Jakarta, katakabar.com - Hari Kartini diperingati setiap 21 April selalu jadi pengingat perjuangan R.A. Kartini setarakan derajat perempuan.

Ibu Kartini tidak hanya dikenal sebagai pahlawan emansipasi wanita, tapi dikenal sebagai perempuan yang memperkenalkan batik di zamannya.

Perjuangan Kartini telah menjadi inspirasi bagi pelaku UKMK Batik Sawit Binaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Miftahudin Nur Ihsan, untuk terus memberikan kontribusi melalui pemberdayaan ibu-ibu pembatik.

Melalui usaha yang dirintis bersama istrinya, Dinar Indah Lufita Sari, dengan brand Sm-art Batik (CV. Smart Batik Indonesia), Ihsan gandeng puluhan ibu-ibu pembatik di wilayah Jogjakarta dan Jawa Tengah.

Usaha batik yang didirikan pada 2018 lalu tersebut mengalami perkembangan yang signifikan setelah Ihsan bertemu dengan BPDPKS di kegiatan pameran Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia 2023 di Makassar. Di kegiatan tersebut, Ihsan berkunjung ke booth BPDPKS dan mulai mengenal potensi sawit di industri batik.

Bermula dari situ, alumni penerima beasiswa LPDP tersebut mencoba memproduksi batik dengan menggunakan malam sawit, pasnya pada Agustus 2023.

Gayung bersambut, sampel batik sawit yang diproduksi Ihsan ternyata memperoleh apresiasi dari Divisi UKMK BPDPKS, sehingga Smart Batik diberikan peluang dan kesempatan untuk melakukan promosi batiknya melalui berbagai kegiatan.

Diantaranya adalah promosi dalam kegiatan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2023 di Nusa Dua Bali, Forum Sawit Indonesia 2023 di Yogyakarta, dan pameran International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) 2024 di Jakarta.

Selain itu, Ihsan diundang jadi narasumber kegiatan UKMK BPDPKS di beberapa daerah, seperti di Palembang, Malang, Medan, dan Yogyakarta. Kesempatan-kesempatan yang diberikan BPDPKS tersebut, tidak membuat Ihsan nyaman. Sebaliknya, dengan adanya kepercayaan yang diberikan, dia terus mengembangkan industri batik sawitnya.

Dibantu istrinya mahasiswi doktoral ilmu kimia UGM, Ihsan dan tim Smart Batik berhasil menemukan formula pembuatan malam sawit dengan bahan sederhana.

Saat ini Smart Batik telah berhasil membuat batik dengan pewarna dari bahan sawit. Motif-motif yang dikembangkan pun saat ini bernuansa sawit, mulai dari motif klasik yang dimodifikasi dengan unsur tanaman sawit, hingga motif-motif batik kontemporer.

Dari sisi kontribusi, saat ini Sm-art Batik telah melibatkan 56 pembatik, di mana 53 pembatik merupakan ibu-ibu di pedesaan dengan rata-rata pendidikan SD dan SMP. Jumlah ini meningkat pesat dari sewaktu Sm-art Batik belum menjadi mitra binaan BPDPKS. Sebelumnya, jumlah pembatik yang terlibat di Sm-art Batik hanya 20 orang.

Menurut Ihsan, kebahagiaan terbesarnya ketika dapat melihat Sm-art Batik mampu berkontribusi untuk banyak orang.

“Saya sangat bersyukur dapat berjumpa dengan BPDPKS dan ikut mengembangkan industri batik berbasis sawit. Dari sini, saya semakin bahagia, karena saat ini Sm-art Batik bisa menjadi perantara rezeki untuk lebih banyak pembatik. Utamanya, ibu-ibu, dari hasil membatik bisa untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mengisi waktu luang mereka dengan hal yang positif,” kata lulusan terbaik jurusan Entrepreneurship program MBA UGM tersebut dalam keterangan resmi, dilansir dari laman elaeis.co, pada Ahad (21/4).

Kepala Divisi UKMK BPDPKS, Helmi Muhansah apresiasi progres yang ditunjukkan Sm-art Batik.

“Sm-art Batik dapat menjadi salah satu contoh baik untuk UKMK-UKMK Sawit BPDPKS. Dari awal kelihatan sangat bersemangat dan terus menunjukkan inovasi-inovasi, baik dari produk, motif, maupun proses produksi. Kami berharap, nantinya semakin banyak UKMK-UKMK Sawit yang berkembang dan mampu menjadi inspirasi untuk UKM lainnya,” tutur Helmi.

Kepala Divisi LKCS BPDPKS sekaligus Ketua Tim Implementasi Pengarusutamaan Gender BPDPKS, Aida Fitria menimpali, apa yang telah dilakukan Sm-art Batik sejalan dengan upaya implementasi pengarusutamaan gender.

“Dengan memperkerjakan ibu-ibu pedesaan, CV. Smart Batik Indonesia telah berperan dalam upaya pengarusutamaan gender," ucap Aida.

Melalui hal tersebut, sebut Aida, diharapkan tercipta kesejahteraan dan kemandirian ekonomi bagi pembatik perempuan, sehingga nantinya akan hadir pembatik-pembatik perempuan yang dapat membawa batik indonesia semakin mendunia.

"Sejarah telah mencatat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang sebagian besar dimiliki oleh perempuan telah mendorong ekonomi indonesia dan dapat membantu Indonesia bangkit dari krisis,” ulas Aida.