Menyusut

Sorotan terbaru dari Tag # Menyusut

LindungiHutan Tanam Pohon di Way Kambas Perkuat Habitat Gajah Sumatera Kian Menyusut Lingkungan
Lingkungan
Sabtu, 25 Oktober 2025 | 12:00 WIB

LindungiHutan Tanam Pohon di Way Kambas Perkuat Habitat Gajah Sumatera Kian Menyusut

Lampung Timur, katakabar.com - Kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur, rumah bagi gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus), kini menghadapi tantangan berat. Populasi gajah yang pada 2010 diperkirakan mencapai 247 individu, kini tersisa sekitar 180 hingga 200 ekor. Penurunan ini tak lepas dari penyusutan hutan, perubahan bentang alam, serta meningkatnya interaksi antara satwa liar, dan aktivitas manusia. Sebagai respon terhadap kondisi tersebut, LindungiHutan bersama masyarakat sekitar menggagas program penanaman pohon endemik di kawasan penyangga Way Kambas. Penanaman ini bertujuan untuk memperkuat tutupan hutan, menyediakan sumber pakan alami bagi gajah, serta menjaga keseimbangan ekosistem yang menjadi penopang kehidupan berbagai spesies langka. “Hutan di Way Kambas bukan hanya tempat hidup gajah, tetapi benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati dataran rendah Sumatra. Menanam pohon di sini berarti ikut menjaga keberlanjutan seluruh rantai kehidupan,” ujar Miftachur “Ben” Robani, CEO LindungiHutan, lewat keterangan resmi, Sabtu (25/10). Program ini menanam berbagai jenis pohon, seperti Laban (Vitex pinnata) dan Pule (Alstonia scholaris), dua spesies lokal yang berperan penting dalam ekosistem Way Kambas. Pohon-pohon ini menjadi sumber makanan bagi burung dan satwa herbivor, serta membantu memperbaiki struktur tanah di lahan-lahan yang sebelumnya terdegradasi. “Ketika pohon tumbuh, hutan pulih, dan satwa kembali punya ruang hidup,” jelas Ben. Keunikan Way Kambas tak hanya terletak pada perannya sebagai kawasan konservasi gajah, tetapi juga pada hubungan harmonis antara manusia dan satwa liar. Warga desa di sekitar taman nasional kini bertransformasi dari konflik menjadi kolaborasi. Mereka terlibat dalam ekowisata dan hasil hutan bukan kayu seperti madu dan olahan buah hutan, menciptakan sumber pendapatan tanpa merusak alam. “Dulu, gajah dianggap hama karena merusak kebun. Sekarang kami belajar bahwa gajah adalah tetangga. Dengan wisata desa dan konservasi, kami bisa hidup berdampingan,” kata Suhadak, anggota kelompok tani hutan di sekitar TNWK. Selain menekan konflik, pendekatan ini memperkuat ekonomi lokal. Warga memproduksi souvenir ramah lingkungan dan madu hutan, yang diminati wisatawan. Hasil penjualan membantu pendanaan patroli masyarakat untuk mencegah perburuan liar dan menjaga wilayah konservasi. Way Kambas sendiri mencakup lebih dari 125.000 hektare hutan dataran rendah dan lahan gambut, yang berfungsi sebagai penyerap karbon alami serta habitat bagi spesies langka lainnya seperti harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dan rusa sambar (Rusa unicolor). Namun, tanpa rehabilitasi yang berkelanjutan, ancaman kehilangan habitat akan terus meningkat. Melalui program penanaman di Way Kambas, LindungiHutan mengajak publik dan perusahaan untuk berperan aktif dalam menjaga kawasan konservasi strategis ini. “Setiap pohon yang ditanam di Way Kambas bukan hanya menyelamatkan hutan, tapi juga memberi harapan bagi gajah, masyarakat, dan generasi mendatang,” sebut Ben.

Luas Kebun Rakyat Terus Menyusut di Mukomuko, Ini Penyebabnya Nasional
Nasional
Selasa, 26 September 2023 | 21:40 WIB

Luas Kebun Rakyat Terus Menyusut di Mukomuko, Ini Penyebabnya

Mukomuko, katakabar.com - Luas kebun kelapa sawit rakyat terus menyusut di Kabupaten Mukomuko. Masalahnya bukan lantaran dikonversi ke tanaman lain, tapi bikin terenyuh kepemilikan beralih ke perusahaan perkebunan "Prihatinan dengan peningkatan luas lahan kebun kelapa sawit masyarakat dikuasai perusahaan kelapa sawit. Fenomena ini terjadi disebabkan banyak petani memilih menjual kebun sawit mereka kepada perusahaan besar," ujar Bupati Kabupaten Mukomuko, Sapuan. Menurutnya, penjualan lahan kebun kelapa sawit oleh masyarakat setempat kepada perusahaan kelapa sawit langkah yang sangat merugikan. Konsekuensinya, masyarakat yang telah menjual lahan mereka kini tidak memiliki lahan untuk berkebun. "Sangat disayangkan banyak masyarakat menjual kebunnya ke perusahaan perkebunan kelapa sawit. Dampaknya, mereka terpaksa mencari sumber mata pencaharian yang lain," cerita Orang Nomor Satu di Kabupaten Mukomuko ini, dilansir dari laman elaeis.co, pada Selasa (26/9). Sedihnya lagi, ulas Sapuan, masyarakat kehilangan lahan kebun terpaksa merambah hutan lindung di sekitar Kabupaten Mukomuko. "Tindakan ini tidak hanya merugikan ekosistem, tapi mengancam kesejahteraan masyarakat," jelasnya. Sejumlah aktivis lingkungan setempat suarakan keprihatinan tentang masalah ini. Mereka mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan tegas untuk melindungi lahan berharga dan ekosistem yang terancam disebabkan deforestasi yang semakin meluas. Aktivis lingkungan Mukomuko, Siti Rahma, menuturkan keprihatinan terus berkurangnya lahan hijau di wilayah itu. "Perlu ada langkah konkret untuk melindungi kawasan hutan agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang," harapnya. Kampanye dan program penghijauan harus digalakkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga kawasan konservasi dan hutan lindung, terangnya.