotan adalah brass cup, bahan baku selongsong amunisi yang selama ini masih dipasok dari impor. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono menilai hilirisasi tembaga memiliki posisi strategis dalam mendukung kemandirian industri pertahanan nasional. Pengolahan tembaga secara terintegrasi, kata dia, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alat utama sistem persenjataan (alutsista), amunisi, hingga teknologi pertahanan strategis. "Dengan adanya integrasi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku, tetapi juga memperkuat posisi dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional," ujar Dave. Urgensi hilirisasi ini tercermin dari tren impor yang terus menanjak. Berdasarkan data Perkembangan Impor Non-Migas Kementerian Perdagangan, nilai impor tembaga dan produk turunannya tumbuh rata-rata 5,11% per tahun dalam periode 2021–2025, dari US 1,90 miliar naik 15,27% secara kumulatif. Dave optimistis hilirisasi yang dijalankan secara konsisten dapat membangun ekosistem pertahanan yang lebih mandiri dan berdaya saing, sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif serta komitmen menjadikan sektor pertahanan sebagai pilar stabilitas nasional. "Komisi I DPR RI akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta agar hilirisasi tembaga benar-benar memberikan manfaat nyata bagi industri pertahanan nasional, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan," jelasnya. Di sisi produksi, langkah konkret mulai bergulir. Holding Industri Pertambangan MIND ID melalui PT Freeport Indonesia bekerja sama dengan Holding Industri Pertahanan DEFEND ID melalui PT Pindad untuk memproduksi brass cup di Gresik, dengan kapasitas 10.000 ton per tahun guna memenuhi kebutuhan komponen amunisi dalam negeri. Ke depan, MIND ID juga berencana mengembangkan fasilitas hilirisasi untuk memproduksi batang tembaga dan kawat tembaga berkapasitas 300.000 ton per tahun, serta pipa tembaga berkapasitas 100.000 ton per tahun, yang semuanya berbasis katoda tembaga hasil produksi Freeport Indonesia. Produk hilirisasi tembaga ini juga dapat menjadi bahan baku bagi berbagai industri pertahanan yang sarat dengan tembaga. Langkah ini adalah kontribusi nyata MIND ID sebagai perusahaan milik Negara dalam menjalankan hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah komoditas mineral di dalam negeri.
Positive Technologies Perluas Kolaborasi Pendidikan dengan Universitas di Indonesia
Jakarta, katakabar.com - Positive Technologies, salah satu pemimpin industri cybersecurity Rusia, terus perkuat hubungan pendidikannya dengan Indonesia. Di Forum Ekonomi Internasional “Russia–Islamic World: KazanForum”, perusahaan ini menandatangani perjanjian dengan enam universitas terkemuka di Indonesia, meliputi Universitas Brawijaya (UB), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Politeknik Manufaktur Bandung (Polman), Institut Teknologi dan Sains Mandala (ITSM), dan Universitas Darul Ma'arif (UDM). Dokumen serupa juga telah ditandatangani sehari sebelumnya di Moskow dengan Universitas Padjadjaran (UNPAD), serta dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) setahun sebelumnya. Tujuan utama dari kemitraan ini adalah mengembangkan tenaga kerja cybersecurity di negara terbesar di Asia Tenggara tersebut. Nota kesepahaman dan kerja sama ini mencakup berbagai inisiatif pendidikan bersama, termasuk pelatihan bagi dosen, pembangunan laboratorium khusus untuk praktik cybersecurity secara langsung, serta pengembangan mata kuliah terkait keamanan defensif dan praktik pengembangan perangkat lunak yang aman. Selain itu, para pihak juga sepakat untuk menerapkan EdTechLab, platform pelatihan mandiri, di universitas-universitas yang berpartisipasi. “Tenaga kerja yang sangat terampil sangat penting untuk mencapai ketahanan siber yang kuat di perusahaan, industri, maupun negara secara keseluruhan. Di Positive Technologies, kami telah membangun salah satu tim cybersecurity terbaik di industri dan mengumpulkan keahlian unik yang ingin kami bagikan. Hal ini sejalan dengan misi budaya global kami untuk membantu para profesional keamanan di seluruh dunia mengembangkan karier mereka melalui peningkatan keterampilan dan kompetensi. Bermitra dengan universitas di Indonesia membantu kami memperkuat komunitas ahli yang dapat bersama-sama melawan ancaman siber di Asia Tenggara dan dunia,” ujar Elena Grishaeva, Direktur Regional Asia Tenggara di Positive Technologies. Indonesia, bersama negara-negara ekonomi utama Asia Tenggara lainnya, saat ini berinvestasi besar dalam infrastruktur digital, pengembangan e-government, dan penerapan teknologi modern. Tetapi, digitalisasi yang cepat ini juga memiliki dampak negatif karena memperluas lanskap siber dan permukaan serangan, sehingga membuat negara lebih rentan terhadap serangan siber. Saat ini, kawasan ini menjadi salah satu target utama para penjahat siber. Berdasarkan laporan Positive Technologies, Indonesia menyumbang sekitar 40 persen dari seluruh laporan kebocoran data di Asia Tenggara. “Di era transformasi digital yang pesat dan ancaman siber yang semakin kompleks, cybersecurity telah menjadi prioritas strategis bagi setiap negara yang ingin membangun ekosistem digital yang tangguh dan berkelanjutan. Universitas Padjadjaran percaya bahwa institusi pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta cybersecurity masa depan melalui penguatan program akademik, pelatihan praktis, kolaborasi riset, dan keterlibatan industri. Kami sangat menghargai keahlian dan pengalaman internasional Positive Technologies, yang saat ini telah bermitra dengan beberapa universitas di Indonesia untuk memajukan pendidikan cybersecurity dan pengembangan kapasitas profesional. Kami yakin kolaborasi ini akan memperkuat kompetensi praktis di bidang cybersecurity, mendorong inovasi dan pertukaran pengetahuan, serta berkontribusi nyata terhadap pengembangan ketahanan siber nasional Indonesia,” timpal Arief Kartasasmita, Rektor UNPAD. “Selama dua tahun terakhir, kami telah membangun salah satu kemitraan pendidikan internasional terbesar di Indonesia dalam bidang cybersecurity, yang melibatkan dua belas universitas terbaik di negara ini. Kami secara bertahap menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik langsung yang menyerupai situasi nyata yang akan dihadapi mahasiswa dalam karier mereka. Pendekatan ini membantu kami mencetak generasi profesional baru yang mampu mengantisipasi dan mencegah serangan, bukan sekadar bereaksi terhadapnya. Keterlibatan mahasiswa Indonesia dalam Positive Hack Camp kini telah menjadi tradisi yang kuat. Pada tahun 2026, mereka akan mengikuti program tersebut untuk ketiga kalinya, menangani kasus nyata dan meningkatkan keterampilan mereka di tingkat global,” kata Yuliya Danchina, Direktur Pusat Program dan Proyek Pendidikan Positive Technologies. Pada Mei 2025 lalu, Positive Technologies menandatangani perjanjian kerja sama dengan empat institusi pendidikan terkemuka di Indonesia dalam festival cybersecurity internasional Positive Hack Days. Kerja sama ini berlanjut pada Juni, ketika UGM dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) meresmikan kemitraan mereka dengan Positive Technologies. Pada Agustus, Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) juga bergabung dalam kolaborasi tersebut. Upacara penandatanganan pada Agustus berlangsung dalam acara Positive Hack Camp, sebuah inisiatif pendidikan global yang diluncurkan oleh Positive Technologies dan Positive Education untuk membantu melatih generasi baru profesional cybersecurity. Dengan dukungan Kementerian Pengembangan Digital Rusia, program ini mempertemukan lebih dari 90 praktisi cybersecurity muda dari 25 negara di Asia, Afrika, dan Timur Tengah.
Riset F&B: 83 persen Bisnis Kuliner Lolos Tahun ke 1 Tapi Beguguran Lantaran 5 Faktor Ini
Jakarta, katakabar.com - Di antara mitos bisnis industri F&B yang paling sering diulang adalah “Sebagian besar restoran 70-80% gagal di tahun pertama.” dan ini ulang diberbagai media dan blog. Tetapi, Tim Riset Tantri menemukan menemukan hasil riset yang berbeda. Berdasarkan data UC Berkeley, OECD, BLS AS, dan Cornell menemukan 70–83% bisnis F&B bertahan di tahun pertama. Tantangan terbesar justru muncul pada tahun ke 3 hingga ke 5 akibat lemahnya sistem operasional dan cashflow. Data dalam riset ini disusun berdasarkan cross-analysis berbagai penelitian dan dataset internasional, termasuk studi UC Berkeley terhadap 1,9 juta bisnis dan 81.000 restoran independen, data business survival U.S. Bureau of Labor Statistics (BLS), framework OECD, serta Cornell Hospitality Research terkait operasional, cashflow, dan customer experience bisnis restoran. 5 Faktor Utama Tingkat Survival Rate Bisnis Cafe dan Resto Melalui “Weighted Operational Survival Analysis”, Tim Riset Tantri mengidentifikasi lima faktor operasional yang paling konsisten berkorelasi dengan survival bisnis cafe dan restoran dalam jangka panjang. Temuan ini juga memperlihatkan bahwa banyak kegagalan bisnis restoran sebenarnya bukan disebabkan oleh kurangnya permintaan pasar, melainkan akumulasi masalah operasional yang terjadi secara perlahan dalam beberapa tahun pertama bisnis berjalan. 1. Financial dan Cashflow Control (30%) Masalah yang paling sering terjadi pada bisnis F&B terlihat ramai secara penjualan, tetapi sebenarnya memiliki margin yang sangat tipis. Kenaikan food cost, biaya operasional, dan labor cost sering kali tidak diikuti kontrol cashflow yang baik. (Deloitte Restaurant Industry Outlook, Restaurant365 Industry Reports) Dalam banyak kasus, owner baru menyadari masalah ketika: cashflow mulai seret, pembayaran vendor terlambat, atau profit tidak sebanding dengan omzet. tindakan yang tepat seharusnya melakukan: monitoring food cost, laporan cashflow realtime, kontrol margin per menu, serta visibility terhadap biaya operasional harian. 2. Operational Systems dan SOP (25%) Kasus kedua tertinggi bisnis cafe dan restoran masih bergantung pada owner atau staff tertentu. Ketika volume order meningkat atau tim bertambah, operasional mulai tidak konsisten: antrean lebih panjang, salah input order, stok tidak terkontrol, hingga kualitas pelayanan menurun. solusi fase ini adalah membangun sistem sepert: SOP operasional, workflow kerja, inventory system, serta reporting system yang terstandarisasi. (Cornell Hospitality Quarterly, National Restaurant Association Research) 3. Customer Experience Consistency (20%) Fokus mencari customer baru tetapi kurang menjaga konsistensi customer experience merupakan faktor ketiga yang kruisial. Padahal customer loyal akan membawa keberlanjutan bisnis sedangkan customer baru tanda perkembangan namun konsekuensi biaya promosi. Akibatnya rasa berubah-ubah, pelayanan tidak stabil, waiting time terlalu lama, atau pengalaman pelanggan berbeda setiap kunjungan. Hal ini membuat repeat order dan loyalitas pelanggan sulit terbentuk. Pemilik Bisnis perlu menjaga hal - hal berikut: konsistensi rasa, kecepatan pelayanan, customer flow, dan quality control operasional. (PwC Consumer Insights Survey ,Deloitte Consumer Experience Research) 4. Adaptability to Consumer Trends (15%) Perubahan perilaku konsumen di industri F&B saat ini terjadi jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun sebelumnya. sementara operasional bisnis cafe/restoran belum mampu beradaptasi dengan cepat. Dalam beberapa tahun terakhir, tren konsumen F&B global mulai bergeser ke arah, yakni delivery & online ordering, cashless & QR payment, convenience experience, self-service ordering, digital loyalty program, personalized customer experience, hingga fast-response service. Adaptasi terhadap tren bukan hanya mengikuti teknologi baru, tetapi bagaimana bisnis mampu membuat pengalaman pelanggan menjadi: lebih cepat, lebih praktis, lebih nyaman, dan lebih konsisten. (Deloitte Digital Consumer Trends, McKinsey Perspectives on the future of restaurants, Euromonito Key Consumer Foodservice Trends ) 5. Sustainable Expansion Pace (10%) Mengejar momentum dengan terlalu cepat sebelum sistem bisnis benar-benar matang. Dalam banyak kasus: kualitas mulai tidak konsisten, kontrol operasional melemah, cashflow terganggu, dan manajemen tim menjadi lebih kompleks. Bisnis perlu memastikan operasional stabil, cashflow sehat, SOP berjalan konsisten, dan tim siap sebelum melakukan ekspansi besar. salah satu studi kasus di indonesia adalah warung SSB awal bisnis 2002 dan baru tahun 2012 mulai membuka cabang perlahan hingga 86 gerai secara keseluruhan, dengan rincian 85 gerai tersebar di berbagai wilayah Indonesia (mulai dari Pekanbaru, Malang, hingga Denpasar) dan 1 gerai internasional yang berada di Arab Saudi. Viral Belum Tentu Sustainable Fokus membantu fondasi yang kuat akan lebih membantu bisnis cafe dan resto tidak hanya bertahan namun berkembang dalam jangka panjang. Tidak hanya melalui riset di dunia F&B, Tantri.id telah membantu 2000+ cafe dan restoran Sejak 2023 agar lebih efisien & rapi dengan QR Menu ordering yang terhubung ke POS & Sistem Dapur mengurangi salah orderan dan efisiensi waktu. Integrasi Inventory mampu menjaga foodcost lebih terkontrol, hingga kelola cabang memastikan perfoma dan SOP terjaga. 160+ fitur digital lainya membuat bisnis kuliner tidak ketinggalan trend sehingga 5 malasah survival rate yang sudah dibahas mampu teratasi dalam 1 aplikasi.
Peluang Ekspor Indonesia ke Brazil: Belajar Perdagangan Global Hatchery Project Binus International
Jakarta, katakabar.com - Binus International dengan Hatchery Project buka peluang bagi para mahasiswa untuk mengenal dinamika bisnis dunia. Kegiatan ini dilakukan selama beberapa sesi untuk membedah kekhasan berbagai negara menjalankan bisnisnya. Dengan menghadirkan tiga keynote speakers, yakni Riley Millner (Desainer Instruksional di Thunderbird School of Global Management), Samanta Alvis, Ph.D. (Direktur Eksekutif Najafi 100 Million Learners Global Initiative), dan Simon Turner (Global Lead Partnership dari Thunderbird’s 100 Million Learners), kali ini BINUS International bedah ekonomi bisnis di Brazil. Brazil, Negara dengan Populasi Urban Terbesar di Dunia Brazil bukan hanya dikenal sebagai negara yang permainan sepak bolanya menawan. Ia adalah raksasa ekonomi yang menempati peringkat ke 5 sebagai negara terbesar di dunia. Dengan populasi yang sangat masif dan tingkat urbanisasi yang tinggi, Brazil menawarkan pasar konsumen yang sangat dinamis. Sebagian besar penduduk Brazil tinggal di area perkotaan. Hal ini berarti akses terhadap produk-produk gaya hidup dan tren global sangatlah cepat. Bagi pelaku bisnis, karakteristik populasi urban ini merupakan sinyal positif untuk ekspansi produk yang mengedepankan inovasi dan kemudahan akses. Pentingnya Penampilan dalam Budaya Brazil Salah satu temuan paling menarik dalam Hatchery Project kali ini adalah kedalaman analisis mengenai perilaku konsumen. Di Brazil, penampilan merupakan bagian penting dari identitas sosial. Hal ini berdampak langsung pada consumer spending yang sangat tinggi pada kategori beauty and personal care. Faktanya, angka penjualan parfum atau fragrance di Brazil merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Budaya yang sangat memperhatikan aspek estetika dan perawatan diri ini membuka peluang lebar bagi produk-produk perawatan tubuh dan kecantikan dari Indonesia untuk masuk dan bersaing, asalkan mampu memenuhi standar selera lokal yang cukup spesifik. Kesempatan Belajar Strategi Market Entry Brazil Melalui sesi Hatchery Project, kamu tidak hanya melihat potensi, tetapi juga belajar cara menaklukkan tantangan melalui strategi market entry yang tepat. 1. Jenis produk yang berpotensi laku Selain kategori kecantikan, produk-produk yang berhubungan dengan gaya hidup urban dan kesehatan memiliki potensi besar untuk dipasarkan di Brazil. Meski begitu, sebagai pemilik usaha, kamu tetap perlu melakukan kurasi produk agar sesuai dengan preferensi masyarakat Brazil. 2. Tantangan: Brazil lebih tahu Bali daripada Indonesia Salah satu hambatan nyata yang ditemukan adalah fakta bahwa masyarakat Brazil jauh lebih mengenal Bali daripada Indonesia itu sendiri. Tantangan branding ini mengharuskan pelaku ekspor untuk melakukan edukasi konsumen yang lebih agresif dan cerdas dalam memosisikan produk mereka. 3. Peluang market entry Mahasiswa diajak membandingkan dua opsi utama, yaitu membangun perusahaan lokal di Brazil atau bekerja sama dengan importir atau distributor lokal. Opsi kedua sering kali dianggap lebih efektif bagi pemain baru karena mitra lokal sudah memiliki jaringan distribusi yang kuat di apotek dan platform e-commerce. Real-world Exposure dan Networking Diplomatik Nilai jual utama dari Hatchery Project adalah kredibilitas informasinya. Materi yang dipelajari mahasiswa disusun dan disampaikan langsung oleh Marcelo Koiti Hasunuma, Head of the Trade Promotion and Economic Office dari Kedutaan Besar Brazil di Jakarta. Ini memberikan kamu kesempatan langka untuk belajar langsung dari narasumber diplomatik yang memahami seluk-beluk hubungan bilateral dan kebijakan perdagangan antarnegara. Bersama Marcelo Koiti Hasunuma, kamu pun dilatih untuk membangun kemampuan critical thinking dalam melihat risiko logistik, beban pajak impor yang bisa mencapai 60%, hingga cara membangun kepercayaan dengan mitra di Brazil. Hal-hal semacam ini tentunya penting untuk membuatmu semakin terlatih dalam mengembangkan ekonomi usaha yang lebih matang. Hatchery Project membuktikan komitmen BINUS International dalam memberikan eksposur global nyata bagi mahasiswanya. Dengan mengupas sektor perdagangan Brazil, mahasiswa tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga memiliki kesiapan mental dan jaringan untuk menjadi pelaku usaha di kancah internasional. Pengalaman mendalam seperti ini adalah langkah awal yang sempurna bagi kamu yang bercita-cita menjadi pengusaha atau profesional global. Ingin merasakan pengalaman belajar dengan standar internasional dan akses langsung ke pakar dunia? Yuk, bergabung dengan Binus International sekarang dan mulai langkahmu menuju karier global!
Melongok Lele Sei Manasib di Tangan Rizky: Inovasi Pakan Mandiri Naikkan Omzet Puluhan Juta
Rokan Hilir, katakabar.com - Bagi para pembudidaya ikan di Sei Manasib, setiap memasuki masa panen lele bukan menjadi momen yang menghadirkan rasa lega. Lantaran di balik riak air kolam dan padatnya aktivitas budidaya, tersimpan kecemasan panjang akibat tingginya biaya produksi dan harga jual yang kerap tidak menentu. Kondisi itu pernah dirasakan langsung Muhammad Rizky 31 tahun, Sekretaris BUMDes, sekaligus penggerak Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Lele Sei Manasib. Bagi Rizky, usaha budidaya lele sempat terasa seperti perjuangan tanpa kepastian. Harga pakan yang terus melambung tinggi seakan berkejaran dengan harga jual ikan yang sering dimainkan tengkulak, membuat keuntungan kelompok semakin tergerus. “Antara biaya operasional terus membengkak dan margin keuntungan yang makin tipis, kami sempat berada di titik lelah. Bukan hanya lelah secara fisik karena merawat ikan setiap hari, tetapi juga lelah secara mental karena merasa kerja keras kami belum memberikan hasil yang pasti,” ulas Rizky. Berangkat dari kondisi tersebut, Rizky menyadari situasi itu tidak bisa terus dibiarkan. Ia percaya bahwa kelompok budidaya di Sei Manasib harus keluar dari ketergantungan dan mulai membangun sistem usaha yang lebih mandiri. Melalui Program Perikanan Riau PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), harapan baru mulai tumbuh. Kehadiran program pemberdayaan ini tidak hanya memberikan dukungan fasilitas, tetapi juga membuka ruang pembelajaran dan pendampingan bagi kelompok pembudidaya untuk membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan. Sebagai salah satu anggota kelompok yang paling vokal mendorong perubahan, Rizky bersama rekan-rekannya melakukan perjalanan ke Desa Bangko Jaya. Di sana, mereka belajar langsung dari kelompok binaan yang telah berhasil memproduksi pakan mandiri untuk budidaya lele serta mampu menembus pasar distribusi Dapur SPPG (Satuan Pelayanan Program Gizi). Dari pengalaman tersebut, Rizky mulai melihat peluang besar dalam pemanfaatan ikan rucah hasil tangkapan sampingan yang sebelumnya sering dianggap limbah pesisir sebagai bahan baku pakan alternatif. Tetapi, perjalanan menuju keberhasilan tidak berjalan mudah. Pada tahap awal uji coba produksi pakan mandiri, formulasi yang mereka buat justru mengalami kegagalan. Pelet yang dicetak hancur dan berubah menjadi serbuk ketika ditebar ke kolam sehingga berdampak pada kualitas air. “Mesin vertikal itu membutuhkan tingkat presisi yang tinggi. Saya sempat salah dalam metode pengaturan putaran pisau sehingga pelet tidak bisa memadat dengan sempurna,” kenang Rizky. Kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Rizky terus melakukan percobaan, mulai dari menyesuaikan kadar kelembaban adonan hingga melakukan kalibrasi mesin secara berulang. Hingga akhirnya, upaya tersebut membuahkan hasil ketika mesin berhasil menghasilkan butiran pelet yang padat dan berkualitas. Keberhasilan memproduksi pakan mandiri menjadi titik balik bagi kelompok budidaya lele Sei Manasib. Biaya operasional yang sebelumnya membebani kini dapat ditekan secara signifikan, sementara kualitas nutrisi pakan tetap terjaga. Tidak berhenti pada inovasi pakan, Rizky juga mulai mengembangkan strategi pemasaran kelompok. Ilmu tata niaga yang ia pelajari kemudian diaplikasikan untuk membuka jalur distribusi langsung ke Dapur SPPG dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hasilnya, satu siklus produksi kelompok mampu menghasilkan sekitar 2,3 ton lele, dengan 519 kilogram di antaranya terserap langsung untuk kebutuhan program penyediaan pangan bergizi. Dalam tiga bulan terakhir, kelompok ini berhasil membukukan omzet hingga Rp32 juta. Perubahan tersebut perlahan menghapus rasa minder yang sebelumnya membayangi para pembudidaya. Kini mereka berdiri lebih percaya diri sebagai kelompok usaha masyarakat yang produktif dan mandiri, sekaligus menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Manager CID Regional 1 PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan keberhasilan Pokdakan Lele Sei Manasib menunjukkan bagaimana program pemberdayaan masyarakat dapat menciptakan dampak ekonomi yang nyata apabila dijalankan secara konsisten dan berbasis potensi lokal. Menurutnya, PHR akan terus mendorong hadirnya program-program yang mampu memperkuat kapasitas masyarakat agar lebih mandiri dan berdaya saing. “PHR berkomitmen untuk terus menghadirkan program pemberdayaan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun penguatan kapasitas kelompok usaha lokal. Kami percaya, kemandirian masyarakat menjadi fondasi penting dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan,” ucapnya. Ia menambahkan dukungan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan terhadap operasional industri hulu migas memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional. “Kami mengajak seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan untuk terus mendukung kelancaran operasional industri hulu migas. Dukungan tersebut sangat penting dalam menjaga keberlanjutan operasi dan ketahanan energi nasional, di mana PHR menjadi salah satu penopang utama produksi migas Indonesia,” jelasnya. Kini, bagi Rizky, kolam lele bukan lagi sekadar tempat mencari penghidupan. Di balik air kolam yang tenang, tumbuh keyakinan baru bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjuangan. “Air di kolam boleh saja menyusut saat kemarau panjang, tetapi tekad kami untuk mandiri tidak akan pernah ikut mengering. Dari keterbatasan, kami belajar bahwa selalu ada jalan bagi orang-orang yang mau terus berusaha dan tidak menyerah,” tandasnya. Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi Zona Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten dan kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). Zona Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.
SOA: Biro Psikologi Unggulan di BSD, Alam Sutera dan Tangsel
Tangsel, katakabar.com - Sahabat Orangtua dan Anak (SOA) merupakan lembaga psikologi di Alam Sutera yang melayani area BSD, Tangerang Selatan (Tangsel), dan sekitarnya sejak tahun 2012. Dipimpin oleh Hanlie Muliani, M.Psi., Psikolog, SOA menghadirkan layanan psikologi komprehensif untuk individu, keluarga, sekolah, hingga organisasi melalui empat pusat layanan utama, yakni Assessment Center, Counseling Center, Learning Center, dan Therapy Center. SOA menyediakan berbagai layanan seperti asesmen kesehatan mental, tes minat bakat dan karir, identifikasi kesulitan belajar, konseling individu dan keluarga, pelatihan sosial-emosional anak, seminar parenting, pelatihan guru, hingga terapi berbasis metode ilmiah seperti Orton-Gillingham, CBT, dan DBT. Dengan pendekatan holistik, berbasis bukti, dan sensitif terhadap budaya lokal, SOA berkomitmen menjadi mitra terpercaya dalam mendukung kesehatan mental dan perkembangan pendidikan masyarakat Tangerang Selatan. Di tengah dinamika kehidupan perkotaan yang semakin kompleks, kebutuhan akan pelayanan kesehatan mental dan dukungan pendidikan yang komprehensif menjadi semakin penting. Sahabat Orangtua dan Anak (SOA) hadir sebagai lembaga psikologi di Alam Sutera yang melayani area Tangerang Selatan, termasuk BSD dan sekitarnya, dengan solusi holistik bagi individu, keluarga, sekolah, hingga organisasi. Mengenal SOA: Dedikasi Satu Dekade di Tangerang Selatan Berdiri sejak Februari 2012 di bawah kepemimpinan Hanlie Muliani, M.Psi., Psikolog, SOA mengusung filosofi "Support, Overcome, Achieve". Sebagai lembaga psikologi di Tangerang Selatan, SOA memiliki misi utama untuk mendukung pertumbuhan komunitas pendidikan dan kesejahteraan mental masyarakat Indonesia. Tim ahli kami terdiri dari para profesional lintas disiplin, mulai dari psikolog klinis berlisensi, psikolog pendidikan, hingga Learning Difficulties Specialist. Lokasi strategis kami di Ruko Alam Sutera Town Center menjadikan SOA sebagai biro psikologi pilihan utama bagi warga BSD, Alam Sutera, dan sekitarnya. Layanan Komprehensif: 4 Pilar Keunggulan SOA Untuk memberikan hasil yang optimal, SOA membagi layanannya ke dalam empat pusat keunggulan (Center of Excellence): 1. SOA Assessment Center: Memahami Potensi Diri Langkah awal perubahan efektif dimulai dengan pemahaman diri yang akurat. SOA menyediakan layanan asesmen psikologi professional untuk masyarakat BSD, Alam Sutera, dan sekitarnya menggunakan metode ilmiah: Mental Wellness Assessment: Deteksi dini kondisi kesehatan mental dan tingkat stres. Personality & Career Assessment: Menggunakan alat Career Direct untuk menentukan minat bakat dan jalur karir. Learning Difficulties Assessment: Evaluasi profesional untuk mengidentifikasi kesulitan belajar seperti Disleksia, DLD, serta hambatan menulis, dan berhitung, disertai rekomendasi pendampingan yang sesuai bagi anak dan sekolah. Recruitment: Solusi bagi organisasi dalam mendapatkan SDM berkualitas di wilayah Tangerang Selatan. 2. SOA Counseling Center: Ruang Aman untuk Didengar Konseling di SOA dirancang untuk semua kalangan. Layanan ini mencakup konseling perkembangan anak, individu, pasangan (pernikahan), pra-nikah, hingga keluarga. Di biro psikologi di Alam Sutera ini, setiap sesi dilakukan dalam suasana rahasia, suportif, dan bebas penghakiman. 3. SOA Learning Center: Edukasi untuk Pertumbuhan Berkelanjutan Pendidikan bukan hanya soal akademik, tapi juga perkembangan sosial-emosional. Lembaga psikologi di Tangerang Selatan ini menghadirkan program: Social Smart Class: Program pengembangan keterampilan sosial yang membantu anak dan siswa membangun pertemanan yang sehat, memahami situasi sosial, meningkatkan empati, serta mengembangkan kemampuan komunikasi dan interaksi yang positif dalam kehidupan sehari-hari. Parenting Seminar: Strategi pengasuhan dan komunikasi efektif bagi orang tua dan guru. Corporate Wellness: Program kesehatan mental di tempat kerja untuk mencegah burnout dan bullying. Teacher Training: Pelatihan bagi guru dan tenaga pendidik untuk memahami psikologi anak dan remaja, mengelola dinamika kelas, meningkatkan komunikasi dengan siswa dan orang tua, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih suportif dan efektif. Student Seminar: Seminar interaktif untuk siswa mengenai pengembangan diri, kesehatan mental, manajemen emosi, motivasi belajar, pergaulan sosial, hingga kesiapan menghadapi tantangan akademik dan kehidupan sehari-hari. 4. SOA Therapy Center: Intervensi Terarah dan Nyata Layanan terapi kami berfokus pada penanganan kesulitan belajar dan pengelolaan perilaku. Salah satu keunggulan biro psikologi kami adalah terapi disleksia dengan pendekatan Orton-Gillingham bersertifikat internasional, serta layanan CBT dan DBT untuk regulasi emosi remaja maupun dewasa. Mengapa Memilih SOA Lembaga Psikologi di Tangerang Selatan? Banyak masyarakat yang mencari psikolog di area BSD dan sekitarnya merasa bingung menentukan pilihan. SOA menonjol karena tiga nilai utama: Metode Holistik: Menghubungkan aspek kognitif, emosional, dan perilaku secara terpadu. Sensitivitas Budaya: Intervensi disesuaikan dengan nilai-nilai lokal Indonesia agar lebih relevan. Berbasis Bukti (Evidence-Based): Menggunakan metode yang tervalidasi secara ilmiah dan riset psikologi terbaru. Membangun Masa Depan Lebih Cerah Founder SOA, Hanlie Muliani, menekankan bahwa kesehatan mental adalah fondasi transformasi. Sebagai lembaga psikologi di Alam Sutera, kami berkomitmen menjadi penyedia layanan one-stop service bagi siapa pun yang mendambakan kesejahteraan mental. Bagi Anda yang mencari biro psikologi di Tangerang Selatan, SOA adalah mitra terpercaya dalam perjalanan menuju kesuksesan pendidikan dan kehidupan yang lebih bermakna.
PKC PMII Riau Apresiasi Ketegasan Polda Riau Tetapkan PT MM Tersangka Kasus Lingkungan
Pekanbaru, katakabar.com - Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Riau apresiasi langkah tegas Polda Riau menetapkan perusahaan sawit PT Musim Mas sebagai tersangka korporasi atas dugaan tindak pidana lingkungan hidup yang mengakibatkan kerugian ekologis mencapai Rp187,8 miliar. Ketua PKC PMII Riau, Ghulam Zaky, menilai langkah tersebut menjadi bukti keseriusan Polda Riau dalam menegakkan hukum lingkungan sekaligus memperkuat implementasi program Green Policing yang digagas Kapolda Riau, Herry Heryawan. Menurut Ghulam, pendekatan Green Policing tidak hanya menitikberatkan pada aspek keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga perlindungan terhadap kelestarian lingkungan hidup sebagai bagian dari masa depan daerah. “PKC PMII Riau memberikan apresiasi atas ketegasan Polda Riau dalam menangani dugaan tindak pidana lingkungan hidup ini. Penetapan tersangka korporasi menunjukkan bahwa hukum harus hadir secara adil dan berani terhadap siapa pun yang diduga merusak lingkungan,” ujar Ghulam, Senin (19/5). Ia menambahkan, program Green Policing yang dibawa Kapolda Riau mulai terlihat melalui langkah konkret penegakan hukum terhadap persoalan lingkungan yang selama ini menjadi perhatian publik. “Ini menjadi pesan bahwa menjaga hutan, sungai, dan ekosistem adalah bagian dari menjaga masa depan masyarakat Riau,” tambahnya. PKC PMII Riau juga menyoroti besarnya kerugian ekologis yang ditimbulkan dalam kasus tersebut. Nilai kerugian mencapai Rp187,8 miliar dinilai menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan memiliki dampak serius terhadap kehidupan sosial, ekonomi, hingga keberlangsungan masyarakat di daerah. Karena itu, Ghulam meminta agar proses hukum dilakukan secara transparan, profesional, dan tidak berhenti hanya pada penetapan tersangka korporasi. “Negara harus memastikan adanya pemulihan lingkungan dan pertanggungjawaban korporasi secara menyeluruh. Penegakan hukum lingkungan harus memberi efek jera dan menjadi peringatan keras bagi pihak-pihak yang mengabaikan keberlanjutan alam demi keuntungan semata,” tegasnya. Selain itu, PKC PMII Riau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung langkah-langkah penyelamatan lingkungan yang dilakukan aparat penegak hukum, sekaligus memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga alam Riau dari ancaman kerusakan yang semakin masif. “Riau tidak boleh terus diwariskan dalam kondisi rusak akibat eksploitasi yang tidak terkendali. Investasi penting, pembangunan juga penting, tetapi kelestarian lingkungan harus menjadi prioritas bersama. Kami mendukung setiap langkah penegakan hukum yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan kepentingan masyarakat luas,” sebut Ghulam.