Ngawi, katakabar.com - Sempena merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 80, Malawu Creative Suites bekerja sama dengan Senarai Ide Bangsa, meluncurkan buku berjudul "Kopitalisme" di Malawu Omah Kopi, Ngawi, Jumat (15/8)

Buku setebal 289 ini ditulis oleh Malika Dwi Ana dan Agung Marsudi. Duet dua penulis beda gaya ini menghasilkan 17, 8, 19, 45 tulisan, memaknai angka-angka proklamasi kemerdekaan, yang kaya narasi menghentak kesadaran. Ide menyusun buku kolaborasi ini lahir dari keinginan untuk menghadirkan sesuatu yang istimewa, merayakan cinta kepada Indonesia dengan cara berbeda.

"Bagi saya ini semacam persebatian hati dalam mengembangkan literasi," tutur Malika.

Malika Dwi Ana, adalah alumni Ilmu Politik Unair, Surabaya dikenal sebagai penulis multitalenta di akun medsos dan editor di sebuah media. Sedang Agung, lebih dikenal sebagai penggiat gerakan kedaulatan energi nasional, dan pengamat geopolitik sumberdaya alam.

Kopitalisme menurut Malika, penulis pertama buku ini adalah layar realitas di mana kopi tidak hanya menjadi komoditas yang dijual sebagai minuman, tapi juga sebagai lifestyle.

Menurutnya, masyarakat selalu saja memiliki sisi jenaka dalam menyikapi setiap peristiwa yang menimpa. Melihat kondisi masyarakat yang ditekan kebutuhan, hidup susah, dipaksa terima carut marut keadaan, ekonomi, politik, dan sosial saat ini.

Masyarakat tetap arif, dan malu menyebut kata "menderita", meski ditekan, mereka masih sabar, bisa "ngalah, ngalih," dan sejenak "ngopi" sebelum mengambil keputusan terakhir untuk "ngamuk" seperti peristiwa amuk massa di Pati.

Sedang kopitalisme menurut Agung, penulis kedua, menawarkan kopi rasa nasionalisme, sebuah tradisi dan kehormatan yang dilupakan. Ia menyindir halus, kohesi politik kopi dan kapitalisme yang meminta “Americano” disuguhkan di meja istana, dan rapat-rapat paripurna. Padahal menurut Agung, kopi tubruk, kopi joss, kopi klothok, kopi ireng guseng adalah kopi “Indonesiano”. Kopi terbaik milik bangsa sendiri.

Kopitalisme telah mengatur kontraksi, pahit getir ekonomi. Kopi tak perlu diseduh dengan drama, sebab di kalangan masyarakat, telah lama dikenal bahasa peri, _“Kuat dilakoni, ra kuat ditinggal ngopi”_.

Kepada media, Malika menyebut, buku ini tidak seperti karya akademis yang kaya catatan kaki, atau semacam _coffee table book_ yang mewah tapi sebuah catatan kegelisahan, kritik terhadap lanskap politik Indonesia yang terus bergerak.

"Pesannya dalam politik itu apa yang terlihat sering bukanlah peristiwa sebenarnya. Politik praktis itu bukan yang tersurat melainkan apa yang tersirat. Apa yang terjadi di panggung pertunjukan, belum tentu yang sesungguhnya terjadi. Pertunjukan sesungguhnya justru terjadi di balik layar," timpal Malika.

"Harapan saya buku ini bisa diterima oleh masyarakat, semoga menjadi legacy, bagi anak cucu ke depan. Diterbitkan bersamaan dengan perayaan 80 tahun Indonesia. Supaya lebih banyak masyarakat yang makin  sadar politik. Politik itu bukan hanya soal pemilu, pilpres, atau pilkada, lalu dapet uang saweran," imbuhnya.

"Politik itu kebijakan. Semua kebijakan yang menyangkut seluruh aspek kehidupan, itu politik. Jadi masyarakat harus makin melek politik. Hak-hak politik harus disuarakan, diperjuangkan. Kalau mau menjadi tuan di negeri sendiri, masyarakat ya harus sadar dengan hak-hak politiknya," sebut pengamat sosial politik ini.