Kedaulatan

Sorotan terbaru dari Tag # Kedaulatan

AssistX Ajukan Paten AI, Langkah Baru Menuju Kedaulatan Teknologi Indonesia Tekno
Tekno
Sabtu, 04 April 2026 | 12:10 WIB

AssistX Ajukan Paten AI, Langkah Baru Menuju Kedaulatan Teknologi Indonesia

Jakarta, katakabar.com - AssistX resmi umumkan pengajuan paten untuk teknologi AI inovasi anak bangsa, sekaligus membuktikan bahwa talenta lokal siap bersaing di level global. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan kemandirian teknologi nasional, perusahaan teknologi AssistX tengah mengawal proses pengajuan paten untuk sejumlah inovasi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan secara mandiri AssistX resmi mengajukan paten untuk empat inovasi Artificial Intelligence (AI) seperti metode kompresi data berbasis algoritma genetika terbalik, sistem analitik video CCTV waktu nyata (real time), optimasi citra medis (DICOM), serta estimasi kecepatan objek berbasis computer vision untuk mendukung sistem transportasi cerdas dan smart city. Langkah strategis ini diambil perkuat kedaulatan teknologi nasional dan memastikan inovasi karya anak bangsa memiliki perlindungan hukum yang kuat di tengah dominasi pemain global. Teknologi AI ini dirancang untuk dapat diimplementasikan langsung pada infrastruktur yang ada, guna mendukung efisiensi di sektor perbankan, transportasi, perkebunan, pertambangan hingga pengembangan smart city di Indonesia. Chief Scientific Officer AssistX, Mauritz Panggabean, PhD menegaskan bahwa hak kekayaan intelektual adalah aset krusial agar riset teknologi lokal tidak sekadar menjadi objek tiruan, melainkan memiliki daya tawar tinggi di pasar internasional. Melalui langkah ini, AssistX berkomitmen menjadi motor penggerak transformasi digital Indonesia yang lebih mandiri, aman, dan berkelanjutan. Dari perspektif investasi, portofolio HKI yang kuat menjadi salah satu indikator penting dalam meningkatkan valuasi perusahaan teknologi. Investor, khususnya di sektor deep tech dan AI, cenderung melihat paten sebagai bukti konkret bahwa sebuah perusahaan memiliki teknologi yang defensible serta potensi komersialisasi jangka panjang. Ke depan, AssistX menargetkan pengembangan lanjutan dari teknologi ini untuk mendukung transformasi digital nasional yang lebih mandiri, aman, dan berkelanjutan.

Lindungan Baja Nasional Praktik Global dan Fondasi Kedaulatan Industri Nasional
Nasional
Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:49 WIB

Lindungan Baja Nasional Praktik Global dan Fondasi Kedaulatan Industri

Jakarta, katakabar.com - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk atau Krakatau Steel Group (IDX: KRAS) sambut pernyataan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita soal pentingnya keberanian Indonesia melindungi industri dalam negeri sebagai sinyal kebijakan yang konstruktif dan strategis. Pernyataan tersebut diungkapkan saat membuka Business Matching Produk Dalam Negeri di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, di pertengahan Desember 2025 lalu. Di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompleks dan tidak sepenuhnya simetris, sikap tersebut mencerminkan kesadaran negara dalam menjaga keberlanjutan industri nasional yang bersifat fundamental, termasuk industri baja. Sebagai industri hulu yang menopang berbagai sektor strategis, baja memiliki peran sentral dalam pembangunan nasional. Proteksi Baja Sebagai Arus Utama Global Pengamat Industri Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji, menegaskan perlindungan industri baja bukanlah praktik eksklusif atau menyimpang, melainkan bagian dari arus utama kebijakan perdagangan internasional. “Pengalaman Korea Selatan menunjukkan bahwa bahkan kampiun baja dunia sekalipun tetap membutuhkan instrumen perlindungan perdagangan. Proteksi baja bukan tanda kelemahan industri, tetapi bagian dari tata kelola untuk menjaga keberlanjutan di tengah distorsi pasar global,” kata Widodo. Ia menjelaskan Korea Selatan secara konsisten menggunakan instrumen trade remedies, termasuk bea anti dumping, untuk menjaga pasar domestik dari tekanan impor yang merugikan produsen nasional. Pendekatan serupa juga dilakukan oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, hingga negara-negara ASEAN seperti Thailand dan Malaysia. Mewujudkan Persaingan Adil Bagi Krakatau Steel Group, sinyal kebijakan tersebut memiliki arti penting dalam menciptakan level playing field yang adil bagi industri baja nasional. Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Akbar Djohan, menerangkan industri baja nasional membutuhkan proteksi dalam negeri agar transformasi yang tengah dilakukan dapat berjalan optimal. “Industri baja adalah fondasi industrialisasi. Tanpa kebijakan yang adil dan berimbang, industri strategis nasional akan terus tertekan oleh praktik perdagangan global yang tidak simetris,” jelas Akbar Djohan, sekaligus Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA). Ia menambahkan Krakatau Steel terus melakukan pembenahan internal melalui peningkatan efisiensi, kualitas produk, serta penguatan struktur bisnis, tetapi upaya tersebut perlu ditopang oleh kebijakan industri yang berpihak pada kepentingan nasional. “Proteksi yang terukur memastikan industri baja nasional tumbuh sehat, berkelanjutan, dan mampu menopang pembangunan jangka panjang,” tambahnya. Diketahui, industri baja merupakan tulang punggung pembangunan infrastruktur, energi, transportasi, manufaktur, hingga pertahanan. Dengan demikian, menjaga keberlanjutan industri baja nasional berarti memastikan Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi dan ketahanan nasional dalam jangka panjang. Dalam hal ini Danantara menjadi faktor yang kuat mendukung Krakatau Steel Group. Dan program ini menjadi bagian penting bagi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk kemakmuran bangsa.

Sinergi Industri Baja Nasional Demi Kedaulatan Maritim Indonesia Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 11 Oktober 2025 | 11:30 WIB

Sinergi Industri Baja Nasional Demi Kedaulatan Maritim Indonesia

Cilegon, katakabar.com - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Krakatau Steel Group terima kunjungan kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan di penghujung pekan pertama Oktober 2025 lalu. Kunjungan ini dihadiri Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia sekaligus Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (Pantura), Laksamana TNI (Purn) Dr. Didit Herdiawan, M.P.A., M.B.A., Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Komjen (Pol) Prof. Dr. Rudy Heriyanto Adi Nugroho, S.H., M.H. beserta seluruh jajaran. Terus hadir pula Komisaris Utama Krakatau Steel, Hendro Martowardojo beserta Dewan Komisaris dan Jajaran Direksi Krakatau Steel Group. Di kegiatan rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengunjungi PT Krakatau Baja Konstruksi, PT Krakatau Pipe Industries, dan PT Krakatau Posco . Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau potensi yang dimiliki Krakatau Steel Group, sekaligus menjadi simbol penguatan sinergi antara industri baja nasional dan sektor maritim Indonesia yang terbagi dalam tiga agenda strategis, yaitu modernisasi kapal perikanan nasional, percepatan realisasi Kampung Nelayan Merah Putih, hingga percepatan pembangunan Giant Sea Wall. Dari Kayu ke Baja, Hingga Tanggul Laut Sepanjang Pulau Jawa Dari informasi dan data dari laman resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan, lebih dari 95 persen kapal perikanan di Indonesia masih menggunakan bahan kayu. Secara konstruksi, kapal kayu memiliki kekurangan karena umumnya dibangun secara tradisional dan kurang memenuhi persyaratan standar kelaikan laut, laik tangkap dan laik simpan hasilnya. Krakatau Steel Group memiliki kemampuan dalam menyediakan bahan baku baja berkualitas tinggi bagi program ini, mulai dari pelat baja untuk lambung kapal, pipa baja untuk sistem distribusi dan pendinginan, struktur fabrikasi untuk galangan dan pelabuhan, hingga rumah modular apung untuk percepatan realisasi Kampung Nelayan Merah Putih sebagai kawasan pesisir modern yang terintegrasi dengan sarana dan prasarana produksi, sekaligus menjadi pusat ekonomi baru bagi nelayan. Adapun pembangunan Giant Sea Wall Pantura merupakan Proyek Strategis Nasional yang kini dipercepat pelaksanaannya oleh Presiden RI Prabowo Subianto melalui pembentukan Badan Otorita Pengelola Pantura. Tanggul laut raksasa yang membentang dari Banten hingga Gresik ini dirancang untuk menjadi benteng pertahanan utama pesisir utara Jawa dari risiko rob dan kenaikan muka air laut. Pada konteks ini, Krakatau Steel Group memiliki peran penting kapabilitasnya terhadap penyediaan material baja konstruksi dan struktur laut untuk percepatan pembangunan tanggul. Krakatau Steel Sebagai Katalisator Asta Cita Asa dari kunjungan kerja ini merupakan implementasi nyata dari Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto. Modernisasi kapal nelayan berbasis baja mendukung ketahanan pangan laut nasional. Realisasi Kampung Nelayan Merah Putih mendukung pertumbuhan ekonomi nasional serta membuka peluang lapangan kerja, hingga percepatan pembangunan proyek Giant Sea Wall sebagai dukungan terhadap penguatan pertahanan dan keamanan nasional sekaligus simbol kedaulatan dan perlindungan ekosistem pesisir utara Jawa. Kemudian dalam mendukung hilirisasi dan industrialisasi untuk memberikan nilai tambah ekonomi, Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Akbar Djohan, menyampaikan apresiasi atas penjajakan potensi kerjasama strategis yang dilakukan dan menegaskan momentum ini menjadi bagian penting dari penguatan komitmen Krakatau Steel Group dalam mendukung program pemerintah dan ini merupakan salah satu bagian bagi kemajuan/kesejahteraan masyarakat Indonesia. “Krakatau Steel Group siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam setiap upaya membangun kedaulatan maritim Indonesia,” jelas Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Akbar Djohan yang juga menjabat sebagai Chairman ALFI/ILFA (Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia) serta Chairman IISIA (Indonesia Iron & Steel Industry Association).

Minyak dan Lemak Nabati Untuk Jaga Kedaulatan Energi Nasional Nusantara
Nusantara
Minggu, 24 September 2023 | 20:54 WIB

Minyak dan Lemak Nabati Untuk Jaga Kedaulatan Energi Nasional

Bandung, katakabar.com - Akhir pekan di pekan keempat September 2023 lalu, tiga guru besar Institut Tekhnologi Bogor (ITB) dari tiga fakultas berbeda orasi ilmiah pada Forum Guru Besar (FGB) ITB di Aula Barat ITB. Prof Dr I Gusti Bagus Ngurah Makertihartha dari KK Teknologi Reaksi Kimia dan Katalis FTI ITB salah satu berorasi ilmiah judul 'Bahan 'Bakar Nabati untuk Kedaulatan Energi Nasional''. Sejak menjadi staf akademik Teknik Kimia ITB pada tahun 1988 hingga sekarang, Ia serint melakukan penelitian di bidang teknologi reaksi kimia dan teknologi proses produksi bahan bakar nabati. Dari kedua bidang itu, Prof Dr I Gusti telah menerbitkan dua buku, 69 makalah dalam bentuk jurnal/prosiding nasional hingga internasional, dan 4 paten nasional. Prof Dr I Gusti mengatakan, bahan bakar fosil khususnya minyak bumi dan turunannya hingga kini masih mendominasi penggunaan energi dunia. Tren ini diprediksi terus berlanjut setidaknya hingga 30 tahun ke depan. "Pada tahun 2020, Energi Baru dan Terbarukan (EBT) hanya mampu menyumbang 10 persen dari total konsumsi energi dunia dan diprediksi akan mencapai 50 persen pada tahun 2050," ulasnya lewat keterangan resmi, dilansir dari laman elaeis.co, pada Minggu (24/9). Terkait hal itu, jelasnya, Indonesia salah satu negara pengimpor bahan bakar fosil terbesar di dunia perlu menerapkan langkah-langkah progresif dalam pengembangan EBT untuk menjaga ketahanan dan kedaulatan energi nasional. Target itu bukan hal yang mustahil mengingat Indonesia adalah produsen minyak nabati terbesar di dunia. Fakta ini dibuktikan dengan capaian produksi minyak sawit dan minyak inti sawit yang secara berturut-turut mencapai 51,3 juta ton dan 4,441 juta ton pada tahun 2022. Menurutnya, menunjukkan potensi dan kapasitas Indonesia untuk melakukan substitusi bahan bakar fosil dengan bahan bakar yang bersumber dari minyak dan lemak nabati. “Memanfaatkan sumber daya minyak nabati memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional,” terangnya. Di ITB sendiri terdapat dua aspek pengembangan yang difokuskan dalam mengembangkan teknologi konversi bahan bakar nabati, yakni pengembangan teknologi katalis dan pengembangan teknologi proses konversi. Dalam hal ini, Laboratorium Teknologi Reaksi Kimia dan Katalisis (Lab. TRKK) dan Pusat Rekayasa Katalisis (PRK) ITB telah menjalin kerja sama dengan berbagai institusi penelitian dan industri nasional untuk mengembangkan energi berbasis bahan nabati dari minyak sawit dan minyak inti sawit. Teknologi proses konversi minyak nabati jadi bahan bakar nabati yang dikembangkan di ITB saat ini, meliputi pengembangan proses produksi biodiesel melalui proses trans-esterifikasi, proses produksi diesel biohidrokarbon dan avtur biohidrokarbon (bioavtur) melalui proses hidrodeoksigenasi maupun hidrodekarboksilasi. Terus, proses produksi campuran bahan bakar biohidrokarbon melalui proses hidrolisis, saponifikasi, dan dekarboksilasi; dan proses perengkahan minyak sawit menjadi bensin sawit. Untuk proses pengembangan katalis bebernya, dimulai dari skala laboratorium sebelum akhirnya diproduksi dalam skala pilot maupun komersial. Sintesa katalis dimulai dari proses eksploratif di dalam laboratorium untuk mendapat katalis yang aktif berdasarkan uji karakteristik dan aktivitas. "Jika hasil pengujian tidak sesuai dengan target, sintesa katalis diulang kembali dari proses formulasi ataupun perbaikan prosedur sintesa yang digunakan," ucapnya. Masih Prof Dr I Gusti, pengembangan yang terus dilakukan hingga sekarang diharapkan mampu mendorong substitusi bahan bakar fosil menjadi bahan bakar nabati yang tidak hanya berasal dari kelapa sawit. Tapi, berbagai jenis minyak dan lemak nabati. ITB sebagai pusat kepakaran dalam bidang iptek dan kerekayasaan dapat menjadi agen pengembangan di bidang energi baru dan terbarukan ini. “Proses pengembangan yang telah dimulai dan sedang dilakukan ini gilirannya menjadi salah satu riak kecil dari gelombang besar perubahan global menuju pada bioekonomi yang berkelanjutan,” tandasnya.