Kamis, 21 Mei 2026 | 12:05 WIB

BPDP Dorong Hilirisasi Kakao dan Pengembangan UMKM Berbasis Perkebunan

Jakarta, katakabar.com - Usung konsep edukatif dan interaktif menghadirkan pelaku usaha cokelat lokal Cokelatin Signature lewat sesi story sharing, chocolate tasting, hingga praktik langsung pembuatan minuman cokelat berbasis kakao Indonesia. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU Kementerian Keuangan terus perkuat promosi komoditas perkebunan sekaligus mendorong pengembangan UMKM berbasis kakao melalui Workshop “Roemah Kreasi Nyokelat di Roemah” yang digelar di Roemah UMKM BPDP @ SMESCO Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5) lalu. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan BPDP tidak hanya fokus pada pengelolaan dana perkebunan, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan UMKM.  “Putra-putri Bapak Ibu yang sudah lulus SMA punya kesempatan kuliah melalui program beasiswa sawit. Semua biaya ditanggung, termasuk uang saku bulanan,” terang Helmi. Menurutnya, penerima beasiswa bukan hanya dari keluarga pemilik kebun sawit, tetapi juga dapat berasal dari keluarga pekerja di sektor sawit seperti sopir perusahaan maupun profesi lain yang berkaitan dengan industri sawit. Selain program beasiswa, BPDP juga terus mendorong pertumbuhan UMKM berbasis komoditas perkebunan guna meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka peluang usaha baru. “Kami ingin ini bukan sekadar omon-omon. Kami ingin menjadi sesuatu yang nyata. Silakan manfaatkan kesempatan ini untuk membangun jejaring dan melihat apa yang bisa disupport oleh BPDP untuk pengembangan UMKM,” ujarnya.  Ia berharap kegiatan workshop tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan generasi muda untuk membangun usaha berbasis komoditas perkebunan. Co-Founder Cokelatin Signature, Nugroho Surosoputra, menuturkan bisnis yang dijalankannya berangkat dari ketertarikan terhadap potensi besar kakao Indonesia. Indonesia pernah menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia dan hingga kini masih menjadi produsen terbesar di Asia. Namun demikian, citra cokelat premium selama ini justru lebih melekat pada negara-negara Eropa yang tidak memiliki produksi kakao sebesar Indonesia. “Kalau ke luar negeri oleh-olehnya selalu cokelat. Padahal Swiss tidak punya banyak tanaman kakao,” ucapnya. Pada sesi edukasi, Nugroho, menceritakan sejarah kakao yang berasal dari tanaman Theobroma cacao yang berarti “food of god” atau makanan para dewa. Ia juga memaparkan perbedaan istilah kakao, kokoa, dan cokelat, serta memperkenalkan tiga varietas utama kakao yakni criollo, forastero, dan trinitario. Selain sesi edukasi, peserta workshop juga diajak mempraktikkan langsung pembuatan minuman berbasis kakao Indonesia bersama Founder Cokelatin Signature, Irena Surosoputra, dan Shana yang memiliki keahlian di bidang mixology. Dua menu minuman yang diperkenalkan dalam workshop tersebut, yakni Earl Grey Criollo Chocolate, Pistachio Criollo Chocolate, dan Granola. Pada menu pertama, peserta diperkenalkan pada kombinasi teh Earl Grey dengan cokelat criollo yang memiliki karakter rasa kuat. “Perpaduannya menenangkan, karena ada rasa cokelat dan teh sekaligus. Bisa jadi menu menarik untuk usaha minuman,” kata Shana. Di sesi berikutnya, peserta diajak membuat Pistachio Criollo Chocolate yang terinspirasi dari tren Dubai chocolate dan pistachio yang tengah populer. Peserta mempraktikkan teknik menghias bibir gelas menggunakan pistachio paste dan cacao nibs, membuat tampilan minuman berlapis dengan teknik gradasi warna, hingga penggunaan edible flower sebagai garnish minuman. Suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Peserta tampak aktif bertanya, saling menunjukkan hasil kreasi minuman, hingga mendokumentasikan hasil karya mereka untuk diunggah ke media sosial. Pasalnya, dalam sesi praktik, peserta juga diperkenalkan pada teknik penyajian dan plating minuman yang menjadi salah satu nilai tambah dalam industri makanan dan minuman. Selain praktik pengolahan kakao, workshop tersebut juga memperkenalkan penggunaan non-dairy creamer berbahan sawit sebagai bagian dari inovasi produk minuman berbasis perkebunan. Peserta mempraktikkan penggunaan creamer sawit dalam proses pembuatan minuman cokelat untuk menghasilkan tekstur minuman yang creamy dan seimbang. Penggunaan creamer berbahan sawit juga menjadi bentuk pengenalan produk turunan komoditas perkebunan Indonesia yang memiliki nilai tambah tinggi dan potensi besar dalam industri hilir pangan dan minuman. Melalui kegiatan “Roemah Kreasi Nyokelat di Roemah”, BPDP berharap masyarakat semakin memahami potensi komoditas kakao Indonesia, mengenal produk UMKM berbasis perkebunan, serta terus termotivasi untuk mengembangkan inovasi dan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan nasional

Kunci Kemandirian Industri Pertahanan RI Hilirisasi Tembaga Nasional
Nasional
Rabu, 20 Mei 2026 | 18:50 WIB

Kunci Kemandirian Industri Pertahanan RI Hilirisasi Tembaga

Jakarta, katakabar.com - Indonesia menghadapi sebuah paradoks, menguasai 3 persen cadangan tembaga dunia, tetapi masih mengimpor bahan baku amunisi dari luar negeri. Kondisi itu kini mendorong sinergi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan untuk membangun kemandirian dari hulu ke hilir. Data Kementerian Investasi/BKPM menempatkan Indonesia di urutan ketujuh cadangan tembaga dunia dan ke 11 dalam produksi tambang. Tetapi, industri hilir tembaga Indonesia hanya berada di peringkat ke 18, berada di bawah Jepang, India, Korea, bahkan Bulgaria, yang tidak memiliki sumber daya mineral tembaga sama sekali. Salah satu produk hilir strategis yang kini menjadi sorotan adalah brass cup, bahan baku selongsong amunisi yang selama ini masih dipasok dari impor. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono menilai hilirisasi tembaga memiliki posisi strategis dalam mendukung kemandirian industri pertahanan nasional. Pengolahan tembaga secara terintegrasi, kata dia, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alat utama sistem persenjataan (alutsista), amunisi, hingga teknologi pertahanan strategis. "Dengan adanya integrasi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku, tetapi juga memperkuat posisi dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional," ujar Dave. Urgensi hilirisasi ini tercermin dari tren impor yang terus menanjak. Berdasarkan data Perkembangan Impor Non-Migas Kementerian Perdagangan, nilai impor tembaga dan produk turunannya tumbuh rata-rata 5,11% per tahun dalam periode 2021–2025, dari US 1,90 miliar naik 15,27% secara kumulatif. Dave optimistis hilirisasi yang dijalankan secara konsisten dapat membangun ekosistem pertahanan yang lebih mandiri dan berdaya saing, sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif serta komitmen menjadikan sektor pertahanan sebagai pilar stabilitas nasional. "Komisi I DPR RI akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta agar hilirisasi tembaga benar-benar memberikan manfaat nyata bagi industri pertahanan nasional, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan," jelasnya. Di sisi produksi, langkah konkret mulai bergulir. Holding Industri Pertambangan MIND ID melalui PT Freeport Indonesia bekerja sama dengan Holding Industri Pertahanan DEFEND ID melalui PT Pindad untuk memproduksi brass cup di Gresik, dengan kapasitas 10.000 ton per tahun guna memenuhi kebutuhan komponen amunisi dalam negeri. Ke depan, MIND ID juga berencana mengembangkan fasilitas hilirisasi untuk memproduksi batang tembaga dan kawat tembaga berkapasitas 300.000 ton per tahun, serta pipa tembaga berkapasitas 100.000 ton per tahun, yang semuanya berbasis katoda tembaga hasil produksi Freeport Indonesia. Produk hilirisasi tembaga ini juga dapat menjadi bahan baku bagi berbagai industri pertahanan yang sarat dengan tembaga. Langkah ini adalah kontribusi nyata MIND ID sebagai perusahaan milik Negara dalam menjalankan hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah komoditas mineral di dalam negeri.

KIP Pastikan Kesiapan Rantai Pasok Baja Dukung Program Hilirisasi Krakatau Steel Group Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 13 Mei 2026 | 14:10 WIB

KIP Pastikan Kesiapan Rantai Pasok Baja Dukung Program Hilirisasi Krakatau Steel Group

Jakarta, katakabar.com - Seiring dengan keberhasilan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk/Krakatau Steel Group perkuat fundamental perusahaan melalui proses restrukturisasi keuangan, Krakatau Bandar Samudera (KBS)/Krakatau International Port (KIP) sebagai anak perusahaan dari Krakatau Steel Group mengambil peran strategis memastikan kesiapan rantai pasok industri baja nasional. Peran ini menjadi krusial dalam mendukung implementasi program hilirisasi Krakatau Steel Group yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, sejalan dengan arah transformasi perusahaan melalui inisiatif KRAS Reborn yang menitikberatkan pada penguatan fondasi bisnis dan peningkatan daya saing. Penguatan fundamental perusahaan tersebut menjadi momentum penting bagi Krakatau Steel Group untuk mendorong peningkatan kinerja operasional secara menyeluruh. Dalam kerangka KRAS Reborn, kesiapan infrastruktur logistik dan kepelabuhanan menjadi salah satu pilar utama dalam memastikan keberlanjutan proses produksi dan distribusi baja nasional, sekaligus mendukung terciptanya ekosistem industri yang lebih efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan. Noor Fuad, Direktur Utama PT KBS meyatakan, sebagai pengelola infrastruktur kepelabuhanan dalam ekosistem Krakatau Steel Group, KIP memegang peran vital memastikan dan mendukung penuh kelancaran arus bahan baku dari sisi kepelabuhan & logistik atas rencana hilirisasi baja. Selain itu, kata Noor, KIP juga berfungsi sebagai simpul utama yang menghubungkan sumber daya bahan baku dengan fasilitas produksi serta jalur distribusi ke pasar domestik maupun internasional”. Melalui penguatan kapasitas dermaga dan sistem logistik yang terintegrasi, ucapnya, KIP terus mendorong peningkatan efisiensi operasional, baik dari sisi waktu distribusi maupun biaya logistik. Kesiapan ini menjadi fondasi penting mendukung peningkatan kapasitas produksi Krakatau Steel, termasuk optimalisasi fasilitas Hot Strip Mill (HSM) yang ditargetkan mencapai 120.000 ton per bulan. Hilirisasi Iron Sand untuk Carbon Steel Slab & Billet Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan iron sand sebagai bahan baku industri baja, dengan total cadangan mencapai sekitar 941 juta ton. Konsentrasi terbesar berada di Pulau Jawa dengan estimasi sekitar 399 juta ton, yang memberikan keuntungan geografis bagi Krakatau Steel dalam mendekatkan sumber bahan baku dengan fasilitas produksi. Guna mendukung pemanfaatan potensi tersebut, peran KBS menjadi penting dalam memastikan kelancaran model transportasi iron sand dari lokasi sumber menuju fasilitas produksi. Infrastruktur dermaga yang memadai memungkinkan proses logistik berjalan lebih efisien, sehingga hilirisasi iron sand menjadi produk carbon steel slab dan billet dapat dilakukan secara optimal.  Selain iron sand, Indonesia juga memiliki keunggulan dalam sumber daya nikel dengan cadangan mencapai sekitar 42 persen dari total cadangan dunia atau setara dengan sekitar 5,3 miliar ton. Sebaran cadangan yang berada di wilayah Sulawesi dan Maluku Utara membutuhkan dukungan logistik yang kuat agar distribusi bahan baku dapat berjalan dengan lancar. Dalam hal ini, Krakatau Bandar Samudera berperan dalam memastikan konektivitas logistik antar wilayah tetap terjaga. Infrastruktur dermaga yang terintegrasi memungkinkan distribusi nikel dilakukan secara lebih efisien, tepat waktu dan sekaligus mendukung pengembangan produk stainless steel melalui proses hilirisasi yang berkelanjutan.  Sinergi Dukung Transformasi Krakatau Steel Group Peran KIP  dalam penguatan sistem kepelabuhanan dan logistik merupakan bagian dari sinergi antar entitas dalam Krakatau Steel Group. Dukungan ini memastikan bahwa setiap peningkatan kapasitas produksi di sisi hulu diiringi dengan kesiapan distribusi di sisi hilir. Melalui pendekatan yang terintegrasi, Krakatau Steel Group berupaya menciptakan ekosistem industri baja yang efisien, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan pasar nasional maupun global. Kesiapan rantai pasok yang didukung oleh infrastruktur dermaga menjadi salah satu pilar utama dalam mendorong keberhasilan program hilirisasi.  Ke depan, Krakatau Steel Group optimistis bahwa penguatan peran Krakatau Bandar Samudera dalam sistem logistik akan semakin mempercepat implementasi program hilirisasi. Dengan rantai pasok yang semakin andal dan terintegrasi, Perseroan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kemandirian industri, serta meningkatkan daya saing Indonesia dalam industri baja global. Dr. Akbar Djohan, Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk/Krakatau Steel Group, menyatakan di balik kokohnya setiap lembar baja yang kami tempuh, terdapat denyut nadi logistik yang tak pernah terhenti. KIP bukan sekadar anak usaha; KIP adalah perpanjangan tangan kami dalam menyentuh cakrawala. "Sinergi ini adalah sebuah simfoni antara kekuatan industri dan ketangkasan maritim, di mana setiap arus yang mengalir di dermaga adalah napas yang menghidupkan visi besar Krakatau Steel Group untuk kedaulatan industri nasional," katanya. Sehubungan visi masa depan yang berkelanjutan, Dr. Akbar Djohan yang juga menjabat sebagai Chairman IISIA dan ALFI/ILFA, menegaskan kembali kita tidak hanya sedang menulis laporan tahunan, kita sedang mengukir jejak sejarah di atas hamparan biru laut Cilegon. Inovasi yang diusung oleh KIP adalah manifestasi dari filosofi kami yaitu tumbuh dengan kearifan, bergerak dengan teknologi. "Dukungan Krakatau Steel Group terhadap kemandirian logistik KIP adalah janji kami kepada generasi mendatang, bahwa industri nasional akan terus berlayar menuju ufuk keberhasilan dengan layar yang terkembang dan tekad yang sekeras baja," jelasnya. Menurut Dr. Akbar Djohan, peta jalan transformasi yang dijalankan Krakatau Steel Group saat ini selaras dengan Asta Cita Presiden RI, H Prabowo Subianto. Fokus utama Krakatau Steel Group adalah mendukung akselerasi industrialisasi dan memperkokoh ketahanan ekonomi nasional melalui penguatan sektor baja sebagai fondasi utama pembangunan.

BPDP Buka Call for Proposal Grant Riset 2026: Kelapa Sawit, Kakao dan Kelapa Menuju Hilirisasi Komersial Nusantara
Nusantara
Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:05 WIB

BPDP Buka Call for Proposal Grant Riset 2026: Kelapa Sawit, Kakao dan Kelapa Menuju Hilirisasi Komersial

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), BLU Kementerian Keuangan telah menggelar Webinar sebagai panduan pendaftaran proposal pendanaan penelitian melalui program Grant Riset BPDP 2026 Transformasi lembaga saat ini meliputi pengelolaan dana untuk komoditas Kelapa Sawit, Kakao, dan Kelapa ini menjadi tonggak baru memperkuat kedaulatan sektor perkebunan nasional melalui inovasi dan teknologi. Program ini dirancang untuk memastikan riset tidak hanya berhenti di meja laboratorium, tetapi mampu memberikan solusi aplikatif bagi tantangan industri dan meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh penjuru Indonesia. Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menegaskan perluasan mandat lembaga tahun ini membawa semangat inklusivitas yang lebih besar. Menurutnya, BPDP memberikan ruang seluas-luasnya bagi para peneliti untuk mengeksplorasi potensi di tiga komoditas utama tanpa ada pembatasan jumlah riset yang kaku di tiap kategorinya. "Tahun ini, kami akan melihat riset-riset yang berdampak bagi kakao, kelapa, dan sawit. Kami tidak akan membatasi atau menentukan jumlahnya masing-masing secara spesifik. Paling penting bagi kita agar hasil dari riset kita menjadi maksimal pemanfaatannya menuju komersialisasi," jelasnya. Ia menambahkan keberhasilan program ini akan diukur dari sejauh mana hasil riset dapat dimanfaatkan secara nyata oleh para pemangku kepentingan guna meningkatkan nilai tambah produk perkebunan Indonesia di pasar global. Sejalan dengan visi tersebut, salah satu Komite Penelitian dan Pengembangan BPDP, Dr. Tony Liwang, menekankan pentingnya kualitas luaran (output) dari setiap proposal yang diajukan. Tony merinci standar ketat yang menjadi acuan penilaian agar dana yang disalurkan dapat tepat sasaran pada riset yang memiliki daya guna tinggi. "Output yang diharapkan adalah replicable sehingga siapa saja dapat menggunakan dan masyarakat dapat mengaplikasikannya. Tolong perhatikan daftar periksa agar tidak ada yang terlewatkan, seperti apakah riset sudah jelas, memiliki relevansi yang kuat, inovatif, berdampak, dan apakah nilai komersialisasinya bernilai tinggi?" tegas Dr. Tony Liwang. Riset yang replikabel dinilai menjadi kunci utama agar inovasi yang dihasilkan dapat segera diserap oleh industri kecil maupun menengah (UKM) perkebunan di berbagai wilayah. Motivasi Untuk Peneliti Nasional Kepala Divisi Penyaluran Dana Riset BPDP, Rahmat Widiana, memberikan pesan penyemangat bagi para akademisi dan praktisi riset di seluruh Indonesia. Beliau mengingatkan bahwa proses seleksi ini adalah bagian dari upaya kolektif untuk menajamkan kualitas keilmuan nasional. "Kami berharap Bapak dan Ibu tidak berkecil hati jika nantinya belum berhasil lolos. Tetapi, kami harapkan hasil ini menjadi momentum untuk semakin mempertajam fokus penelitiannya ke depan," ujar Rahmat Widiana. Rahmat juga menekankan BPDP berkomitmen menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam seluruh proses seleksi guna melahirkan inovasi unggulan yang dapat membanggakan Indonesia. Diketahui Pendaftaran proposal dilakukan sepenuhnya secara daring melalui portal resmi https://program-riset.bpdp.or.id/. Untuk batas akhir penyampaian usulan penelitian ditetapkan pada tanggal 30 Juni 2026 mendatang. Para peneliti diwajibkan menyusun proposal inti secara ringkas dan sistematis dengan batas maksimal 20 halaman, mengacu pada peta jalan (roadmap) penelitian yang telah ditetapkan. Melalui sinergi antara akademisi dan dukungan pendanaan dari BPDP, sektor perkebunan diharapkan mampu menjadi pilar utama ekonomi hijau Indonesia di masa depan.

Kementan Dorong Holding PTPN Percepat Hilirisasi Gambir Nasional dari 'Ranah Minang' Nusantara
Nusantara
Minggu, 26 April 2026 | 20:21 WIB

Kementan Dorong Holding PTPN Percepat Hilirisasi Gambir Nasional dari 'Ranah Minang'

Jakarta, katakabar.com - Rencana hilirisasi komoditas gambir asal Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) terus dimatangkan pemerintah melalui sinergi lintas sektor. Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Pemerintah Provinsi Sumbar, dan PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), tengah merumuskan langkah strategis untuk mengoptimalkan komoditas yang saat ini menguasai sekitar 80 persen pasokan pasar dunia tersebut. Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menegaskan hilirisasi menjadi kunci utama agar nilai tambah komoditas gambir tidak lagi didominasi negara pengimpor. Ketika kunjungannya ke Sumatera Barat, Mentan secara khusus mendorong BUMN Perkebunan untuk mengambil peran sentral dalam membangun ekosistem pengolahan di dalam negeri. “Sekarang kita akan diskusikan (gambir). Kita sementara mapping dengan BUMN. PTPN kita dorong menjadi lokomotif hilirisasi,” tegas Amran. Ia menambahkan pemerintah tengah mempercepat realisasi proyek-proyek strategis di sektor perkebunan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. “Kolaborasi dengan berbagai pihak harus diperkuat agar komoditas unggulan seperti gambir memiliki nilai tambah tinggi dan berdampak langsung ke masyarakat. Kesimpulannya, kita akan melakukan groundbreaking sekitar 35 proyek. Semakin cepat terealisasi, semakin baik dampaknya bagi ekonomi nasional,” tuturnya. Dukungan terhadap rencana ini juga disampaikan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Gubernur Sumbar, Mahyeldi, menyebut tren ekspor gambir menunjukkan peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir. “Dalam kurun dua tahun terakhir tren ekspor gambir juga menunjukkan peningkatan. Pada 2024 ekspor gambir mencapai 13.482 ton dengan nilai Rp574,7 miliar atau naik dibandingkan 2023 yang hanya 11.865 ton,” beber Mahyeldi. Terkait rencana pembangunan fasilitas pengolahan, Gubernur menambahkan pengelolaan akan dilakukan PTPN IV PalmCo. “Pabrik pengolahan gambir tersebut nantinya akan dikelola langsung oleh PT Perkebunan Nusantara IV. Berkemungkinan pabrik pengolahan itu dibangun di daerah Kabupaten Limapuluh Kota yang merupakan sentra gambir nasional,” jelasnya. Pendekatan Realistis PTPN IV PalmCo Merespons penugasan tersebut, Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyatakan kesiapan perusahaan mendukung program hilirisasi gambir sebagai bagian dari strategi penguatan nilai tambah komoditas perkebunan di bawah naungan Holding Perkebunan Nusantara. “Upaya hilirisasi menjadi langkah krusial agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat di dalam negeri. Gambir bisa menjadi berbagai bahan pangan seperti teh dan juga bahan baku kosmetik, sabun, sampo, hingga kebutuhan industri. Taninnya bahkan digunakan sebagai bahan tinta pemilu. Ini menunjukkan betapa luasnya pemanfaatan gambir,” tutur Jatmiko. Tetapi, kata Jatmiko, PTPN IV PalmCo mengedepankan prinsip kehati-hatian dan perhitungan bisnis yang matang dalam merealisasikan investasi hilirisasi. Saat ini, perusahaan tengah bekerja sama dengan Universitas Andalas (Unand) untuk menyusun studi kelayakan. “Kita tidak bisa hanya membangun pabrik tanpa melihat pasar. Produk apa yang paling cepat diterima, punya permintaan kuat, dan berpeluang dikuasai pasar, itu yang harus kita dorong lebih dulu,” tegas Jatmiko. Seiring dengan proses kajian tersebut, perusahaan juga memfokuskan intervensi jangka pendek pada penguatan sektor hulu guna meningkatkan produktivitas dan kualitas gambir petani rakyat. “Dengan pendekatan riset yang komprehensif, kita berharap produktivitas dan mutu produk gambir menjadi lebih baik, serta terbukanya akses pasar baru yang memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan petani,” imbuhnya. Sinergi antara Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Sumbar, Holding Perkebunan Nusantara, serta kalangan akademisi ini diharapkan mampu mentransformasi industri gambir nasional secara menyeluruh. Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok gambir bernilai tambah tinggi di pasar global.

PTPN III Dorong Ketahanan Pangan dan Energi Lewat Ekspansi dan Hilirisasi Ubi Kayu Nusantara
Nusantara
Rabu, 22 April 2026 | 13:00 WIB

PTPN III Dorong Ketahanan Pangan dan Energi Lewat Ekspansi dan Hilirisasi Ubi Kayu

Jakarta, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara III (Persero) terus perkuat perannya sebagai BUMN strategis dukung agenda pemerintah yaitu program ketahanan pangan dan energi nasional. Salah satu langkah konkret yang tengah dipersiapkan adalah pelaksanaan program pengembangan dan hilirisasi komoditas ubi kayu. Program ini dirancang sebagai model pengembangan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pada sisi on farm, PTPN III (Persero) akan fokus pada optimalisasi lahan, penanaman dan peningkatan produktivitas, serta pengembangan varietas unggul ubi kayu yang adaptif dan memiliki produktivitas tinggi. Sedang di sisi off farm, penguatan hilirisasi dilakukan melalui pengembangan industri pengolahan bioetanol melalui kolaborasi operasional dengan mitra pada fasilitas pabrik bioetanol di Lampung. Direktur Utama PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, di acara kick off program hilirisasi di Kantor Holding Jakarta, mengatakan program ini langkah strategis perusahaan membangun ekosistem agroindustri masa depan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan. Menurutnya, ubi kayu bukan hanya komoditas pertanian, tetapi memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi daerah sekaligus penopang kebutuhan nasional di sektor pangan dan energi. “Kami melihat ubi kayu sebagai komoditas strategis dengan potensi besar untuk pendukung ketahanan energi dan pangan nasional. Lantaran itu, pengembangannya tidak cukup hanya berhenti pada budidaya, tetapi harus dibangun secara menyeluruh dari hulu sampai hilir. Kami mau pastikan peningkatan produksi di tingkat kebun berjalan seiring dengan kesiapan industri pengolahan, sehingga tercipta rantai nilai yang kuat, efisien dan berkelanjutan," jelasnya. Sebagai bentuk komitmen perusahaan, pada 14 hingga 15 April 2026 lalu, Direktur Utama PTPN III (Persero) bersama jajaran terkait, melakukan rangkaian pertemuan strategis dengan berbagai pemangku kepentingan di Provinsi Lampung untuk memastikan implementasi. Pertemuan tersebut melibatkan Gubernur Lampung, masyarakat petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani ubi Kayu Indonesia (PPUKI), serta mitra operasional PT Medco Ethanol Lampung hingga kalangan akademisi di Universitas Lampung. Sinergi dengan Pemerintah Provinsi Lampung diarahkan untuk memperkuat dukungan kebijakan daerah, percepatan ekosistem investasi, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pengembangan. Sementara dialog dengan pelaku usaha dan asosiasi petani diharapkan memperkuat rantai pasok bahan baku serta menciptakan pola kemitraan yang saling menguntungkan antara perusahaan dan petani. Di bidang riset dan inovasi, kerja sama dengan Universitas Lampung yang akan didampingi oleh PT Riset Perkebunan Nusantara menjadi bagian penting pengembangan varietas unggul serta penerapan teknologi budidaya modern, termasuk uji coba teknik peningkatan produktivitas dengan metode Mukibat. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan ini diharapkan mampu meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan. Pengembangan pabrik bioetanol di Lampung juga diproyeksikan memberikan multiplier effect yang luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja, tumbuhnya ekonomi wilayah, meningkatnya nilai tambah hasil pertanian, hingga terbentuknya ekosistem industri hijau berbasis sumber daya lokal. Melalui program ini, PTPN III (Persero) menegaskan komitmennya untuk terus menjadi motor penggerak pembangunan sektor agroindustri nasional, menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat, sekaligus mendukung target besar Indonesia mewujudkan ketahanan pangan dan energi yang berkelanjutan sesuai dengan Astacita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Perkuat Sinergi Strategis: KS Akselerasi Hilirisasi dan Jaga Kedaulatan Baja Nasional Nasional
Nasional
Jumat, 17 April 2026 | 15:10 WIB

Perkuat Sinergi Strategis: KS Akselerasi Hilirisasi dan Jaga Kedaulatan Baja Nasional

Cilegon, katakabar.com - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk atau Krakatau Steel Group (KRAS) pertegas perannya sebagai tulang punggung industri baja nasional melalui penguatan sinergi strategis dengan pemerintah. Hal ini ditandai dengan kunjungan lapangan Dewan Pertahanan Nasional (DPN) dan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) ke fasilitas operasional Krakatau Steel Group di Cilegon, Selasa (14/4) lalu. Kunjungan kerja ini dilakukan sebagai tindak lanjut pertemuan sebelumnya guna meninjau secara langsung progres fasilitas produksi di Pabrik Hot Strip Mill (HSM), Cold Rolling Mill (CRM), serta operasional PT Krakatau Bandar Samudera/Krakatau International Port. Deputi Bidang Geoekonomi DPN, Dr. Yayat Ruyat, M.Eng., menyampaikan kegiatan ini tindak lanjut koordinasi strategis antara pemerintah dan Krakatau Steel dalam memastikan kesiapan industri baja nasional mendukung agenda hilirisasi yang diarahkan Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto. “Kami melihat Krakatau Steel memiliki peran penting dalam mendukung penguatan industri nasional melalui hilirisasi. Dengan sinergi antara pemerintah dan pelaku industri, kami optimistis pengembangan industri baja ke depan akan semakin kuat dan terintegrasi,” ujarnya. Selain potensi pengembangan, DPN menyoroti tantangan berat yang dihadapi industri baja nasional akibat tekanan produk impor murah yang terindikasi dumping. Kondisi ini dinilai dapat menghambat pertumbuhan industri strategis dalam negeri. Lantaran itu, Dr. Yayat, menekankan perlunya dukungan nyata dari sisi regulasi. “Diperlukan keberpihakan kebijakan, termasuk penguatan instrumen anti-dumping serta dukungan penuh terhadap penggunaan produk dalam negeri agar industri baja kita tetap berdaya saing,” jelasnya. Krakatau Steel Siap Akselerasi Transformasi Direktur Infrastruktur dan Operasi Krakatau Steel, Sidik Darusulistyo, menegaskan kesiapan Perseroan dalam mendukung hilirisasi melalui penguatan operasional dan integrasi bisnis. “Kami terus meningkatkan kinerja produksi sekaligus menyiapkan penguatan sektor hulu untuk menciptakan rantai industri baja yang lebih terintegrasi dan berdaya saing,” jelas Sidik," terangny. Ia menambahkan langkah strategis ini sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam Asta Cita untuk mendorong kemandirian industri berbasis sumber daya domestik," terangnya. Krakatau Steel di bawah pimpinan Direktur Utama, Dr. Akbar Djohan, yang juga menjabat sebagai Chairman IISIA dan ALFI/ILFA menyatakan optimistis dalam sinergi dengan pemerintah akan memperkuat posisi perseroan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Dukungan Negara untuk Integrasi Hulu–Hilir Deputi Bidang Geoekonomi DPN, Dr. Yayat Ruyat, M.Eng., ucapkan apresiasinya dan menyebut Krakatau Steel sebagai kebanggaan industri nasional. Ia menegaskan peran strategis Perseroan dalam mendukung agenda hilirisasi nasional yang diarahkan Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto. “Kami melihat potensi besar Krakatau Steel untuk berkembang lebih jauh melalui penguatan lini hulu, termasuk pengolahan bijih besi dan nikel menjadi produk hilir bernilai tambah seperti stainless steel,” ulas Dr. Yayat Selain potensi pengembangan, DPN menyoroti tantangan berat yang dihadapi industri baja nasional akibat tekanan produk impor murah yang terindikasi dumping. Kondisi ini dinilai dapat menghambat pertumbuhan industri strategis dalam negeri. Oleh karena itu, Dr. Yayat menekankan perlunya dukungan nyata dari sisi regulasi. “Diperlukan keberpihakan kebijakan, termasuk penguatan instrumen anti-dumping serta dukungan penuh terhadap penggunaan produk dalam negeri agar industri baja kita tetap berdaya saing,” bebernya. Krakatau Steel Siap Akselerasi Transformasi Direktur Infrastruktur dan Operasi Krakatau Steel, Sidik Darusulistyo, menegaskan kesiapan Perseroan dalam mendukung hilirisasi melalui penguatan operasional dan integrasi bisnis. “Kami terus meningkatkan kinerja produksi sekaligus menyiapkan penguatan sektor hulu untuk menciptakan rantai industri baja yang lebih terintegrasi dan berdaya saing,” jelas Sidik. Langkah strategis ini, imbuhnya, sejalan dengan visi besar Presiden RI, H Prabowo Subianto yang tertuang dalam Asta Cita untuk mendorong kemandirian industri berbasis sumber daya domestik.

Kembangkan Hilirisasi, PTPN I Fokus Replanting di Pulau Seram Nasional
Nasional
Rabu, 15 April 2026 | 09:59 WIB

Kembangkan Hilirisasi, PTPN I Fokus Replanting di Pulau Seram

Maluku, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), subholding Perkebunan Nusantara, percepat program hilirisasi kelapa melalui rencana tanam ulang (replanting) di Kebun Awaya, PTPN I Regional 8, Pulau Seram, Maluku. Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, saat kunjungan kerja ke Kebun Awaya, di pekan pertama April 2026 lalu, sekaligus mendorong percepatan implementasi program strategis perusahaan di wilayah tersebut. Pada tahap awal, PTPN I bakal melaksanakan program replanting seluas 500 hektare pada 2026. Program ini akan dilanjutkan secara bertahap hingga mencapai total 3.100 hektare di areal Kebun Awaya. Kunjungan tersebut disambut oleh Manager Kebun Awaya, Freddy B.R. Hutahaean, yang menyampaikan kesiapan jajaran kebun mendukung agenda strategis perusahaan. Ia menegaskan Kebun Awaya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sentra produksi dan pengolahan kelapa terintegrasi di kawasan timur Indonesia. Dalam arahannya, Teddy Yunirman Danas mendorong seluruh karyawan untuk menjaga semangat dan optimisme dalam mengelola potensi kebun, serta menjadikan Kebun Awaya sebagai titik awal (groundbreaking) hilirisasi kelapa di lingkungan PTPN I. “Potensi Kebun Awaya harus dimaksimalkan melalui langkah konkret dan terukur. Program replanting seluas 500 hektare pada tahun 2026 dan 1.000 hektare pada tahun 2027 harus menjadi momentum peningkatan produktivitas, baik dari sisi on farm maupun off farm,” ujarnya. Teddy menekankan pentingnya penguatan budaya kerja melalui konsep 3 on 3 sebagai fondasi transformasi perusahaan. Konsep tersebut meliputi Owner's Mindset, yaitu pola pikir sebagai pemilik perusahaan dengan memahami proses bisnis secara menyeluruh serta mempertimbangkan aspek cost and benefit dalam setiap pekerjaan. Selain itu, Networking menjadi elemen penting membangun kolaborasi yang memberikan nilai tambah, serta Excellence yang menekankan pencapaian kinerja sesuai tata kelola yang baik dengan perhitungan risiko yang terukur. Penerapan nilai 3 on 3 tersebut dinilai relevan dengan karakteristik Kebun Awaya yang memiliki luas areal sekitar 4.586 hektare, terdiri dari 3.100 hektare kebun kelapa dan 1.486 hektare kebun karet. Dengan dominasi komoditas kelapa, Kebun Awaya memiliki posisi strategis dalam mendukung pengembangan hilirisasi berbasis kawasan. Optimalisasi potensi ini akan dilakukan melalui program replanting, peningkatan produktivitas, serta penguatan proses produksi terintegrasi dari hulu hingga hilir. Teddy menegaskan keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh luas areal dan kapasitas produksi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia, disiplin operasional, serta kolaborasi lintas fungsi yang solid. Melalui implementasi prinsip Owner's Mindset, Networking, dan Excellence, Kebun Awaya diharapkan dapat menjadi model pengembangan hilirisasi kelapa di Regional 8 sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan nilai tambah perusahaan. Kunjungan kerja ini turut dihadiri Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan, Aris Handoyo, Head of PMO Hilirisasi Perkebunan, Tri Susanto, serta seluruh karyawan Kebun Awaya. Sejalan dengan arah transformasi Holding Perkebunan Nusantara, langkah ini menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong transformasi bisnis, memperkuat daya saing komoditas perkebunan, serta memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian daerah dan nasional.

PalmCo Gercep Bangun Ground Breaking Fasilitas Hilirisasi Anyar Lepas Lebaran Sawit
Sawit
Rabu, 01 April 2026 | 15:01 WIB

PalmCo Gercep Bangun Ground Breaking Fasilitas Hilirisasi Anyar Lepas Lebaran

Jakarta, katakabar.com - Lebaran 1447 Hijriah Tahun 2026 telah usai PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo gerak cepat (Gercep) hilirisasi industri kelapa sawit nasional. Sub Holdinh PTPN III (Persero) ini bersiap memulai pembangunan (groundbreaking) fasilitas pengolahan sawit terpadu di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan rencana pembangunan tersebut bagian dari arah strategis perusahaan yang sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional, termasuk arahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). “Program ini menjadi bagian dari ekosistem hilirisasi yang lebih luas, tidak hanya di sektor sawit, tetapi berbarengan lintas sektor sebagaimana diarahkan Danantara,” ujarnya dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Rabu sore. Ia menegaskanwaktu pelaksanaan groundbreaking masih menunggu keputusan pemegang saham dan kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam waktu dekat, setelah periode Lebaran. “Secara kesiapan kami sudah matang. Tinggal menunggu keputusan pemegang saham, dan kami estimasikan bisa dilakukan pasca-Lebaran ini,” jelasnya. Menurut Jatmiko, PalmCo kini menggeser fokus bisnis dari sekadar produksi dan ekspor Crude Palm Oil (CPO) menjadi pengembangan produk turunan bernilai tambah tinggi.Ia mencontohkan, pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi produk lanjutan seperti Bio Propylene Glycol (BioPG) mampu meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan. “Nilai tambah dari hilirisasi ini bisa meningkat hingga belasan kali lipat. Ini yang menjadi dorongan utama kami,” ucapnya. Pada tahap awal pengembangan, PalmCo akan membangun sejumlah fasilitas utama yang ditargetkan beroperasi bertahap mulai akhir 2028.Fasilitas tersebut mencakup pabrik margarin dan shortening dengan kapasitas sekitar 40.000 ton per tahun, serta pabrik Cocoa Butter Equivalent (CBE) dan Cocoa Butter Substitute (CBS) berkapasitas sekitar 34.000 ton per tahun. Selain itu, PalmCo kembangkan fasilitas pengolahan lanjutan lainnya untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global produk berbasis sawit.Adapun pembangunan pabrik biodiesel dengan kapasitas sekitar 450.000 ton per tahun juga akan menjadi bagian dari pengembangan berikutnya, terutama untuk mendukung ketahanan energi nasional. Proyek hilirisasi minyak sawit ini diproyeksi mampu memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk dalam hal penyerapan tenaga kerja.Pada fase konstruksi hingga operasional penuh, PalmCo memperkirakan total tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar 2.900 orang. “Ini bukan hanya proyek industri, tetapi juga upaya menggerakkan ekonomi daerah dan menciptakan pertumbuhan yang lebih merata,” beber Jatmiko. Selain penyerapan tenaga kerja langsung, keberadaan kawasan industri ini juga dipercaya dapat memicu efek berganda bagi sektor ekonomi lainnya, seperti logistik dan usaha kecil menengah di sekitar kawasan. Di sisi hulu, kehadiran fasilitas hilirisasi ini diharapkan memberikan kepastian pasar bagi petani sawit rakyat. PalmCo proyeksikan, pada 2030, fasilitas tersebut mampu menyerap hingga 2,7 juta ton tandan buah segar (TBS) per tahun, atau setara sekitar 567.000 ton CPO. “Dengan hilirisasi ini, kami ingin memastikan hasil produksi petani terserap secara berkelanjutan. Ini penting untuk menjaga stabilitas ekosistem sawit nasional,” sebutnya. PalmCo optimistis, dengan integrasi dari hulu hingga hilir serta dukungan kebijakan nasional, proyek ini akan menjadi tonggak penting dalam mendorong transformasi industri sawit Indonesia menuju produk bernilai tambah tinggi.

Hilirisasi Buat Kemaslahatan Bangsa, MIND ID Pastikan Nilai Tambah Hulu Hilir Nasional
Nasional
Minggu, 08 Maret 2026 | 10:07 WIB

Hilirisasi Buat Kemaslahatan Bangsa, MIND ID Pastikan Nilai Tambah Hulu Hilir

Jakarta, katakabar.com - Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID tegaskan perannya sebagai penggerak hilirisasi mineral dan batu bara nasional dengan memastikan pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. MIND ID mendorong terciptanya nilai tambah industri yang lebih besar sekaligus memastikan manfaat ekonomi dan sosialnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat. Corporate Secretary MIND ID, Pria Utama, menyatakan sebagai strategic active holding, MIND ID mengintegrasikan seluruh kegiatan penambangan, pengolahan, hingga program tanggung jawab sosial di seluruh anggota Grup guna membangun ekosistem industri mineral nasional yang berkelanjutan. Program hilirisasi yang dijalankan oleh seluruh Anggota Grup terintegrasi dari hulu hingga hilir, dan mampu memperkuat rantai nilai industri mineral nasional serta menghasilkan dampak ekonomi yang lebih optimal bagi negara. “MIND ID secara konsisten menyatukan berbagai inisiatif hilirisasi di seluruh Grup dari hulu hingga hilir. Integrasi ini penting agar pengelolaan sumber daya mineral tidak berhenti pada aktivitas penambangan, tetapi mampu menciptakan nilai tambah industri yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujar Pria saat Buka Puasa Grup MIND ID Bersama Media, Kamis (5/3) lalu. Di sektor hulu, Pria menekankan MIND ID terapkan Good Mining Practice sejak tahap pra penambangan, penambangan, hingga pascatambang, agar kegiatan operasional tetap selaras dengan kelestarian lingkungan serta menjaga keanekaragaman hayati di sekitar wilayah kerja. Pendekatan ini menempatkan perlindungan ekosistem sebagai fondasi dalam menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan. Di tahap hilirisasi, lanjutnya, MIND ID terus mengembangkan berbagai proyek strategis sebagai penggerak rantai nilai mineral nasional. Beberapa proyek yang tengah dalam tahap pengembangan antara lain fasilitas Module & Pack (M&P) Plant dan Cell Plant Indonesia Battery Corporation (IBC) di Karawang sebagai bagian dari ekosistem baterai kendaraan listrik, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, serta ekspansi fasilitas logistik batu bara di koridor Tanjung Enim–Kramasan. Penguatan hilirisasi tersebut juga sejalan dengan tren investasi nasional. Pada 2025, sektor hilirisasi menyumbang sekitar Rp584,1 triliun atau 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional, menunjukkan bahwa pengembangan industri berbasis sumber daya alam menjadi salah satu motor penting dalam transformasi ekonomi Indonesia. Pria menegaskan manfaat hilirisasi tidak hanya tercermin dari peningkatan nilai tambah industri, tetapi juga melalui penyerapan tenaga kerja lokal, peningkatan penerimaan daerah, serta pembangunan infrastruktur penunjang di wilayah operasi. MIND ID juga menjalankan berbagai program pemberdayaan UMK, peningkatan akses kesehatan, serta penguatan pendidikan masyarakat agar pertumbuhan industri dapat berjalan secara inklusif. “Bagi MIND ID, hilirisasi untuk kemaslahatan bangsa berarti memastikan setiap sumber daya mineral yang dikelola mampu menghadirkan nilai tambah bagi perekonomian nasional, memperkuat kemandirian industri, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi,” sebut Pria Utama.