Musim Kemarau

Sorotan terbaru dari Tag # Musim Kemarau

Transisi Musim Kemarau ke Hujan Diwarnai Cuaca Ekstrem, Penanaman Pohon Jadi Mitigasi Nyata Lingkungan
Lingkungan
Sabtu, 30 Agustus 2025 | 15:00 WIB

Transisi Musim Kemarau ke Hujan Diwarnai Cuaca Ekstrem, Penanaman Pohon Jadi Mitigasi Nyata

Semarang, katakabar.com - Beberapa wilayah Indonesia mengalami suhu dingin tak biasa pada akhir Agustus 2025. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG melaporkan adanya potensi hujan sedang hingga lebat, disertai angin kencang serta kilat/petir di sejumlah daerah seperti Sumatera Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Fenomena ini menjadi pertanda peralihan musim dari kemarau menuju penghujan. Menurut analisis BMKG, dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation atau MJO, Mixed-Rossby Gravity Wave, dan Gelombang Kelvin turut memicu hujan meski kemarau masih berlangsung. Selain itu, suhu laut yang lebih hangat meningkatkan potensi hujan ekstrem hingga akhir tahun 2025. “Transisi musim kali ini berjalan cukup kompleks. Kami mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap cuaca ekstrem yang berpotensi muncul hingga beberapa bulan ke depan,” kata BMKG dalam Buletin Informasi Iklim Agustus 2025. Perubahan cuaca yang semakin dinamis ini menjadi pengingat bahwa krisis iklim nyata adanya. Pola hujan tak menentu, suhu ekstrem, hingga potensi bencana hidrometeorologi kian sering terjadi. Kondisi ini menuntut tidak hanya kewaspadaan, tapi juga aksi nyata untuk menjaga keseimbangan alam. BMKG juga mencatat adanya curah hujan sangat lebat pasca Hari Kemerdekaan RI ke 80 pertengahan Agustus lalu, sebagai indikasi meningkatnya aktivitas konvektif atmosfer. Data ini menguatkan bahwa transisi musim kemarau ke hujan tahun ini berlangsung dengan pola yang lebih dinamis dibandingkan periode sebelumnya. Dampaknya terasa langsung pada masyarakat. Suhu dingin ekstrem di beberapa daerah menyebabkan perubahan aktivitas pertanian, sementara hujan deras meningkatkan risiko banjir bandang maupun tanah longsor. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa krisis iklim bukan isu jauh di depan, tapi sudah terjadi, dan sentuh kehidupan sehari-hari. Pada konteks mitigasi, ekosistem sehat menjadi benteng alami menghadapi perubahan iklim. Hutan dan vegetasi berperan penting menyerap karbon, menjaga kualitas air tanah, dan menahan erosi. Penanaman pohon menjadi salah satu langkah sederhana, tetapi cukup strategis dalam mengurangi dampak cuaca ekstrem yang makin sering terjadi. Sejumlah inisiatif telah berkembang untuk mendukung langkah ini. Platform LindungiHutan, misalnya, menyediakan ruang kolaborasi melalui program CorporaTree untuk perusahaan yang menjalankan CSR berbasis penanaman pohon, CollaboraTree yang mengintegrasikan donasi pohon dengan penjualan produk atau jasa, serta Imbangi for B2B yang membantu bisnis menebus emisi melalui carbon offset.

Cegah Bencana Sejak Dini, Forkopimda Kuansing Gelar Apel Konsolidasi Karhutla Riau
Riau
Selasa, 22 April 2025 | 13:59 WIB

Cegah Bencana Sejak Dini, Forkopimda Kuansing Gelar Apel Konsolidasi Karhutla

Kuansing, katakabar.com - Personel Polres Kuantan Sengingi gelar apel gladi kesiapsiagaan bencana Kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla tahun 2025, di Halaman Kantor Bupati, Selasa (22/4). Giat tersebut digelar bersama lintas sektor guna hadapi musim kemarau di Kabupaten Kuantan Singingi atau Kuansing. Pj. Sekda Kuansing, dr. H. Fahdiansyah, yang pmpin jalannya apel tersebut. Ia mengapresiasi atas kehadiran semua pihak sebagai bentuk komitmen bersama mengantisipasi, dan menanggulangi bencana Karhutla di wilayah 'Kota Jalur' nama lain dari Kunsing. Fahdiansyah menekankan, apel ini sebagai konsolidasi seluruh komponen baik dari pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi bencana Karhutla. “Kita mulai menghadapi musim kemarau, sebab berdasarkan prediksi BMKG yang kemungkinan besar rentan terjadi kebakaran. Untuk itu, perlu keterlibatan semua sektor dalam upaya menekan potensi Karhutla,” tegasnya.

Petani Keluhkan Produksi Kebun Anjlok 50 Persen di Banten, Ini Penyebabnya Sawit
Sawit
Jumat, 29 Desember 2023 | 12:51 WIB

Petani Keluhkan Produksi Kebun Anjlok 50 Persen di Banten, Ini Penyebabnya

Banten, katakabar.com - Intensitas hujan di wilayah masih sangat rendah. Artinya, musim kemarau masih berkepanjangan di wilayah Provinsi Banten sekitarnya. Kondisi cuaca ini bikin perkebunan kelapa sawit kelimpungan lantaran mengalami penurunan produksi. Bahkan dari Agustus 2023 hingga saat ini produksi anjlok mencapai 50 persen. "Memang, November 2023 sempat terjadi hujan tapi hanya sebentar. Tidak memberikan dampak banyak kepada kebun petani," kata M Nur Ketua Asepekpir Provinsi Banten, kemarin dilansir dari laman elaeis.co, pada Jumat (29/12). Menurut Nur, pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Provinsi Banten kekurangan pasokan disebabkan anjlok produksi kebun kelapa sawit petani. Misalnya, dialami PKS PTPN VIII yang kekurangan pasokan lantaran penurunan produksi ini. Anehnya, meski jumlah produksi yang turun dan kurangnya pasokan di beberapa PKS, harga kelapa sawit justru tidak mengalami kenaikan. Harganya masih stagnan diangka Rp1.950 per kilogram. Apakah Provinsi Banten karena belum ada Pergub peneta0an harga TBS kelapa sawit petani hingga saat ini? "Kita prediksi kondisi ini terjadi hingga Maret tahun depan. Harapannya, hujan mulai turun di penghujung tahun ini di Banten," pintanya. Para petani saat ini, ulas Nur, terpaksa mencari pemasukan alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, terutama bagi petani yang memang hanya bergantung pada kebun kelapa sawitnya itu. Salah satunya melakukan tumpang sari dengan menanam sejumlah tanaman lain, seperti cabe, jagung, dan kedelai. "Tumpang sari bergantung pada curah hujan. Artinya, tidak sedikit petani yang gagal lantaran masih minimnya intensitas hujan," sebutnya.

Musim Kemarau Bikin Berat TBS Sawit Ringan, Kok Bisa! Nasional
Nasional
Sabtu, 14 Oktober 2023 | 15:19 WIB

Musim Kemarau Bikin Berat TBS Sawit Ringan, Kok Bisa!

Bengkulu, katakabar.com - Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Provinsi Bengkulu, Arnop Wardin menuturkan, musim kemarau tidak cuma berdampak pada produktivitas tanaman tapi berpengaruh kepada berat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. "Sebelum musim kemarau, kita sering temukan TBS ukuran besar dengan bobot mencapai 30 hingga 40 kilogram. Tapi, bobo rata-rata itu turun di bawah 30 kilogram," ujar Arnop, dilansir dari laman elaeis.co, pada Sabtu (14/10). Penurunan berat hasil tanaman kelapa sawit ini, kata Arnop, jelas sangat merugikan para petani. Untuk itu, diminta kepada pemerintah maupun pihak terkait mencari solusi persoalan ini. "Mesti ada solusi untuk mengatasi tantangan ini dan menjaga produktivitas kebun. Tidak dapat dipungkiri memang hal ini murni karena cuaca. Tapi mesti ada solusinya," harapnya. Pemerintah daerah dan pelaku industri, ulas Arnop, mesti bekerja sama mencari solusi menghadapi perubahan cuaca. Solusi itu berkaitan dengan upaya menjaga keberlanjutan sektor kelapa sawit di Bengkulu. "Pemerintah daerah dan pelaku usaha mesti kerja sama mencari solusi menghadapi perubahan cuaca ini, misalnya dengan mendorong diversifikasi tanaman pangan yang tahan segala musim," jelasnya. Selain itu, petani harus melakukan pengelolaan kebun yang berkelanjutan dan efisien, agar biaya operasional bisa semakin ditekan. "Perlu fokus pada praktik-praktik terbaik dalam budidaya kelapa sawit untuk menghadapi tantangan di musim kemarau," tandasnya.

Musim Kemarau Bikin Buah Sawit Telat Matang, Ini Penyebabnya Nasional
Nasional
Rabu, 04 Oktober 2023 | 16:27 WIB

Musim Kemarau Bikin Buah Sawit Telat Matang, Ini Penyebabnya

Jakarta, katakabar.com - Kemarau panjang disebabkan El Nina bisa bikin buah kelapa sawit terlambat mantang. Bahkan produksi kelapa sawit nasional berpotensi turun. Itu tadi, biangnya kemarau panjang akibat El Nino lantaean kurang intensitas hujan. Dilansir dari laman elaeis.co, dampak El Nino tidak langsung terasa pada 2023 ini. Tahun ini paling terjadi keterlambatan panen. Artinya, matangnya buah mengalami keterlambatan kalau tidak terjadi hujan,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono saat konferensi pers, pada Selasa (3/10) kemarin. Soal produksi tahun depan, Eddy tidak menampik kemungkinan terjadi penurunan. "Kalau perawatan sawit sebelum terjadi kekeringan tidak bagus, ada kemungkinan di tahun depan terjadi penurunan produksi. Kalau pemeliharannya bagus sebelum terjadi kemarau, hanya terjadi keterlambatan panen di tahun ini,” ujarnya. El Nino di tahun ini tidak separah tahun 2015 dan tahun 2019, ulas Eddy, sebab masih terjadi hujan di wilayah Sumatera dan Kalimantan selama beberapa bulan ini, meski curah hujan rendah. "El Nino tahun 2015 dan 2019 terjadi cukup panjang sebabkan terjadi penurunan produksi sawit hingga dua tahun setelahnya," terangnya. Soal harga, beber Eddy, hingga akhir tahun, harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) diprediksi bergerak di rentang US$900-US$910 per ton dan berpeluang naik ke level US$1.000 per ton. "Kalau soal fluktuasi, harga komoditas memang selalu berayun," tegasnya. Sekjen Gapki, M Hadi Sugeng menimpali, penundaan panen yang terjadi pada beberapa kebun anggota Gapki lantara curah hujan rendah berdampak produksi Crude Palam Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO) pada tahun ini tidak naik signifikan. “Kita asumsikan produksi tetap tumbuh, tapi mungkin hanya sekitar 5 persen di bawah 10 persen. Kita prediksi di tahun ini bisa mencapai 54 juta ton. CPO 49 juta ton, naik dari tahun lalu 46 juta ton. Sedang PKO 4,7 juta ton, naik dari tahun lalu sekitar 4,5 juta ton," rincinya. Konsumsi, tutur Hadi, diperkirakan naik sekitar 23 juta ton ada efek tambahan dari B35 dengan stok yang kita pertahankan di atas 3,2-3,3 juta ton pada akhir 2023. Hingga Juli lalu, produksi CPO dan PKO tumbuh 17 persen jadi 32 juta ton. Konsumsi minyak sawit dalam negeri baik untuk pangan, oleokimia maupun biodiesel juga tumbuh 11 persen jadi 13 juta ton. Volume ekspor naik signifikan, sekitar 33 persen atau hampir 19,8 juta ton. Tapi nilai ekspor mengalami penurunan sekitar 18 persen jadi Rp260 triliun dibanding tahun lalu yang mencapai Rp300 triliun.

Perhatikan! Petani Tanam Bibit Sawit Elok Sebelum Musim Hujan Tiba Sawit
Sawit
Kamis, 21 September 2023 | 18:55 WIB

Perhatikan! Petani Tanam Bibit Sawit Elok Sebelum Musim Hujan Tiba

Bengkulu, katakabar.com - Para petani kebun kelapa sawit mesti perhatikan waktu yang pas saat tanambibit kelapa sawit. Soalnya, kalau salah pilih waktu saat tanam bisa fatal kepada pertumbuhan kelapa sawit. "Waktu tanam bibit kelapa sawit elok dilakukan sebelum musim hujan tiba, sebab kunci keberhasilan pertumbuhan tanaman saat memasuki musim hujan," kata Pengamat Pertanian Bengkulu, Zainal Muktamar, dilansir dari laman elaeis.co, pada Rabu (20/9). Bibit kelapa sawit ujar Zainal, perlu waktu untuk mengembangkan sistem perakaran yang kuat sebelum musim kemarau datang. Tahapan ini sangat membutuhkan ketersediaan air yang cukup. "Tanaman memiliki akar kuat lebih tahan terhadap kondisi kering dan panas yang umumnya terjadi selama musim kemarau," jelasnya. Menurutnya, pertumbuhan sawit tidak hanya dipengaruhi waktu tanam tapi pada metode penanaman. Setiap bibit kelapa sawit harus ditempatkan dengan hati-hati di grid dengan sekitar 100 pohon yang ditanam untuk setiap lahan seukuran lapangan sepak bola. Itu bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan lahan dan mendapatkan hasil panen optimal. Tidak cuma itu, selama pertumbuhan pohon kelapa sawit, pemupukan harus dilakukan dengan hati-hati. "Pupuk yang tepat membantu tanaman untuk berkembang dengan baik dan menghasilkan buah yang berkualitas tinggi. Pastikan tanaman kelapa sawit diberi pupuk sesuai dosis yang tepat," bebernya. Untuk menjalankan semua langkah ini lanjut Zainal, para petani perlu dapat bimbingan dan informasi yang benar dari para ahli pertanian setempat. Konsultasi dengan para ahli membantu pastikan penanaman bibit kelapa sawit dilakukan dengan benar agar menghasilkan hasil panen yang baik. "Libatkan ahli pertanian jangan melakukannya sendiri. Ini demi kebaikan kebun kelapa sawit yang dimiliki petani," tambahnya.