pupuk
Sorotan terbaru dari Tag # pupuk
Kedutaan Besar India Dorong Impor Urea dari Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan
Jakarta, katakabar.com - Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty bertemu dengan Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono di Jakarta, Kamis (16/4) lalu. Pertemuan tersebut dilakukan demi mendorong kerja sama impor pupuk urea dari Indonesia guna mengamankan pasokan pupuk bagi musim tanam India mendatang melalui skema antar pemerintah di tengah dinamika global rantai pasok pertanian. Langkah ini menegaskan pendekatan aktif India dalam memperluas sumber pasokan pupuk strategis, sekaligus mencerminkan meningkatnya peran Indonesia sebagai mitra potensial dalam menjaga stabilitas pangan kawasan dan global. Dorongan dari pihak Kedutaan India juga memperlihatkan bahwa isu pupuk kini tidak lagi sekadar persoalan teknis pertanian, tetapi telah menjadi bagian dari diplomasi ekonomi dan ketahanan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga energi global, gangguan rantai pasok, hingga dinamika geopolitik telah mempengaruhi ketersediaan pupuk di berbagai negara, termasuk India yang memiliki kebutuhan sangat besar untuk menopang sektor pertaniannya. Kerja sama ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian nasional. Fokus pembahasan tidak hanya terbatas pada perdagangan pupuk, tetapi juga mencakup isu yang lebih luas seperti ketahanan pangan dan ketersediaan sarana produksi. “Diskusi yang komprehensif dan produktif bersama Pak Sudaryono mengenai kerja sama pertanian bilateral termasuk ketahanan pangan dan ketersediaan input (sarana produksi),” ujar Dubes Sandeep. Ia menegaskan India melihat Indonesia sebagai mitra yang kredibel dalam menjawab kebutuhan pupuk, khususnya urea, yang menjadi komponen penting dalam mendukung produktivitas pertanian. “Pak Sudaryono telah menyampaikan dengan sangat jelas bahwa ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Jika terdapat surplus, maka kami akan sangat senang untuk membelinya dari Indonesia melalui skema kerja sama antar pemerintah,” jelasnya. Pernyataan ini sekaligus menunjukkan India tidak hanya mencari pemasok, tetapi juga mengedepankan model kerja sama yang stabil, terukur, dan berbasis kesepahaman antar pemerintah. Skema seperti ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko volatilitas pasar global yang sering kali berdampak pada harga dan ketersediaan pupuk. Indonesia Buka Peluang Tetap Prioritaskan Domestik Di sisi lain, pemerintah Indonesia menyambut positif minat tersebut, dengan tetap menegaskan prinsip kehati-hatian dalam kebijakan ekspor. Sudaryono menyampaikan bahwa pembahasan ini juga menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk berkontribusi tanpa mengorbankan kebutuhan nasional. “Hari ini kami mendiskusikan salah satu topik utamanya adalah bagaimana India itu kemudian bisa mengamankan kebutuhan pasokan ureanya yang salah satu sumbernya adalah berasal dari Indonesia,” kata Sudaryono. Indonesia saat ini memiliki potensi surplus produksi urea sekitar 1,5 juta ton. Tetapi, ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi secara optimal guna menjaga stabilitas produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional. Pendekatan ini mencerminkan strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara peluang ekonomi dari ekspor dan tanggung jawab menjaga pasokan domestik. Pada konteks ini, pupuk menjadi komoditas strategis yang tidak bisa diperlakukan semata-mata sebagai barang dagangan biasa. Kerja sama ini juga diperkuat oleh faktor teknis yang menguntungkan kedua negara, yakni perbedaan siklus musim tanam. India memasuki periode tanam utama pada Juli hingga September, sementara Indonesia berada dalam fase aktivitas yang relatif lebih rendah. Perbedaan ini memberikan fleksibilitas dalam pengaturan distribusi pupuk, sehingga Indonesia dapat mengalokasikan sebagian produksinya untuk ekspor tanpa mengganggu kebutuhan petani dalam negeri. Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa kerja sama ini dinilai realistis untuk direalisasikan dalam waktu dekat. Selain itu, momentum ini juga memperlihatkan bagaimana koordinasi lintas negara dalam sektor pertanian dapat menghasilkan solusi yang saling menguntungkan, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Industri Pupuk Nasional Siap Tetapi Selektif Kesiapan Indonesia turut didukung oleh kapasitas produksi yang kuat. Direktur Utama Pupuk Indonesia Holding Company, Rahmad Pribadi, menegaskan ekspor akan tetap dilakukan secara terukur dan mengikuti siklus pertanian nasional. “Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri mencukupi. Kalau hitungan total nasional kan ada ekses tapi kita tahu ada musim tanam dan musim di luar tanam. Kita tidak mungkin ekspor saat musim tanam,” ulas Rahmad. Ia memastikan stok pupuk nasional berada dalam kondisi aman. “Saat ini (stok pupuk) 1,2 juta ton, ditambah produksi harian sekitar 25.000 ton urea dan 15.000 ton NPK. Jadi sangat cukup,” imbuhnya. Dengan kapasitas produksi yang mencapai puluhan juta ton per tahun, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk memainkan peran lebih besar di pasar global. Tetapi, kehati-hatian tetap menjadi prinsip utama agar tidak terjadi gangguan pada distribusi dalam negeri. Diplomasi Pertanian dan Peran Global Indonesia Dorongan dari Kedutaan India ini mencerminkan penguatan diplomasi berbasis pangan di tengah tekanan global terhadap rantai pasok pupuk. Kebutuhan pupuk yang tinggi, ditambah dengan ketidakpastian pasokan global, membuat negara-negara mulai mencari mitra yang stabil dan dapat diandalkan. Bagi India, Indonesia menawarkan kombinasi antara kapasitas produksi, kedekatan geografis, dan hubungan bilateral yang kuat. Sedang, bagi Indonesia, kerja sama ini membuka peluang untuk memperluas pengaruhnya dalam isu ketahanan pangan global. Lebih jauh, langkah ini juga memperlihatkan transformasi peran Indonesia dari sekadar produsen domestik menjadi aktor strategis dalam ekosistem pangan dunia. Dengan pengelolaan yang tepat, kerja sama seperti ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi internasional berbasis sektor riil.
Mantap! Petani Sawit Dapat Pupuk Gratis dan Mobil Angkut Panen dari Pemkab Dharmasraya
Sumbar, katakabar.com - Petani kelapa sawit dapat pupuk gratis dan mobil angkut panen di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat. Ini bukti Pemkab Dharmasraya, di bawah kepemimpinan Bupati Annisa Suci Ramadhani, SH, LLM., bersama Wakil Bupati Leliarni, S. Pd, M. Si, yang menghadirkan beragam program langsung ke tangan petani agar produktivitas, dan penghasilan mereka meroket. Lewat dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Pemkab Dharmasraya memberikan bantuan pupuk gratis, perbaikan jalan usaha tani, dan bahkan mobil langsir untuk angkutan hasil panen khusus kebun sawit berusia 4 tahun. Semua dilakukan agar panen bisa cepat dijual tanpa hambatan logistik. Selain itu, ada program replanting bagi sawit tua atau tidak produktif. Setiap hektare mendapatkan dana hingga Rp60 juta untuk bibit unggul, pupuk, pengolahan lahan, dan sarana kebun lainnya. Bahkan, anak-anak petani mendapat perhatian khusus lewat beasiswa hingga perguruan tinggi, menjadikan program ini bukan sekadar jangka pendek, tetapi investasi masa depan keluarga petani. Syarat untuk menikmati semua fasilitas ini cukup sederhana, tetapi tetap jelas. Petani harus tergabung dalam Kelompok Tani minimal 20 anggota, memiliki lahan 50 hektare, dan dokumen kepemilikan berupa Sertifikat atau Alashak. Kebun juga tidak boleh berada di kawasan hutan atau HGU perusahaan. Pemkab memastikan semua warga Dharmasraya memiliki kesempatan yang sama. Bagi petani yang masih bingung atau ragu soal prosedur, bisa langsung datang ke kantor wali nagari setempat. Alternatifnya, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Dharmasraya siap dihubungi di nomor 0853-5646-2272. “Pemkab akan aktif mendorong setiap usulan agar diterima BPDPKS dan cepat direalisasikan. Tujuannya jelas pendapatan petani meningkat, sawit Dharmasraya makin berkualitas, dan ekonomi desa bergerak maju,” kata salah satu pejabat Dinas Pertanian. Program ini jadi bukti nyata petani sawit Dharmasraya kini dimanjakan pemerintah. Dari bantuan pupuk gratis hingga replanting hingga beasiswa anak, semuanya dirancang untuk mendorong kesejahteraan dan produktivitas. Dengan langkah ini, Dharmasraya berpotensi jadi kawasan sawit paling progresif di Sumatera Barat, sekaligus jadi inspirasi bagi daerah lain.
Petani di Secanggang Langkat Keluhkan Pupuk Subsidi Dijual di Atas HET
Kios pupuk subsidi di Dusun II, Desa Karang Gading, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat Sumatera Utara, seolah tidak mematuhi peraturan Presiden ataupun Menteri Pertanian dan masih menjual di atas Harga Eceran Tertinggi
Belajar Bikin Pupuk Organik dari Limbah Sawit di Sebatik
Sebatik, katakabar.com - Penyuluh Pertanian Lapangan atau PPL Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara taja pelatihan pembuatan pupuk organik untuk kelompok tani. Pelatihan di Desa Padaidi berlangsung seru dan diikuti dengan penuh antusiasme oleh petani sawit. Acara ini dihadiri berbagai elemen penting, termasuk perwakilan Camat Sebatik, Kasi Trantib, para kepala desa (Kades), sekretaris desa (Sekdes), ketua dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta kelompok tani dan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT). Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan wawasan mengenai pentingnya penggunaan pupuk organik dalam mendukung pertanian berkelanjutan. Di kegiatan ini, PPL Pertanian memaparkan dinamika kelompok tani serta potensi pengembangan pupuk organik.
Petani Sawit Diajari Bikin Pupuk Organik Hingga Hindari Kredit Bermasalah
Banda Aceh, katakabar.com - Bank Aceh Syariah Cabang Jeuram, Kabupaten Nagan Raya gelar pelatihan peningkatan produktivitas bagi petani kelapa sawit di Nagan Raya dua hari lamanya, dari Selasa (8/10) hingga Rabu dan Rabu (9/10). Pelatihan ini diikuti 30 petani kelapa sawit. Di hari pertama, kegiatan digelar di Aula Hotel Bintang Syariah Simpang 4 Nagan Raya. Setelah sehari dibekali teori di kelas, di hari kedua peserta pelatihan mengikuti praktik langsung di lahan petani sawit di Desa Cot Kumbang, Kecamatan Kuala, Nagan Raya.
Seru Petani Sawit Gunakan Pupuk Hayati Mikroba Dongkrak Produksi
Pekanbaru, katakabar.com - Peneliti mikrobiologi tanah, Dr Lukman Gunarto menyerukan para petani kelapa sawit gunakan pupuk hayati mikroba hasil pengembangan dengan teknologi Agricultural Growth Promoting Inoculant (AGPI). Menurut peneliti di Balai Besar Litbang Pertanian itu, pupuk hayati mikroba dihasilkan dari riset yang berlangsung selama 13 tahun.
2024, Impor Pupuk Naik Signifikan Capai 70 Persen di Riau
Pekanbaru, katakabar.com - Impor produk pupuk naik signifikan sepanjang tahun 2024 ini di Provinsi Riau. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, selama periode Januari hingga Agustus 2024, nilai impor produk pupuk Riau mencapai USD 230,64 juta. Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023 sebesar USD 136,16 juta, jumlah meningkat sekitar 70 persen," ujar Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, dilansir dari laman EMG, Kamis (19/9).
Biar Tak Tersandung Hukum Pekebun Sawit Ditegaskan Beli Pupuk Kimia dari Sumber Resmi
Bengkulu, katakabar.com - Pekebun kelapa sawit diingatkan agar membeli pupuk kimia dari toko atau distributor resmi. Langkah ini diambil untuk mencegah terjadinya kasus penjualan pupuk hasil curian yang dapat membahayakan tanaman dan berdampak pada implikasi hukum serius. Penting untuk memastikan pupuk kimia yang digunakan pekebun kelapa sawit, tegas Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, M Rizon, berasal dari sumber yang sah atau resmi. Menurut Rizon, membeli pupuk hasil curian dapat membawa malapetaka dan konsekuensi hukum yang serius bagi para petani. "Kami minta pekebun kelapa sawit beli pupuk di toko pupuk resmi dan distributor jelas," seru Rizon, pada Ahad (14/4). Dijelaskan Rizon, tindakan membeli pupuk kimia dari hasil pencurian dapat membuat petani sawit terjerat kasus pidana. Bahkan tindakan itu tidak hanya merugikan pekebun kelapa sawit sendiri, tapi industri pertanian secara keseluruhan. "Membeli pupuk kimia hasil curian tentu saja merugikan pekebun kelapa sawit dan industri pertanian secara keseluruhan," terangnya. Kasus penjualan pupuk hasil curian, tutur Rizon, bukan masalah baru di dunia pertanian. Sebelumnya, telah terjadi beberapa insiden di mana pupuk kimia yang diperoleh secara ilegal sebabkan kerugian besar bagi petani. "Kasus seperti itu bukan hal baru, kadang ada pekebun kelapa sawit tanpa sengaja membeli pupuk kimia dari hasil pencurian, makanya kita minta mereka membeli di sumber resmi," sebutnya. Seorang pekebun kelapa sawit di Bengkulu, Ahmad mengaku, membeli pupuk dari sumber yang sah menjadi kunci untuk menghindari masalah yang mungkin timbul. Jadi, dirinya selalu menghindari membeli pupuk dari orang yang menawarkan langsung ke rumah. "Saya selalu pastikan membeli pupuk dari toko yang terpercaya. Hal ini tidak hanya untuk keamanan tanaman saya tetapi juga untuk menghindari masalah hukum," ulasAhmad. Selain itu, ucap Ahmad, membeli pupuk dari sumber yang tidak jelas berisiko mendapatkan pupuk dengan kualitas yang rendah. Sehingga dapat mengakibatkan penurunan produktivitas tanaman dan kerugian finansial. "Beli pupuk dari sumber yang tidak sah takut, nanti tidak berkualitas dan palsu," tandasnya.
Petani Kreatif, Sampah Efektif Jadi Pupuk Tanaman Sawit
Bengkulu, katakabar.com - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD( Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring dorong petani kelapa sawit untuk memanfaatkan sampah jadi pupuk organik. Di mana beberapa petani kelap sawit di Bengkulu sebelumnya sudah mempraktikkan konsep itu, dengan mendirikan Bank Sampah, dan mengelola limbahnya, seperti sisa makanan dan sayuran menjadi pupuk organik. Sebagai upaya mengelola sampah organik, petani tidak hanya membuang limbah rumah tangga ke tempat pembuangan sampah, tapi secara aktif terlibat mendaur ulang. Hasilnya fantastis, mereka berhasil memproduksi lebih dari 1 ton pupuk organik per bulannya. Inisiatif seperti ini tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan, tapi mempu ciptakan peluang ekonomi baru bagi petani kelapa sawit. "Kita jangan hanya menjadi pembuang sampah, tapi bisa mengelola sampah organik menjadi pupuk, bahkan beberapa petani sudah bisa memproduksi pupuk organik hingga 1 ton per bulan dari sampah organik rumah tangga," kata Usin, kemarin, dilansir dari laman elaeis.co, pada Ahad (19/11). Menurut Usin, memanfaatkan sampah organik sebagai pupuk adalah langkah cerdas dan berkelanjutan. Hal ini memberikan kontribusi positif kepada lingkungan. Sampah yang didirikan petani kelapa sawit menjadi sarana yang efektif dalam mengumpulkan, mengelola, dan mengolah sampah organik. Melalui kerja sama komunitas, mereka telah membuktikan limbah rumah tangga dapat diubah menjadi sumber daya yang bernilai yang ramah lingkungan. "Mari kita dirikan Bank Sampah, buktikan limbah rumah tangga dapat diubah menjadi sumber daya yang bernilai, yakni pupuk organik yang ramah lingkungan," imbaunya.
Pupuk Langka Momok Bagi Petani Sawit di Seluma
Bengkulu, katakabar.com - Pupuk langka menjadi momok bagi sejumlah petani kelapa sawit di Desa Padang Merbau, Kecamatan Seluma Selatan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Lantaran pupuk non-subsidi langka, para petani mengeluhkan kualitas tanaman mereka mulai menurun imbas kelangkaan pupuk. "Pupuk sangat langka di desa kami. Padahal katanya tersedia di kios. Tapi, sulit bagi petani untuk mendapatkannya," ujar Elian Hardoni, Kepala Desa Padang Merbau, kemarin, dilansir dari lama elaeis.co, pada Ahad (12/11). Cerita Elian, petani sudah memberitahukan kondisi ini ke penyuluh pertanian di kecamatan. Tapi hingga kini belum ada solusinya. "Sudah beberapa kali disampaikan ke penyuluh, tapi belum ada hasilnya. Petani tetap masih kesulitan mendapatkan pupuk," jelas Elian. Jadi, tambah Elian, kita minta tolong kepada Dinas Pertanian untuk membantu petani agar bisa mendapatkan pupuk. Bupati Seluma, Erwin Octavian menjelaskan, pihaknya berupaya menyediakan pupuk bagi petani sawit. "Kita akan sampaikan masalah ini ke distributor, biar petani sawit dapat memperoleh pupuk," imbuhnya.