Menurut Katimin, perhitungan sederhana di tingkat petani menunjukkan bahwa produktivitas kebun sawit masih mampu menghasilkan pendapatan yang jauh lebih besar, bahkan dengan asumsi produksi yang sangat rendah.

Ia menjelaskan, satu hektare kebun sawit yang tidak dirawat sekalipun masih dapat menghasilkan sekitar 500 kilogram tandan buah segar (TBS) setiap kali panen. Dengan asumsi panen tiga kali dalam sebulan, produksi mencapai sekitar 1,5 ton TBS per hektare.

"Kalau memakai harga TBS paling rendah sekitar Rp2.000 per kilogram, maka satu hektare sudah menghasilkan sekitar Rp3 juta per bulan. Itu hitungan paling minimal," ujarnya.

Berdasarkan asumsi tersebut, Katimin memperkirakan lahan seluas 1,7 juta hektare berpotensi menghasilkan sekitar Rp5,1 triliun setiap bulan. Jika dikalkulasikan selama enam bulan masa pengelolaan pada 2025, potensi pendapatan bisa melampaui Rp30 triliun.

"Karena itu kami sebagai petani merasa angka laba Rp27,9 miliar sangat sulit dipahami. Hitungan sederhana di lapangan saja menunjukkan potensi pendapatannya jauh lebih besar. Apalagi jika kebun dirawat dengan baik dan dikelola secara profesional," kata Katimin.