Indonesia memang belum termasuk tiga besar dalam kekuatan ekonomi global, teknologi, ataupun diplomasi. Namun, Indonesia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara lain: posisi geopolitik yang sangat strategis, demokrasi yang relatif stabil, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, cadangan mineral kritis yang sangat besar, serta kemampuan memainkan peran sebagai middle power yang menjembatani berbagai kepentingan internasional.
Kemitraan Strategis
Mengapa Indonesia dan India perlu mempererat kemitraan strategis? Jawabannya dapat dijelaskan melalui pemikiran dua tokoh besar hubungan internasional, Hans J. Morgenthau dan Joseph S. Nye Jr. Morgenthau, pelopor teori realisme dalam hubungan internasional, menjelaskan bahwa setiap negara pada dasarnya akan memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Tetapi, kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh besarnya militer, melainkan juga oleh ekonomi, sumber daya alam, teknologi, kualitas pemerintahan, moral bangsa, serta kemampuan berdiplomasi.
Sedang, Nye memperkenalkan konsep soft power dan smart power, yakni kemampuan sebuah negara memengaruhi negara lain melalui daya tarik, inovasi, budaya, teknologi, reputasi, dan kepercayaan, bukan semata-mata melalui tekanan militer atau ekonomi.
Dalam dunia yang semakin saling terhubung, kekuatan nasional tidak lagi hanya diukur dari besarnya produk domestik bruto (PDB) atau jumlah persenjataan, tetapi juga dari kemampuan membangun jaringan kemitraan yang produktif dan saling menguntungkan. Negara yang mampu berkolaborasi akan memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan negara yang berjalan sendiri.
Di sinilah kemitraan Indonesia–India menemukan relevansinya. Indonesia memiliki keunggulan pada sumber daya alam strategis, posisi geopolitik, dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. India unggul dalam teknologi informasi, ekonomi digital, farmasi, inovasi, serta bonus demografi. Keunggulan tersebut bukan untuk dipertandingkan, melainkan dipadukan. Kolaborasi dalam investasi, transfer teknologi, kecerdasan buatan, industri digital, pertahanan, pendidikan, dan ekonomi maritim akan menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan jika kedua negara berjalan sendiri-sendiri.
Pada akhirnya, hubungan Indonesia–India tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah atau besarnya nilai perdagangan. Kemitraan sejati adalah kemitraan yang memperkuat daya saing kedua bangsa, memperluas pengaruh diplomasi di kawasan Indo-Pasifik, serta menghadirkan manfaat yang nyata bagi kesejahteraan rakyat di kedua negara. Itulah makna sesungguhnya dari kemitraan strategis yang saling menguntungkan.
India bukan hanya pasar yang sangat besar, tetapi juga mitra yang dapat mempercepat transformasi digital Indonesia. Sebaliknya, Indonesia dapat menjadi pintu masuk India menuju ASEAN, pusat hilirisasi mineral strategis dunia, serta mitra penting dalam ketahanan energi, ketahanan pangan, ekonomi maritim, dan rantai pasok Indo-Pasifik.
Hubungan yang saling menguntungkan (mutually beneficial partnership) inilah yang perlu menjadi arah baru hubungan Indonesia–India. Kedua negara tidak boleh lagi hanya berbangga dengan sejarah panjang atau angka perdagangan yang terus meningkat. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana membangun nilai tambah bersama, menciptakan inovasi bersama, dan membentuk pusat pertumbuhan baru Asia yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi stabilitas dan kemakmuran dunia.
Kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya hari ini, tetapi oleh siapa yang dipilihnya untuk berjalan bersama menghadapi masa depan. Indonesia dan India telah berbagi sejarah selama ribuan tahun. Kini, kedua negara memiliki kesempatan untuk berbagi masa depan.
Jika abad ke 20 adalah abad hubungan diplomatik Indonesia–India, maka abad ke 21 harus menjadi abad kemitraan strategis Indonesia–India, kemitraan yang tidak hanya dibangun atas dasar romantisme sejarah, melainkan atas visi bersama untuk menjadi dua kekuatan demokrasi, ekonomi, teknologi, dan diplomasi yang menentukan arah Asia dan dunia.
Indonesia dan India Saatnya Pererat Hubungan Saling Menguntungkan
Diskusi pembaca untuk berita ini