India-Indonesia

Sorotan terbaru dari Tag # India-Indonesia

Kunjungan Modi ke Indonesia: Mampukah Hubungan India-Indonesia Melompat Lebih Jauh? Opini
Opini
Senin, 06 Juli 2026 | 14:04 WIB

Kunjungan Modi ke Indonesia: Mampukah Hubungan India-Indonesia Melompat Lebih Jauh?

Oleh: Gurjit Singh Jakarta, katakabar.com - Kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi ke Indonesia dijadwalkan berlangsung waktu dekat menghadirkan peluang untuk mengangkat salah satu kemitraan strategis yang paling belum dimanfaatkan secara optimal di Asia. Sebagai dua negara demokrasi besar, kekuatan maritim, anggota G20, dan suara penting bagi Global South, India dan Indonesia selama ini belum sepenuhnya memaksimalkan potensi hubungan bilateral mereka. Kunjungan ini berpotensi menjadi titik balik yang penting. Namun, hal tersebut hanya dapat terwujud apabila kedua negara mampu melampaui simbolisme diplomatik dan mulai melembagakan kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, konektivitas, keamanan maritim, serta hubungan antar masyarakat. Dari Kemitraan Strategis Menuju Konvergensi Strategis Hubungan kedua negara memperoleh momentum penting saat Presiden Indonesia Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke India pada Januari 2025, yang bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Lima kesepakatan yang mencakup bidang kesehatan, pengobatan tradisional, kerja sama digital, keamanan maritim, dan pertukaran budaya menunjukkan semakin luasnya agenda bilateral. Kehadiran Presiden Prabowo sebagai tamu utama dalam perayaan Hari Republik India juga menegaskan meningkatnya arti penting Indonesia dalam strategi Indo-Pasifik India. Pertanyaan yang lebih besar tetap muncul: apakah berbagai capaian tersebut mampu menghasilkan lompatan besar dalam hubungan kedua negara? Jawabannya bergantung pada kemampuan India dan Indonesia untuk mengubah hubungan yang selama ini banyak didorong oleh kedekatan diplomatik menjadi hubungan yang didasarkan pada saling ketergantungan ekonomi dan teknologi. Fondasi Sudah Terbangun Secara historis, India dan Indonesia memiliki hubungan peradaban yang kuat dan saling pengertian politik yang mendalam. Kerja sama dalam perjuangan antikolonial, semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung, serta dukungan terhadap tatanan dunia yang lebih multipolar telah menciptakan fondasi hubungan yang kokoh. Beberapa tahun terakhir, sejumlah perkembangan positif juga terlihat. Kerja sama maritim dan angkatan laut terus berkembang melalui patroli dan latihan bersama. Hubungan pertahanan semakin erat, termasuk meningkatnya ketertarikan Indonesia terhadap peralatan pertahanan India. Pertukaran budaya dan pendidikan juga terus meningkat, termasuk dukungan India terhadap pelestarian kompleks Candi Prambanan. Selain itu, investasi India di Indonesia mulai bertumbuh, pembahasan mengenai mekanisme perdagangan menggunakan mata uang lokal terus berjalan, dan kerja sama antara Penjaga Pantai India dengan BAKAMLA Indonesia semakin diperkuat. Namun demikian, perdagangan bilateral masih berada di bawah potensi yang sesungguhnya. Investasi India di Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan China, Jepang, Korea Selatan, maupun Singapura. Hubungan India-Indonesia kerap digambarkan sebagai hubungan yang penting secara strategis, tetapi belum berkembang secara optimal dari sisi ekonomi. Mengapa Momentum Saat Ini Berbeda Sejumlah perkembangan global menjadikan momentum saat ini sangat berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Kepemimpinan Global South India dan Indonesia semakin memandang diri mereka sebagai pemimpin Global South. Sebagai dua negara berkembang besar, keduanya memiliki kepentingan bersama dalam reformasi tata kelola global, pembiayaan iklim, pendanaan pembangunan, ketahanan pangan, serta akses terhadap teknologi. Di tengah globalisasi yang menghadapi tekanan akibat rivalitas geopolitik, fragmentasi rantai pasok, dan meningkatnya proteksionisme, India dan Indonesia memiliki kesempatan untuk bersama-sama memperjuangkan tatanan ekonomi yang lebih inklusif. Berbeda dengan banyak kerja sama Global South yang sering kali hanya bersifat retoris, India dan Indonesia memiliki skala ekonomi dan pengaruh diplomatik yang cukup besar untuk memengaruhi berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, dan ASEAN. Ketahanan Pangan dan Energi Kedua negara juga menghadapi tantangan yang serupa dalam menghadapi inflasi pangan, fluktuasi harga energi, dan dampak perubahan iklim. Indonesia merupakan produsen penting komoditas seperti minyak sawit, nikel, dan batu bara, sementara India merupakan salah satu pasar konsumen terbesar di dunia. Investasi bersama dalam pengolahan pangan, pupuk, energi terbarukan, biofuel, dan cadangan strategis dapat meningkatkan ketahanan kedua negara. Ketahanan pangan dan energi berpotensi menjadi salah satu pilar terkuat kerja sama masa depan karena didorong oleh kepentingan jangka panjang, bukan sekadar pertimbangan politik jangka pendek. Peluang Besar di Bidang Maritim dan Pertahanan Dimensi maritim mungkin menawarkan peluang strategis yang paling besar. Indonesia berada di jalur strategis Selat Malaka, Selat Lombok, dan Selat Sunda, yang merupakan salah satu titik paling penting dalam geopolitik Indo-Pasifik. Sementara itu, India terus memperkuat keterlibatan maritimnya di kawasan timur melalui kebijakan Act East dan strategi Indo-Pasifik. Kedua negara memiliki berbagai kepentingan yang sama, mulai dari kebebasan navigasi, peningkatan kesadaran domain maritim, penanggulangan penangkapan ikan ilegal, pemberantasan pembajakan dan kejahatan lintas negara, pengamanan rantai pasok, hingga respons terhadap bencana. Tahap berikutnya dari kerja sama maritim seharusnya tidak lagi terbatas pada latihan bersama. Kolaborasi industri pertahanan, fasilitas pemeliharaan, produksi bersama, serta transfer teknologi dapat menjadi agenda yang lebih strategis. Keinginan Indonesia untuk mendiversifikasi pemasok pertahanan juga membuka peluang yang lebih besar bagi sistem dan platform pertahanan India. Kemitraan Digital Berpotensi Mengubah Permainan Bidang yang mungkin paling menjanjikan adalah kerja sama digital. Peluncuran Indonesia Open Network (ION), yang terinspirasi oleh Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India, mencerminkan transfer pengetahuan yang penting dalam bidang infrastruktur digital publik. Keberhasilan India dalam membangun berbagai digital public goods, mulai dari sistem identitas digital hingga infrastruktur pembayaran, telah menarik perhatian dunia. Dengan ekonomi digital yang besar dan terus berkembang, Indonesia menjadi mitra yang ideal untuk mengadaptasi berbagai inovasi tersebut. Kerja sama digital ke depan dapat mencakup pembangunan infrastruktur digital publik, pengembangan kecerdasan buatan, keamanan siber, teknologi finansial, digitalisasi UMKM, serta pengembangan keterampilan digital. Di tengah persaingan teknologi global yang semakin intensif, kemitraan digital India dan Indonesia berpotensi menjadi model kerja sama baru bagi negara-negara Global South. Tantangan Masih Menghambat Meski terdapat optimisme, sejumlah kendala masih menghambat kemajuan hubungan kedua negara. Kurangnya Pemahaman Salah satu tantangan terbesar adalah minimnya pemahaman kedua negara satu sama lain. Banyak pelaku bisnis India justru lebih memahami Eropa, Amerika Utara, atau negara-negara Teluk dibandingkan Indonesia. Sebaliknya, banyak masyarakat Indonesia masih melihat India terutama melalui lensa sejarah dan budaya. Institusi yang mendorong pertukaran pemikiran secara berkelanjutan masih sangat terbatas. Karena itu, penguatan think tank, jaringan akademik, dan lembaga penghubung menjadi kebutuhan yang mendesak. Persoalan Persepsi Sebagian pemangku kepentingan di Indonesia juga menilai bahwa beberapa pihak di India masih memandang hubungan bilateral melalui perspektif "senioritas peradaban" dengan terlalu menekankan pengaruh historis India terhadap budaya Indonesia. Narasi seperti ini berpotensi menimbulkan resistensi. Indonesia modern adalah negara yang berdaulat dan memiliki identitasnya sendiri. Oleh karena itu, hubungan masa depan harus dibangun atas dasar kemitraan yang setara, bukan warisan budaya semata. Ekosistem Bisnis yang Belum Kuat Perusahaan India juga sering menghadapi kesulitan dalam memahami lanskap politik dan regulasi Indonesia. Dibandingkan perusahaan Jepang dan China, banyak perusahaan India dinilai masih memiliki jaringan lokal yang lebih terbatas. Berbagai tantangan seperti proses administrasi yang lambat, keterbatasan fasilitasi bisnis, hambatan dalam pengadaan pemerintah, serta kurangnya informasi pasar masih menjadi kendala. Selain itu, infrastruktur diplomasi ekonomi dan komersial India juga kerap dinilai masih kurang dibandingkan beberapa negara pesaing. Mobilitas Sumber Daya Manusia Hubungan bisnis kedua negara masih banyak didominasi oleh tingkat CEO dan manajemen senior. Mobilitas profesional muda, peneliti, mahasiswa, perusahaan rintisan, dan tenaga kerja terampil masih relatif terbatas. Padahal, peningkatan mobilitas dapat memperkuat pemahaman dan menciptakan basis dukungan yang lebih luas bagi hubungan bilateral. Kurangnya Proyek Unggulan Salah satu kelemahan yang paling terlihat adalah minimnya proyek-proyek unggulan yang dapat menjadi simbol keberhasilan kerja sama. China memiliki proyek infrastruktur. Jepang memiliki kawasan industri. Korea Selatan memiliki ekosistem manufaktur. India memerlukan proyek serupa, seperti taman teknologi, pusat layanan kesehatan unggulan, laboratorium kecerdasan buatan bersama, kemitraan universitas, kolaborasi pendidikan bergaya IIT, atau pusat manufaktur farmasi. Tanpa keberhasilan yang terlihat secara nyata, persepsi publik akan terus tertinggal dibandingkan retorika diplomatik. Mampukah Kunjungan Modi Menghasilkan Lompatan Besar? Lompatan besar sangat mungkin terjadi, tetapi tidak otomatis terwujud. Keberhasilan bergantung pada kemampuan kedua negara untuk mengubah hubungan yang selama ini didasarkan pada niat baik strategis menjadi kerja sama yang menghasilkan capaian konkret. Tiga prioritas menjadi sangat penting. Pertama, membangun kemitraan teknologi dan digital yang komprehensif dengan fokus pada kecerdasan buatan, infrastruktur digital publik, dan inovasi. Kedua, menciptakan proyek-proyek unggulan di bidang kesehatan, pendidikan, dan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ketiga, memperdalam kerja sama maritim dan industri pertahanan sehingga kemitraan India-Indonesia dapat menjadi salah satu pilar stabilitas Indo-Pasifik. India dan Indonesia saat ini memiliki konvergensi kepentingan yang sangat jarang terjadi. Keduanya memiliki kepentingan dalam kepemimpinan Global South, keamanan maritim, ketahanan pangan dan energi, serta pengembangan teknologi masa depan. Kunjungan Presiden Prabowo ke India pada 2025 telah menciptakan momentum. Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia memberikan kesempatan untuk mengubah momentum tersebut menjadi transformasi strategis. Apakah hubungan India dan Indonesia dapat mengalami lompatan besar akan lebih ditentukan oleh implementasi dibandingkan deklarasi. Apabila kedua negara mampu mengatasi kesenjangan pengetahuan, hambatan birokrasi, dan berbagai kesalahpahaman, serta menghadirkan proyek-proyek unggulan yang nyata, maka kemitraan India dan Indonesia berpotensi menjadi salah satu hubungan bilateral paling penting di kawasan Indo-Pasifik sekaligus model kerja sama Global South yang praktis dalam dekade mendatang.

Hidupkan Kembali Jejak Peradaban: Penguatan Hubungan Budaya Indonesia India di New Delhi Internasional
Internasional
Jumat, 12 Desember 2025 | 13:47 WIB

Hidupkan Kembali Jejak Peradaban: Penguatan Hubungan Budaya Indonesia India di New Delhi

Jakarta, katakabar.com - Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto, kunjungan kenegaraan ke India sempena perayaan Hari Republik India ke 76 menjadi momentum penting mempererat hubungan bilateral kedua negara. Dalam kesempatan ini, Menteri Kebudayaan Indonesia, Fadli Zon mewakili Indonesia dalam penandatanganan Program Pertukaran Budaya (Cultural Exchange Program) 2025–2028 bersama Menteri Kebudayaan India, Shri Gajendra Singh Shekhawat. Program tersebut memperluas kerja sama di bidang seni, konservasi, sejarah, museum, film, serta pertukaran pemuda, melanjutkan relasi budaya yang telah terjalin sejak 1955. Di tengah berbagai kerjasama kebudayaan yang berlangsung, salah satu kegiatan yang turut menandai kedekatan historis kedua negara adalah penyerahan replika Prasasti Tembaga Nalanda kepada delegasi Kementerian Kebudayaan Indonesia. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang diadakan selama penyelenggaraan UNESCO IGC 20th Committee Meeting. Penyerahan Replika Prasasti Tembaga Nalanda Pada 9 Desember 2025, Kementerian Kebudayaan Pemerintah India menyerahkan replika Prasasti Tembaga Nalanda kepada pejabat senior Kementerian Kebudayaan Indonesia dalam sebuah upacara resmi di National Museum, New Delhi. Meskipun bukan kegiatan utama dari kunjungan Presiden, acara ini menghadirkan nilai simbolis yang kuat, karena mengangkat kembali hubungan intelektual dan spiritual yang telah terjalin antara Nalanda Mahavihara dan Suvarnadvipa (Sumatra) sejak abad ke 9. Replika tersebut akan dipamerkan di Museum Muarajambi, memperkaya koleksi yang menegaskan keterhubungan warisan sejarah Indonesia dan India. National Museum, New Delhi, dan dipimpin oleh DGNM Sh. Gurmeet Chawala sebagai tuan rumah. Acara ini dihadiri oleh sejumlah delegasi, antara lain Sh. Prashant Agarwal selaku Additional Secretary (South MEA), Smt. Lily Pandeya sebagai Joint Secretary Culture India, serta Sh. Raden Usman Effendi, Director of Cultural Diplomacy dari Kementerian Kebudayaan Indonesia. Dalam sambutannya, tuan rumah menegaskan bahwa Prasasti Tembaga Nalanda merupakan salah satu bukti sejarah terpenting yang menunjukkan bahwa hubungan Indonesia–India tidak hanya terbangun melalui kerja sama modern, tetapi berakar pada hubungan kuno yang kaya nilai intelektual dan spiritual. Sejarah Prasasti Tembaga Nalanda Prasasti Tembaga Nalanda berasal dari Kekaisaran Pala (sekitar 860 M) dan dikeluarkan oleh Raja Devapaladeva. Dokumen ini mencatat pemberian lima desa kepada Nalanda Mahavihara untuk mendukung kegiatan para bhikkhu dan penulisan teks-teks ajaran Buddha. Pemberian ini merupakan respons terhadap permintaan Maharaja Balaputra Deva dari Suvarnadvipa (Sumatra), yang mengirimkan duta untuk memperkuat hubungan pendidikan dan spiritual antara Nusantara dan India. Prasasti ini merupakan bukti langsung dari jejaring intelektual Asia pada masa itu. Prasasti asli kini dipamerkan di National Museum India sebagai salah satu koleksi paling berharga. Prasasti ini ditulis menggunakan aksara Eastern Nagari atau Siddhamatrika dalam bahasa Sanskrta. Pada bagian atasnya terdapat segel dharmachakra yang diapit dua rusa, simbol penting dalam ajaran Buddha. Prasasti diterbitkan dari kawasan Madgagiri atau Monghyr pada masa itu. Isi prasasti menyebutkan bahwa Raja Devapaladeva memberikan lima desa Nandivanaka, Manivataka, Natika, Hastigrama, dan Palamaka kepada Nalanda Mahavihara sebagai dukungan bagi para bhikkhu dan kegiatan penulisan naskah-naskah dharma. Dokumen ini juga memuat nama Balavarmman, utusan dari Suvarnadvipa yang menjalankan misi diplomatik atas permintaan Maharaja Balaputra Deva. Prasasti bertanggal hari ke 21 bulan Kartika pada tahun ke 39 pemerintahan Raja Devapaladeva. Warisan Kuno Menguatkan Kolaborasi Masa Kini Penyerahan replika Prasasti Tembaga Nalanda pada 9 Desember 2025 bukti menambah kedalaman makna dari rangkaian kegiatan budaya Indonesia–India tahun ini. Kehadiran replika tersebut di Museum Muarajambi kelak akan menjadi pengingat bahwa hubungan kedua negara berakar pada interaksi peradaban yang panjang dan bahwa kerja sama masa kini dibangun di atas fondasi warisan sejarah yang kokoh.

India dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Demokrasi Lewat Program PPI 2025 Internasional
Internasional
Sabtu, 08 November 2025 | 10:00 WIB

India dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Demokrasi Lewat Program PPI 2025

New Delhi, katakabar.com - Komisi Pemilihan Umum India (Election Commission of India/ECI) menyambut kunjungan delegasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia sebagai bagian dari International Election Visitors' Programme (IEVP) 2025 yang berlangsung pada 4 hingga 9 November 2025. Delegasi yang dipimpin oleh Komisioner KPU, Idham Holik, ini beranggotakan tiga orang dan menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi demokrasi antara kedua negara. Kegiatan bekerja sama dengan India International Institute for Democracy and Election Management (IIIDEM), IEVP 2025 menghadirkan perwakilan dari berbagai negara, termasuk Prancis, Afrika Selatan, Belgia, Filipina, dan Cabo Verde. Program ini bertujuan memperkenalkan para peserta pada berbagai aspek penyelenggaraan pemilu di India yang diakui sebagai proses demokrasi terbesar dan paling kompleks di dunia. Menurut pernyataan resmi, program ini memberikan kesempatan bagi para peserta “untuk memperoleh pengalaman langsung mengenai pelaksanaan pemilu India yang tengah berlangsung di Negara Bagian Bihar.” Melalui kegiatan tersebut, delegasi mempelajari proses pemungutan suara, penggunaan Electronic Voting Machines (EVM), serta mekanisme yang menjamin integritas dan aksesibilitas bagi seluruh pemilih. Selama kunjungan, delegasi KPU Indonesia mengikuti sesi interaktif dengan pejabat senior Komisi Pemilihan Umum India, menghadiri paparan teknis tentang manajemen pemilu, dan melakukan kunjungan lapangan ke lokasi pemungutan suara di Bihar. Kegiatan ini menjadi sarana penting untuk bertukar pengalaman dan memperkuat pemahaman antar penyelenggara pemilu dari dua negara demokrasi besar di Asia. Ketua Komisi Pemilihan Umum India, Shri Gyanesh Kumar, bersama Komisioner Dr. Vivek Joshi, membuka secara resmi program IEVP 2025 pada awal pekan ini. Ia menyatakan, keduanya menegaskan program ini merupakan wadah penting untuk memperkuat solidaritas demokrasi global dan berbagi praktik terbaik dalam penyelenggaraan pemilu yang transparan, jujur, dan inklusif. India dan Indonesia, sebagai dua negara demokrasi terbesar di Asia Selatan dan Asia Tenggara, memiliki nilai dan visi bersama dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang partisipatif dan akuntabel.

Kemitraan Ayurveda dan Jamu Paradigma Baru Kemitraan India-Indonesia Internasional
Internasional
Minggu, 19 Januari 2025 | 16:26 WIB

Kemitraan Ayurveda dan Jamu Paradigma Baru Kemitraan India-Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Kemitraan antara India dan Indonesia memasuki paradigma baru di bidang pengelolaan sumber daya hayati, pertanian inovatif dan energi terbarukan dengan unsur dari sektor-sektor tradisional. Sebelumnya, beberapa produsen rumput laut menghadapi tantangan regulasi di India agar lebih mudah beroperasi di Indonesia dengan memberikan solusi praktis dan peluang untuk berkolaborasi. Tapi, pada Desember 2024 lalu, terdapat kerja sama baru dalam bentuk produk obat tradisional yang mudah didapat dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh, yakni ayurveda dan jamu. Diketahui, Ayurveda telah lama dikenal akan manfaat terapeutiknya dan populer secara global sebagai pengobatan alternatif yang terstruktur beserta dukungan dari ilmu pengetahuan. Lebih dari 70 persen dari 1,3 miliar penduduk India menggunakan sistem perawatan kesehatan tradisional atau non-alopati.

Pemimpin Perempuan Diaspora India-Indonesia, Poonam Sagar Tampil di PBD 2025 Internasional
Internasional
Kamis, 16 Januari 2025 | 20:11 WIB

Pemimpin Perempuan Diaspora India-Indonesia, Poonam Sagar Tampil di PBD 2025

Jakarta, katakabar.com - Pravasi Bharatiya Divas (PBD) telah diperingati setiap 9 Januari dari tahun 2003 untuk menghormati kontribusi komunitas diaspora India dalam pembangunan India. Di PBD ke18 digar pada 8 hingga 10 Januari 2025. Poonam Sagar, pendiri IndoIndians sekaligus pemimpin komunitas yang terkemuka, telah dinominasikan oleh Kedutaan Besar India dan dipilih oleh Kementerian Luar Negeri Pemerintah India untuk menjadi salah satu pembicara dalam sesi pleno Pravasi Bharatiya Divas ke 18 yang berlangsung pada 8 hingga 10 Januari 20255 di Bhubaneswar, ibu kota negara bagian Odisha. Poonam akan berbicara dengan topik, “Diaspora Divas: Celebrating Women's Leadership and Influence-Nari Shakti.” Poonam Sagar telah menunjukkan pencapaian luar biasa dalam memperkuat hubungan Indonesia-India melalui berbagai inisiatifnya. Sebagai tokoh utama di balik komunitas IndoIndians dan Ketua Indonesia India Business Forum, ia telah memperlihatkan komitmen yang kuat dalam memberdayakan diaspora dan memajukan pemberdayaan perempuan.