Harga Emas Diprediksi Turun: Cermati Level Support 4.109–4.086 Hari Ini Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 09 Oktober 2026 | 14:25 WIB

Harga Emas Diprediksi Turun: Cermati Level Support 4.109–4.086 Hari Ini

Jakarta, katakabar.com - Harga emas masih menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini, Selasa (6/10), di tengah penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil Treasury Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat pergerakan XAU/USD masih berpotensi melanjutkan tren bearish, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober mulai menurun setelah data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan.

Harga Ethereum Incar $3.000, Level $2.800 Jadi Penentu Reli Oktober Internasional
Internasional
Jumat, 09 Oktober 2026 | 11:15 WIB

Harga Ethereum Incar $3.000, Level $2.800 Jadi Penentu Reli Oktober

Jakarta, katakabar.com - Harga Ethereum (ETH) memasuki Oktober 2026 dengan peluang melanjutkan pemulihan, tetapi masih menghadapi satu penghalang penting di area $2.775–$2.800. Jika level tersebut berhasil ditembus dan bertahan sebagai support, ETH berpotensi membuka ruang kenaikan menuju $3.000.

Prediksi Bitcoin: BTC Berpotensi Tembus $97.000, Cek Level Support dan Resistance Internasional
Internasional
Kamis, 08 Oktober 2026 | 09:13 WIB

Prediksi Bitcoin: BTC Berpotensi Tembus $97.000, Cek Level Support dan Resistance

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi perhatian pasar kripto memasuki pekan kedua Oktober 2026. Setelah bergerak menguat dari level terendah pada akhir September, Bitcoin dinilai masih memiliki peluang melanjutkan kenaikan menuju US$92.000 hingga US$97.000.

Bitcoin Sentuh Level Tertinggi Lima Pekan, FLOQ Lihat Momentum Positif Masih Terbuka Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 30 Juli 2026 | 11:07 WIB

Bitcoin Sentuh Level Tertinggi Lima Pekan, FLOQ Lihat Momentum Positif Masih Terbuka

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin bergerak fluktuatif setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lima minggu di kisaran US$66.400–US$66.500 pada 21 Juli 2026. Tetapi, penguatan tersebut tertahan setelah BTC terkoreksi ke area US$65.600–US$65.700 pada 22 Juli 2026.  Koreksi terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia, dengan WTI menembus US$85 per barel dan Brent mendekati US$90 per barel. Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran pasar terhadaptekanan inflasi global dan arah kebijakan suku bunga The Fed.  CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi Bitcoin tidak sertamerta menghapus peluang penguatan, tetapi pasar membutuhkan konfirmasi yang lebih kuat dari faktor makro dan arus dana institusional.  “Koreksi setelah Bitcoin menyentuh level tertinggi lima minggu adalah hal yang wajar, terutama ketika pasar menghadapi tekanan dari harga minyak dan geopolitik. Peluang penguatan tetap terbuka, tetapi pasar membutuhkan dukungan yang lebih solid, baik dari stabilisasi makro, meredanya risiko energi, maupun keberlanjutan inflow institusional,” kata Yudho.  Menurut Yudho, harga minyak kini menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar dalam membaca arah Bitcoin jangka pendek. Selama tekanan energi dan eskalasigeopolitik masih berlangsung, volatilitas pasar kripto berpotensi tetap tinggi.  “Kondisi saat ini, harga minyak menjadi variabel yang sangat penting untuk diperhatikan. Jika kenaikan harga energi berlanjut dan kembali mendorong kekhawatiran inflasi, ekspektasiterhadap arah suku bunga The Fed juga bisa berubah. Dampaknya dapat langsung terasa pada aset berisiko seperti Bitcoin,” jelasnya.  Menurut data riset Market Outlook FLOQ, level US$66.500 menjadi resistance jangka pendek Bitcoin setelah dua kali gagal ditembus sepanjang bulan ini. Sementara itu, area US$64.000 menjadisupport penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar.  Harga Minyak dan Geopolitik Jadi Fokus  Data FLOQ mencatat eskalasi konflik AS-Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak. Selama tekanan geopolitik dan risiko pasokan energi belum mereda, hargaminyak diperkirakan tetap menjadi variabel penting yang memengaruhi pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek.  “Dalam kondisi saat ini, harga minyak menjadi indikator penting untuk membaca arah Bitcoin. Jika tekanan energi berlanjut dan kembali mendorong kekhawatiran inflasi, pasar aset berisiko, termasuk kripto, berpotensi tetap bergerak volatil,” jelas Yudho.  Selain itu, pelaku pasar juga mencermati pertemuan FOMC pada 28 hingga 29 Juli 2026. Meskipun pasar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga, peluang kenaikan suku bunga pada horizon September meningkat seiring lonjakan harga minyak.  ETF dan Regulasi Beri Sinyal Positif  Di tengah tekanan makro, arus dana ETF Bitcoin spot memberikan sinyal yang lebih konstruktif. ETF Bitcoin mencatat inflow selama lima hari berturut-turut hingga 21 Juli 2026, menjadi rangkaianinflow pertama sejak April. ETF Ethereum juga mencatat inflow bersih pada pekan 13–17 Juli setelah sebelumnya mengalami outflow selama delapan minggu berturut-turut.  Meski demikian, Yudho menilai pemulihan tersebut masih perlu dibaca secara hati-hati karena outflow year-to-date masih berada di sekitar US$5,2 miliar. Dengan demikian, inflow pekan ini lebihtepat dilihat sebagai pemulihan parsial, bukan pembalikan tren besar secara penuh.  “Masuknya kembali dana ke ETF Bitcoin dan Ethereum menjadi sinyal positif bagi pasar. Namun, investor tetap perlu membedakan antara pemulihan jangka pendek dan perubahan tren besar, terutama karena risiko makro masih cukup dominan,” terang Yudho.  Dari sisi regulasi, perkembangan CLARITY Act di Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Data FLOQ mencatat peluang floor vote meningkat setelah hambatan terkait bahasa etika selesai, tetapi peluang RUU tersebut benar-benar disahkan masih perlu dikawal secara realistis.  “Regulasi yang lebih jelas akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri kripto ke depan. Namun, kemajuan prosedural belum otomatis berarti regulasi akan langsung disahkan ataulangsung berdampak besar terhadap harga aset,” sebut Yudho.  Volatilitas Masih Berpotensi Tinggi  Yudho menilai pasar kripto masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek. Arah Bitcoin pekan ini akan banyak dipengaruhi oleh kombinasi faktor global, mulai dari pergerakan harga minyak, perkembangan geopolitik, ekspektasi suku bunga The Fed, hingga keberlanjutan inflow ETF Bitcoin spot.  Dari pasar domestik, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada RDG 21–22 Juli 2026. Rupiah juga menguat tipis ke kisaran Rp17.909–Rp17.917 per dolar AS pada 22 Juli 2026, sementara IHSG melanjutkan penguatan ke level 6.374.  Meski kondisi domestik menunjukkan perbaikan, Yudho menilai investor tetap perlu mencermati tekanan eksternal yang dapat mempengaruhi pasar aset berisiko, termasuk kripto. Dalam kondisipasar yang masih dinamis, investor perlu memahami bahwa pergerakan harga tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen pasar, tetapi juga faktor makroekonomi, kebijakan moneter, arus dana institusional, dan risiko geopolitik.  “Peluang pasar kripto tetap terbuka, terutama jika inflow ETF berlanjut dan tekanan geopolitik mulai mereda. Namun, dalam kondisi yang masih penuh ketidakpastian, disiplin manajemen risikomenjadi sangat penting. Investor sebaiknya tidak hanya melihat potensi kenaikan harga, tetapi juga memahami faktor-faktor yang dapat memicu volatilitas,” kata Yudho lagi.  Edukasi Jadi Kunci bagi Investor  Menghadapi pasar kripto yang masih fluktuatif, Yudho mengimbau investor untuk tetap disiplin, melakukan riset mandiri, dan menghindari keputusan investasi yang hanya didasarkan pada sentimenjangka pendek. Strategi investasi juga perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan keuangan, serta pemahaman masing-masing investor terhadap aset yang dipilih.  “Dalam pasar kripto, volatilitas adalah hal yang perlu dipahami, bukan dihindari tanpa strategi. Investor perlu melihat pergerakan harga secara lebih rasional, tidak terbawa euforia jangka pendek, dan tetap menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing. Untuk investor jangka panjang, strategi seperti dollar cost averaging (DCA) masih dapat menjadi pendekatan yang relevan, selama dilakukan secara konsisten dan disertai pemahaman risiko yang memadai,” jelas Yudho.  Sebagai bagian dari komitmen untuk meningkatkan literasi aset digital, FLOQ menyediakan FLOQ Academy yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat. Melalui platform edukasi ini, pengguna dapat mempelajari dasar-dasar kripto, memahami dinamika pasar, serta membangun kebiasaan riset sebelum mengambil keputusan investasi.  Disclaimer: Informasi dalam siaran pers ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 24 Juli 2026. Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitasharga pasar. Seluruh informasi yang disampaikan dalam siaran pers ini bersifat umum dan hanya ditujukan untuk keperluan informasi. Informasi ini bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi untuk membeli, menjual, atau melakukan investasi pada aset kripto tertentu.  FLOQ mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan riset secara mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dan mempertimbangkan setiap keputusan investasi secara matang sesuai dengan profilrisiko, tujuan investasi, serta kemampuan finansial masing-masing. Masyarakat juga diharapkan tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan dalam melakukan transaksi aset kripto.

Harga Emas Peluang Rebound, Ini Level Perlu Dicermati Investor Internasional
Internasional
Rabu, 10 Juni 2026 | 10:26 WIB

Harga Emas Peluang Rebound, Ini Level Perlu Dicermati Investor

Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia berpotensi melanjutkan penguatan perdagangan Selasa (9/6), setelah menunjukkan tanda-tanda pemulihan dari tekanan yang membebani pasar dalam beberapa sesi terakhir. Meski secara umum tren yang lebih besar masih berada dalam fase bearish, pergerakan jangka pendek mulai mengindikasikan adanya peluang rebound yang cukup menarik untuk dicermati investor. Analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit menunjukkan pergerakan XAU/USD pada timeframe H4 saat ini mengarah pada fase koreksi naik setelah sebelumnya mengalami penurunan yang cukup dalam. Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan jual yang mendominasi pasar mulai mereda, sementara minat beli perlahan kembali muncul. Beberapa hari terakhir, ujar Kofit, harga emas mengalami pelemahan yang cukup signifikan seiring kuatnya sentimen negatif dari pasar global. Tetapi, setelah mencapai area harga tertentu, aktivitas jual mulai berkurang dan membuka ruang bagi pembeli untuk kembali masuk ke pasar. Situasi ini sering terjadi ketika pelaku pasar menilai harga sudah berada pada level yang relatif menarik untuk melakukan akumulasi. Secara teknikal, ulasnya, peluang kenaikan harga masih cukup terbuka selama emas mampu bertahan di atas area support terdekat. Bertahannya harga di atas level tersebut menunjukkan bahwa pasar masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk melanjutkan pergerakan naik dalam jangka pendek. Menurut analisis Dupoin Futures ini, target kenaikan terdekat berada di area resistance 4.353. Level ini menjadi titik penting yang akan diuji oleh pasar dalam beberapa sesi mendatang. Jika harga mampu menembus area tersebut, peluang penguatan lanjutan menuju level 4.381 akan semakin besar. "Pergerakan indikator teknikal juga mendukung skenario tersebut. Indikator stochastic saat ini masih bergerak naik dan menunjukkan bahwa momentum beli masih cukup dominan. Kondisi ini menandakan bahwa pasar belum kehilangan tenaga untuk melanjutkan penguatan dalam jangka pendek," jelasnya. Dipaparkan Kofit, kenaikan stochastic menuju area overbought memang sering menjadi tanda bahwa pasar mulai memasuki fase jenuh beli. Tetapi, selama belum muncul sinyal pembalikan yang jelas, pergerakan indikator tersebut justru menunjukkan bahwa minat beli masih mendominasi aktivitas perdagangan. "Kesesuaian antara arah pergerakan harga dan indikator stochastic menjadi salah satu faktor yang memperkuat peluang terjadinya rebound. Dengan kata lain, sinyal teknikal yang muncul saat ini tidak hanya berasal dari satu indikator, tetapi didukung oleh beberapa komponen analisis yang bergerak searah," bebernya. Meski demikian, sambungnya, investor tetap perlu memperhatikan bahwa penguatan yang terjadi saat ini masih berada dalam kategori koreksi naik di tengah tren bearish yang lebih besar. Lantaran itu, area resistance yang ada akan menjadi penentu penting apakah rebound ini dapat berkembang menjadi perubahan tren yang lebih kuat atau hanya bersifat sementara. Dari sisi fundamental, imbubnya, peluang kenaikan harga emas juga mendapat dukungan dari perubahan perilaku pasar setelah penurunan tajam yang terjadi sebelumnya. Ketika harga mengalami koreksi cukup dalam, sebagian investor biasanya mulai melihat peluang untuk masuk kembali ke pasar melalui strategi buy on weakness. "Strategi ini dilakukan dengan memanfaatkan harga yang dianggap lebih murah dibandingkan periode sebelumnya. Aktivitas pembelian tersebut dapat membantu meningkatkan permintaan dan mendorong harga bergerak naik dalam jangka pendek," kata Kofit. Selain faktor tersebut, kupas Kofit lagi, pergerakan dolar Amerika Serikat juga menjadi salah satu elemen penting yang memengaruhi arah harga emas. Jika dolar AS mengalami pelemahan sementara akibat aksi ambil untung setelah penguatan yang cukup panjang, maka emas berpotensi memperoleh dukungan tambahan. "Hubungan antara emas dan dolar selama ini cenderung berlawanan arah. Ketika dolar melemah, harga emas biasanya menjadi lebih menarik bagi investor global sehingga permintaannya meningkat. Kondisi inilah yang dapat membantu memperkuat momentum rebound yang sedang berlangsung saat ini," terangnya. Faktor lain yang turut mendukung adalah pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Yield. Apabila yield mulai bergerak turun atau setidaknya stabil, maka tekanan terhadap emas akan berkurang. Investor biasanya lebih tertarik memegang emas ketika imbal hasil obligasi tidak lagi menawarkan kenaikan yang signifikan. Selain itu, pasar juga masih memantau berbagai perkembangan ekonomi dan geopolitik global. Munculnya ketidakpastian baru terkait pertumbuhan ekonomi, inflasi, maupun dinamika geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Secara keseluruhan, kombinasi sinyal teknikal yang mulai membaik dan dukungan sentimen fundamental memberikan peluang bagi harga emas untuk melanjutkan pemulihan dalam jangka pendek. Selama harga tetap bertahan di atas area support yang telah terbentuk, potensi kenaikan menuju resistance 4.353 hingga 4.381 masih terbuka. "Tetapi, investor tetap perlu mencermati pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, serta perkembangan sentimen global yang dapat memengaruhi arah pasar. Dengan kondisi yang ada saat ini, emas masih memiliki peluang untuk memperpanjang fase rebound setelah tekanan jual yang cukup besar dalam beberapa waktu terakhir," tandasnya.

Menakar Masa Depan Baja Nasional: Level Playing Field dan Data Objektif Kunci Hadapi Dominasi Impor Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:05 WIB

Menakar Masa Depan Baja Nasional: Level Playing Field dan Data Objektif Kunci Hadapi Dominasi Impor

Jakarta, katakabar.com - Perdagangan baja global memasuki fase baru yang semakin ditentukan oleh kebijakan negara melalui tarif, kuota impor, hingga instrumen pengamanan perdagangan. Kondisi ini menuntut penguatan kebijakan perdagangan nasional agar industri baja domestik tetap kompetitif di tengah tekanan global yang meningkat. Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan, menegaskan pentingnya konsistensi kebijakan perdagangan untuk menjaga keberlanjutan industri baja nasional. “Perdagangan baja global saat ini semakin ditentukan oleh kebijakan negara. Karena itu, penguatan instrumen pengamanan perdagangan dan konsistensi kebijakan impor menjadi penting agar industri baja nasional dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Dr. Akbar Djohan, sebagai Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA). Pasar Baja Global Semakin Tertutup Pengamat Industri Baja dan Pertambangan Widodo Setiadharmaji, Steel & Mining Insights menilai bahwa lanskap perdagangan baja global kini semakin bergeser dari mekanisme pasar terbuka menuju sistem yang dikendalikan oleh kebijakan negara. Berbagai negara mulai mengombinasikan instrumen tarif, Tariff Rate Quota (TRQ), serta kebijakan pengamanan perdagangan untuk membatasi akses pasar baja impor. Selain tarif dan kuota, instrumen anti-dumping dan countervailing duties juga semakin sering digunakan untuk mengendalikan tekanan kelebihan kapasitas produksi global. Di sisi lain, Uni Eropa memperkenalkan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang menambah beban biaya bagi impor baja melalui mekanisme sertifikat karbon. Menurut Widodo, kombinasi kebijakan tersebut membuat pasar-pasar utama dunia semakin tertutup secara simultan. Akibatnya, kelebihan pasokan global cenderung mencari pasar alternatif yang relatif lebih terbuka. Risiko Tekanan Impor di Pasar Domestik Dalam situasi tersebut, Indonesia berpotensi menjadi tujuan realokasi perdagangan baja global. Ketika akses pasar di Amerika Utara dan Eropa semakin ketat, produk baja dari negara produsen besar dapat mengalir ke pasar yang lebih terbuka, termasuk Asia Tenggara. Tekanan tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk lonjakan impor yang mendadak, tetapi dapat terjadi melalui tekanan harga yang persisten dan persaingan pasar yang semakin ketat di dalam negeri. Adapun upaya penguatan industri baja nasional sejalan dengan agenda pembangunan ekonomi nasional dan Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto, khususnya dalam mendorong kemandirian industri strategis dan memperkuat daya saing sektor manufaktur.

Emas Stabil di Level Tinggi, Dupoin Futures Prediksi Potensi Kenaikan ke 5231 Internasional
Internasional
Kamis, 12 Maret 2026 | 16:10 WIB

Emas Stabil di Level Tinggi, Dupoin Futures Prediksi Potensi Kenaikan ke 5231

Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai sentimen global yang memengaruhi pasar keuangan. Berdasarkan analisis pasar dari Dupoin Futures yang disampaikan analis Andy Nugraha, pergerakan emas (XAU/USD) saat ini masih berada dalam tren bullish pada timeframe H1. Kombinasi pola candlestick yang terbentuk bersama indikator Moving Average mengindikasikan bahwa momentum penguatan emas masih cukup solid dalam jangka pendek. Pada perdagangan sebelumnya, harga emas mengalami kenaikan yang cukup signifikan. XAU/USD tercatat diperdagangkan di sekitar level $5.187 per troy ounce, meningkat lebih dari 0,50 persen dibandingkan sesi sebelumnya. Penguatan ini dipicu oleh pelemahan Dolar AS yang terjadi setelah harga minyak dunia mengalami penurunan tipis. Pergerakan harga minyak diketahui memiliki korelasi tertentu dengan nilai tukar dolar AS. Ketika harga minyak melemah, tekanan terhadap dolar dapat meningkat sehingga memberikan dorongan tambahan bagi aset safe haven seperti emas. Selain faktor mata uang dan komoditas energi, sejumlah data ekonomi Amerika Serikat turut memberikan pengaruh terhadap dinamika pergerakan pasar emas. Data penjualan rumah yang sudah ada (existing home sales) di AS menunjukkan pemulihan pada bulan Februari setelah sebelumnya mengalami kontraksi cukup dalam pada Januari. Penjualan rumah tercatat meningkat sebesar 1,7 persen, membaik dari penurunan sebelumnya yang mencapai -5,9 persen. Perbaikan ini mengindikasikan sektor properti mulai menunjukkan stabilisasi meskipun kondisi ekonomi global masih dipenuhi ketidakpastian. Sementara, indikator ketenagakerjaan juga menunjukkan perkembangan positif. Data rata-rata perubahan tenaga kerja ADP selama empat minggu terakhir tercatat meningkat menjadi 15,5 ribu, lebih tinggi dibandingkan angka sebelumnya sebesar 12,8 ribu. Peningkatan ini memberikan gambaran bahwa pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan ketahanan, meskipun tekanan ekonomi global tetap menjadi perhatian bagi para pelaku pasar. Memasuki perdagangan sesi Asia pada hari Rabu, harga emas terlihat relatif stabil di sekitar level $5.190. Stabilitas ini terjadi setelah pasar sempat mengalami volatilitas yang dipicu oleh perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan di wilayah tersebut masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga komoditas global, termasuk emas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sebelumnya menyampaikan operasi militer AS di Iran kemungkinan akan segera berakhir, meskipun belum ada kepastian mengenai waktu penghentian operasi tersebut. Pernyataan ini sempat memicu penurunan harga minyak karena pasar menilai potensi de-eskalasi konflik. Penurunan harga minyak tersebut juga membantu meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global, yang pada akhirnya memberikan dukungan bagi harga emas. Meski demikian, ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa jika serangan dari AS dan Israel terus berlanjut, Iran dapat mengambil langkah drastis dengan memblokir ekspor minyak dari kawasan tersebut. Ancaman ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat juga memberikan peringatan keras terhadap kemungkinan gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz. Jika jalur vital tersebut terganggu, ketegangan geopolitik berpotensi meningkat dan memicu lonjakan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Selain faktor geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan pada hari Rabu. Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Februari diperkirakan naik sebesar 2,4 persen secara tahunan, sementara CPI inti diproyeksikan meningkat hingga 2,5 persen. Jika angka inflasi tersebut dirilis lebih tinggi dari perkiraan pasar, hal ini berpotensi memperkuat Dolar AS. Penguatan dolar biasanya memberikan tekanan bagi harga komoditas yang dihargakan dalam mata uang tersebut, termasuk emas. Dari sisi teknikal, analisis Dupoin Futures menunjukkan bahwa struktur tren emas masih didominasi oleh sentimen positif. Jika tekanan beli terus berlanjut, harga emas berpotensi melanjutkan penguatan hingga mendekati area resistance di sekitar level $5.231. Namun demikian, pelaku pasar juga perlu mewaspadai potensi koreksi apabila momentum kenaikan mulai melemah. Dalam skenario tersebut, level support terdekat yang dapat menjadi area penopang harga berada di kisaran $5.126. Dengan kombinasi sentimen teknikal yang masih bullish, pelemahan dolar AS, serta faktor geopolitik global yang belum sepenuhnya mereda, harga emas diperkirakan masih memiliki peluang untuk bergerak menguat dalam jangka pendek. Meski demikian, pelaku pasar tetap disarankan untuk mencermati perkembangan data ekonomi dan dinamika geopolitik yang dapat memicu volatilitas di pasar komoditas.

Risiko Koreksi Bitcoin Membesar, Investor Pantau Level Kritis US$79.600 Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 05 Desember 2025 | 09:33 WIB

Risiko Koreksi Bitcoin Membesar, Investor Pantau Level Kritis US$79.600

Jakarta, katakabar.com - Menurut analisis terbaru, harga Bitcoin (BTC) saat ini berada kondisi cukup rentan. BTC berisiko besar jatuh ke bawah level psikologis US$ 80.000 apabila gagal merebut kembali area resistance krusial di sekitar US$ 90.300. Tekanan yang terjadi kali ini bukan lagi semata-mata berasal dari likuidasi posisi leverage, melainkan dari tekanan jual riil yang datang dari pasar spot. Ini menandakan bahwa sebagian investor mulai melakukan aksi ambil untung secara nyata, bukan sekadar efek volatilitas jangka pendek. Data on-chain menunjukkan bahwa sekitar 15.924 BTC dengan nilai mendekati US$ 1,43 miliar mengalir masuk ke berbagai exchange dalam kurun waktu lima hari terakhir. Arus masuk dalam jumlah besar ke bursa sering kali menjadi sinyal bahwa pelaku pasar bersiap untuk menjual asetnya. Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor setelah reli panjang yang sebelumnya membawa Bitcoin ke area harga yang lebih tinggi. Tekanan jual dari sisi spot ini juga memperkuat pandangan bahwa pasar tengah memasuki fase konsolidasi, bahkan berpotensi berlanjut pada koreksi lebih dalam. Secara teknikal, struktur support utama Bitcoin saat ini berada di kisaran US$ 89.600 hingga US$ 79.500. Di dalam area tersebut, terdapat target Fibonacci yang mengarah ke level US$ 79.600 sebagai zona support penting berikutnya. Jika level ini tidak mampu dipertahankan, maka area di bawah US$ 80.000 berpotensi menjadi zona “bottom” sementara yang baru. Artinya, tanpa adanya pemulihan cepat yang disertai dengan dorongan beli baru yang kuat, Bitcoin sangat mungkin mengalami penurunan lebih lanjut, bahkan menembus batas psikologis yang selama ini cukup kuat dijaga pasar. Situasi ini membuat banyak analis menilai bahwa pasar kripto sedang berada di fase krusial. Di satu sisi, masih ada optimisme jangka panjang terhadap adopsi aset digital. Namun di sisi lain, kondisi makro global, pergerakan suku bunga, serta penguatan dolar AS tetap menjadi faktor eksternal yang bisa menekan harga kripto dalam jangka pendek. Ketidakmampuan Bitcoin untuk segera kembali di atas US$ 90.300 akan memperkuat sentimen negatif dan membuka peluang koreksi lanjutan. Di tengah dinamika pasar yang semakin kompleks ini, investor membutuhkan akses informasi yang cepat, akurat, dan terintegrasi. Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek langsung melalui aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di aset kripto, Nanovest dapat menjadi pilihan tepat untuk memulai sekaligus mengeksplor berbagai koin kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang terpercaya serta aman, sehingga cocok digunakan baik oleh investor pemula maupun yang sudah berpengalaman. Bagi investor yang baru memulai, tidak perlu khawatir soal keamanan. Hanya di aplikasi ini, aset kamu mendapatkan proteksi dari risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas, yang memberikan lapisan keamanan ekstra dalam berinvestasi aset digital. Selain itu, Nanovest juga telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga aspek legalitas dan perlindungan investor terjamin. Untuk informasi lebih lengkap mengenai fitur dan layanan Nanovest, kamu dapat mengunjungi situs resmi mereka di www.nanovest.io. Bagi para penggiat investasi yang ingin mulai menggunakan Nanovest, aplikasi ini sudah tersedia di Play Store maupun App Store, sehingga dapat diakses dengan mudah kapan saja dan di mana saja.

High Level Meeting Tingkat Provinsi Riau, Wabup Rohul: Kita Dukung Penuh Swasembada Pangan Nasional Riau
Riau
Kamis, 17 April 2025 | 15:02 WIB

High Level Meeting Tingkat Provinsi Riau, Wabup Rohul: Kita Dukung Penuh Swasembada Pangan Nasional

Pasir Pengaraian, katakabar.com - Wakil Bupati Rokan Hulu, H Syafaruddin Poti, SH,MM hadiri High Level Meeting Swasembada Pangan Tingkat Provinsi Riau. "Atas nama pemerintah daerah menyatakan komitmennya, serta dukung penuh terhadap program pemerintah menuju swasembada pangan nasional yang dicanangkan melalui asta cita Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto," kata Poti sapaan akrab Wakil Bupati Rokan Hulu, sesudah mengikuti High Level Meeting Swasembada Pangan Tingkat Provinsi Riau bersama Dirjen Tanaman Pangan Dr. Yudi Dastro, di Gedung Daerah Balai Serindit, Pekanbaru, Provinsi Riau, Rabu (16/4) kemarin. Pada prinsipnya, ucap Poti, Pemkab Rokan Hulu siap mengikuti arah kebijakan Bapak Presiden. Dengan berkolaborasi antara Pemerintah Pusat, Pemprov Riau dan Pemerintah Kabupaten, maka program swasembada pangan dapat terwujud di Kabupaten Rokan Hulu," terangnya. Tapi, lanjut Poti, untuk mewujudkan program swasembada pangan ini, lanjutnya setiap daerah tentu memiliki kendala seperti ketersediaan bibit, pengairan sawah, keterbatasan alat pertanian sampai pada ketersediaan pupuk subsidi serta alih fungsi lahan. "Jika semua bisa berkolaborasi dan terjalin sinergitas antar pemerintah pusat dan Pemprov Riau serta Pemkab Rohul, maka permasalahan yang ada dapat teratasi," bebernya. Kami berharap kolaborasi dan sinergitas dapat terjalin dengan baik, sebutnya, antara Pemerintah Pusat, Pemprov dan Pemerintah Daerah agar apa yang menjadi kendala dalam pelaksanaan program swasembada pangan dapat teratasi dan program swasembada pangan dapat terlaksana dengan baik sebagaimana yang diharapkan.