Meranti, katakabar.com - Hingga tiga hari ke depan, 16 orang warga 4 desa (termasuk tenaga pendamping) --- Mekar Sari, Bagan Melibur, Mayang Sari dan Sungai Anak Kamal --- kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, bakal dicekoki sederet ilmu soal Wana Tani (Agroforstry) lewat bimbingan teknis (bimtek).
Badan Restorasi Gambut (BRG) yang jadi pembimbing mereka. Dua orang Silviculturist, Harri Kuswondho dan Fransiskus Harum serta Lasmaria Tiodora (Technical Assistant-Pertanian), bakal membimbing mereka di lapangan.
Mulai dari seperti apa memanfaatkan lahan gambut untuk tanaman tahunan hingga tanaman semusim, bakal diajari.
Camat Merbau, Abdul Hamid, yang membuka seremonial via zoom di Kantor Desa Mekar Sari itu jelang siang tadi, senangnya bukan main. Sebab selama ini, dia tahu kalau lahan di Meranti khususnya Merbau, memang mayoritas gambut.
Banyak bantuan yang datang ke Meranti dan Merbau kebagian, tapi bantuan itu tak bisa dimanfaatkan secara optimal lantaran masyarakat enggak mengerti teknis.
"Nah, dengan adanya pelatihan semacam ini, hasilnya kita harapkan bisa berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Sebab yang tadinya mereka enggak mengerti teknis, jadinya paham. Jadi kalaupun nanti ada bantuan lagi, Insya Allah sudah termanfaatkan," ujarnya.
Kepada para peserta, Abdul sangat berharap supaya pelatihan tadi benar-benar diikuti serius. Biar ilmu itu juga nanti bisa ditularkan ke masyarakat lain. "Manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Apa yang tidak dimengerti atau yang ingin dipahami, tanyakan, jangan sungkan," pintanya.
Kepala Desa Mayang Sari, Erman, mengamini apa yang dibilang komandannya itu. "Atas nama Pemerintah Desa, kami sangat berterimakasih atas kegiatan ini," katanya.
Sekilas, Fransiskus Harum kemudian menjelaskan apa itu Agroforestry. "Ini bisa disebut dengan bentuk pengelolaan sumber daya yang memadukan kegiatan pengelolaan hutan atau pohon kayu-kayuan dengan penanaman komoditas atau tanaman jangka pendek, seperti tanaman pertanian," katanya.
Intinya kata Frans, kalau dalam satu hamparan lahan ditanami lebih dari satu jenis tumbuhan, hasilnya tentu akan lebih dan beragam dan pola semacam ini akan lebih menguntungkan masyarakat.
Lantas terkait bimbingan teknis tadi, "Praktek materi nanti akan kita lakukan di dua desa," kata Harry.
Lewat zoom, Plh Deputi Bidang Konstruksi, Oprasi dan Pemeliharaan BRG, Soesilo Indrato, mengatakan, bahwa masalah yang sering dihadapi masyarakat untuk mengelola gambut tanpa bakar, adalah ilmu dan teknis. "Itulah makanya hari ini kita mulai bimbingan itu," katanya.
Mudah-mudahan ke depan kata Soesilo, masyarakat semakin banyak yang paham soal pengelolaan lahan gambut tanpa bakar itu. Termasuk juga pengolahan pakan ternak.
Tiga Hari Berguru Agroforestry
Diskusi pembaca untuk berita ini