katakabar.com - Perkembangan terbaru Industri sawit Indonesia, ternyata harga minyak kelapa sawit lebih murah dibanding minyak nabati lainnya. Ini sejalan dengan kebutuhan dasar kehidupan masyarakat global, seperti pangan dan energi.
Ketersedian dan keterjangkauan sumber pangan dan energi sangat penting untuk digunakan sebagai sumber bahan pangan dan energi dunia itu sendiri, inilah faktanya.
Memang, sebagian lagi ada yang menyatakan harga minyak sawit lebih mahal dibanding minyak nabati lainnya sehingga tidak layak menjadi sumber bahan pangan dan energi dunia. Beda sudut pandang dan pendapat menilai sesuatu lumrah antara mitas dan fakta tentang minya sawit saat ini menjadi magnet bagi hidup dan penghidupan masyarakat dunia.
Kenapa harga minyak sawit lebih murah dan miliki kemampuan persaingan atau kompetitif dibanding harga minyak nabati utama lainnya? Lantaran produktivitas minyak sawit jauh lebih tinggi dibanding minyak nabati lain.
Selain itu, harga minyak sawit relatif murah tersedia sepanjang tahun, dan aplikasi penggunaan minyak sawit yang luas menjadikan minyak sawit sebagai substitute dari minyak nabati lainnya di pasar dunia (Kojima et al. 2016) sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat di seluruh dunia.
Terkait penggunaan minyak nabati sebagai bahan pangan, minyak sawit hadir sebagai substitute minyak nabati lain bisa mencegah terjadinya kenaikan harga pangan yang berlebihan.
Begiu pula penggunaan minyak nabati sebagai bahan baku energi, kehadiran minyak sawit sebagai substitute minyak nabati lain dapat mencegah terjadinya kenaikan harga bahan baku energi (biofuef).
Untuk pangsa konsumsi, ada yang menyebutkan minyak sawlt dibanding minyak nabati lainnya konsumsi masyarakat dunia relatif kecll.
Tapi, nyatatanya setiap negara atau kawasan punya pola konsumsi minyak nabati yang berakar pada sejarah, seiera, dan ketersediaan sumber minyak nabati. Di mana secara internasional, ketersediaan clari berbagai jenis minyak nabati telah jadi bagian dari ketahanan pangan global.
Riwayat konsumsi minyak nabati utama dunia alami perubahan cukup penting sayang untuk dilewatkan. Pangsa minyak sawit dalam konsumsi minyak nabati global makin mendominasi, dan terus meningkat clari dari tahun ke tahun.
Minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di tahun 1965 lampau, yakni minyak kedelai 61 persen, diikuti dengan minyak rapeseed 23 persen, minyak sawit 16 persen, dan minyak bunga matahari 1 persen.
Tapi, seiring makin tersedianya minyak sawit secara internasional, dan harga relatif lebih murah, serta aplikasi yang luas pangsa penggunaan minyak sawit mengalami peningkatan.
Hadirnya minyak sawit menggeser dominasi minyak kedelai dalam struktur konsumsi empat minyak nabati utama dunia. Lihat tahun 2021 lalu, pangsa minyak sawit menempati posisi pertama, yakni 40 persen, disusul minyak kedelai 33 persen, minyak rapeseed 17 persen, dan minyak bunga matahari II persen.
Peningkatan pangsa konsumsi minyak sawit dalam konsumsi empat minyak nabati utama dunia pum terjadi di belahan dunia. Berbagai negara atau kawasan utama clunia, seperti India, China, Afrika, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.
Sementara, Uni Eropa sebagai produsen minyak rapeseed dan minyak bunga matahari, di mana ke dua minyak nabati konsumsinya mendominasi.
Pada periode tahun 2000-2021 paling menarik, pangsa konsumsi minyak sawit Uni Eropa mengalami peningkatan, yakni dari 24 persen menjadi 29 persen (USDA, 2022).
Di Amerika Serikat meski Konsumsi minyak nabati utama bagi masyarakat Amerika Serikat, yakni minyak kedelai. Tapi proporsi penggunaan minyak sawit alami peningkatan clari 3 persen menjadi 10 persen di periode 1980 hingga 2021 (USDA, 2022).
Untuk pola konsumsi minyak nabati di China didominasi minyak rapeseed 68 persen tahun 1965, diikuti minyak kedelai 24 persen, dan minyak sawit 9 persen.
Nah, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi China, pangsa konsumsi minyak sawit alami pertumbuhan dari tahun ke tahun di mana pangsanya mencapai 19 persen pada tahun 2021 (USDA, 2022).
Beda dengan tiga negara sebelumnya, pola konsumsi minyak nabati di India relatif kompetitif di tahun 1980, yakni minyak rapeseed 39 persen, minyak kedelai 37 persen, dan minyak sawit 23 persen.
Tapi dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi India, pangsa konsumsi minyak sawit tumbuh cepat dan dominasi konsumsi minyak nabati India. Di mana pangsa minyak sawit meningkat dari 37 persen tahun 1980 menjadi 44 persen pada tahun 2021 (USDAJ 2022).
Evalusi itu menunjukkan peran minyak sawit secara internasional semakin penting dan signifikan. Pergeseran konsumsi minyak nabati dunia makin nyata, dan perbesar porsi minyak sawit pilihan realistis disebabkan produktivitas minyak sawit jauh lebih tinggi, dan lebih berkelanjutan (sumber: Buku Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global Edisi Keempat, PASPI 2023. Bersambung...
Evolusi Terbaru Industri Sawit Indonesia, Harga Minyak Kelapa Sawit Ternyata Lebih Murah
Diskusi pembaca untuk berita ini