Jakarta, katakabar.com - The Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen - 4,00 persen, menandai penurunan kedua berturut-turut di tengah perbedaan pandangan internal FOMC terkait inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut Chief Economist BRIDS, Helmy Kristanto, langkah ini menjadi sinyal bahwa era pengetatan moneter global mulai berakhir, membuka peluang peningkatan likuiditas global dan memberi ruang bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi tanpa tekanan suku bunga tinggi.

Chief Economist BRIDS, Helmy Kristanto, menilai langkah The Fed ini menjadi sinyal penting bahwa fase pengetatan moneter global mulai berakhir. “Pemangkasan suku bunga The Fed menunjukkan arah kebijakan yang lebih seimbang. Likuiditas global berpotensi membaik, memberi ruang bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk menjaga stabilitas tanpa tekanan suku bunga tinggi,” ujar Helmy.

Lebih lanjut, BRIDS melihat kebijakan The Fed menghentikan pengurangan neraca (balance sheet runoff) per 1 Desember 2025 akan memperkuat sinyal pelonggaran likuiditas global. Hal ini dapat mempercepat arus masuk modal ke pasar berkembang, termasuk Indonesia, yang memiliki imbal hasil aset dan prospek pertumbuhan ekonomi yang menarik.

“Sentimen pasar mulai berbalik positif seiring turunnya suku bunga global. Dengan inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan ruang kebijakan yang masih luas, Indonesia memiliki daya tahan yang kuat dibandingkan negara lain di kawasan. Kondisi ini membuat pasar Indonesia berpotensi tetap menarik bagi investor, bahkan di tengah ketidakpastian global,” ucap Helmy.

Dengan suku bunga global yang mulai turun, minat investor asing terhadap pasar Indonesia kembali meningkat, terlihat dari arus masuk dana asing ke saham dan obligasi dalam beberapa hari terakhir. Data BRIDS mencatat net buy asing sebesar Rp545 miliar pada sesi pertama perdagangan 30 Oktober 2025, menandakan kepercayaan investor terhadap prospek pasar domestik mulai pulih.

Dari sisi teknikal, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRIDS Chory, Agung Ramdhani, mengungkapkan IHSG masih berada dalam tren kenaikan (bullish) yang solid, dengan pergerakan harga di atas rata-rata jangka pendek dan menengah. Indeks telah mencapai level 8.180, mendekati resistance di 8.320, sementara support krusial berada di area 7.989. BRIDS menilai, penurunan suku bunga The Fed akan menjadi katalis fundamental yang kuat dan berpotensi mendorong IHSG menembus level resistance 8.320, selama area support tetap terjaga.

BRIDS melihat kondisi global yang lebih longgar akan menjadi dorongan tambahan bagi pasar keuangan Indonesia menjelang akhir tahun. Dengan likuiditas dunia yang mulai membaik dan aliran dana asing yang kembali masuk, pasar saham domestik berpeluang melanjutkan tren kenaikannya. Situasi ini juga bisa memperkuat sentimen window dressing, ketika investor cenderung meningkatkan aktivitas beli di akhir tahun.