Musim Mas Women Smallholders Program, Pelatihan Petani Perempuan
Jakarta, katakabar.com - Salah satu perusahaan kelapa sawit terintegrasi terbesar di dunia, Musim Mas Group persentasikan hasil implementasi Women Smallholders Program, saat ini lebih difokuskan pada program Pelatihan Hidup Sehat bagi petani perempuan dan istri petani kelapa sawit binaan Musim Mas di 'Bumi Lancang Kuning' nama lain dari Provinsi Riau. Implementasi program perdana yang dilaksanakan pada bulan Mei hingga Oktober 2023 lalu, kurun ebam bulan di tiga kabupaten di Provinsi Riau, yakni Kabupaten Rokan Hilir, Rokan Hulu, dan Pelalawan garap 500 orang perempuan ini dinilai telah berhasil, dan bakal diteruskan untuk diterapkan di wilayah lain di tahun depan. Selain itu, Musim Mas membuka peluang kolaborasi bagi stakeholders yang ingin menjalankan program ini. General Manager of Programs & Projects Musim Mas, Linda Wati menuturkan, salah satu pilar Kebijakan Keberlanjutan Musim Mas adalah meningkatkan taraf hidup petani, pekerja, dan masyarakat. Lantaran itu, kesejahteraan petani swadaya kelapa sawit salah satu fokusnya. Cerita Linda, dilansir dari laman indoposco.id, pada Kamis (14/12), dari tahun 2015, korporasi ini telah menginisiasi program pemberdayaan petani swadaya dengan melatih para petani swadaya kelapa sawit untuk praktik-praktik perkebunan yang baik. Program ini, kata Linda, menjadi program petani swadaya terbesar di Indonesia dengan melibatkan 42.900 petani di 6 provinsi di Indonesia. “Di samping komitmen kami untuk terus mengembangkan program pemberdayaan petani swadaya yang dimiliki, kami melihat perempuan memiliki peranan penting bagi keluarga dan keberlanjutan industri kelapa sawit. Makanya, Women Smallholders Program dihadirkan untuk memberdayakan petani perempuan dan istri petani melalui berbagai pelatihan yang menekankan aspek sosial-ekonomi agar dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki, biar mereka dapat kesempatan untuk berkontribusi lebih di dalam keluarga,” beber Linda Wati kepada wartawan yang mengikuti acara Diskusi Musim Mas Women Smallholders: Program Pemberdayaan perempuan di perkebunan melalui pelatihan dalam dukung pencapaian SDGs Indonesia di Jakarta, dua hari lalu. Diskusi publik itu dihadiri Rob Nicholls selaku General Manager of Programs & Projects Musim Mas; Linda Wati sebagai Project Leader Women Smallholders Program Musim Mas; Dr Putri C. Eyanoer, MS.Epi., Ph.D.; dan Dr Fotarisman Zaluchu, S.KM., MPH. Dijabarkan Linda, dari survei terhadap calon peserta yang dilakukan pihaknya telah menyiapkan modul pelatihan yang akan dijalankan terkait dengan nutrisi dan kesehatan keluarga, literasi keuangan, dan peluang bisnis rumahan. “Women Smallholders Program dimulai dengan pelatihan nutrisi dan kesehatan keluarga. Untuk itu, Musim Mas berkolaborasi dengan dua akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU), yakni Dr. Fotarisman Zaluchu, S.K.M, M.P.H dan Dr. Putri C. Eyanoer, MS.Epi, Ph.D, untuk melaksanakan program pelatihan dengan materi yang dituangkan dalam tiga modul, 'Generasi Sehat, Keluarga Sehat' yang berisi nutrisi keluarga, 'Emas Dari Dalam Kandungan' mengenai gizi balita dan pola asuh, dan 'Sehat Diri, Sehat Sekitar' yang menjelaskan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat,” terangnya. Menurut Linda, pelatihan perdana ini diikuti 500 perempuan dari tiga kabupaten, Rokan Hilir, Rokan Hulu, dan Pelalawan. “Melalui tiga kali tatap muka, dengan materi yang berbeda, pelatihan menggunakan pendekatan participatory, reflective, dan interactive, mengombinasikan modul dengan games, diskusi, dan aktivitas peserta peserta,” ulasnya. Pelatihan Dr. Fotarisman Zaluchu mengamini penjelasan Linda Wati. Pelatihan kepada perempuan dan petani kelapa sawit membutuhkan kreatif dan inovasi. Tujuannya, sambung Zaluchu, agar peserta dapat mengingat keseluruhan materi untuk digunakan dalam praktik perilaku secara mandiri setelah pelatihan selesai. Sedang, Dr Fota mengatakan sebelum setiap pertemuan dilakukan, para peserta menjalani cek kesehatan berupa pencatatan berat dan tinggi badan, tekanan darah, kadar gula darah, asam urat, dan kolesterol. “Program pelatihan yang berlangsung selama enam minggu ini menggunakan metode pendampingan perilaku menggunakan kalender kesehatan dan grup whatsapp,” jelas dokter sekaligus peneliti, penulis, pelatih, dan dosen di Program Studi Antropologi Sosial di FISIP USU. Melihat dan mengetahui latar belakang peserta yang sebagian besar awam dengan istilah-istilah kesehatan. Kita harus bisa memberikan informasi yang mudah dipahami oleh mereka. "Kami mengembangkan teknik belajar yang edukatif tapi menyenangkan," katanya Jadi, lanjutnya, penyampaian materi dilakukan secara dialogis, melibatkan indra, dan membangkitkan semangat. Kami menyampaikan materi sesuai dengan konteks keseharian mereka, dan dari awal, menjelaskan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Model pembelajaran seperti ini ternyata menyenangkan bagi mereka,” ujarnya. Pengamatan Dr. Putri C. Eyanoer yang dikenal sebagai peneliti dan konsultan serta Dosen Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran USU, program ini memiliki framework yang tepat dengan memilih para ibu sebagai target peserta pelatihan. “Pengaruh Ibu pada keluarga terlihat dengan mengajak suami untuk hidup sehat, tentu dengan segala keterbatasannya. Efek domino memang hanya bisa didapat melalui komitmen yang kuat untuk mewujudkannya. Mulai dari mengajak suami untuk ikut menerapkan apa yang didapat dalam pelatihan, sehingga bisa merasakan manfaatnya bersama, dan melalui unggahan di grup whatsapp, dapat memotivasi ibu dan pasangan lain untuk melakukan program bersama,” timpalnya Seorang petani Perempuan di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, Roslina Tampubolon mengaku pengaruh besar bagi diri dan keluarganya setelah mengikuti program tersebut. ”Kalau memikirkan masa depan anak saya, saya ingin sehat. Saya merombak habis kebiasaan, dan beralih mengonsumsi makanan sehat, sehingga kini dari bangun tidur, rasanya penuh energi. Saya juga berbagi dan mengajak keluarga dan teman-teman untuk hidup sehat,” akunya. Project Leader Women Smallholders Program Musim Mas Linda Wati mengaku optimis program ini bisa terus dikembangkan dan diterapkan di daerah-daerah lainnya, mengingat program ini berkontribusi langsung dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di Indonesia, khususnya Tanpa Kelaparan (nomor 2), Kesetaraan Gender (nomor 5), serta Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (nomor 8). Perluasan program dapat dilakukan dengan memberdayakan para petani Perempuan atau istri petani yang sudah mendapatkan pelatihan untuk berbagi dengan anggota keluarga atau komunitasnya. “Setelah pelatihan nutrisi dan kesehatan keluarga, selanjutnya kami akan merancang pelatihan terkait literasi keuangan dan peluang bisnis rumahan. Untuk itu, Musim Mas menyambut baik seluruh stakeholders yang ingin berkolaborasi, untuk meningkatkan kehidupan keluarga petani swadaya di Indonesia,” sebutnya.