Di Unand BPDP dan PASPI Bedah Buku Mitos vs Fakta Kelapa Sawit Mitos dan Fakta
Mitos dan Fakta
Rabu, 17 September 2025 | 20:02 WIB

Di Unand BPDP dan PASPI Bedah Buku Mitos vs Fakta Kelapa Sawit

Padang, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, dan Palm Oil Strategic Agribusiness Strategic Policy Instutute atau PASPI, serta Universita Andalas gelar kegiatan Bedah Buku Mitos vs Fakta Kelapa Sawit, Senin (15/9) lalu, persisnya di Convention Hall Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat. Kegiatan sosialisasi buku Mitos vs Fakta Sawit digelar pada 2025 ini telah memasuki tahun ketiga. Selama tahun 2023-2024, PASPI dan BPDP telah gelar kegiatan sosialisasi buku ini di 14 universitas yang tersebar di wilayah Indonesia. Universitas Andalas atau Unand universitas ke 15 tempat pelaksanaan kegiatan sosialisasi dalam bentuk Diseminasi dan Bedah Buku “Mitos Vs Fakta: Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global Edisi Keempat” Selain kegiatan bedah buku, dilakukan pula Lomba konten kreatif sawit terdiri dari dua kategori, yakni short video dan infografis, dimana lomba tersebut merupakan bentuk diseminasi buku yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah menyampaikan berbagai dukungan BPDP untuk terus melakukan kampanye positif sawit termasuk melalui kegaiatan bedah buku. Selain itu kegiatan promosi sawit baik juga dilakukan dengan mendorong penguatan UMKM berbasis sawit “Dukungan kepada UMKM sawit juga merupakan bagian dari upaya untuk terus melawan black campaign dengan mengkampanyekan kebaikan-kebaikan sawit melalui pemanfaatan beragam produk sawit dan turunannya untuk memperkuat ekonomi masyarakat. Mahasiswa dan Mahasiswi yang memiliki passion wirausahanya dapat melakukan rintisan usaha berbasis produk sawit dan turunannya. Saat ini BPDP sudah meluncurkan 100 katalog produk UMKM Sawit yang dapat menjadi referensi wirausaha bagi para mahasiswa,” beber Helmi, dilansir dari laman resmi BPDP, Rabu (17/9). Di kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Universitas Andalas yaitu Prof. Dr. Ir. Melinda Noer, M.Sc (Dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Andalas) sebagai narasumber yang membedah/mengulas aspek buku terkait ekonomi , Prof. Dr. Ir. Herviyanti, MS (Dosen Dosen Prodi Ilmu Tanah Universitas Andalas) sebagai narasumber yang membedah/mengulas aspek buku terkait keunggulan kelapa sawit sebagai komoditas pertanian serta Dr. Fadjar Goembira, ST., (Dosen Prodi Prodi Teknik Lingkungan Universitas Andalas) sebagai narasumber yang membedah/mengulas aspek buku terkait lingkungan.

Nikmat Hilirisasi Sawit Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Dunia Mitos dan Fakta
Mitos dan Fakta
Senin, 24 Maret 2025 | 21:38 WIB

Nikmat Hilirisasi Sawit Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Dunia

katakabar.com - Kesempatan kerja dan penciptaan pendapatan dari hilirisasi kelapa sawit dapat dinikmati seluruh masyarakat dunia. Selain untuk menghasilkan produk jadi (final product) berbasis minyak sawit yang diperlukan dan digunakan oleh konsumen pada setiap negara, hilirisasi minyak sawit (jalur pangan, oleokimia, dan bioenergi) di negara-negara konsumen juga dapat dipandang sebagai bagian dari share prosperity atau proses membagi "kue ekonomi" antara negara produsen dengan negara konsumen minyak sawit. Share prosperity yang dimaksud berupa kesempatan kerja, kesempatan berusaha, dan penciptaan pendapatan (PASPI, 2021 dalam jurnal berjudul Kontribusi Industri Sawit pada SDG-8 Decent Work and Economic Growth pada Level Dunia). Studi Europe Economic (2016) dan PASPI Monitor (2021a, 2021b) mengungkapkan bahwa hilirisasi minyak sawit di berbagai negara konsumen mampu menciptakan kesempatan kerja bagi sekitar 2,36 juta orang pada tahun 2015. Distribusi kesempatan kerja di negara importir/konsumen minyak sawit dunia tersebut terjadi di India (42 persen), China (29 persen), Afrika (7 persen), Pakistan dan Bangladesh (5 persen), Uni Eropa (3 persen), Amerika Serikat (2 persen), dan negara-negara lain (13 persen). Besarnya kesempatan kerja yang tercipta dari hilirisasi sawit di setiap negara tergantung pada volume konsumsi, teknologi, dan kedalaman hilirisasinya. Semakin besar volume konsumsi dan semakin dalam hilirisasi sawit di negara tersebut maka akan menciptakan kesempatan kerja yang lebih besar (PASPI, 2021 berjudul Industri Sawit Ciptakan Job-Opportunities di Negara Importir). Selain penciptaan kesempatan kerja, European Economic (2016) juga menemukan hilirisasi sawit di negara-negara konsumen minyak sawit dunia juga menciptakan pendapatan sekitar USD32,8 miliar. Distribusi penciptaan pendapatan tersebut terjadi di Uni Eropa (18,7 persen), China (17 persen), India (16,7 persen), Afrika (13,5 persen), Pakistan dan Bangladesh (10,1 persen), Amerika Serikat (7,3 persen), dan negara-negara lain (17 persen). Sama seperti kesempatan kerja, besar kecilnya pendapatan yang tercipta pada setiap negara konsumen sawit tergantung pada volume konsumsi minyak sawit, jalur dan keragaman hilirisasi, serta teknologi hilirisasi sawit.

Perkebunan Kelapa Sawit Sukses Lestarikan Plasma Nutfah Mitos dan Fakta
Mitos dan Fakta
Sabtu, 15 Maret 2025 | 22:43 WIB

Perkebunan Kelapa Sawit Sukses Lestarikan Plasma Nutfah

katakabar.com - Perkebunan kelapa sawit sukses lestarikan plasma Nutfah, dan berhasil lestarikan multifungsi baik fungsi ekonomi, fungsi lingkungan, dan fungsi sosial. Paradigma sejumlah pihak ekspansi perkebunan kelapa sawit hanya melihat dampak lingkungan, selain salah kaprah juga mengabaikan adanya fungsi lingkungan inheren melekat dalam perkebunan sawit (PASPI, 2021). Pertanian termasuk perkebunan memiliki multifungsi antara lain fungsi jasa lingkungan yakni green function dan blue function (OECD, 2001; Huylenbroeck et.al., 2007; Moon, 2012). Green function terkait dengan jasa carbon sink (penyerap karbon), sequestrasi (proses penyimpanan CO2 dari atmosfer), dan produksi oksigen. Sedangkan, blue function terkait dengan pelestarian hidrologis serta konservasi tanah dan air (PASPI, 2021 dalam jurnal berjudul Multifungsi Ekologis dari Perkebunan Sawit Indonesia). PASPI (2021) menejelaskan, karakteristik perkebunan sawit sebagai perennial plant, memiliki ukuran yang relatif besar dan tinggi, canopy cover mendekati 100 persen dan siklus usia tanaman sekitar 25 tahun, berimplikasi pada fungsi dan manfaat ekologis yang dimilikinya.

Industri Sawit Topang Pencapaian SDGs Mitos dan Fakta
Mitos dan Fakta
Minggu, 23 Februari 2025 | 15:30 WIB

Industri Sawit Topang Pencapaian SDGs

katakabar.com - Kontribusi industri minyak sawit Indonesia sudah mencapai 16 tujuan dari 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang inisiasi Sustainable Development Goals (SDGs) platform pembangunan global pada 2015 lalu dengan target pencapaian selama periode tahun 2016-2030. Sebagai platform pembangunan global yang disepakati bersama, SDGs memiliki 17 tujuan besar dan 169 target yang dapat dikelompokkan pada tiga aspek utama, yakni aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Lantas, seperti apa dukungan industri perkebunan sawit terhadap pencapaian SDGs global tersebut? Klasifikasi 17 Tujuan Besar SDGs Palm oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) dalam laporannya berjudul Kontribusi Industri Sawit Terhadap Pencapaian SDGs yang diterbitkan pada 2020 mengklasifikasi 17 tujuan SDGs ke dalam tiga aspek besar, meliputi ekonomi, sosial, dan lingkungan sebagai berikut. Pertama, tujuan dalam aspek ekonomi yang mencakup delapan SDGs, meliputi: (a) menghapus kemiskinan berbagai bentuk dan seluruh tempat/SDG-1. (b) menghapus kelaparan, kekurangan gizi, dan membangun ketahanan pangan inklusif/SDG-2. (c) membangun energi yang berkelanjutan/SDG-7. (d) pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja yang inklusif/SDG-8. (e) infrastruktur dan industrialisasi dan inovasi/SDG-9. (f) pengurangan ketimpangan/SDG-10. (g) konsumsi dan produksi yang berkelanjutan/SDG-12 dan (h) kerja sama global pembangunan berkelanjutan/SDG-17. Kedua, tujuan dalam aspek sosial yang mencakup enam SDGs, yakni: (a) kesehatan dan kesejahteraan/SDG-3. (b) pendidikan berkualitas yang inklusif/SDG-4. (c) kesamaan gender/SDG-5. (d) ketersediaan air bersih dan sanitasi yang inklusif/SDG-6. (e) pembangunan kota dan desa (pemukiman) yang inklusif, aman, dan berkelanjutan/SDG-11,dan (f) perdamaian dan keadilan sosial yang inklusif/SDG-16. Ketiga, tujuan dalam aspek lingkungan yang mencakup tiga SDGs, yaitu: (a) mengatasi perubahan iklim global dan dampaknya/SDG-13. (b) konservasi dan pemanfaaran sumber daya perairan secara berkelanjutan/SDG-14, dan (c) pengelolaan biodiversitas, ekosistem daratan, dan hutan secara berkelanjutan/SDG-15.

Tumbuhan Mangrove Mampu Atasi Abrasi Mitos dan Fakta
Mitos dan Fakta
Rabu, 27 Desember 2023 | 10:23 WIB

Tumbuhan Mangrove Mampu Atasi Abrasi

Bantan, katakabar.com - Pemerintah Kecamatan Bantan, Pemerintah Desa Muntai, Polsek Bantan dan Koramil 01 Bengkalis sinergitas melakukan penanaman Mangrove di sekitar wilayah pusat Titik Refensi 186A Batas Negara di Kuala Desa Muntai, pada Selasa (26/12) kemarin Camat Bantan diwakili Kasi Trantib, Jayusni, Danramil 01 Bengkalis, dan anggota, Kapolsek Bantan serta anggota, Danposal Muntai dan anggota, serta distrik navigasi Muntai, turut penanaman Mangrove. Begitu Kelompok Mangrove Teluk Pambang, Kelompok Mangrove Desa Muntai dan Kelembagaan Desa, yakni BPD Desa Muntai, PKK Muntai dan anggota dan RT, RW, LPM, serta Perangkat Desa Muntai ikut penanaman Mangrove. "Penanaman Mangrove ini upaya untuk mengatasi abrasi pantai di pulau terkecil terluar Indonesia dan memiliki banyak fungsi baik untuk kelestarian dan ekosistim lainnya," ujar Kepala Desa Muntai, Nurin. Kegiatan ini memiliki banyak manfaat ekologis. Di mana ekosistem Mangrove menyediakan habitat penting bagi beragam spesies hewan dan tumbuhan, termasuk ikan, burung, dan moluska. "Mereka menjadikan mangrove sebagai tempat berkembang biak, tempat berlindung, serta tempat mencari makan," kata Nurin. Keberadaan mangrove yang sehat, tutur Nurin, membantu menjaga keanekaragaman hayati di wilayah Pesisir Pantai Muntai, mempertahankan populasi spesies yang rentan, dan memelihara kesuburan perairan. "Karenanya, penanaman mangrove menjadi salah satu solusi berkelanjutan untuk dapat mengatasi abrasi pantai dan menjaga kelestarian ekosistem pesisir pantai pulau kecil terluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)."

Pelantikan LLMB, Asmar: Selamat dan Serap Aspirasi Masyarakat Mitos dan Fakta
Mitos dan Fakta
Minggu, 19 November 2023 | 15:20 WIB

Pelantikan LLMB, Asmar: Selamat dan Serap Aspirasi Masyarakat

Meranti, katakabar.com - Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kepulauan Meranti, Asmar sampaikan selamat dan sukses atas pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Laskar Melayu Bersatu (DPD LLMB) Kabupaten Kepulauan Meranti periode 2023-2028. "Atas nama Pemerintah Kabupaten (Pemkab), saya ucapkan selamat dan sukses atas pelantikan," ujar Asmar saat menghadiri Pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Laskar Melayu Bersatu (DPD LLMB) Kabupaten Kepulauan Meranti periode 2023-2028, di Stadion Purnama Alai Desa Mekong Kecamatan Tebingtinggi Barat, pada Sabtu (18/11). Organisasi yang bergerak di bidang sosial budaya ini, harap Asmar, bisa berbaur dengan masyarakat dalam menyerap aspirasi, memajukan perekonomian, pendidikan dan kebudayaan. "Lestarikan nilai-nilai sejarah dan perjuangan, serta melaksanakan nilai-nilai budaya di Kabupaten Kepulauan Meranti," kata Asmar. Pemkab Kepulauan Meranti, tegas Asmar, bakal terus memberikan dukungan penuh kepada organisasi yang ada, termasuk LLMB. Mari LLMB tidak hanya melaksanakan rencana programnya semata, tapi turut berpartisipasi aktif dalam pembangunan daerah. "Kami meyakini, dengan adanya LLMB di Kabupaten Kepulauan Meranti ini bisa menjaga keutuhan adat dan budaya dari leluhur kita agar terus lestari sepanjang masa," harapnya. Diketahui, DPD LLMB Kepulauan Meranti itu dinakhodai A. Rahman alias Daman, dilantik oleh Ketua Umum LLMB Panglima Pucuk Ismail Amir. Sejumlah kepala OPD, Upika Tebingtinggi Barat, pejabat serta tamu lainnya hadir di acara itu.

Evolusi Terbaru Industri Sawit Indonesia, Rotor Penggerak Pembangunan Pedesaan Mitos dan Fakta
Mitos dan Fakta
Sabtu, 07 Oktober 2023 | 16:30 WIB

Evolusi Terbaru Industri Sawit Indonesia, Rotor Penggerak Pembangunan Pedesaan

katakabar.com - Riwayat perkembangan industri kelapa sawit tidak lepas dari isu dan rumor negatif di Nusantara (Indonesia). Rumor menyebutkan keberadaan perkebunan kelapa sawit menciptakan keterbelakangan di wilayah pedesaan. Tapi, mitos yang berkembang justru bertolak belakang dan terbantahkan dengan realita sesungguhnya di lapangan. Diketahui, perkebunan kelapa sawit secara umum dikembangkan di daerah-daerah pelosok, pinggiran, daerah tertinggal dan degraded land (ghost town) sehingga baik langsung mau pun tak langsung masuk kategori sebagai pionir kegiatan sekaligus rotor penggerak roda ekonomi. Buktinya, perkembangan perkebunan kelapa sawit mampu merestorasi degraded land jadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbagai daerah di Nusantara (Indonesia). Proses restorasi itu dibagi jadi tiga fase, yakni Fase Perintisan ditunjukkan dengan perkembangan perkebunan kelapa sawit inti dan plasma. Diikuti kemudian perkembangan perkebunan kelapa sawit swadaya, usaha kecil-menengah (UMKM) dan koperasi swasta. Jalan masuk pun terbuka, dengan adanya jaminan pasar Tandan Buah Segar (TBS) pada Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan keberhasilan petani terdahulu. Hal ini jadi magnet bagi pelaku usaha baru masuk dan berinvestasi di wilayah sentra perkebunan kelapa sawit. Seiring perkembangan kegiatan perkebunan kelapa sawit, secara otomatis menggerakkan sektor ekonomi lain, seperti sektor jasa transportasi pengangkutan TBS dari kebun ke PKS, jasa supplier barang perkantoran, jasa perdagangan bahan pangan, jasa warung, restoran makan, jasa perdagangan antar kota, dan lainnya. Di mana, secara totalitas membentuk aglomerasi di wilayah pedesaan. Selain itu, perkebunan kelapa sawit mampu menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa non-sawit hingga masyarakat kota. Masyarakat yang bekerja di perkebunan kelapa sawit (petani maupun karyawan perkebunan) adalah konsumen produk-produk pangan maupun non-pangan yang dihasilkan masyarakat perkotaan dan pedesaan. Studi PASPI berdasarkan pengeluaran penduduk (BPS, 2021) menjelaskan besarnya nilai transaksi antara masyarakat kebun kelapa sawit dengan masyarakat perkotaan mencapai Rp367 triliun per tahun. Sedang, transaksi dengan masyarakat pedesaan sebesar Rp146 triliun per tahun. Total transaksi antara masyarakat perkebunan kelapa sawit secara nasional mencapai Rp514 triliun per tahun. Itu artinya, pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di kawasan pedesaan meningkatkan kapasitas perekonomian daerah pedesaan dalam menghasilkan out-put, pendapatan dan kesempatan kerja, baik perkebunan kelapa sawit maupun pada sektor lain (rural non-farm) di kawasan pedesaan dan perkotaan. Menurut Kementerian Transmigrasi dan Tenaga Kerja, pada tahun 2013 setidaknya ada 50 kawasan pedesaan terbelakang atau terisolir telah berkembang menjadi kawasan pertumbuhan baru dengan basis produksi minyak sawit. Studi PASPI (2017) lagi-lagi menyatakan pusat-pusat pertumbuhan baru berbasis perkebunan kelapa sawit telah berkembang dari Aceh hingga Papua. Keberhasilan perkebunan kelapa sawit dalam meningkatkan kemampuan pembangunan daerah dapat dilihat dari Indeks Desa Membangun (IDM). Studi PASPI (2022) menyebutkan tingkat kemampuan ekonomi, sosial dan lingkungan secara komposit (IDM) desa sawit lebih tinggi dibanding dengan desa non-sawit. Ini berarti kehadiran perkebunan kelapa sawit kawasan pedesaan mampu meningkatkan kemajuan pembangunan desa. Studi ini mengkonfirmasi studi World Growth (2011) mengatakan perkebunan kelapa sawit di Indonesia sebagai bagian penting dari pembangunan pedesaan. Jadi, perkebunan kelapa sawit di kawasan pedesaan tidak membuat desa terbelakang. Justru melalui pengembangan perkebunan kelapa sawit mampu mengubah daerah terbelakang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di pedesaan. (sumber: Buku Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global Edisi Keempat, PASPI 2023. Bersambung..,

Evolusi Mutakhir Industri Sawit Indonesia Menilik Luas Areal Perkebunan Mitos dan Fakta
Mitos dan Fakta
Kamis, 06 Juli 2023 | 12:20 WIB

Evolusi Mutakhir Industri Sawit Indonesia Menilik Luas Areal Perkebunan

Mitos Perkebunan kelapa sawit lebih ekspansif dari tanaman minyak nabati lainnya Fakta Di dunia internasional, terdapat 17 jenis minyak nabati sebagai sumber minyak dan lemak dunia yang diperdagangkan secara global dengan standar mutu dan keamanan pangan diatur dan diakui CODEX Alimentarius Commission (Hariyadi, 2010). Dari 17 jenis sumber minyak nabati itu, terdapat empat jenis sumber utama minyak nabati dunia, yakni minyak sawit (Crude Palm Oil, Crude Palm Kernel Oil), minyak kedelai (Soybean Oil), minyak rapeseed (Rapeseed Oil) dan minyak bunga matahari (Sunflower Oil). Lantaran perluasan perkebunan kelapa sawit dunia yang cepat sesungguhnya hanya dibesar-besarkan saja. Data menunjukkan ekspansi perkebunan kelapa sawit dunia jauh lebih rendah dibandingkan dengan ekspansi areal tahaman minyak nabati utama, seperti kedelai, rapeseed, dan bunga matahari. Di tahun 2021, luas areal tanaman kedelai clunia mencapai 129.9 juta hektar. Lalu tanaman rapeseed dan tanaman bunga matahari memiliki luas areal berturut-turut sebesar 37.8 juta hektar dan 28.4 juta hektar. Sedang luas areal perkebunan kelapa sawit dunia hanya sebesar 25 juta hektar. Selain memiliki areal tanaman terluas, pertambahan luas areal tanaman kedelai selama periode tahun 1980-2021 paling besar diantara ketiga minyak nabati Iainnya. Tambahan (ekspansi) luas areal tanaman kedelai dunia mencapai 81.5 juta hektar. Untuk peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit dunia selama periode itu hanya seluas 24 juta hektar atau setara 29 persen dari tambahan luas areal kedelai dunia. Jadi, tanaman minyak nabati yang paling ekspansif adalah kedelai, terus disusul rapeseed dan bunga matahari. Sementara ekspansi perkebunan kelapa sawit yang paling kecil dibandingkan ketiga tanaman minyak nabati Iainnya. Bila diasumsikan asal usul lahan untuk tanaman minyak nabati berasal dari konversi hutan, maka perubahan tata guna lahan global, termasuk di dalamnya deforestasi (Land Use Land Use Change Forestry/LULUCF) yang terbesar, terjadi untuk ekspansi perkebunan kedelai. Berikutnya disusul untuk perkebunan rapeseed dan perkebunan bunga matahari. Mitos Perkebunan kelapa sawit dunia lebih luas dari tanaman minyak nabati utama Iainnya, sehingga produksi minyak sawit dunia lebih tinggi dari minyak nabati utama Iainnya Fakta Dalam produksi minyak nabati utama dunia telah terjadi perubahan komposisi selama periode tahun 1980-2021. Di tahun 1980, produksi minyak nabati utama dunia masih didominasi oleh minyak kedelai dengan volume sebesar 9.9 juta ton (51 persen). Kemudian diikuti oleh minyak sawit sebesar 5.4 juta ton (28 persen), minyak rapeseed sebesar 2.6 juta ton (13 persen) dan minyak bunga matahari sebesar 1.5 juta ton (8 persen). Komposisi produksi minyak nabati utama dunia mengalami perubahan di tahun 2021, yakni dengan munculnya minyak sawit sebagai sumber minyak nabati terbesar dunia dengan volume produksi sebesar 84.2 juta ton atau dengan pangsa 43 persen dari total produksi empat minyak nabati utama dunia. Selanjutnya diikuti oleh minyak kedelai sebesar 61.3 juta ton atau setara 32 persen, minyak rapeseed sebesar 27.9 juta ton atau setara 14 persen, dan minyak bunga matahari sebesar 22 juta ton atau setara 11 persen. Namun dari luas areal empat tanaman minyak nabati utama clunia, yakni sebesar 221.1 juta hektar, pangsa luas areal tanaman minyak nabati terbesar adalah kedelai yang mencapai 59 persen, disusul oleh pangsa luas areal rapeseed sebesar 17 persen, pangsa luas areal bunga matahari sebesar 13 persen dan pangsa luas perkebunan kelapa sawit sebesar 11 persen. Sehingga, sangat jelas luas areal perkebunan kelapa sawit justru paling kecil dibandingkan dengan luas areal tanaman minyak nabati lainnya. Mengenai produksi minyak, produksi minyak sawit yang terbesar. Ini berarti perkebunan kelapa sawit lebih produktif dalam penggunaan lahan dibanding dengan tanaman minyak nabati lainnya. (sumber: Buku Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global Edisi Keempat, PASPI 2023. Bersambung..,

Tanaman Minyak Nabati Eropa ini Paling Rakus Air, Gimana Dengan Sawit? Mitos dan Fakta
Mitos dan Fakta
Sabtu, 01 Juli 2023 | 13:11 WIB

Tanaman Minyak Nabati Eropa ini Paling Rakus Air, Gimana Dengan Sawit?

Jakarta, katakabar.com - Empat belas tahun silam, adalah Winnie Gerbens-Leenes dan kawan-kawan melaksanakan penelitian berjudul; The Water Footprint of Energi from Biomass: A Quantitative Assesment and Consequeences of an Increasing Share of Bioenergy Supply. Asisten Profesor di University of Groningen, Belanda ini pun mengambil Ubi kayu, Kelapa, Jagung, Kelapa Sawit, Kedelai, Tebu, Bunga Matahari dan Kanola (Rapeesed) jadi objek penelitian, tentang berapa banyak air yang dibutuhkan setiap tanaman ini untuk menghasilkan setiap Giga Joule (GJ) bioenergi (minyak). Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) yang dikomandani oleh Dr. Tungkot Sipayung kemudian merilis hasil penelitian itu yang hasilnya begini; Rapeesed membutuhkan air 184 M3, Kelapa 126 M3, Ubi Kayu 118 M3, Jagung 105 M3, Kedelai 100 M3, Bunga Matahari 87 M3, Kelapa Sawit 75 M3 dan Tebu 28 M3. Selain dibandingkan dengan tanaman penghasil bioenergi, dibandingkan dengan sederet tanaman hutan pun, Kelapa Sawit masih yang paling hemat air. Bambu dan Lamtoro butuh 3000 mm pertahun. Akasia 2400 mm pertahun, Sengon 2300 mm per tahun, Karet, Jati dan Pinus masing-masing 1300 mm per tahun, Kelapa Sawit 1104 mm per tahun dan Teh 900 mm pertahun. "Sebenarnya kebutuhan air untuk berbagai tanaman sudah lama diteliti oleh para ahli. Salah satunya adalah Coster (1938). Dia memakai indikator evapotranspirasi tanaman," ujar Tungkot dalam Palm Journal berjudul Kebun Kelapa Sawit; Hemat Air dan Lestarikan Cadangan Air Tanah yang dirilis dua tahun lalu itu. Data USDA dan Oil World 2021 menyebutkan bahwa luas lahan kebun kanola di dunia sudah mencapai 35,5 juta hektar, Kedelai 127 juta hektar, sementara kebun kelapa sawit hanya sekitar 24 juta hektar.