Penanganan yang tidak sensitif terhadap kondisi korban, berisiko memperburuk beban psikologis yang mereka alami.

Di waktu terpisah, Camat Adian Koting, Lam Miduk Sinaga, mengapresiasi dan menyambut baik kehadiran layanan Pemkab Taput karena dapat membantu penanganan persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak, sekaligus membuka ruang pendampingan psikologis bagi mereka yang mengalami trauma. 

“Kami sangat senang dengan kehadiran Pos SAPA ini. Selain membantu penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak, layanan ini juga diharapkan dapat memberikan trauma healing, baik bagi korban trauma pascabencana maupun akibat kekerasan,” ujar Lam Miduk saat dikonfirmasi katakabar.com melalui telepon seluler, Kamis (22/10/2026). 

Meski mendapat sambutan positif, keberhasilan Pos SAPA nantinya akan ditentukan oleh kesiapan layanan setelah bimtek berakhir. 

Kejelasan prosedur pengaduan, ketersediaan tenaga pendamping, akses terhadap layanan psikologis, serta koordinasi dengan lembaga terkait perlu dipastikan agar korban tidak berhenti pada tahap pelaporan.

Sebagai proyek percontohan, pelaksanaan Pos SAPA di Adian Koting juga perlu disertai evaluasi berkala. 

Dengan demikian, pemerintah daerah dapat menilai apakah layanan tersebut benar-benar mudah diakses, mampu menjaga keamanan dan kerahasiaan korban, serta memberikan pendampingan yang sesuai kebutuhan.

Pemkab Tapanuli Utara berharap penguatan Pos SAPA dapat mendukung terwujudnya lingkungan yang lebih aman dan ramah bagi perempuan dan anak. 

Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan program ini bukan sekadar terbentuknya pos atau terlaksananya bimtek, melainkan hadirnya layanan yang dapat diandalkan ketika warga membutuhkan perlindungan.*