Ekologis

Sorotan terbaru dari Tag # Ekologis

Indonesia Terjebak Lingkaran Krisis Ekologis Penting Perubahan Tata Kelola Terpadu Lingkungan
Lingkungan
Jumat, 01 Mei 2026 | 10:07 WIB

Indonesia Terjebak Lingkaran Krisis Ekologis Penting Perubahan Tata Kelola Terpadu

Jakarta, katakabar.com - Indonesia terjebak lingkaran krisis ekologis, makanya penting perubahan tata kelola terpadu hadapi krisis ekologis yang semakin kompleks, dan saling terhubung. Kerusakan hutan, krisis air, tekanan pangan, dan ekspansi energi berbasis ekstraktif membentuk satu sistem krisis saling memperkuat, dan berulang. Demikian kata Wakil Direktur Program Yayasan KEHATI, Gita Gemilang, saat memberi sambutan pada Kuliah Umum Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026 di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (28/4) lalu. “Persoalan lingkungan di Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Ia saling terhubung dalam satu lingkaran krisis ekologis. Tanpa perubahan mendasar dalam tata kelola sumber daya alam, krisis ini akan terus berulang dan semakin dalam,” jelas Gita.  IEO 2026 mencatat 99 persen bencana di Indonesia kini merupakan bencana hidrometeorologis, seperti banjir, longsor, dan kekeringan. Kondisi ini mencerminkan melemahnya sistem penyangga kehidupan akibat tata kelola sumber daya alam yang belum berkelanjutan. Penyusun IEO 2026, Muhamad Burhanudin, menimpali krisis tersebut juga nyata terjadi di tingkat lokal, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Tekanan terhadap air tanah, degradasi kawasan hulu, alih fungsi lahan, hingga ekspansi pariwisata dan infrastruktur menunjukkan ketimpangan dalam pengelolaan sumber daya alam. Fenomena ini disebut sebagai “kanibalisme antar sektor”, di mana pertumbuhan satu sektor justru mengorbankan sektor lain. Deforestasi di hulu memperparah krisis air di hilir, sementara krisis air berdampak langsung pada produktivitas pangan dan keberlanjutan ekonomi masyarakat. “Yogyakarta adalah contoh nyata bagaimana krisis ekologis terjadi lintas sektor dalam satu lanskap. Tanpa tata kelola terpadu, satu sektor bisa mengorbankan yang lain,” ulas Burhanudin sekaligua Manajer Advokasi Kebijakan di Yayasan KEHATI. IEO 2026 menekankan pentingnya pendekatan nexus yang mengintegrasikan pengelolaan hutan, air, pangan, dan energi sebagai solusi untuk memutus lingkaran krisis tersebut. Upaya ini mencakup pemulihan ekosistem hulu, pengelolaan air berkelanjutan, transformasi sistem pangan, serta pengendalian ekspansi sektor energi dan pembangunan. Di forum ini, berbagai praktik baik juga disampaikan oleh komunitas lokal. Komunitas Banyu Bening menyoroti krisis air di Yogyakarta, Komunitas Ngargoretno menunjukkan praktik pengelolaan lanskap berbasis masyarakat, sementara LPTP Sragen mendorong agroforestry sebagai solusi integratif antara produksi pangan dan perlindungan hutan. KEHATI menegaskan, arah kebijakan dalam lima tahun ke depan akan menjadi penentu: apakah Indonesia masuk dalam era bencana permanen atau mampu bertransformasi menuju pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. “Transformasi ekologis bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” imbuh Burhanudin.

Involusi Fungsi Ekologis Kelapa Sawit Sawit
Sawit
Minggu, 16 Februari 2025 | 16:53 WIB

Involusi Fungsi Ekologis Kelapa Sawit

katakabar.com - Kelapa sawit masih terus dapat tantangan dari dalam dan luar negeri. Di antara tantangan yang dihadapi, yakni maraknya atribut negatif yang disematkan untuk kelapa sawit, terutama soal lingkungan dan fungsi ekologi. Satu sisi, kelapa sawit telah menjadikan Indonesia sebagai produsen dan eksportir terbesar di dunia. Bagi Indonesia, komoditas ini terus mendorong PDB sektor perkebunan berada pada angka positif dan meningkat signifikan. Produk kelapa sawit dan turunannya sudah diekspor ke hampir seluruh penjuru dunia, dan memberikan nilai positif kepada aspek ekonomi, sosial, kesehatan, hingga lingkungan. Tapi dengan kontribusi yang diberikan, itu tadi 'Emas Hijau' nama lain kelapa sawit masih menghadapi banyak tantangan baik dalam dan luar negeri. Lalu, seperti apa fungsi tanaman kelapa sawit yang berkontribusi positif bagi ekologis tersebut?