Singkong

Sorotan terbaru dari Tag # Singkong

Dukung Program Mandiri Energi Nasional, Holding PTPN Siapkan 10 Ribu Hektar Lahan Singkong di Lampung Nasional
Nasional
Rabu, 01 Juli 2026 | 13:15 WIB

Dukung Program Mandiri Energi Nasional, Holding PTPN Siapkan 10 Ribu Hektar Lahan Singkong di Lampung

Bandar Lampung, katakabar.com - PTPN I Regional 7, bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), membuka peluang kerja sama bagi investor untuk pengembangan budidaya singkong di Provinsi Lampung. Sebanyak lebih dari 10 ribu hektar lahan tersedia di Unit Kerja Kebun Kedaton, Bergen, Way Berulu, Way Lima, Tulungbuyut, dan Bungamayang guna mendukung implementasi Program Mandiri Energi nasional melalui pengembangan energi baru terbarukan berbasis etanol dari singkong. Peluang investasi tersebut disampaikan Business Support Head PTPN I Regional 7, Iskandar Dewantara, dalam rapat percepatan hilirisasi industri singkong yang berlangsung di Bandar Lampung, di pekan keempat Mei 2026. Iskandar menegaskan bahwa PTPN I Regional 7 sebagai unit operasional PTPN I di bawah Holding Perkebunan Nusantara siap mendukung program pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi nasional. “Kami siap melaksanakan kebijakan Bapak Presiden sebagaimana diamanatkan kepada Holding (PTPN Holding) dan HO (Head Office PTPN I) untuk mengeksekusi di lapangan. Kami punya lahan yang bisa dimanfaatkan untuk program ini seluas kurang lebih 10 ribu hektare di enam Kebun (unit kerja). Semuanya ada di Lampung,” kata Iskandar di hadapan puluhan calon investor yang hadir di Kantor Regional 7 Bandar Lampung. Rapat yang diinisiasi Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Lampung tersebut dihadiri Kepala Dinas DKPTPH Provinsi Lampung DR Elvira Umihani, S.P., M.T., Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung sekaligus Ketua National Cassava Center (NCC) Kuswanta, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Sementara itu, pemaparan terkait kesiapan PTPN dalam program tersebut disampaikan Ketua Tim Percepatan Hilirisasi Komoditas Ubi Kayu Holding Perkebunan Nusantara, Erwin Sialagan. Elvira Umihani menjelaskan Provinsi Lampung saat ini merupakan sentra utama produksi singkong nasional dengan kontribusi sekitar 62 persen terhadap produksi nasional. Menurutnya, terdapat 72 pabrik tapioka di Lampung yang sebagian besar bahan bakunya dipasok dari petani rakyat. “Ada 72 pabrik tapioka di Lampung. Bahan bakunya dipasok dari singkong rakyat. Ada lebih 314 ribu keluarga yang mengandalkan ekonominya dari budi daya singkong di sini. Produksinya sekitar 15 juta ton per tahun. Sedangkan produktivitasnya saat ini rata-rata 7,5 ton per hektare,” bebernya. Meski produksi singkong Lampung tergolong tinggi, Elvira menegaskan bahwa pengembangan industri etanol membutuhkan kepastian pasokan bahan baku dalam jangka panjang. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian memberikan mandat kepada Holding Perkebunan Nusantara untuk mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut. “PTPN dinilai memiliki potensi dan sumber daya yang kuat untuk memegang mandat ini. Dan pada rapat kali ini, sengaja kita undang seluruh pihak, terutama calon investor untuk membahas strategi dan teknis dalam pelaksanaannya. Pada hari ini, pihak PTPN akan memaparkan segala sesuatunya untuk kemudian bapak ibu para pelaku usaha segera mengambil langkah positif,” terangnya. Sementara, Erwin Sialagan menuturkan pemerintah menargetkan implementasi bahan bakar campuran E-20 pada tahun 2028, yakni bensin dengan kandungan etanol sebesar 20 persen yang berasal dari bahan baku terbarukan, terutama singkong. “Angka delapan juta kilo liter etanol itu diperkirakan dapat dihasilkan dari ubi kayu atau biasa disebut singkong dari lahan seluas 104 ribu hektare. Dan itu harus dicapai sampai 2029. Nah, untuk tahap awal ini, tahun 2026 harus terealisasi 10 ribu hektare. Selanjutnya akan dipercepat hingga mencapai angka tersebut. Dengan demikian, pasokan bahan baku untuk industri etanol tidak akan terputus,” imbuhnya. Lebih lanjut, Erwin memaparkan potensi lahan yang dimiliki PTPN I Regional 7 yang dapat segera dimanfaatkan investor. Dalam skema kerja sama yang ditawarkan, Holding Perkebunan Nusantara menyediakan lahan, sementara aspek budidaya, pembiayaan, teknologi, hingga pemilihan varietas menjadi tanggung jawab mitra usaha. “Model kerja samanya adalah KSU, kerja sama usaha. Kami hanya menyediakan lahan. Secara teknis budi daya dan pembiayaan, termasuk varietas yang akan ditanam, semua terserah investor. Dan regulasi terkait hasil panennya dimanfaatkan untuk program ketahanan energi, itu domain para pihak terkait. Yang pasti, kami sediakan lahan ini untuk program kemandirian energi nasional,” sebutnya. Usai pemaparan program, potensi lahan, serta model kerja sama yang ditawarkan, para investor menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi diskusi. Program pengembangan etanol berbasis singkong dinilai dapat memberikan kepastian pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. “Kami menyambut baik program ini. Untuk diketahui, baru beberapa bulan ini harga singkong kami bagus, bahkan sampai Rp2.000 per kilo. Dengan program ini (ketahanan energi), mudah-mudahan harga nggak turun lagi sehingga petani singkong bisa ikut sejahtera,” ulas Jamsari, salah satu pengurus kelompok tani yang hadir pada acara tersebut. Melalui inisiatif ini, Holding Perkebunan Nusantara menegaskan komitmennya dalam mendukung program strategis pemerintah di bidang ketahanan energi nasional, sekaligus mendorong hilirisasi komoditas pertanian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekosistem industri etanol berbasis singkong yang berkelanjutan.

Holding PTPN dan Unila Perkuat Ekosistem Bioetanol Berbasis Singkong di Lampung Nasional
Nasional
Sabtu, 09 Mei 2026 | 09:30 WIB

Holding PTPN dan Unila Perkuat Ekosistem Bioetanol Berbasis Singkong di Lampung

Bandar Lampung, katakabar.com - Ambisi Indonesia untuk memutus rantai ketergantungan pada bahan bakar fosil kini menemukan titik tumpu baru di tanah Lampung melalui penguatan ekosistem bioetanol berbasis singkong. Holding Perkebunan Nusantara bersama Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) resmi memperkuat sinergi hulu-hilir guna membangun kedaulatan energi sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional. Langkah strategis ini diharapkan menjadi katalisator bagi Lampung untuk bertransformasi menjadi barometer pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Direktur Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, menegaskan penguatan ketahanan energi merupakan agenda strategis nasional yang mendesak, terutama dalam mengejar target implementasi B50 dan E20 pada tahun 2028. Menurutnya, Lampung memiliki posisi strategis untuk menjadi model pengembangan singkong yang terintegrasi, namun hal tersebut memerlukan percepatan pengembangan lahan, pembangunan pabrik etanol, serta jaminan pasokan bahan baku yang stabil. Denaldy menilai pertemuan ini menjadi langkah awal yang vital untuk memastikan industri bioetanol nasional memiliki fondasi yang kokoh dan berkelanjutan. Sejalan dengan visi besar tersebut, Direktur Operasional PTPN I, Fauzi Omar, menerangkan pihaknya berkomitmen penuh mendukung program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah. "PTPN I berperan memastikan operasional di lapangan berjalan selaras dengan kebijakan nasional, di mana komoditas singkong tidak lagi hanya dipandang sebagai bahan pangan mentah, melainkan aset energi yang memiliki nilai tambah tinggi. Hilirisasi ini dipandang Fauzi sebagai kunci untuk meningkatkan daya saing industri domestik sekaligus memberikan kepastian pasar yang lebih luas bagi hasil bumi dalam negeri," ujarnya. Upaya hilirisasi ini mendapat dukungan teknis dari FP Unila yang telah ditetapkan Bappenas sebagai pusat penelitian singkong nasional. Dekan FP Unila, Kuswanta Futas Hidayat, mengungkapkan pihaknya kini fokus mengejar target produktivitas 30 ton per hektare melalui enam langkah utama, mulai dari pemetaan klon singkong, perbanyakan bibit unggul, hingga penerapan mekanisasi budidaya di empat kabupaten sentra. Transformasi di tingkat hulu ini menjadi krusial agar pasokan bahan baku pabrik bioetanol tetap terjaga tanpa mengganggu stabilitas kebutuhan pangan. Meskipun akselerasi bioetanol terus dipacu, para akademisi mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem industri yang sudah mapan. Prof. Udin Hasanudin mewanti-wanti agar pengembangan pabrik etanol tidak menekan keberadaan industri tapioka, sementara Prof. Setyo Dwi Utomo menekankan pentingnya pemanfaatan klon lokal potensial untuk meningkatkan efisiensi produksi. Di sisi lain, Prof. Radix Suharjo menyoroti pentingnya aspek kesehatan lahan melalui penggunaan bahan organik dan mikroba, agar tanah tetap produktif dan tanaman memiliki daya tahan yang kuat terhadap penyakit dalam jangka panjang. Sinergi lintas sektor antara PTPN dan Unila ini akhirnya bermuara pada satu tujuan besar: kesejahteraan petani. Seluruh pihak sepakat kolaborasi antara riset, industri, dan petani adalah syarat mutlak agar hilirisasi singkong dapat berjalan berkelanjutan. Dengan integrasi yang matang, pengembangan bioetanol di Lampung tidak hanya akan memperkuat kedaulatan energi nasional, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi baru yang mampu mengangkat taraf hidup petani singkong secara signifikan.

Menhan RI Sebut Produksi Solar Biodiesel dari Sawit dan Singkong Kelak Tak Perlu Impor Nusantara
Nusantara
Jumat, 01 Maret 2024 | 15:43 WIB

Menhan RI Sebut Produksi Solar Biodiesel dari Sawit dan Singkong Kelak Tak Perlu Impor

Bandung, katakabar.com - Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto, singgung kelak Indonesia tidak lagi impor solar dan bensin lantaran bisa memproduksi solar biodiesel dari kelapa sawit dan singkong. Calon Presiden (Capres) 02 ini melontarkan pernyataan saat hadiri wisuda Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) di Kota Bandung, pada Kamis (29/2) di mana kampus swasta itu, Prabowo menjabat Ketua Yayasan UKRI. "Kita sekarang sudah punya teknologi untuk solar dari kelapa sawit, kita sekarang sudah menghasilkan B35 tapi sudah uji coba B100. Kita sudah bisa bikin B100. Artinya, solar biodiesel dari kepala sawit 100 persen. Kita bisa bayangkan enggak? Kita enggak akan impor lagi solar dari luar negeri. Apalagi kita punya produksi kelapa sawit sekarang 48 juta ton, mungkin dua tahun lagi akan menjadi 70 juta ton," ujar Prabowo Subianto gaya pidato berapi-api, dilansir dari laman kumparan.com, pada Jumat (1/3). Menurut Menhan RI ini, apa artinya? Artinya nanti BBM kita bakal ramah lingkungan, ramah polusi, dan terbarukan. Bukan kita ambil dari tanah habis, gas dari tanah habis, tidak. Selama ada matahari dan ada hujan, tiap tahun kita bisa panen solar. Banyak negara iri sama Indonesia. Kita nanti bakal swasembada energi. "Bensin dari mana? Dari etanol. Etanol dari mana? Dari tebu, dari singkong, Saudara-saudara sekalian. Intinya adalah masa depan gemilang tapi kita butuh pemimpin yang pinter, cerdas, berani, tegar, dan cinta tanah air, cinta negara. Karena cinta tanah air dan rakyat, tidak ingin melanjutkan praktik korupsi, kuncinya itu. Saya kira cukup, ya," tegas Prabowo akhiri pidatonya.

Harga Sawit dan Singkong Naik di Mesuji Awal 2024 Sawit
Sawit
Sabtu, 06 Januari 2024 | 16:10 WIB

Harga Sawit dan Singkong Naik di Mesuji Awal 2024

Mesuji, katakabar.com - Komoditas Pertanian, yakni Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dan singkong naik di Kabupaten Mesuji pada awal tahun 2024. Harga TBS kelapa sawit naik jadi Rp2.220 per kilogram. Begitu dengan getah karet naik jadi Rp11.825 per kilogram. Sebelumnya,TBS kelapa sawit di wilayah Kabupaten Bumi Ragab Begawe Caram dibeli hanya Rp1.450 per kilogram di lapak dan getah karet sempat turun Rp200 per kilogram. Kepala Bagian Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Kabupaten Mesuji, Yudi Oktaviansyah menyebutkan, dari pantauan harga terbaru empat komoditas petanian yang selalu di cek, TBS kelapa sawit, karet, singkong dan gabah ada trend positif. “Kita lihat pergerakannya sudah naik di Januari 2024 ini,” ujarnya kemarin, dilansir dari laman rilisid, pada Sabtu (6/1). Untuk dua komoditas lainnya, kata Yudi, berupa bahan pangan seperti singkong dan gabah kering harganya belum berubah. “Khusus gabah kering panen dan singkong harganya tetap kisaran Rp1.850 per kilogram, serta singkong dan Rp8.200 per kilogram untuk gabah kering panen,” jelasnya. Soal kenaikan harga komoditas di tingkat petani terjadi, ucap Yudi, lantaran dipengaruhi banyak faktor, yakni mulai dari kebutuhan meningkat membuat hukum suplay and demand berlaku atau faktor eksternal lain, seperti harga jual Crude Palm Oil (CPO) naik di pasar internasional. "Jadi, banyak faktor yang mempengaruhi. Kita berharap harga dua komoditas sudah naik ini, tetap stabil kalau bisa justru naik lagi agar petani sejahtera,” tuturnya. Salah satu petani pemilik satu hektar kebun sawit di Desa Simpang Mesuji, Kecamatan Simpang Pematang, Santo 43 tahun menerangkan, harga TBS kelapa sawit di petani sebesar Rp2.220 per kilogram, ini sangat menggembirakan. "Panen terakhir, harga masih kisaran Rp1450 per kilogram," ulasnya. Menurutnya, kalau harga di bawah Rp1500 per kilogram dipastikan kebun kelapa sawit tidak bisa terawat, lantaran orang tidak mau kerja disebabkan hasilnya tidak ada. Idealnya, cerita Santo, harga TBS kelapa sawit harus diangka Rp2000 per kilogram, sehingga bisa membagi ke pekerja kebun. Kalau hanya Rp1500 per kilogram habis untuk biaya panen dan perawatan kebun saja. Pekebun lainnya, Waerdi 35 tahun, petani singkong di Kecamatan Wayserdang ucap rasa syukur karena harga singkong stabil Rp1.850 per kilogram di tahun 2024. "Di awal musim penghujan bulan Desember 2023, harga singkong sempat tembus Rp2000 per kilogram," bebernya, seraya mengatakan, tahun ini belum putuskan lanjut tanam singkong. “Jenis bibit singkong sekarang jenisnya bermacam-macam. Jadi, masih bingung mau pakai bibit apa besok kalau lanjut tanam singkong," sebutnya.