Jakarta, katakabar.com - Harga kontrak minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali naik, Selasa (28/1) kemarin, ini kali ketiga berturut-turut harga CPO naik.

Data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan kontrak berjangka CPO untuk Februari 2025 menunjukkan naik 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.535 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO Maret naik 42 Ringgit Malaysia menjadi 4.392 Ringgit Malaysia per ton.

Begitu pun April 2025 naik 61 Ringgit Malaysia menjadi 4.279 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Mei 2025 juga terkerek 73 Ringgit Malaysia menjadi 4.190 per ton. Pada Juni melonjak 81 Ringgit Malaysia menjadi 4.135 per ton, dan Juli 2025 juga naik 84 Ringgit Malaysia menjadi 4.099 per ton.

Naiknya harga CPO ini diperkirakan karena produksi minyak sawit di pabrik-pabrik Semenanjung Selatan melemah sejak 1 hingga 25 Januari 2025.

Mengutip data Asosiasi Penggilingan Kelapa Sawit Semenanjung Selatan (SPPOMA) yang disampaikan Kepala Penelitian Komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, produksi CPO turun sebesar 3,13 persen pada periode 1 hingga 25 Januari 2025.

Karena itu ekspor CPO pada periode itu juga ikut melemah. Untuk periode 1-25 Januari 2025, Intertek Testing Services (ITS) ekspor minyak sawit Malaysia 934.598 ton atau turun 18,89 persen jika dibandingkan pada periode yang sama tahun 2024.

"Begitu pula dari laporan AmSpec, ekspor CPO Malaysia pada periode 1-25 Januari 2025 868.960 ton, atau turun 24 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Perdagangan CPO juga melambat karena lesunya permintaan akibat masa liburan di Tiongkok," ujar Anilkumar dikutip dari Bernama, dilansir dari laman EMG, Rabu (29/1).

Hong Leong Investment Bank (HLIB) baru-baru ini juga memprediksi, hingga tiga bulan 2025 harga CPO akan tetap tinggi berkisar 4.500 hingga 5.000 Ringgit Malaysia per ton.

HLIB menilai kenaikan harga karena produksi melemah, kebijakan biodiesel di Indonesia dan permintaan tinggi jelang Ramadan 2025.