Pesan tersebut menempatkan keberlanjutan program sebagai pekerjaan penting setelah kegiatan berakhir. 

Tantangannya ialah memastikan akses terhadap bahan bacaan, menyediakan ruang belajar yang mudah dijangkau, serta melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah desa dalam membangun kebiasaan literasi.

Bunda Literasi Kabupaten Toba, Ny. Astita Effendi Napitupulu, menyampaikan pentingnya mengenalkan literasi sejak usia dini. 

Menurutnya, kegiatan literasi dapat membantu mengembangkan imajinasi anak sekaligus mendorong lahirnya gagasan kreatif.

Pengembangan literasi juga tidak terbatas pada aktivitas membaca dan menulis. 

Pada hari pertama festival, pelajar menampilkan teknologi robotik, sementara kegiatan lain mencakup sendratari, diskusi penulisan buku bersama penulis lokal, serta pengukuhan Bunda Literasi tingkat kecamatan.

Ragam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa literasi dapat dikembangkan melalui berbagai pendekatan, mulai dari karya tulis dan seni hingga pengenalan teknologi. 

Pendekatan ini berpeluang mendekatkan kegiatan literasi kepada minat generasi muda, selama diikuti ruang belajar dan pembinaan yang berkelanjutan.

Festival dijadwalkan berlangsung hingga Rabu (28/10/2026). Namun, keberhasilan gerakan literasi tidak hanya ditentukan oleh kemeriahan acara atau jumlah peserta. 

Konsistensi program, keterlibatan masyarakat, dan perubahan kebiasaan membaca menjadi ukuran penting untuk melihat dampaknya.

Pemerintah Kabupaten Toba kini dihadapkan pada pekerjaan lanjutan, menerjemahkan semangat festival menjadi kegiatan nyata di sekolah, perpustakaan, komunitas, dan desa. 

Dengan begitu, tema “Literasi Hidup, Generasi Kreatif” tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang memperluas pengetahuan dan daya cipta masyarakat.*