'Biji-biji Initiative' dan 'Mereka' Perkuat Literasi AI di Sekolah Lewat Peluncuran Microsoft AI Classroom Toolkit Teknologi
Teknologi
Jumat, 03 Juli 2026 | 16:05 WIB

'Biji-biji Initiative' dan 'Mereka' Perkuat Literasi AI di Sekolah Lewat Peluncuran Microsoft AI Classroom Toolkit

Jakarta, katakabar.com - Penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pendidikan. Menurut UNESCO, lebih dari dua pertiga siswa sekolah menengah di negara berpendapatan tinggi (high income countries) telah menggunakan AI dalam aktivitas belajar mereka. Di sisi lain, UNESCO juga menegaskan besarnya potensi AI dalam meningkatkan kualitas pembelajaran harus diimbangi dengan kemampuan guru dan siswa untuk memahami risiko serta menggunakan teknologi tersebut secara aman, kritis, dan bertanggung jawab. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Biji-biji Initiative bersama ekosistem pengembangan talenta Mereka, sebagai mitra strategis Microsoft, meluncurkan Microsoft AI Classroom Toolkit, sebuah learning resource yang dirancang untuk membantu pendidik membangun literasi AI di ruang kelas sekaligus mendorong penggunaan teknologi yang lebih bertanggung jawab sejak usia dini. Seperti yang disampaikan oleh Digital Safety Director, Asia, Microsoft, Madeline Shepherd, AI akan menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki generasi masa depan. Untuk itulah, Microsoft AI Classroom Toolkit kami hadirkan untuk membantu para pendidik dalam menggunakan AI tidak hanya menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, etika digital, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Peluncuran Microsoft AI Classroom Toolkit diselenggarakan pada 23 Juni 2026 di kantor Microsoft Indonesia, di kawasan Jakarta Selatan. Acara ini dihadiri oleh Digital Safety Director, Asia, Microsoft, Madeline Shepherd, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), Dr. Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D., perwakilan Save the Children Indonesia, serta puluhan guru dari berbagai daerah di Indonesia. Toolkit ini dikembangkan sebagai resource pembelajaran kreatif yang menggabungkan pendekatan naratif dengan materi instruksional sehingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif bagi pendidik maupun siswa usia 13 hingga 15 tahun. Melalui berbagai studi kasus dan aktivitas kelas, Microsoft AI Classroom Toolkit membantu guru membuka diskusi mengenai penggunaan AI yang bertanggung jawab, mulai dari memahami potensi fabrikasi informasi (AI hallucination), menjaga privasi data pribadi, mengenali potensi bias pada hasil AI, hingga membangun kebiasaan digital yang sehat demi menjaga kesehatan mental di era AI. Sebagai bagian dari peluncuran, diselenggarakan pula diskusi panel bertajuk "Mengajar di Era AI" yang menghadirkan perwakilan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), Microsoft Indonesia, dan Save the Children Indonesia. Diskusi ini membahas berbagai peluang sekaligus tantangan pemanfaatan AI dalam lingkungan pendidikan. "Anak-anak kelompok yang tumbuh bersama teknologi AI. Karena itu, literasi AI perlu dibangun tidak hanya dari sisi keterampilan menggunakan teknologi, tetapi juga dari kemampuan memahami risikonya, menjaga keamanan digital, serta tetap mengedepankan empati, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Kolaborasi seperti ini menjadi langkah penting agar AI benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara positif," ujar Ratri Sutarto selaku Director of Program Development and Impact Save the Children Indonesia. Selain sesi diskusi, tercatat sekitar 70 guru dari berbagai sekolah yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia turut mengikuti workshop bertajuk "AI di Ruang Kelas”. Menutup rangkaian acara, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), Dr. Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D., menyampaikan transformasi pendidikan di era digital memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia industri, dan masyarakat. Kami mengapresiasi inisiatif Microsoft bersama Biji-biji Initiative dan Mereka dalam menghadirkan Microsoft AI Classroom Toolkit sebagai sumber belajar yang membantu guru memahami sekaligus mengajarkan pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Harapannya, semakin banyak pendidik Indonesia yang mampu memanfaatkan teknologi untuk memperkaya proses pembelajaran tanpa mengesampingkan aspek etika, keamanan, dan karakter peserta didik. Melalui peluncuran Microsoft AI Classroom Toolkit, Biji-biji Initiative, Mereka, dan Microsoft Indonesia berharap semakin banyak sekolah di Indonesia yang mampu membangun budaya pemanfaatan AI yang tidak hanya inovatif, tetapi juga bertanggung jawab. Dengan memperkuat literasi AI sejak di ruang kelas, para pendidik dan siswa diharapkan dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, berkreasi, dan berkolaborasi secara aman sekaligus menjadi bekal menghadapi masa depan digital. 'Visi Itu Murah', Pesan Narko Santoso Mencuri Perhatian Leadership Youth Summit 4.0 Jakarta, katakabar.com - Di tengah derasnya arus motivasi yang mendorong generasi muda untuk “berani bermimpi besar”, Narko Santoso, CTA., CHt., justru membuka sesinya dengan sebuah kalimat yang tidak biasa. “Visi itu murah.” Kalimat singkat tersebut sontak mengundang perhatian ratusan peserta Leadership Youth Summit 4.0 yang diselenggarakan oleh Ideal Indonesia di Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI), Jakarta. Alih-alih berbicara mengenai strategi menghasilkan keuntungan, peluang investasi, atau kesuksesan finansial, Founder NS TRADE sekaligus Top 50 Global Trader itu justru mengajak peserta untuk mempertanyakan kembali fondasi di balik setiap mimpi yang mereka miliki. Menurut Narko, dunia hari ini dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki visi besar. Hampir semua orang memiliki target, impian, dan cita-cita yang tinggi. Namun, hanya sedikit yang benar-benar mempersiapkan sistem untuk mewujudkannya. “Visi itu murah, karena semua orang punya. Semua orang bisa bermimpi, semua orang bisa punya keinginan. Tapi yang mahal sistemnya - eksekusinya bagaimana, mitigasi risikonya bagaimana, dan bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapi situasi terburuk.” Pesan tersebut menjadi benang merah dalam sesi kepemimpinan yang membahas bagaimana generasi muda dapat membangun daya saing di tengah perubahan dunia yang semakin cepat akibat perkembangan teknologi, Artificial Intelligence (AI), serta disrupsi di berbagai sektor industri. Leadership Youth Summit 4.0 sendiri mempertemukan mahasiswa, organisasi kepemudaan, profesional muda, pelaku industri, komunitas, hingga pemimpin organisasi dalam sebuah forum kolaboratif untuk membahas kepemimpinan, inovasi, literasi finansial, pengembangan sumber daya manusia, serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan. Pada sesi panel diskusi, Narko Santoso hadir bersama Biltraviano Ferian Harda, S.Kom., MBIS., Group CEO DOT Indonesia Group, serta Ike Suharjo, S.IP., M.Si., entrepreneur dan politikus. Ketiga narasumber membagikan perspektif mengenai kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia dalam menghadapi era transformasi digital. Berbeda dengan pendekatan yang sering menekankan motivasi semata, Narko lebih banyak berbicara mengenai pentingnya membangun sistem berpikir (systems thinking), sebuah cara pandang yang menurutnya akan menentukan apakah seseorang mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Menurutnya, banyak orang menghabiskan waktu mencari motivasi baru, padahal yang sesungguhnya dibutuhkan adalah membangun kebiasaan dan proses yang dapat dijalankan secara konsisten setiap hari. Ia juga menilai keinginan generasi muda untuk mencari cara yang lebih cepat bukanlah sesuatu yang keliru. Justru, kemampuan menemukan solusi yang lebih efisien salah satu karakter penting dalam dunia modern. Namun, efisiensi tersebut harus tetap dibangun di atas integritas. “Kita kadang pengen apa-apa itu kalau bisa instan, cepat. Pengennya selalu dimudahkan, cari jalan pintas, cari jalan cepat. Apakah itu salah? Tidak. Justru saya kalau mencari tim, selalu mencari orang-orang yang berpikir seperti itu. Tetapi caranya harus halal, legal, dan bertanggung jawab. Cari cara tercepat, apalagi sekarang kita terbantu AI. Namun jangan pernah menghalalkan segala cara," jelasnya. Bagi Narko, perkembangan Artificial Intelligence bukan ancaman, melainkan akselerator bagi mereka yang memiliki fondasi berpikir yang benar. Teknologi mampu mempercepat proses belajar, meningkatkan produktivitas, hingga membantu pengambilan keputusan. Namun AI tidak akan pernah menggantikan disiplin, karakter, dan kemampuan seseorang membangun sistem kerja yang baik. Ia menegaskan sistem terbaik selalu dimulai dari bagaimana seseorang mengelola dirinya sendiri. Mulai dari mengatur waktu, menentukan prioritas, menjaga energi, hingga memahami kapan harus berhenti untuk memulihkan diri. “Bangun dulu sistem untuk diri kita sendiri. Cara kita mengatur waktu, menentukan prioritas, menjaga ritme kerja, sampai mengatur waktu istirahat. Mesin saja bisa overheat kalau dipaksa terus bekerja, apalagi manusia. Setelah itu barulah kita bicara sistem dalam organisasi atau pekerjaan. Ketika kita berbicara tentang sistem, kita sedang berbicara tentang lima atau sepuluh tahun ke depan, bukan hanya apa yang kita kerjakan hari ini," bebernya. Sepanjang sesi berlangsung, antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang mengangkat isu kepemimpinan, pengembangan karier, AI, kewirausahaan, hingga bagaimana membangun daya tahan mental di tengah perubahan yang begitu cepat. Turut hadir mendampingi dalam kegiatan tersebut Tommy Tarumanegara, Chief Strategic & Execution Officer (CSEO) NS TRADE, yang mengikuti rangkaian forum serta menjalin diskusi dan networking bersama peserta, narasumber, akademisi, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan yang hadir. Melalui forum tersebut, Narko berharap semakin banyak generasi muda Indonesia mulai menggeser cara pandang mereka terhadap kesuksesan. Menurutnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang memiliki motivasi terbesar, melainkan oleh mereka yang mampu membangun sistem terbaik untuk mengeksekusi setiap ide, beradaptasi terhadap perubahan, dan terus bertumbuh secara berkelanjutan. “Pada akhirnya, yang membedakan seseorang bukanlah seberapa besar ia bermimpi, tetapi seberapa disiplin ia membangun sistem yang membuat mimpi tersebut dapat diwujudkan," tandasnya.

Lewat PalmCo, Holding PTPN Perluas Akses Digital Sekolah di Pelosok Pendidikan
Pendidikan
Sabtu, 09 Mei 2026 | 20:16 WIB

Lewat PalmCo, Holding PTPN Perluas Akses Digital Sekolah di Pelosok

Jakarta, katakabar.com - Holding Perkebunan PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo salurkan bantuan perangkat digital ke sekolah-sekolah di wilayah pelosok. Kegiatan ini sebagai upaya memperluas akses pendidikan berbasis teknologi di daerah terpencil. Sepanjang Januari 2025 hingga Maret 2026, perusahaan mencatat realisasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di bidang pendidikan mencapai lebih dari Rp12,9 miliar. Fokus utama program ini diarahkan pada percepatan digitalisasi pendidikan, khususnya wilayah selama ini memiliki keterbatasan akses teknologi. Kurun 15 bulan, lebih dari 500 program pendidikan telah direalisasikan. Bantuan yang disalurkan antara lain 37 unit komputer, 24 laptop, 20 modem internet, serta tiga unit proyektor yang didistribusikan ke sejumlah sekolah di daerah terpencil. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan seluruh perangkat tersebut telah diterima sekolah-sekolah sasaran dan diharapkan mampu membuka akses pembelajaran yang lebih luas. “Seluruh perangkat telah didistribusikan. Harapannya, sekolah-sekolah di pelosok kini bisa terhubung dengan dunia luar melalui jaringan internet yang memadai,” ujarJatmiko saat dihubungi, Senin (5/5) lalu. Menurutnya, keterbatasan infrastruktur digital selama ini menjadi salah satu kendala utama dalam proses belajar-mengajar di daerah terpencil. Melalui program ini, perusahaan ingin mendorong terciptanya ekosistem pembelajaran digital atau 'cyber education' yang lebih merata. “Perkembangan pendidikan menuntut adaptasi terhadap teknologi. Kami ingin berkontribusi agar sekolah-sekolah di sekitar wilayah operasional tidak tertinggal dalam hal literasi digital,” ucapnya. Langkah tersebut sejalan dengan agenda transformasi pendidikan nasional yang menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi. Dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti menegaskan pendidikan tidak hanya soal akses, tetapi juga kualitas dan relevansi dengan perkembangan zaman. Di tingkat sekolah, bantuan tersebut mulai dirasakan dampaknya. Kepala SMPN 2 Tanjung Medan, Kabupaten Rokan Hilir, Mutiara, menuturkan keterbatasan perangkat dan jaringan selama ini menjadi hambatan utama bagi para guru dalam mengakses materi pembelajaran. “Kami sangat terbantu. Dengan adanya komputer dan akses internet, kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih lancar dan referensi materi bisa diakses dengan mudah,” katanya. Kepala SDN 006 Pendalian, Kabupaten Rokan Hulu, Bambang Asrita aminkan Mutiara. Ia mengatakan sebelumnya pihak sekolah harus menempuh perjalanan ke pusat kecamatan hanya untuk mengakses materi pembelajaran berbasis internet. “Sekarang fasilitas itu sudah tersedia di sekolah. Ini sangat membantu, terutama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di daerah kami,” terang Bambang. Inisiatif ini menunjukkan kolaborasi antara dunia usaha dan sektor pendidikan dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkecil kesenjangan akses teknologi, sekaligus mempercepat pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia.

'Aku Tidak Sabar untuk Pergi ke Sekolah Besok' Pendidikan
Pendidikan
Selasa, 05 Mei 2026 | 15:09 WIB

'Aku Tidak Sabar untuk Pergi ke Sekolah Besok'

Jakarta, katakabar.com - Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi banyak orang tua, artinya besar sekali. Tidak semua anak bangun pagi dengan semangat untuk berangkat ke sekolah. Ada yang harus dibujuk, ada yang merasa cemas, bahkan ada yang merasa tidak nyaman. Bagi mereka, sekolah hanya sekadar tempat belajar bukan tempat yang terasa menyenangkan. Sekarang bayangkan kalau seorang anak berkata dengan tulus: “Aku nggak sabar ketemu teman-teman lagi di sekolah.” “Aku mau cerita ke guruku hari ini.” Di situlah perbedaannya mulai terasa. Sekolah bisa menjadi tempat di mana anak merasa dilihat dan dihargai. Karena pada dasarnya, setiap anak ingin diperhatikan, didengarkan, dan dipahami-bukan hanya sebagai “siswa”, tapi sebagai individu dengan cerita, emosi, dan keunikan masing-masing. Di lingkungan yang hangat, guru tidak hanya mengajar dari depan kelas. Mereka hadir - duduk bersama, mendengarkan, tertawa, dan benar-benar mengenal muridnya. Mereka tahu kapan anak butuh dorongan, dan kapan hanya butuh ditemani. Saat anak merasa diterima, mereka jadi lebih terbuka. Mereka berani mencoba hal baru. Mereka tidak takut gagal dan lebih cepat bangkit saat menghadapi kesulitan. Lebih dari Sekadar Sekolah Ada sekolah dengan fasilitas lengkap. Ada juga yang unggul secara akademik. Tapi ada hal yang tidak bisa diukur dengan angka: Perasaan seperti “pulang” saat melewati gerbang sekolah. Disambut dengan senyuman. Dipanggil dengan namanya.Dan merasa, “Aku memang bagian dari tempat ini.” Lingkungan seperti ini tidak terbentuk begitu saja. Ia tumbuh dari hubungan antara guru, siswa, orang tua, dan komunitas yang saling peduli. Kenangan Akan Mereka Bawa Selamanya Suatu hari nanti, anak-anak mungkin akan lupa rumus atau ujian yang pernah mereka hadapi. Tapi mereka tidak akan lupa:   > Siapa yang membuat mereka percaya diri   > Siapa yang selalu ada saat mereka kesulitan   > Dan bagaimana rasanya berada di tempat yang menerima mereka apa adanya Sekolah yang terasa “homey” meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam dari sekadar akademik. Ia menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka. Saat Sekolah Jadi Tempat Nyaman Ini bukan sekadar harapan. Semakin banyak sekolah yang menyadari bahwa kenyamanan emosional adalah fondasi penting dalam proses belajar. Salah satunya adalah New Zealand School Jakarta. Dengan pendekatan yang hangat, komunitas yang erat, dan hubungan dekat antara guru, orang tua, dan murid, sekolah ini menghadirkan suasana di mana anak-anak tidak hanya belajar, tapi juga merasa diterima. Dan mungkin, tanpa disadari, momen paling berarti bagi orang tua adalah ketika anak mereka berkata: "Aku tidak sabar untuk pergi ke sekolah besok…”

PTPN Group Rescep Bangun Gedung Sekolah di Rohul Pasca Terbakar Riau
Riau
Minggu, 26 April 2026 | 17:13 WIB

PTPN Group Rescep Bangun Gedung Sekolah di Rohul Pasca Terbakar

Rokan Hulu, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara melalui entitasnya, yakni PTPN IV PalmCo Regional III, menunjukkan respons cepat (Rescep) membantu pemulihan sarana pendidikan yang terdampak musibah kebakaran di Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PTPN IV PalmCo Regional III menyalurkan bantuan sebesar Rp199 juta untuk mendukung pembangunan kembali SDN 011 Desa Langkitin yang sebelumnya terbakar. Bantuan tersebut diserahkan Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, didampingi Business Support Head, Achmedi Akbar, kepada Wakil Bupati Rokan Hulu, Syafarudin Poti. Wakil Bupati Rokan Hulu, Syafarudin Poti, menyampaikan apresiasi atas kepedulian dan respons cepat PTPN IV PalmCo membantu masyarakat, khususnya di sektor pendidikan. “Kami sangat mengapresiasi PTPN yang telah membantu membangun kembali sekolah yang terbakar. Jika menunggu biaya dari APBD, tentu harus melalui proses pengajuan dan pembahasan yang memerlukan waktu. Alhamdulillah PTPN dapat membantu lebih cepat,” jelasnya. Menurutnya, hubungan antara PTPN IV dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hulu selama ini terjalin dengan baik. Sinergi antara pemerintah daerah dan dunia usaha menjadi faktor penting dalam mempercepat pembangunan daerah. “Sekali lagi terima kasih telah membantu pembangunan kampung kita ini dan memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat di Rokan Hulu. Bukan hanya di bidang pendidikan, tetapi juga keagamaan, kesehatan, dan kegiatan sosial lainnya. Daerah kita masih membutuhkan dukungan pembangunan, termasuk pembangunan infrastruktur,” ucap Wabup Rokan Hulu. Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, menegaskan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap dunia pendidikan serta komitmen untuk hadir bersama masyarakat di sekitar wilayah operasional. “Kami turut prihatin atas musibah kebakaran yang menimpa SDN 011 Desa Langkitin. Untuk itu, atas arahan Dirut PalmCo, kami bergerak cepat, dan melalui bantuan ini kami berharap proses pembangunan kembali sekolah dapat berjalan lebih cepat sehingga anak-anak dapat kembali belajar dengan nyaman. PTPN IV PalmCo berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, khususnya di bidang pendidikan,” sebut Bambang.

Lagi, Polres Kepulauan Meranti ke Sekolah Galakkan Tanam Pohon dan Edukasi Green Policing Default
Default
Selasa, 27 Januari 2026 | 09:03 WIB

Lagi, Polres Kepulauan Meranti ke Sekolah Galakkan Tanam Pohon dan Edukasi Green Policing

Kepulauan Meranti, katakabar.com - Kepolisian Resor (Polres) Kepulauan Meranti terus perkuat komitmen jaga kelestarian lingkungan melalui program Green Policing. Lihat, Senin (26/1) kemarin, jajaran Polres Kepulauan Meranti melaksanakan kegiatan penghijauan dan edukasi peduli lingkungan secara serentak di sejumlah wilayah dan sekolah di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Salah satu kegiatan utama dipusatkan di halaman Kantor Camat Pulau Merbau sekitar pukul 11.15 WIB. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Kepulauan Meranti, Hj Ismiatun, S.E., Camat Pulau Merbau, Hermansyah, S.H., Danramil 06 Merbau, Kapten Arh. R. Sinaga, Kapolsek Tebing Tinggi Barat, Ipda D. Turnip, S.E., Kepala KUA Pulau Merbau, H. Nurholis, M.Pdi, serta personel Polsek Tebing Tinggi Barat. Di kegiatan tersebut, dilakukan penanaman 10 batang bibit pohon ketapang sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan sekaligus upaya menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya di wilayah pesisir. Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi, S.H., S.I.K., M.H., melalui Kasat Binmas Polres Kepulauan Meranti, AKP Aguslan, menyampaikan Green Policing merupakan konsep pemolisian yang komprehensif dan progresif. Program ini tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum, tetapi juga menempatkan kepolisian sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup. “Green Policing adalah jawaban atas tantangan zaman, mulai dari krisis lingkungan, perubahan iklim, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan. Polri hadir tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penggerak kesadaran ekologis masyarakat,” ujarnya. Selain di Pulau Merbau, kegiatan Green Policing juga dilaksanakan secara paralel di berbagai sekolah oleh jajaran Polsek dan satuan fungsi Polres Kepulauan Meranti. Polsek Tebing Tinggi melaksanakan edukasi lingkungan dan penanaman bibit pohon mangga di Pondok Pesantren Darul Fikri, Desa Banglas Barat. Satpolairud Polres Kepulauan Meranti menanam bibit pohon jambu di TK Islam Terpadu Ikhlas Hati Bunda, Kecamatan Tebing Tinggi. Sementara, Polsek Rangsang Barat melakukan penanaman bibit pohon rambutan di RA Al Amin, Desa Bokor. Polsek Tebing Tinggi Barat menanam bibit pohon ketapang di SDN MI Ahuda, Desa Mekong. Sat Binmas Polres Kepulauan Meranti juga menanam bibit pohon jeruk di MTs Al Istiqomah, Desa Alahair. Seluruh rangkaian kegiatan disertai dengan edukasi interaktif kepada para pelajar tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, dimulai dari lingkungan sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kegiatan Green Policing ini berlangsung aman, tertib, dan kondusif. Polres Kepulauan Meranti berharap program tersebut mampu menanamkan nilai kepedulian lingkungan sejak dini serta memperkuat peran Polri sebagai pelindung masyarakat sekaligus penjaga kelestarian lingkungan hidup.

UT Perkuat Kerja Sama Nasional Mulai Sekolah Vokasi hingga Anak Petani Sawit Sawit
Sawit
Senin, 27 Oktober 2025 | 20:12 WIB

UT Perkuat Kerja Sama Nasional Mulai Sekolah Vokasi hingga Anak Petani Sawit

Tangsel, katakabar.com - Universitas Terbuka (UT) perluas jejaring kerja sama strategis melalui penandatanganan sejumlah Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan berbagai mitra dari dunia pendidikan, industri, hingga pemerintah daerah. Langkah ini menjadi bagian dari strategi UT perkuat tridharma perguruan tinggi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat serta mempercepat pencapaian target 1 juta mahasiswa di seluruh Indonesia. Penandatanganan kerja sama dilakukan Rektor UT, Prof. Ali Muktiyanto bersama sejumlah mitra strategis, antara lain pertama, Politeknik Negeri Manado Ruang lingkup kerja sama mencakup peningkatan mutu penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi. Kedua, Universitas Negeri Manado (Unima) Fokus pada penguatan tridharma dan pengembangan sumber daya akademik. Ketiga, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kerja sama untuk penyelenggaraan pendidikan tinggi bagi keluarga petani sawit di seluruh Indonesia. Terakhir, Pemerintah Kabupaten Trenggalek Meliputi bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, serta pembangunan daerah. Selain MoU tersebut, UT tandatangani PKS dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Trenggalek, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan pendidikan. Di kegiatan itu, Prof. Ali menegaskan kerja sama dengan politeknik dan industri menjadi langkah konkret UT dalam memastikan lulusan sekolah vokasi siap terjun ke dunia kerja. "Kami ingin pastikan sekolah vokasi UT melahirkan lulusan yang siap bekerja, bukan menambah pengangguran. Karena itu, kolaborasi dengan politeknik dan industri menjadi sangat penting," tegasnya konferensi pers Seminar Wisuda Universitas Terbuka Tahun Akademik 2025/2026 Ganjil Wilayah 1 di UTCC, Tangsel, Senin (27/10). Prof. Ali menjelaskan penyelenggaraan vokasi di UT tidak akan dibuka sebelum ada kepastian mitra industri yang siap menjadi tempat magang mahasiswa. "Pendidikan jarak jauh bukan hambatan bagi pelatihan vokasional, selama dukungan sarana-prasarana praktik tersedia melalui kemitraan strategis," jelasnya. UT saat ini telah menyiapkan tiga program vokasi baru, yaitu Manajemen iLogistik, Teknik Informatika, dan Sistem Akuntansi Digital, bekerja sama dengan politeknik dan berbagai mitra industri seperti PT Pos Indonesia serta perusahaan konsultan dan penyedia jasa logistik. Kerja sama UT dengan APKASINDO menjadi sorotan tersendiri. Program ini membuka kesempatan bagi anak-anak petani sawit di berbagai daerah untuk menempuh pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan kebun. "Pendidikan jarak jauh UT menjadi solusi agar masyarakat di pelosok tetap bisa belajar tanpa meninggalkan pekerjaannya," ucapnya. Inisiatif ini diharapkan dapat memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus mendukung target 1 juta mahasiswa UT pada 2026 mendatang. Di kegiatan sama, hadir pula narasumber dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Marsekal Muda TNI R. Tjahjo Khurniawan, Deputi Bidang Strategi dan Kebijakan Keamanan Siber dan Sandi. Ia menegaskan pentingnya literasi keamanan siber di perguruan tinggi, terutama bagi kampus berbasis digital seperti UT. Dengan sistem pembelajaran daring, ungkapnya, perlindungan data akademik menjadi hal utama. BSSN berkomitmen memperkuat literasi keamanan siber agar civitas akademika UT semakin tangguh menghadapi ancaman digital. Prof. Ali menegaskan target 1 juta mahasiswa UT bukan sekadar ambisi, tetapi bentuk kepercayaan publik terhadap kualitas dan inklusivitas sistem pembelajaran UT. Dengan sistem pembelajaran daring yang stabil dan inklusif, UT siap melayani lebih banyak mahasiswa dari seluruh Indonesia hingga mancanegara," sebut Prof. Ali. UT kini mencatat lebih dari 768.000 mahasiswa aktif, dengan 90.000 pengguna yang dapat mengakses sistem e-learning secara bersamaan tanpa kendala.

Dorong Peningkatan Sekolah Adiwiyata, UBP Jatigede Bantu Sarana ke SDN Parakankondan Pendidikan
Pendidikan
Kamis, 28 Agustus 2025 | 16:00 WIB

Dorong Peningkatan Sekolah Adiwiyata, UBP Jatigede Bantu Sarana ke SDN Parakankondan

Sumedang, katakabar.com - Unit Bisnis Pembangkitan atau UBP Jatigede melalui program PLN Peduli, dan bentuk komitmen dukung dunia pendidikan, salurkam bantuan TJSL, berupa perlengkapan sarana sekolah kepada SDN Parakankondang di Desa Kadujaya, Kecamatan Jatigede. Diterima langsung oleh Kepala Sekolah SDN Parakondang, Nuryani. Ia menuturkan, kami ucapkan terima kasih kepada PLN Indonesia Power memiliki program TJSL di dunia pendidikan. "Bantuan perlengkapan sarana ini dibutuhkan oleh siswa-siswi dalam kegiatan belajar mengajar," ujarnya. Kami juga berharap, Nuryani, dapat bersinergi dengan PLN Indonesia Power, utamanya dalam memberikan edukasi pengenalan Pembangkit beserta proses bisnissnya. Hadir mewakili Manajemen PLN Indonesia Power UBP Jatigede, Budi Putranto selaku Assistant Manager Administrasi menyampaikan “PLTA Jatigede yang telah diresmikan oleh Presiden RI pada Januari 2025 lalu. "selain memberikan kontribusi pada sistem kelistrikan Jamali, juga memiliki peran Sosial peningkatan kualitas pendidikan. Melalui TJSL ini, kami memberikan bantuan perlengkapan sarana kepada salah Satu Sekolah Adiwiyata di lingkungan Kabupaten Sumedang," ucapnya.