Oleh: Yahya Siregar

Paluta, katakabar.com - Di sudut wilayah yang teramat terpencil, persisnya di Desa Sibio-Bio, Kecamatan Dolok, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Sumatera Utara, berdiri kokoh sebuah bangunan pendidikan yang menyimpan sejuta kenangan.

Ia bukan sekadar tumpukan bata dan semen, melainkan SMP Negeri 02 Dolok Sibio-Bio, saksi bisu perjalanan waktu yang pernah menjadi pusat peradaban dan kebanggaan masyarakat di masa lalu.

Sejarah mencatat dengan jelas, puluhan tahun silam sekolah ini dikenal cukup megah dan menjadi rujukan utama pendidikan. Murid-muridnya datang bukan hanya dari satu desa, melainkan dari belasan desa yang tersebar di Kecamatan Dolok. Banyak putra daerah yang kini sukses berkarir, lahir dan dibesarkan dari proses pendidikan di sekolah ini.

Kilas Balik: Disiplin dan Dedikasi Tak Terlupakan

Masih teringat jelas di benak para alumni, suasana sekolah pada masa itu sebelum pemekaran wilayah saat masih bergabung dalam Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) sangat berbeda. Nilai-nilai karakter begitu kuat. Disiplin tinggi, sopan santun, dan rasa hormat murid kepada guru melebihi rasa hormat kepada orang tua sendiri.

"Seingatku, sekitar tahun 1993, suasana sekolah ini sangat tertib. Guru-gurunya sangat berpengalaman, cerdas, dan totalitas dalam mengajar, mulai dari matematika, bahasa Inggris, biologi, hingga IPA dan mata pelajaran lainnya. Murid-muridnya patuh, segan, dan takut berbuat salah."

Dulu, semangat belajar begitu membara. Anak-anak rela berjalan kaki berkilometer, bahkan ada yang menempuh waktu 1 hingga 1,5 jam hanya demi menuntut ilmu. Tidak hanya soal pendidikan, Desa Sibio-Bio juga pernah menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai. Pasar desa ini menjadi tujuan utama transaksi hasil bumi seperti karet, kopi, dan beras, hingga dipadati ribuan orang saat hari besar Islam seperti pada bulan suci Ramadhan.

Tetapi sayang, kejayaan masa lalu itu kini seolah telah ditelan zaman. Tinggalah kenangan yang tak akan kembali sama. Meskipun kini tampak ada bangunan baru, tetapi selama puluhan tahun lamanya, sekolah ini seakan tak tersentuh perhatian maksimal. Sarana dan prasarana yang layak pun terasa belum sepenuhnya terpenuhi.

Kritik Tajam: Jangan Jadikan Wilayah Ini Hanya Objek

Ironisnya, meski memiliki fasilitas seperti ruang kelas, perpustakaan, dan mess guru, namun semangat dan kualitas pendidikan dirasa belum mampu kembali ke masa emasnya. Jumlah murid yang dulu membludak kini berkurang drastis.

Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam. Akses jalan yang berlumpur dan sulit dilalui dari pusat kecamatan menuju desa ini menjadi bukti nyata bahwa wilayah ini seolah "dianaktirikan".

"Kami bukan bermaksud menjelekkan atau menyudutkan guru yang sekarang mengabdi. Namun, ini adalah seruan agar semangat itu kembali bangkit. Guru-guru harus bergerak cepat, agar murid-murid kembali banyak dan kualitas pendidikan kembali setara dengan masa lalu."

Poin krusial yang ingin disampaikan adalah perhatian dari pemangku kebijakan. Selama ini pembangunan terasa timpang. Jika selama ini ada anggapan wilayah terpencil seperti ini hanya dijadikan "objek" saat pencitraan atau sekadar slogan-slogan pembangunan, maka anggapan itu terbukti benar. Sebab, wilayah ini seakan tidak pernah tuntas pembangunannya. Jika pun ada wacana, seringkali hanya berhenti di tahap survei tanpa realisasi nyata.

Seruan Kebangkitan: Buka Mata Lebar-Lebar!

Melalui tulisan ini, ada seruan keras yang ditujukan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), hingga Kepala Desa setempat.

"Pemprov Sumut dan Pemda Paluta, tolong jangan berleha-leha lagi. Tengoklah kampung terpencil ini. Buka mata lebar-lebar! Jangan biarkan sejarah hebat ini mati begitu saja."

Harapannya sederhana tetapi sangat besar: Bangkitkan kembali wilayah ini. Perbaiki infrastruktur, perhatikan fasilitas pendidikan, dan berikan dukungan penuh agar SMPN 02 Dolok Sibio-Bio bisa kembali mencetak generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan berpendidikan tinggi di tengah arus teknologi modern.

Semoga bangunan bersejarah ini tidak hanya menjadi monumen kenangan, tetapi kembali menjadi pusat cahaya ilmu bagi anak cucu di masa depan.