Mitos
Harga minyak sawit lebih mahal dibandingkan minyak nabati lainnya sehingga tidak layak menjadi sumber bahan pangan maupun energi dunia
Fakta
Pangan dan energi merupakan kebutuhan dasar kehidupan masyarakat dunia. Sehingga availability dan affordability sumber pangan maupun energi menjadi hal yang penting jika digunakan sebagai sumber bahan pangan maupun energi dunia.
Harga minyak sawit lebih murah dan kompetitif dibandingkan harga minyak nabati utama lainnya. Ini disebabkan produktivitas minyak sawit yang jauh lebih tinggi dibanding minyak nabati lain. Harga minyak sawit yang lebih murah (kompetítif) memberikan manfaat bagi masyarakat dunia. Harga minyak sawit yang relatif murah, tersedia sepanjang tahun, dan aplikasi penggunaan minyak sawit yang luas menjadikan minyak sawit sebagai substitute dari minyak nabati lainnya di pasar dunia (Kojima et al., 2016).
2,500
Dalam penggunaan minyak nabati sebagai bahan pangan, kehadiran minyak sawit sebagai substitute minyak nabati lain dapat mencegah terjadinya kenaikan harga pangan yang berlebihan. Demikian pada penggunaan minyak nabati sebagai bahan baku energi, kehadiran minyak sawit sebagai substitute minyak nabati lain dapat mencegah terjadinya kenaikan harga bahan baku energi (biofue[).
Mitos
Pangsa konsumsi minyak sawlt dalam konsumsi minyak nabati masyarakat dunia relatifkecll dibandingkan minyak nabati lainnya
Fakta
Setiap negara atau kawasan memilikí pola konsumsi minyak nabati yang berakar pada sejarah, seiera, dan ketersediaan sumber minyak nabati. Secara internasional, ketersediaan clari berbagai jenis minyak nabati merupakan bagian dari ketahanan pangan global.
Dalam sejarah konsumsi minyak nabati utama dunia telah mengalami perubahan penting. Pangsa minyak sawit dalam konsumsi minyak nabati global semakin mendominasi dan terus meningkat clari tahun ke tahun.
Minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi pada tahun 1965 adalah minyak kedelai (61 persen), kemudian diikuti dengan minyak rapeseed (23 persen), minyak sawit (16 persen) dan minyak bunga matahari (1 persen).
Dengan makin tersedianya minyak sawit secara internasional, harga yang relatif lebih murah dan aplikasi yang luas menyebabkan pangsa penggunaan minyak sawit mengalami peningkatan.
Kehadiran minyak sawit telah menggeser dominasi minyak kedelai dalam struktur konsumsi empat minyak nabati utama dunia. Pada tahun 2021, pangsa minyak sawit menempati posisi pertama yakni 40 persen. Lalu disusul oleh minyak kedelai (33 persen), minyak rapeseed (17 persen) dan minyak bunga matahari (II persen).
Peningkatan pangsa konsumsi minyak sawit dalam konsumsi empat minyak nabati utama dunia, juga terjadi di berbagai negara atau kawasan utama clunia, seperti India, China, Afrika, Uni Eropa, dan Amerika Serikat. Uni Eropa sebagai produsen minyak rapeseed dan minyak bunga matahari, dimana kedua minyak nabati tersebut juga mendominasi konsumsinya.
Menariknya di periode tahun 2000-2021, pangsa konsumsi minyak sawit Uni Eropa mengalami peningkatan, yakni dari 24 persen menjadi 29 persen (USDA, 2022).
Hal yang sama terjadi di Amerika Serikat. Minyak nabati utama bagi masyarakat Amerika Serikat adalah minyak kedelai. Meski minyak kedelai masih mendominasi konsumsi minyak nabati di Amerika, tapi proporsi penggunaan minyak sawit mengalami peningkatan clari 3 persen menjadi 10 persen periode 1980-2021 (USDA, 2022).
Pola konsumsi minyak nabati China pada tahun 1965 didominasi oleh minyak rapeseed (68 persen), kemudian diikuti oleh minyak kedelai (24 persen) dan minyak sawit (9 persen).
Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi China, pangsa konsumsi minyak sawit mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun sehingga pangsanya mencapai 19 persen pada tahun 2021 (USDA, 2022).
Berbeda dengan tiga negara sebelumnya, pola konsumsi minyak nabati di India relatif kompetitif pada tahun 1980 yakni minyak rapeseed (39 persen), minyak kedelai (37 persen), dan minyak sawit (23 persen).
Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi India, pangsa konsumsi minyak sawit tumbuh cepat dan mendominasi konsumsi minyak nabati India. Pangsa minyak sawit meningkat dari 37 persen tahun 1980 menjadi 44 persen pada tahun 2021 (USDAJ 2022).
Perkembangan di atas menunjukkan peran minyak sawit secara internasional semakin penting dan signifikan. Pergeseran konsumsi minyak nabati dunia semakin memperbesar porsi minyak sawit merupakan pilihan yang realistis karena produktivitas minyak sawit jauh lebih tinggi sehingga lebih sustainable. (sumber: Buku Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global Edisi Keempat, PASPI 2023. Bersambung...
Evolusi Mutakhir Industri Sawit Indonesia, Harga Minyak Sawit Lebih Murah Ternyata
Diskusi pembaca untuk berita ini