Moneter

Sorotan terbaru dari Tag # Moneter

FLOQ Market Outlook: Tekanan Global dan Kebijakan Moneter Uji Ketahanan Pasar di Awal 2026 Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 12 Februari 2026 | 16:00 WIB

FLOQ Market Outlook: Tekanan Global dan Kebijakan Moneter Uji Ketahanan Pasar di Awal 2026

Jakarta, katakabar.com - Pada Februari 2026, pasar keuangan global menghadapi tekanan akibat dinamika geopolitik, perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS, serta koreksi tajam di pasar kripto dan logam mulia, yang memicu lonjakan volatilitas. FLOQ menilai kondisi ini sebagai fase penyesuaian risiko global, di mana investor perlu tetap disiplin, terukur, dan fokus pada tujuan jangka panjang. Melalui edukasi dan riset, FLOQ berkomitmen membantu investor Indonesia memahami risiko dan peluang pasar secara lebih komprehensif. Isu geopolitik, perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat, serta koreksi tajam di pasar logam mulia ciptakan lingkungan pasar volatil, dan sangat sensitif terhadap perkembangan global. Kondisi ini mendorong investor, baik global maupun domestik, untuk kembali mengevaluasi profil risiko serta struktur portofolio mereka. Tekanan di pasar global semakin terlihat setelah pelepasan dokumen Epstein memicu spekulasi bahwa investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset kripto, khususnya Bitcoin. Narasi ini tercermin dari arus keluar dan signifikan pada produk ETF kripto. Di penghujung Januari 2026, spot Bitcoin ETF mencatat outflow sebesar 818 juta dolar AS, dengan total arus keluar sepanjang Januari mencapai sekitar 1,1 miliar dolar AS. ETF Ethereum juga mengalami tekanan dengan outflow sekitar 258 juta dolar AS. Situasi ini mendorong harga Bitcoin terkoreksi tajam dari kisaran 90.000 dolar AS ke level 60.000 dolar AS, hal ini sekaligus menguji strategi institusi yang mengadopsi pendekatan leverage dalam akumulasi aset digital. Di saat sama, pasar merespons pengumuman nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya akan berakhir pada Mei 2026. Hal ini mendorong ekspektasi bahwa kebijakan moneter ke depan akan memperkuat ekonomi AS karena sifat Warsh yang cenderung hawkish, tetapi tidak menutup kemungkinan terhadappemangkasan suku bunga. Di sisi lain, aset berisiko seperti saham dan kripto justru tertekan karena meningkatnya kekhawatiran bahwa pemangkasan suku bunga akan tertunda, terutama dengan hasil terakhir suku bunga ditetapkan tidak berubah. Meskipun Kevin Warsh sebelumnya pernah menyampaikan pandangan bahwa Bitcoin dapat berfungsi sebagai bentuk disiplin pasar terhadap kebijakan moneter, dalam jangka pendek perubahan ekspektasi kebijakan tetap menjadi faktor dominan yang memengaruhi sentimen investor. Tekanan juga melanda pasar logam mulia yang sebelumnya mencatat reli kuat sepanjang 2025. Setelah emas naik lebih dari 60 persen dan perak melonjak signifikan, pasar memasuki fase koreksi tajam di awal 2026. Dalam waktu singkat, harga perak terkoreksi sekitar 30 persen ke area 75 dolar AS, sementara emas turun sekitar 20 persen ke kisaran 4.400 dolar AS. Koreksi ini dipicu oleh penguatan dolar AS, aksi ambil untung dari investor besar, serta margin call akibat tingginya penggunaan leverage di pasar futures. Perak mengalami tekanan paling besar karena berperan sebagai aset moneter sekaligus komoditas industri, sehingga terdampak oleh perlambatan permintaan dan kondisi moneter yang lebih ketat. Di dalam negeri, tekanan global diperparah oleh isu potensi perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market oleh MSCI pada akhir Januari 2026. Kekhawatiran terhadap transparansi kepemilikan saham dan praktik perdagangan terkoordinasi memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham. IHSG sempat terkoreksi hingga 16 persen dalam dua hari sebelum akhirnya pulih sebagian ke level 7.922 pada awal Februari. Untuk menjaga stabilitas pasar, otoritas merespons dengan berbagai langkah, termasuk peningkatan free float minimum, perbaikan transparansi data, serta dukungan stabilisasi melalui akumulasi saham oleh lembaga terkait. Menanggapi kondisi tersebut, Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ, menyampaikan volatilitas di awal 2026 mencerminkan fase penyesuaian risiko yang sangat sensitif terhadap dinamika global. “Volatilitas yang terjadi di awal 2026 ini menunjukkan pasar global sedang berada dalam fase penyesuaian risiko yang sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan kebijakan moneter. Dalam situasi seperti ini, yang paling penting bagi investor bukanlah bereaksi secara emosional terhadap setiap headline, melainkan tetap berpegang pada strategi yang terukur, disiplin dalam manajemen risiko, dan memahami tujuan investasi jangka panjang mereka,” ujarnya. Ia menambahkan periode volatilitas juga menjadi momentum penting untuk memperkuat literasi finansial masyarakat. “Kami melihat kondisi pasar saat ini sebagai peluang untuk mendorong investor Indonesia menjadi lebih matang dan mandiri dalam mengambil keputusan. Di FLOQ, kami terus berkomitmen menghadirkan edukasi, riset, dan fitur yang membantu pengguna memahami risiko sekaligus potensi pasar secara lebih menyeluruh,” jelas Yudhono Rawis. Dari sisi teknikal, pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan pola yang cukup jelas. Sejak akhir Januari, Bitcoin berada dalam tren penurunan dan sempat menyentuh level terendah di sekitar 60.000 dolar AS pada 5 Februari 2026. Tekanan jual dipicu oleh pergerakan whale wallet serta akumulasi outflow ETF yang mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS hingga awal Februari. Tetapi pada 6 Februari, Bitcoin mulai membentuk titik balik jangka pendek dan mengalami rebound, didukung oleh inflow ETF sekitar 330 juta dolar AS yang mendorong harga kembali ke area 72.000 dolar AS. Saat ini, harga Bitcoin berada di sekitar area keseimbangan jangka pendek di kisaran 71.000 dolar AS, yang mencerminkan titik temu antara minat beli dan jual dalam rentang pergerakan terakhir. Pergerakan harga juga menunjukkan adanya konsentrasi likuiditas tinggi di area 77.000 dolar AS, yang secara historis sering menjadi magnet pergerakan harga karena menjadi target eksekusi transaksi dalam skala besar oleh pelaku institusional. Dalam menghadapi kondisi pasar yang dinamis, investor disarankan untuk menyesuaikan strategi dengan profil risiko masing-masing. Pendekatan bertahap, disiplin manajemen risiko, serta diversifikasi lintas aset menjadi fondasi penting dalam membangun portofolio yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global. Di pertama Februari 2026 menunjukkan bagaimana pasar dapat bergerak secara ekstrem ketika berbagai faktor global dan domestik terjadi secara bersamaan. ondisi ini lebih mencerminkan fase penyesuaian risiko dibandingkan pelemahan struktural jangka panjang. Bagi investor, situasi ini menegaskan pentingnya memahami konteks global, menjaga disiplin, serta tetap berpegang pada strategi yang selaras dengan tujuan jangka panjang, bukan sekadar bereaksi terhadap dinamika jangka pendek. Tentang FLOQ FLOQ adalah platform aset kripto terdaftar dan berizin di Indonesia yang berkomitmen menghadirkan layanan investasi aset digital yang aman, transparan, dan bertanggung jawab. Dengan lebih dari 1,5 juta pengguna, 255.000+ pengikut media sosial, serta komunitas yang terus berkembang dengan lebih dari 25.000 anggota aktif, FLOQ secara konsisten membangun ekosistem berbasis edukasi, inovasi, dan kepercayaan melalui inisiatif seperti FLOQ Academy dan FLOQ Circle. Melalui pendekatan inklusif dan berorientasi jangka panjang, FLOQ berupaya memperluas literasi finansial serta mendorong adopsi aset digital yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia.

Investor Dorong Reli Emas Ditengah Prospek Pelonggaran Kebijakan Moneter Fed Internasional
Internasional
Selasa, 11 November 2025 | 18:31 WIB

Investor Dorong Reli Emas Ditengah Prospek Pelonggaran Kebijakan Moneter Fed

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) lanjutkan penguatan tajam di awal pekan ini, mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat. Kenaikan yang mencapai lebih dari 2 persen Senin (10/11) kemarin, menunjukkan para pelaku pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve dapat menurunkan suku bunga pada pertemuan Desember. Pandangan ini turut memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai, terutama ketika data ekonomi AS mulai menunjukkan tanda perlambatan. Selama sesi Asia Selasa (11/11), harga emas bergerak stabil di dekat $4.120, tetap berada di zona positif setelah mencetak level tertinggi dua minggu pada sesi sebelumnya. Menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, pola teknikal yang terbentuk saat ini memperlihatkan bahwa dorongan bullish pada emas masih cukup kuat. “Melihat struktur candlestick serta posisi harga terhadap garis Moving Average, momentum kenaikan masih terjaga. Pasar sedang berada dalam fase risk-on terhadap emas,” jelas Andy. Lonjakan harga emas tersebut tidak terlepas dari prospek penurunan suku bunga oleh The Fed. Pasar saat ini memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai sekitar 67 persen, dan peluang tersebut diperkirakan meningkat menjadi 80 persen pada Januari mendatang, mengacu pada perangkat CME FedWatch. Ekspektasi ini muncul setelah rilis data ketenagakerjaan swasta dan indikator konsumsi pekan lalu menunjukkan perlambatan aktivitas ekonomi, yang membuka ruang bagi The Fed untuk mengambil langkah stimulus. “Dalam kondisi suku bunga yang berpotensi lebih rendah, daya tarik emas akan semakin menguat karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih kecil,” tambah Andy. Bila tekanan beli berlanjut, emas memiliki peluang untuk menguji level resistance di sekitar $4.158. Namun, jika tekanan koreksi muncul, maka area $4.104 menjadi level penopang penting yang perlu dicermati. Faktor fundamental lainnya juga memberikan dinamika tambahan. Kabar mengenai kemungkinan berakhirnya penutupan pemerintahan AS memberi sedikit tekanan bagi emas sebagai aset safe haven. Reuters melaporkan bahwa Senat AS telah melanjutkan pembahasan langkah pembukaan kembali pemerintahan federal. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan dukungan terhadap kesepakatan bipartisan yang memungkinkan aktivitas pemerintah kembali berjalan normal dalam waktu dekat. Jika proses ini berjalan lancar, permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas dapat mengalami penyesuaian jangka pendek. Dari sisi pasar mata uang dan obligasi, Indeks Dolar AS (DXY) menguat tipis ke level 99,67, sedangkan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun stabil di sekitar 4,115 persen. Imbal hasil riil AS yang naik ringan juga menjadi variabel yang perlu diperhatikan karena memiliki korelasi terbalik dengan pergerakan harga emas. Andy Nugraha menekankan pergerakan emas dalam jangka pendek masih akan sensitif terhadap data ekonomi AS berikutnya, khususnya laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis hari ini.