Budidaya

Sorotan terbaru dari Tag # Budidaya

Era Baru Budidaya Udang: FisTx Terapkan Sistem Perlindungan Berlapis UV dan Elektrolisis di Banyuwangi Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 13 Maret 2026 | 12:00 WIB

Era Baru Budidaya Udang: FisTx Terapkan Sistem Perlindungan Berlapis UV dan Elektrolisis di Banyuwangi

Banyuwangi, katakabar.com - Integrasi teknologi Baskara UV dan Cakra Elektrolisis dari FisTx mulai diterapkan di tambak udang vaname intensif di kawasan Pantai Blimbingsari, Banyuwangi ,Jawa Timur guna perkuat biosekuriti dan stabilitas kualitas air dalam budidaya udang modern. Ini sinyal penguatan industri udang Indonesia setelah menghadapi berbagai tantangan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari tekanan harga global hingga risiko penyakit dalam budidaya. Momentum pemulihan ini dinilai perlu diikuti dengan penguatan teknologi budidaya serta peningkatan standar pengelolaan kualitas air tambak. Pengamat akuakultur nasional, Dr. Hasanuddin Atjo, menilai peningkatan daya saing industri udang Indonesia sangat bergantung pada konsistensi penerapan standar operasional budidaya serta penggunaan teknologi yang tepat. “Industri udang Indonesia memiliki peluang besar untuk kembali menguat. Hal itu harus didukung dengan kalibrasi SOP yang konsisten, monitoring yang baik, serta teknologi yang mampu menjaga kualitas air tambak,” ujar Hasanuddin Atjo. Pengelolaan kualitas air sendiri menjadi faktor kunci dalam budidaya udang intensif. Stabilitas parameter air seperti oksigen terlarut, pH, serta tingkat mikroorganisme sangat menentukan tingkat kelangsungan hidup dan produktivitas udang dalam satu siklus budidaya. Menjawab tantangan tersebut, perusahaan teknologi akuakultur nasional FisTx mengembangkan berbagai solusi pengolahan air tambak, salah satunya melalui teknologi elektrokimia Cakra Elektrolisis. Teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan proses elektrolisis untuk menghasilkan senyawa oksidator aktif seperti asam hipoklorit (HOCl) dari ion klorida yang secara alami terdapat dalam air laut. Senyawa tersebut dikenal efektif menekan pertumbuhan bakteri patogen seperti Vibrio serta meningkatkan nilai oxidation-reduction potential (ORP) yang berperan penting dalam menjaga stabilitas kualitas air. CEO FisTx, Rico Wibisono, mengatakan penguatan sistem pengolahan air menjadi salah satu pendekatan penting dalam modernisasi tambak udang di Indonesia. “Kualitas air fondasi utama keberhasilan budidaya udang intensif. Melalui teknologi elektrolisis, kami ingin menghadirkan sistem pengolahan air yang tidak hanya membersihkan, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan tambak yang lebih stabil dan aman bagi pertumbuhan udang,” kata Rico. Sebagai implementasi teknologi di lapangan, pada Maret 2025 FisTx mulai melakukan pemasangan sistem sterilisasi air terintegrasi di salah satu tambak budidaya udang vaname intensif di kawasan Pantai Blimbingsari, Banyuwangi. Tambak ini memiliki sekitar 20 hingga 22 kolam budidaya, dengan luas kolam yang bervariasi mulai dari sekitar 2.500 meter persegi hingga 5.000 meter persegi per kolam. Skala tersebut memungkinkan penerapan sistem budidaya intensif dengan manajemen kualitas air yang lebih terkontrol. Di proyek ini, teknologi Cakra Elektrolisis digunakan bersamaan dengan sistem sterilisasi ultraviolet Baskara UV untuk menciptakan sistem perlindungan berlapis terhadap patogen dalam budidaya udang. Baskara UV memanfaatkan sinar ultraviolet untuk menonaktifkan mikroorganisme seperti bakteri dan virus pada air baku sebelum masuk ke dalam sistem tambak. Sementara, Cakra Elektrolisis menghasilkan senyawa oksidator aktif yang membantu menjaga kualitas air selama proses budidaya berlangsung. Integrasi kedua teknologi tersebut membentuk pendekatan multi-barrier biosecurity, yakni sistem perlindungan berlapis terhadap patogen yang semakin banyak diterapkan dalam budidaya udang modern. Menurut Rico, kombinasi teknologi sterilisasi fisik dan proses elektrokimia diharapkan dapat membantu petambak meningkatkan stabilitas produksi sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan kimia dalam pengelolaan kualitas air. Kabupaten Banyuwangi sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan penting pengembangan budidaya udang vaname di Indonesia. Penerapan teknologi pengolahan air modern di kawasan Pantai Blimbingsari ini diharapkan dapat menjadi contoh transformasi teknologi tambak menuju sistem budidaya yang lebih efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

Holding PTPN Ajari Budidaya Petani Kelapa Sawit Jabar hingga Sulawesi Dongkrak Produktivitas Sawit
Sawit
Jumat, 31 Oktober 2025 | 16:01 WIB

Holding PTPN Ajari Budidaya Petani Kelapa Sawit Jabar hingga Sulawesi Dongkrak Produktivitas

Jakarta, katakabar.com - Para pengurus koperasi petani kelapa sawit mulai Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan, hingga Sulawesi ikuti Pelatihan Peningkatan Kompetensi Petani Mitra Binaan, berlangsung di Mess Tandun, Kabupaten Kampar, Riau. PTPN IV PalmCo yang gelar pelatihan dua hari lamanya mulai 30 hingga 31 Oktober 2025 ini sebagai upaya mempersempit kesenjangan produktivitas antara perkebunan sawit rakyat dan perusahaan. Selama pelatihan, para petani memperoleh materi dari sejumlah pakar budi daya sawit, mulai dari penggunaan bibit unggul, pengendalian hama terpadu, hingga teknik panen efisien. Pelatihan itu dilengkapi dengan kunjungan lapangan ke kebun PTPN IV Regional III, serta koperasi Karyawa Mukti dan Makarti Jaya untuk melihat praktik terbaik pengelolaan sawit berkelanjutan. Pelaksana Tugas atau Plt. Kepala Dinas Perkebunan Riau, Supriadi mengapresiasi langkah PalmCo dinilai sejalan dengan upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) petani sawit salah satu kunci kemajuan daerah. “Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan petani menjadi sangat penting. Kami berterima kasih kepada PalmCo yang mengambil peran aktif dalam peningkatan kapasitas petani,” kata Supriadi, melalui keterangan tertulis dilansir Jumat (30/10) sore. Menurut Supriadi, sektor kelapa sawit masih menjadi tulang punggung ekonomi Riau, dengan kontribusi mencapai sekitar 24 persen terhadap PDRB sektor pertanian provinsi. "Riau produsen sawit terbesar di Tanah Air, dengan luas areal lebih dari 3,4 juta hektare, sekitar 60 persen di antaranya kebun milik rakyat," ulasnya. “Dengan pengelolaan yang lebih baik, potensi ini bisa menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi daerah,” tambah Supriadi. Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Irwan Perangin-angin mengutarakan, pelatihan ini bagian dari strategi pihaknya memperkuat kemitraan, dan mengakselerasi transformasi sektor sawit menuju praktik yang lebih efisien dan ramah lingkungan. “Disparitas produktivitas antara kebun petani dan perusahaan masih cukup besar, padahal sekitar 60 persen dari total 17 juta hektare perkebunan sawit nasional dikelola oleh petani,” ucap Irwan. Kata Irwan, rata-rata produktivitas sawit rakyat saat ini masih berkisar 2–3 ton minyak sawit mentah (CPO) per hektare per tahun. Sedang perkebunan besar negara dan swasta mampu mencapai 5 hingga 6 ton. “Kami ingin para petani mitra dapat naik kelas, dengan produktivitas yang sebanding dengan perusahaan,” jelas Irwan. Hingga Oktober 2025 ini, PTPN IV PalmCo tercatat telah bermitra dengan ribuan petani yang mengelola sekitar 20.000 hektare kebun sawit di berbagai wilayah Indonesia. Dari luasan tersebut, sekitar 5.000 hektare dikelola dengan pola single management seluruh proses budidaya, dari peremajaan hingga panen, dilakukan secara terpadu dengan standar perusahaan. Pola manajemen tunggal ini mendapat apresiasi dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Inti Rakyat (Aspekpir). Ketua Aspekpir, Setiyono menilai model kemitraan PalmCo sebagai bentuk pemberdayaan petani yang berorientasi pada hasil dan keberlanjutan.

Legislator Kapuas Hulu Dukung POPSI Taja Sosialisasi Budidaya Sawit Berkualitas di Daerah 3T Sawit
Sawit
Kamis, 30 Oktober 2025 | 16:31 WIB

Legislator Kapuas Hulu Dukung POPSI Taja Sosialisasi Budidaya Sawit Berkualitas di Daerah 3T

Kapuas Hulu, katakabar.com - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kapuas Hulu, Yanto, SP dukung penuh langkah Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia (POPSI) gelar Sosialisasi Budidaya Sawit Berkualitas Tinggi. Usung tema “Pengembangan Kelapa Sawit untuk Kesejahteraan Masyarakat di Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar)”. Kegiatan ini dijadwalkan Jumat (31/10) di Hotel Grand Banana, Putussibau, dan didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Orang Nomor Satu di Parlemen Kapuas Hulu itu menyadari di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, kehidupan masyarakat Kapuas Hulu banyak bergantung pada hasil alam termasuk perkebunan kelapa sawit rakyat. Tetapi, di tengah potensi lahan yang luas, kualitas budidaya dan produktivitas masih menjadi tantangan utama. Kabupaten Kapuas Hulu memiliki jumlah penduduk 278.428 jiwa dengan luas wilayah 31.318,25 kilometer, di mana 56,21 persen wilayahnya kawasan hutan lindung. Kondisi geografis yang menantang dengan akses sinyal yang terbatas serta minimnya infrastruktur menjadikan daerah ini termasuk kategori daerah 3T yang membutuhkan perhatian khusus, termasuk dalam hal peningkatan kapasitas petani sawit. Menurut Yanto, mayoritas masyarakat di wilayah ini menggantungkan hidup dari sektor berbasis sumber daya alam seperti hasil hutan, kerajinan lokal, dan perkebunan rakyat. “Sebagian besar petani sawit di Kapuas Hulu masih belum menerapkan budidaya yang berkualitas. Masih banyak beredar bibit kelapa sawit ilegal yang berpotensi menurunkan produktivitas,” jelas Yanto, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Kamis sore. Ia menceritakan, sebagian besar petani sawit rakyat di Kapuas Hulu belum mengenal bibit unggul bersertifikat serta belum menerapkan Standar Agronomi Perkebunan (SAP). Di mana petani masih minim informasi tentang berbagai program pemerintah yang dikelola BPDP seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Sarana dan Prasarana (Sarpras), maupun pengembangan SDM perkebunan. “Kita di Kapuas Hulu punya lahan yang luas, tapi produktivitas belum optimal. Banyak petani membeli benih sawit dari e-commerce tanpa tahu sumbernya. Kasihan kalau masyarakat menanam dengan bibit yang tidak jelas,” ulasnya. Yanto mengakui, pengetahuan masyarakat terkait lembaga BPDP masih sangat terbatas. “Selama ini kami hanya tahu BPDP dari internet. Karena itu kegiatan sosialisasi POPSI sangat penting agar petani memahami cara mengakses bantuan pemerintah, baik untuk sarpras maupun peningkatan SDM,” ucapnya. DPRD Kapuas Hulu berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal memperkuat pemahaman dan kemampuan teknis petani sawit rakyat dalam membangun perkebunan yang produktif, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

Siap-siap! POPSI Taja SosialIsasi Budidaya Sawit Berkualitas Daerah 3T di Kapuas Hulu Sawit
Sawit
Senin, 27 Oktober 2025 | 15:00 WIB

Siap-siap! POPSI Taja SosialIsasi Budidaya Sawit Berkualitas Daerah 3T di Kapuas Hulu

Jakarta, katakabar.com - Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia (POPSI) kolaborasi dengan Media Perkebunan akan mengadakan SosialIsasi Budiaya Sawit Berkualitas Tinggi usung tema “Pengembangan Kelapa Sawit untuk Kesejahteraan Masyarakat di Daerah 3 T”, di penghujung Oktober 2025 nanti di salah satu hotel ternama, Putussibau, Kapuas Hulu. Menurut Hendra J Purba, Sekjen POPSI dari acara ini nanti diharapkan meningkat pemahaman petani kelapa sawit Kapuas Hulu mengenai pentingnya penggunaan benih unggul bersertifikat, praktik budidaya yang benar, dan legalitas lahan. Selain itu, ujarnya, petani diharapkan dapat mengenali, dan memahami pentingnya penggunaan bibit unggul bersertifikat untuk menjamin produktivitas kebun sawit rakyat di masa depan sehingga terciptanya petani sawit yang siap berdaya saing dan mampu mengelola perkebunan secara mandiri dengan standar mutu tinggi. Terus, meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap manfaat pengembangan sawit dapat membuat isu-isu negatif dapat ditekan dan menunjukan hasil nyata bahwa sawit merupakan komoditi yang dapat meningkatkan kesejahteraan petan. "Melalui acara ini, informasi mengenai program pemerintah terkait sarana- prasarana, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta dukungan lain untuk petani sawit dapat tersosialisasikan dengan baik sehingga tercipta komunikasi dan sinergi yang lebih baik antara perusahaan perkebunan dengan petani rakyat, terutama pengelolaan kebun, fasilitasi, dan kemitraan berkelanjutan, serta tumbuhnya semangat kebersamaan mengembangkan sawit sebagai komoditas unggulan," jelasnya, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Senin (27/10). Diketahui, buku statistik perkebunan Ditjenbun tahun 2023 menunjukkan luas perkebunan sawit rakyat di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat mencapai 6.279 hektar, yakni tanaman belum menghaslkan 6.111 hektar, dan tanaman menghasilkan 618 hektar, dikerjakan oleh 4.054 orang pekebun. Sementara, produksi Crude Palm Oil (CPO) 1.052 ton sedang produktivitas 1,702 ton per hektar. Ini menunjukkan kelapa sawit belum banyak diusahakan masyarakat. Jadi, kelapa sawit di Kapuas Hulu didominasi perusahaan perkebunan yang jumlahnya mencapai 24 perusahaan dengan luas perizinan 2,197 juta hektar dari luas wilayah 3,131 juta hektar. Investasi bidang perkebunan kelapa sawit merupakan yang terbesar di Kabupaten Kapuas Hulu. Perusahaan perkebunan kelapa sawit selain mencari keuntungan harus berkomitmen mensejahterakan masyarakat. Saat ini beberapa konflik antara perusahaan dan masyarakat sudah mulai timbul. Program pemerintah yang sudah masuk adalah sarana dan prasarana. Terdapat tiga koperasi mitra, Sinar Mas mengajukan intensifikasi yakni Koperasi Mitra Puyang Gana, Desa Semitau Hilir, mitra PT Paramata Internusa Pratama, luas 1.023,62 hektar dengan 285 pekebun, Koperasi Mitra Bintang Moga, Desa Penai, Kecamatan Silat Hilir, mitra PT Persada Graha Mandiri, luas 1.061,38 hektar dengan 328 pekebun, Koperasi Mitra Cipta Sejahtera, Desa Nanga Suhaid, Kecamatan Suhaid, mitra PT Kartika Prima Cipta. Sinar Mas mendampingi proses pengajuan Sarpras ini. Program intensikasi berupa bantuan pupuk dan pestisida. Kapuas Hulu merupakan daerah 3 T, yakni Tertinggal, Terluar, Terdepan berbatasan langsung dengan Malaysia, merupakan prioritas untuk mendapatkan bantuan sarpras yang dibiayai BPDP. Dengan masih kecilnya perkebunan rakyat dan banyaknya perusahaan, dimana-mana masing-masing perusahaan wajib bermitra, maka peluang pekebun mitra, dan masyarakat yang tidak bermitra untuk membuka kebun sendiri sangat terbuka. Apalagi kalau petani mitra sejahtera maka masyarakat akan membuka kebun sendiri.

PT Inecda Gembleng Poktan di Empat Desa Budidaya Holtikultura dan Pengendalian Hama Sawit
Sawit
Rabu, 22 Oktober 2025 | 08:26 WIB

PT Inecda Gembleng Poktan di Empat Desa Budidaya Holtikultura dan Pengendalian Hama

Indragiri Hulu, katakabar.com - Total tiga puluh petani asal empat desa di Kecamatan Seberida, Indragiri Hulu, Riau dikumpulkan satu tempat oleh korporasi perkebunan kelapa sawit, PT Inecda, Selasa (21/10) kemarin. Di desa Titian Resak misalnya, mereka semua digembleng berbudidaya tanaman holtikultura, dan pengendalian hama tanaman hingga diajari bagaimana pengolahan lahan ramah lingkungan. Pelatihan itu salah satu bagian dari sejumlah program Corporate Social Responsibility (CSR) lainnya yang selama ini terus direalisasikan. Arinda, Koordinator CSR PT Inecda, menuturkan kegiatan dihadiri beberapa perwakilan pemerintah desa. “Peserta sangat antusias dan semangat dalam mengikuti kegiatan ini,” ujarnya kepada katakabar.com. Ia menjelaskan sebagai bentuk apresiasi, PT. Inecda memberikan bantuan berupa bibit tanaman holtikultura seperti kangkung, bayam, cabai rawit, terong, jagung manis, pupuk, serta sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan budidaya tanaman. “Kami yakin program pemberdayaan masyarakat berkelanjutan ini mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat disekitar perusahaan,” jelasnya. Sementara, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (membuka lahan tanpa membakar), sekaligus pembentukan Kelompok Tani Peduli Api (KTPA), dan DMPG di Desa Titian Resak, Petala Bumi, Sibabat, Tani Makmur.

MIND ID Komitmen Perkuat Pendampingan Budidaya Ikan Laut Default
Default
Sabtu, 19 Juli 2025 | 13:26 WIB

MIND ID Komitmen Perkuat Pendampingan Budidaya Ikan Laut

Jakarat, katakabar.com - MIND ID, sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia, berkomitmen memastikan manfaat dari pengelolaan sumber daya mineral dapat dirasakan secara inklusif oleh seluruh lapisan masyarakat di wilayah operasional. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau TJSL, Grup MIND ID secara konsisten menjalankan program pengembangan ekonomi masyarakat pesisir dan laut dengan mendukung kegiatan budidaya ikan. Masyarakat diharapkan memiliki sumber lapangan kerja baru yang lebih berkualitas dan berkelanjutan di masa depan. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan apresiasi atas kontribusi MIND ID dalam mendukung pemanfaatan ruang laut untuk kegiatan produktif dan ramah lingkungan, termasuk melalui praktik budidaya ikan. Ia menjelaskan, pemerintah saat ini fokus mendorong transformasi ekonomi masyarakat pesisir, dari kegiatan penangkapan ikan konvensional menjadi kegiatan budidaya yang lebih terencana,.dan menguntungkan. Selain itu, kegiatan budi daya berdampak baik pada keanekaragaman hayati laut, serta menjaga kualitas nutrisi yang diterima masyarakat dari konsumsi ikan hasil budidaya. “Kegiatan budidaya memang masih kecil, yakni sekitar 5 juta ton produksi per tahun. Namun, kami terus mendorong marine culture di setiap ruang laut agar terus dikembangkan. Awalnya berburu dan menangkap, kini kami arahkan masyarakat untuk beralih ke budidaya,” ujarnya. Corporate Secretary MIND ID, Pria Utama menjelaskan, pengembangan kegiatan budidaya ikan merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional laut Grup MIND ID. "Program ini diharapkan mampu menciptakan sumber ekonomi baru yang lebih stabil, khususnya bagi para nelayan yang menghadapi ketidakpastian hasil tangkapan dan tantangan iklim ekstrem," tuturnya. Menurutnya, melalui pemberian bantuan, pelatihan, dan pendampingan intensif, masyarakat dibekali keterampilan untuk menjalankan budidaya ikan secara profesional. Masyarakat binaan juga menjadi inspirasi bagi nelayan lain untuk mulai beralih dari penangkapan ke budidaya. “Program pengembangan kegiatan budidaya ikan ini terus dijalankan secara konsisten dan kami harap dampaknya semakin signifikan dan bisa menjadi salah satu sumber kekuatan ekonomi bagi masyarakat daerah,” ucapnya

Lewat Budidaya Sapi Pola Siska, BPDPKS dan Aspekpir Indonesia Bantu Pekebun Sawit di Sumsel Sawit
Sawit
Sabtu, 24 Agustus 2024 | 21:04 WIB

Lewat Budidaya Sapi Pola Siska, BPDPKS dan Aspekpir Indonesia Bantu Pekebun Sawit di Sumsel

Palembang, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia kembangkan budidaya sapi pola integrasi sapi sawit (Siska) bantu pekebun kelapa sawit di Provinsi Sumatera Selatan. Diharapkan dengan program tersebut dapat mendukung, dan mewujudkan swasembada daging. Ini alasnya BPDPKS dan Aspekpir Indonesia membangun kolaborasi gelar Workshop UKMK Berbasis Kelapa Sawit guna mengembangkan budidaya sapi melalui pola integrasi sapi sawit (Siska) di Kota Palembang, Sumatra Selatan, Kamis (22/8) lalu.

Disbun Bengkalis Taja Bimtek, M Azmir: Tingkatkan Kapasitas Pekebun Sawit 'Bermasa' Riau
Riau
Selasa, 21 November 2023 | 15:28 WIB

Disbun Bengkalis Taja Bimtek, M Azmir: Tingkatkan Kapasitas Pekebun Sawit 'Bermasa'

Bengkalis, katakabar.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis lewat Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Bengkalis taja Bimbingan Teknis (Bimtek) budidaya kelapa sawit kepada kelompok tani penerima bantuan bibit kelapa sawit yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2023. "Kegiatan itu dilaksanakan di Aula Kantor Desa Teluk Papal, pada Selasa (21/11) sekitar pukul 14.00 WIB sore, dengan peserta sebanyak 60 orang pekebun kelapa sawit berasal dari tiga Kelompok Tani (Poktan), yakni Poktan Mekar Jaya Desa Teluk Papal, Poktan Papal Limo Desa Teluk Papal, dan Poktan Maju Sejahtera Desa Bantan Sari," kata Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkalis, Mohammad Azmir kepada katakabar.com, pada Selasa siang. Menurut Azmir sapaan akrab Kadisbun Bengkalis ini, Bimtek ini bagian dari rangkaian acara peringatan hari perkebunan tahun 2023 puncak acaranya pada 10 Desember 2023 nanti. "Bimtek bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pekebun kelapa sawit dalam mengelola lahannya sesuai budidaya yang dianjurkan (good agriculture praktices). Ini salah satu upaya dari Pemkab Bengkalis yang dipimpin Bupati Bengkalis, Kasmarni, untuk meningkatkan produksi dan produktivitas kebun kelapa sawit," jelasnya. Dengan kegiatan ini, harap Azmir akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan pekebun sekaligus salah satu program Bupati Bengkalis dalam rangka pengentasan kemiskinan. Untuk itu, pesan Kadisbun Bengkalis, kepada peserta Bimtek mengikuti kegiatan dengan serius dan benar-benar memanfaatkan peluang dan kesempatan ini untuk menimba ilmu. "Setelah Bimtek selesai, para peserta nantinya bisa mempraktikkan untuk mengelola kebun kelapa sawit menjadi lebih baik, dan ilmu yang diperoleh saat Bimtek dapat diteruskan kepada pekebun kelapa sawit lainnya, sehingga para pekebun kelapa sawit di 'Negeri Junjungan" nama lain dari Kabupaten Bengkalis Bermarwah, Maju dan Sejahtera," hatapnya.

Petani Sawit Cocok Budidaya Lebah Trigona Potensi Ekonomi Menjanjikan Serba Serbi
Serba Serbi
Sabtu, 11 November 2023 | 19:53 WIB

Petani Sawit Cocok Budidaya Lebah Trigona Potensi Ekonomi Menjanjikan

Bengkulu, katakabar.com - Petani kelapa sawit di daerah Bengkulu cocok budidaya lebah Trigona. Soalnya, potensi ekonomi sangat menjanjikan dan masih sangat sedikit budidaya lebah ini di Bengkulu. Menurut pengamat peternakan, Edwar Suharnas MP, saat ini banyak usaha ternak yang bisa dijalankan petani kelapa sawit di kebunnya. Salah satunya budidaya lebah Trigona. "Petani kelapa sawit bisa belajar ke Pondok Pesantren Nurul Quran lantaran Ponpes ini telah berhasil budidaya lebah Trigona," ujarnya, dilansir dari lamab elaeis co, pada Sabtu (11/11). Pesantren Nulur Quran Berada di Kabupaten Lebong. Usaha budidaya lebah madu dijalankan dari 2019 lalu. Saat ini Pondok Pesantren Nurul Quran telah menjadi pilot project usaha kemandirian pondok pesantren se Indonesia dengan produk unggulan madu Trigona. Beda dengan madu biasa yang rata-rata kental, madu trigona cenderung bertekstur cair. Madu trigona dihasilkan lebah Apis Tigona yang berukuran kecil dan tidak menyengat. "Kenapa lebah Trigona itu termasuk ternak yang potensial? Lantaran madu yang dihasilkan lebah ini mahal, bisa dihargai hingga Rp76 ribu per 100 mililiter," ulasnya. Rasa madu trigona cukup unik, kata Edwar, manis dan cenderung asam sebagai efek dari makanan lebah itu sendiri. Lebah Trigona tidak hanya menghisap nektar dari berbunga, tapi dari tanaman lain seperti rempah-rempah. Perbedaan ini yang membuat harganya lebih mahal dari madu lebah liar lainnya. Madu Trigona diantaranya diklaim berkhasiat meningkatkan imunitas, menambah kecerdasan otak bagi anak, menambah nafsu makan, toksin pembersih racun, memperkuat tulang, mengatasi insomnia, melancarkan haid, dan melembabkan kulit. Khasiat inilah yang membuat banyak orang senang mengkonsumsinya. Cerita Edwar, Pondok Pesantren Nurul Quran tidak hanya sukses budidaya lebah trigona, tapi berhasil memasarkan produknya secara nasional melalui marketplace. Keberhasilan ini diharapkan dapat menginspirasi banyak petani sawit untuk turut serta dalam budidaya lebah Trigona. "Ponpes Nurul Quran telah membuktikan budidaya lebah trigona bisa menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan dan bernilai positif, sehingga bisa menginspirasi petani sawit untuk turut serta dalam usaha ini," sebutnya.

Merayu Masyarakat Budidaya Jamur Media Tumbuh Limbah Sawit Serba Serbi
Serba Serbi
Sabtu, 11 November 2023 | 17:35 WIB

Merayu Masyarakat Budidaya Jamur Media Tumbuh Limbah Sawit

Jambi, katakabar.com - Tim mahasiswa Universitas Jambi (Unja) yang tergabung dalam Program Inovasi Desa (Pro-IDe) di Desa Jati Mulyo, Kabupaten Tanjung Jabung Timur melaksanakan kegiatan angkat tema, 'Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pemanfaatan Limbah Sawit yang Dibudidayakan Menjadi Jamur'. Limbah organik dari kelapa sawit yang digunakan berupa Lignoselulosa yang terdapat pada bagian Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Tim Pro-IDe beranggotakan 10 orang mahasiswa, meliputi Dian Fladiko Pandiangan, M. Hasby Hasidqy, Juprizal, Viga Aprilia Putri, Robiatul Adawiyah, Deslina Safitri, Ayu Wiranti (Prodi Pendidikan Kimia), Anggi Marviany dan Annisa Ibrahim (Prodi Pendidikan Biologi), serta M Ikhsan Khairullah (Prodi Pendidikan Sejarah). Usaha budidaya jamur bisa dijadikan salah satu pilihan alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat di desa tersebut. Apalagi diikuti dengan pengembangan dan budidaya berbagai produk olahan sehingga mampu memberikan nilai tambah (value added) baik dari aspek finansial maupun kesempatan kerja dan berusaha. Usaha budidaya jamur tiram menggunakan modal relatif kecil dan terjangkau dengan teknologi tepat guna, murah dan sederhana sehingga dapat dilakukan seluruh lapisan masyarakat termasuk petani setempat. Budidaya jamur fleksibel sehingga dapat dilakukan siapa saja, di mana saja, dan tidak mengenal musim, serta dapat dijalankan dalam skala rumah tangga/kecil. Jamur ini memiliki waktu panen yang singkat, hanya butuh waktu 1,5 bulan sudah dapat dipanen hasilnya dan tidak membutuhkan biaya pakan, obat-obatan, dan pupuk. Menurut, Dian Fladiko Pandiangan sebagai perwakilan tim Pro-IDe, motivasi, persiapan, dan harapan timnya dalam kegiatan yang dimulai September 2023 lalu dan dijadwalkan selesai Desember 2023 nanti “Saya tertarik dengan kegitan ini, di mana dengan adanya kegiatan ini banyak pembelajaran yang telah didapat. Persiapan yang kami lakukan membuat dan mempersiapkan berkas proposal yang telah diajukan kepada dosen pembimbing," kata Dian lewat rilis Humas Unja, dilansir dari laman elaeis.co, pada Sabtu (11/11). Harapannya, tambah Dian, proses pembuatan jamur ini dapat berkembang dan tidak berhenti hingga Desember 2023. Tapi dapat dilanjutkan masyarakat desa setempat. Minarni MSi sebagai dosen pembimbing mengatakan, rasa bangga dan mengutarakan harapannya. “Apresiasi saya atas semangat mahasiswa dari Pro-IDe ini, sebab punya ide dan pantang menyerah untuk membudidayakan limbah TKKS dan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai cara membudidayakan limbah menjadi media pembiakan jamur," tuturnya. Kegiatan ini, harap Minarni, dapat menghasilkan baglog atau tempat media tumbuh jamur yang dapat meningkatkan nilai jual dari jamur tiram yang dihasilkan. "Jamur tersebut mudah-mudahan bisa dimanfaatkan menjadi suatu produk yang dapat dipasarkan seperti yang sudah direncanakan, yakni salad jamur, abon jamur, jamur crispy, nugget jamur, dan minuman jamur,” sebutnya.