Ekonomi Hijau
Sorotan terbaru dari Tag # Ekonomi Hijau
India Perluas Jejak Investasi di Jateng Fokus Ekonomi Hijau hingga Industri Medis
Semarang, katakabar.com - Hubungan ekonomi India dan Indonesia terus menunjukkan dinamika positif. Saat kunjungan kehormatan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng), Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan komitmen India untuk memperluas kerjasama investasi, khususnya di sektor ekonomi hijau, industri padat karya, serta layanan kesehatan dan tenaga medis profesional. Pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, Kamis (19/2) kemarin, menjadi momentum penting untuk menjajaki peluang kolaborasi yang lebih strategis dan berjangka panjang. Dalam pernyataannya, Dubes Sandeep, menyampaikan apresiasi atas stabilitas dan iklim investasi di Jawa Tengah yang dinilai kondusif bagi pertumbuhan usaha. “Saya mengapresiasi iklim investasi di Jawa Tengah yang stabil, baik secara sosial maupun ekonomi. Perusahaan kami merasa sangat nyaman di Jawa Tengah, seperti di rumah sendiri,” ujarnya. Ia menilai kesamaan karakteristik antara India dan Indonesia, khususnya Jawa Tengah yang memiliki jumlah penduduk besar, menjadi potensi penting baik dari sisi pasar maupun tenaga kerja. Saat ini, realisasi investasi India di Jawa Tengah tercatat sekitar Rp646,52 miliar dan menempati peringkat ke 17 di antara investor asing di provinsi tersebut. Investasi tersebut tersebar di sektor tekstil, hotel dan restoran, perdagangan dan reparasi, industri kayu, serta sektor lainnya. Sementara, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan pemerintah daerah membuka ruang lebih luas bagi ekspansi investasi India, terutama di sektor yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja dan keberlanjutan. “Ke depan kami menawarkan green economy, kemudian tenaga medis profesional dan rumah sakit, serta industri-industri padat karya terutama garmen,” kata Ahmad Luthfi lepas pertemuan. Ia menegaskan investasi memiliki peran krusial dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat sebesar 5,37 persen dengan angka kemiskinan turun menjadi 9,39 persen. “Investasi baru sangat dibutuhkan untuk menjaga tren pertumbuhan ini. Baik penanaman modal asing maupun dalam negeri sangat berperan dalam stabilitas ekonomi daerah,” tambahnya. Pemerintah Provinsi (Pemprov, Jawa Tengah juga berencana melakukan studi komparatif ke India guna memperkuat keyakinan investor terhadap daya saing dan keramahan investasi di wilayahnya. Ekspansi dan Rencana Investasi Baru Komitmen perluasan kerja sama juga diwujudkan melalui rencana groundbreaking salah satu perusahaan India di Jawa Tengah pada Agustus 2026 mendatang dengan nilai investasi sekitar 30 juta dolar AS. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari penguatan kemitraan ekonomi bilateral yang telah terjalin erat selama ini. India melihat Jawa Tengah sebagai salah satu simpul penting dalam memperluas jejaring industri dan rantai pasok di Indonesia. Dengan dialog yang semakin intensif antara pemerintah daerah dan dunia usaha India, kerja sama ini diharapkan tidak hanya memperbesar arus investasi, tetapi juga memperkuat fondasi hubungan ekonomi India–Indonesia dalam jangka panjang.
2nd IPORICE 2026, Direktur PAPSI: Sawit Komoditas Statrgis Nasional Pilar Ekonomi Hijau
Jakarta, katakabar.com - Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung menegaskan kelapa sawit tidak hanya komoditas strategis bagi perekonomian nasional, tetapi harus menjadi pilar penting mewujudkan ekonomi hijau (green economy) berkelanjutan. "Kelapa sawit tidak hanya komoditas strategis bagi perekonomian nasional, tetapi harus menjadi pilar penting mewujudkan ekonomi hijau (green economy) berkelanjutan," tegas Tungkot di sesi diskusi 2nd Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference (IPORICE) 2025, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Sabtu (4/10). Menurut Tungkot, konsep ekonomi hijau dan keberlanjutan memiliki perbedaan tipis tapi keduanya saling melengkapi. Pada praktiknya, produksi perkebunan sawit tidak hanya berorientasi aspek ekonomi tetapi kelestarian lingkungan. “Paradigma baru green economy sebenarnya lahir dari sektor pertanian termasuk perkebunan. Sawit kita kenal saat ini bukan hanya soal minyak, tetapi biomassa dengan produktivitas mencapai 16 ton per hektare per tahun. Selama ini kita baru memanfaatkan minyaknya saja, dan itu sudah menjadikan Indonesia sebagai raja sawit dunia. Bayangkan, jika biomassa ini kita kelola optimal,” ujarnya. Sejak 1980 lampau, FAO telah memperkenalkan konsep multifunctionality dalam sawit. Artinya, sawit tidak hanya memberikan manfaat ekonomi tetapi mencakup aspek sosial, lingkungan, dan keanekaragaman hayati. Dari sisi sosial, perkebunan kelapa.sawit telah menciptakan jutaan lapangan kerja baik di tingkat nasional maupun internasional. Kehadiran 'emas hijau' ini terbukti menurunkan tingkat kemiskinan di daerah sentra produksi dan membentuk pusat-pusat pertumbuhan baru di pedesaan. Sementara, dari aspek lingkungan sawit justru memiliki kemampuan penyerapan karbon dioksida lebih baik dibanding hutan, serta tingkat kehilangan biodiversitas yang lebih rendah dibandingkan minyak nabati lain. Diterangkan Tungkot, tantangan ke depan memperbesar peran sawit dalam ekonomi hijau melalui inovasi dan teknologi. Penurunan emisi, peningkatan produktivitas, serta model ekspansi yang lebih ramah lingkungan menjadi kunci. “Ke depan ekspansi kelapa.sawit masih ada tetapi tidak dengan cara lama. Kita menambah sawit sekaligus menambah hutan melalui konsep reforestasi. Inilah wajah baru green economy Indonesia,” bebernya. Selain itu, hilirisasi menjadi langkah strategis memperluas peran kelapa sawit. Substitusi energi fosil dan material berbasis sawit dinilai dapat menjadi motor penggerak baru bagi green economy lintas sektor. Dengan potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dimiliki, Tungkot optimistis kelapa sawit terus menjadi komoditas unggulan sekaligus solusi global dalam transisi menuju ekonomi hijau.
Kaltim Dorong Sawit Jadi Motor Penggerak Ekonomi Hijau dan Penopang IKN
Balikpapan, katakabar.com - Gubernur Kalimantan Timur atau Kaltim, H Rudy Mas'ud menegaskan komitmen untuk menjadikan kelapa sawit berkelanjutan sebagai motor penggerak ekonomi hijau daerah, dan penopang utama pembangunan Ibu Kota Nusantara atau IKN. Penegasan ini disampaikan di tengah upaya Kalimantan Timur untuk memaksimalkan potensi lahan sawit produktifnya yang mencapai 1,34 hingga 1,57 juta hektar dengan produksi tahunan 17 hingga 19 juta ton Tandan Buah Segar atau TBS. “Keberlanjutan, keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan prinsip harus kita pegang agar sawit benar-benar menjadi berkah bagi masyarakat,” kata Gubernur Harum, lewat keterangan resmi dilansir dari laman website resmi Pemprov Kaltim, Sabtu (13/9) kemarin. Harum sapaan akrab Gubernur Provinsi Kalimantan Timur tenerima penghargaan sebagai “Gubernur Sawit Indonesia”, sebagai apresiasi atas langkah-langkahnya dorong hilirisasi, diversifikasi produk, serta penguatan konsep ekonomi hijau di sektor perkebunan Kaltim. Dinas Perkebunan atau Disbun Provinsi Kalimantan Timur menimpali, sinergi lintas sektor sangat diperlukan untuk memastikan industri sawit tidak hanya menggerakkan ekonomi, tapi perkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat. Sedang Taufiq Kurrahman, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Disbun Provinsi Kalimantan Timur menyatakan, sawit Kalimantan Timur harus menjadi motor ekonomi hijau yang berdaya saing dan memberi manfaat nyata, baik bagi daerah maupun bangsa. Selain itu, Disbun Provinsi Kalimantan Timur juga aktif mempromosikan produk-produk unggulan daerah melalui Toko Kebun Kalimantan Timur, yang menjadi wadah bagi petani, dan pelaku usaha untuk memperluas akses pasar. Inisiatif ini menunjukkan peran Disbun Kalimantan Timur tidak hanya sebagai regulator, tapi juga sebagai fasilitator yang mendukung pengembangan industri perkebunan yang berkelanjutan.
LindungiHutan Gelar Webinar Green Skilling #23 Bahas Kolaborasi Lintas Sektor Ekonomi Hijau
Semarang, katakabar.com - Guna perkuat kolaborasi lintas sektor menuju ekonomi hijau, LindungiHutan menyelenggarakan webinar bertajuk Green Skilling: Green Future – Kolaborasi yang Mengakar untuk Ekonomi Berkelanjutan. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian edukasi green skilling LindungiHutan yang berfokus pada pembentukan keterampilan, nilai, dan pola pikir berkelanjutan melalui sinergi antara sektor bisnis, lembaga sosial, dan pendidikan. Di tengah krisis iklim dan tantangan lingkungan yang semakin mendesak, keberlanjutan tidak lagi cukup menjadi strategi branding semata. Nilai hijau kini menjadi bagian inti dari model bisnis yang menghubungkan profit dengan dampak sosial dan lingkungan. Webinar ini menghadirkan ruang dialog bagi pelaku bisnis, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat untuk berbagi pengalaman serta strategi dalam membangun praktik hijau yang berakar kuat, baik di internal organisasi maupun melalui kemitraan yang berdampak nyata. Salah satu studi kasus yang akan dibahas adalah program “Corporatree” LindungiHutan, inisiatif penghijauan yang menghubungkan perusahaan dengan proyek penanaman pohon di berbagai daerah di Indonesia. Melalui program ini, sebuah perusahaan manufaktur berhasil menanam ribuan pohon bersama masyarakat lokal, sekaligus mengintegrasikan program tersebut ke dalam strategi CSR mereka. Hasilnya tidak hanya berdampak pada pemulihan ekosistem, tetapi juga meningkatkan citra perusahaan dan keterlibatan karyawan dalam isu lingkungan. Melalui talkshow dan pemaparan narasumber, peserta akan diajak memahami bagaimana lembaga sosial dan pendidikan dapat berperan aktif dalam transformasi hijau, mulai dari menanamkan budaya keberlanjutan di lingkungan internal, menyatukan nilai pendidikan dengan praktik ekonomi hijau, hingga mengukur dampak kolaborasi lintas sektor.
BPDP dan Samade Kolaborasi Dorong Hilirisasi Sawit Skala Mikro Basis Ekonomi Hijau di Sumut
Medan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Sawitku Masa Depanku (SAMADE) kolaborasi berupaya tingkatkan hilirisasi sawit melalui penerapan ekonomi hijau dan ekonomi biru, lewat workshop Ekonomi Hijau dan Hilirisasi UKMK Perempuan Petani Sawit Naik Kelas di auditorium Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan, di pekan pertama Februari 2025 lalu. Kota Medan dijadikan lokasi digelarnya workshop ekonomi hijau lantaran punya potensi sawit dan Usaha Kecil, Mikro, dan Koperasi (UKMK) cukup banyak. Direktur Utama BPDP diwakili Kepala Divisi UKMK, Helmi Muhansah hadir secara virtual menyebutkan, kelapa sawit pengaruhnya masih sangat besar. “Tahun lalu sebesar 20 miliar dolar AS disumbangkan oleh kelapa sawit. Kurang lebih Rp320 triliun devisa disumbangkan untuk negara kita,” ujar Helmi, dilansir dari laman resmi BPDP, Kamis (27/2) siang.