Ramah Lingkungan
Sorotan terbaru dari Tag # Ramah Lingkungan
Permintaan Global Meningkat: Industri Sawit Dituntut Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan
Jakarta, katakabar.com - Deputy Secretary General Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Dr. Musdhalifah Machmud, saat diskusi 2nd International Palm Oil Research and Innovation Conference (IPORICE) 2025 di Jakarta, menyatakan permintaan minyak sawit global saat ini meningkat seiring pemulihan ekonomi global. Tetapi peluang ini bisa dimanfaatkan secara optimal, bila industri sawit bertransformasi lebih ramah lingkungan, dan berkelanjutan. “Permintaan kelapa sawit dunia saat ini melonjak. Ini peluang besar, tetapi hanya bisa berkelanjutan melalui transformasi sawit ramah lingkungan,” kata Dr. Musdhalifah, dilansir dari laman media perkebunan.id, Jumat siang. Dijelaskannya, negara produsen kelapa sawit harus mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian hutan. Data terbaru menunjukkan Indonesia masih memiliki 63 persen tutupan hutan, Malaysia 62 persen, Kolombia 68 persen, Kongo 69 persen, dan Nigeria 23 persen. Angka ini membuktikan perkebunan sawit tidak serta merta identik dengan deforestasi. “Tidak terbukti sawit merusak hutan, justru membantu ekonomi masyarakat sekitar,” ulasnya. Menurutnya, isu keberlanjutan mesti ditegaskan melalui keunggulan siklus produksi kelapa sawit. Dengan masa produktif hingga 25 tahun hanya dari satu kali penanaman, sawit dinilai lebih efisien dibanding tanaman minyak nabati lain. Selain itu, kata Dr. Musdhlifah, perkembangan teknologi telah memungkinkan pemanfaatan limbah cair maupun padat menjadi produk bernilai tambah. “Kalau kita bicara green economy, maka palm oil merupakan produk green economy,” ucapnya. Soal tudingan hilangnya keanekaragaman hayati akibat perkebunan sawit, ia menepis klaim tersebut dengan menekankan populasi satwa endemik seperti gajah di Indonesia relatif stabil meski perkebunan berkembang. Dari 2014 silam, Indonesia telah mengembangkan skema sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) untuk memastikan praktik perkebunan memenuhi standar keberlanjutan. Lalu, Dr. Musdhalifah soroti tantangan baru dari kawasan Amerika Latin yang mulai melirik kelapa sawit sebagai komoditas unggulan. Lantaran itu, penting bagi negara-negara produsen untuk menunjukkan bahwa minyak sawit dapat dikembangkan tanpa mengganggu lingkungan. “Kalau ada pihak yang menyebarkan isu deforestasi, kita tunjukkan datanya,” tegasnya. Ia menutup paparannya dengan ajakan kolaborasi lintas sektor, termasuk dukungan lembaga penelitian nasional.
Kurangi 5.502 Roll Kertas Tiket, KAI Daop 1 Jakarta Dorong Transportasi Ramah Lingkungan
Jakarta, katakabar.com - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi atau PT KAI Daop 1 Jakarta terus perkuat komitmen hadirkan layanan transportasi yang modern, sekaligus ramah lingkungan. Itu diimplementasikan lewat penerapan face recognition boarding gate, KAI Daop 1 Jakarta berhasil menekan penggunaan 5.502 roll kertas tiket sepanjang Januari hingga Agustus 2025. Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Ixfan Hendriwintoko menjelaskan, pengurangan penggunaan kertas tiket ini terjadi di tiga stasiun utama yang telah dilengkapi dengan fasilitas face recognition boarding gate, yakni Stasiun Gambir, Stasiun Pasar Senen, dan Stasiun Bekasi. “Penghematan dari 5.502 roll kertas tiket tersebut setara dengan biaya Rp81.234.298. Dengan fasilitas ini, pelanggan cukup dengan memindai wajah pada alat pemindai wajah untuk melakukan proses boarding tanpa perlu mencetak tiket fisik,” ujar Ixfan.
Ramah Lingkungan Alasan Utama Pengembangan Biohidrokarbon Sawit di Indonesia
Lalu, (3) meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit karena dapat meningkatkan harga jual FFB dan CPO. (4) meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia di pasar global hingga (5) mendukung pembangunan berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. PASPI (2025) menjelaskan proses produksi biohidrokarbon sawit melibatkan beberapa tahap, antara lain pengolahan CPO menjadi bahan baku biohidrokarbon dan pemurnian, serta modifikasi produk. Dalam tahap awal, CPO diolah menjadi bahan baku biohidrokarbon melalui proses transesterifikasi atau hidrogenasi. Proses transesterifikasi melibatkan reaksi antara CPO dengan metanol dan katalis untuk menghasilkan metil ester (biodiesel) dan gliserol. Untuk proses hidrogenasi melibatkan reaksi antara crude plam oil atau CPO dengan hidrogen dan katalis untuk menghasilkan hidrokarbon. Kemudian pada tahun selanjutnya produk hasil transesterifikasi atau hidrogenasi dipurnakan dan dimodifikasi untuk memenuhi standar kualitas yang sudah ditetapkan. Soal teknologi, PASPI (2025) paparkan teknologi yang digunakan untuk memproduksi biohidrokarbon secara umum diklasifikasikan menjadi dua kategori utama, yakni termokimia dan biokimia. Teknologi Termokimia: Teknologi termokimia memanfaatkan panas dan tekanan dalam proses transformasi biomassa menjadi biohidrokarbon. Di antara teknologi termokimia, yang paling umum digunakan, meliputi pirolisis, gasifikasi, dan likuifikasi hidrotermal. Diketahui, pirolisis adalah proses memecah biomassa menjadi campuran gas, cairan, dan arang. Cairan tersebut dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan biohidrokarbon. Terus likuifikasi hidrotermal adalah proses yang mengubah biomassa menjadi minyak mentah bio, yang merupakan cairan kental yang dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan biohidrokarbon. Teknologi Biokimia: Teknologi biokimia menggunakan mikroorganisme untuk mengubah biomassa menjadi biohidrokarbon. Teknologi biokimia yang paling umum adalah fermentasi dan produksi minyak alga. Sebagai gambaran, fermentasi merupakan proses yang menggunakan mikroorganisme untuk mengubah gula menjadi biohidrokarbon. Misalnya, ragi dapat digunakan untuk fermentasi gula menjadi etanol yang merupakan biohidrokarbon dan dapat digunakan sebagai aditif bensin. Lalu, produksi minyak alga adalah proses yang menggunakan alga untuk menghasilkan minyak yang dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan biohidrokarbon. Alga adalah jenis organisme fotosintesis yang dapat tumbuh di berbagai lingkungan, termasuk air laut dan air limbah. Saat ini industri biohidrokarbon kelapa sawit di Indonesia telah mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa perusahaan besar seperti PT Pertamina (Persero) dan Pupuk Kaltim telah melakukan investasi dalam produksi biohidrokarbon sawit. Implikasi penggunaan biohidrokarbon sawit bagi pembangunan berkelanjutan adalah dapat membantu mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang telah ditetapkan oleh PBB dalam Agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan (PASPI, 2025).
Isi Ulang Minum Gratis di Stasiun LRT Jabodebek, Jadikan Perjalanan Ramah Lingkungan
Jakarta, katakabar.com - Sebagai bagian dari gerakan menuju mobilitas yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan, KAI mengajak seluruh pengguna LRT Jabodebek untuk membiasakan diri membawa tumbler atau botol minum pribadi saat bepergian. Kebiasaan kecil ini tak hanya berdampak positif bagi kesehatan dan kenyamanan, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi sampah plastik dan menjaga kelestarian lingkungan. KAI menyediakan fasilitas air minum gratis (water station) di seluruh stasiun LRT Jabodebek yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh pengguna. Fasilitas ini dihadirkan untuk mendukung gaya hidup minim sampah dan mendorong kesadaran akan pentingnya mengurangi konsumsi botol plastik sekali pakai. Water station yang KAI sediakan telah memenuhi prasyarat kesehatan yang ketat, dengan air yang telah dianalisis di Water Quality Laboratory (WQL) yang dikelola oleh Coway bersama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan. Executive Vice President LRT Jabodebek, Mochamad Purnomosidi, menyampaikan bahwa keberadaan water station merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung gaya hidup hijau di tengah mobilitas masyarakat. “Membawa tumbler sendiri saat bepergian adalah langkah sederhana namun berdampak besar. Kita tidak hanya lebih hemat dan sehat, tapi juga ikut menjaga lingkungan dari timbunan sampah plastik,” ujarnya.
KAI Daop 4 Semarang Catat Lebih 1 Juta Penumpang Gunakan FRBG Dukung Layanan Modern dan RL
Semarang, katakabar.com - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang mencatat sebanyak 1.051.855 penumpang telah memanfaatkan fasilitas Face Recognition Boarding Gate atau FRBG, selama periode Januari hingga Mei 2025. Penerapan teknologi ini menjadi bagian dari transformasi digital KAI untuk meningkatkan kemudahan, kenyamanan, dan efisiensi dalam proses boarding pelanggan KA jarak jauh. Face Recognition Boarding Gate atau FRBG memungkinkan pelanggan untuk naik kereta api tanpa harus menunjukkan tiket fisik, e-boarding pass, atau KTP. Cukup dengan memindai wajah di mesin boarding gate, seluruh data tiket dan identitas penumpang yang telah terintegrasi dalam sistem KAI akan diverifikasi secara otomatis waktu hanya 1 detik, sehingga proses boarding menjadi lebih cepat, praktis, dan bebas repot. “Penerapan teknologi ini bagian dari komitmen KAI untuk menghadirkan layanan transportasi publik yang modern, efisien, sekaligus mendukung konsep ramah lingkungan,” kata Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Franoto Wibowo lewat keterangan resmi diterima katakabar.com, Selasa siang Saat ini, ujar Franoto, Face Recognition Boarding Gate atau FRBG telah tersedia di empat stasiun di wilayah Daop 4 Semarang, yakni Stasiun Semarang Tawang, Stasiun Semarang Poncol, Stasiun Pekalongan, dan Stasiun Tegal. Dari keempat stasiun tersebut, ulasnya, tercatat jumlah pengguna fasilitas ini untuk di Stasiun Semarang Tawang sebanyak 475.885 penumpang, Stasiun Semarang Poncol sebanyak 236.493 penumpang, Stasiun Tegal sebanyak 170.919 penumpang, dan Stasiun Pekalongan sebanyak 168.558 penumpang. Selain meningkatkan kecepatan layanan, teknologi ini juga sejalan dengan upaya KAI mendukung Sustainable Development Goals atau SDGs, khususnya dalam aspek pengurangan limbah kertas. Selama lima bulan pertama tahun 2025, KAI Daop 4 Semarang berhasil memangkas penggunaan 8.765 roll kertas tiket, atau setara dengan 1 juta lebih lembar kertas yang biasanya digunakan untuk boarding pass fisik. "Inovasi ini bukan hanya soal kecepatan atau kenyamanan, tetapi bagian dari gerakan sadar lingkungan. Satu wajah yang dipindai berarti satu tiket yang tidak perlu dicetak. Ini wujud nyata upaya kami mendukung keberlanjutan lingkungan melalui pengurangan sampah kertas dan emisi karbon dari proses produksi serta distribusi tiket fisik," terang Franoto. Untuk dapat menggunakan fasilitas ini, tuturnya, pelanggan cukup melakukan satu kali registrasi layanan Face Recognition melalui aplikasi Access by KAI atau langsung melalui petugas di stasiun. Di aplikasi, pelanggan dapat membuka menu “Akun” → “Registrasi Face Recognition”, lalu mengikuti petunjuk yang tersedia. Setelah terdaftar, pelanggan tidak lagi memerlukan boarding pass cetak dan bisa langsung menuju gate saat waktu keberangkatan tiba.
Upaya Ajinomoto Ciptakan Bisnis Ramah Lingkungan
Jakarta, katakabar.com - PT Ajinomoto Indonesia (Ajinomoto) konsisten terus mendorong harapan hidup sehat masyarakat Indonesia, dan menghadirkan bisnis yang ramah lingkungan. Salah satu upaya itu diwujudkan lewat transformasi karyawan Grup Ajinomoto Indonesia dalam bingkai Ajinomoto Health Provider. Ajinomoto Health Provider inisiatif keberlanjutan terintegrasi dari Grup Ajinomoto Indonesia yang meliputi aktivitas yang menunjang kesehatan bagi manusia dan kelestarian lingkungan. Head of Corporate Communications Ajinomoto, Grant Senjaya menyatakan, inisiatif keberlanjutan Ajinomoto tidak hanya pada aspek operasional, tapi mentransformasi karyawan menjadi Health Provider fokus pada kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan. “Transformasi seluruh karyawan menjadi Health Provider merupakan upaya perusahaan untuk perpanjang harapan hidup sehat masyarakat Indonesia dan menciptakan bisnis yang ramah lingkungan sesuai dengan visi perusahaan pada 2030,” ujarnya. Grant menuturkan, Health Provider di pabrik Ajinomoto di Mojokerto dan Karawang, konsisten melakukan berbagai upaya menekan limbah (waste) hasil produksi dan mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomis bagi masyarakat dan lingkungan. Pada sisi operasional, jelas Grant, pabrik Ajinomoto berupaya menekan emisi karbon dan mendorong efisiensi penggunaan air pada proses produksi. Produk Ajinomoto saat ini sedikit demi sedikit mulai beralih dengan menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Misalnya salah satu brand Ajinomoto, yakni Masako berpartisipasi dalam pengurangan plastik melalui inisiatif pengurangan penggunaan plastik pada bagian header part serta menghilangkan plastik inner part. Produk lainnya, MSG Ajinomoto mengeluarkan produk MSG Ajinomoto kemasan kertas yang dapat membantu pengurangan material plastik untuk kemasannya hingga 30 persen. Praktik Ekonomi Sirkular Grant melanjutkan, Ajinomoto konsisten mempraktikkan ekonomi sirkuler melalui pembuatan produk samping (co-products) dari proses pembuatan MSG menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi berupa pupuk AJIFOL dan AMINA yang mempunyai nilai jual. Lanjutnya, pabrik Ajinomoto di Mojokerto juga mengoperasikan boiler biomassa yang menggunakan wood pellet, sebagai bahan bakar pengganti batu bara, sehingga emisi karbonnya lebih ramah lingkungan. “Pabrik kami mulai memanfaatkan tenaga surya dan melakukan pemanenan air hujan (rain harvesting) untuk membantu penghematan energi dalam aktivitas produksi,” bebernya. Grant menambahkan, Ajinomoto bekerja sama dengan Rekosistem dengan menyediakan fasilitas waste station di Pasar Sememi, Surabaya, sebagai upaya untuk meningkatkan pengelolaan dan meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam mengelola sampah plastik. Diketahui, Rekosistem adalah startup penyedia solusi waste management, dan recycling services untuk optimasi nilai tambah sampah. “Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada Juni 2024, Ajinomoto ingin mengajak seluruh masyarakat untuk berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan, dimulai dari hal yang dekat dengan keseharian kita, seperti memilah sampah plastik supaya dapat membantu pihak terkait dalam proses pengelolaan dan daur ulang,” tandasnya.
RSPO PTPN Kebun Bekri Industri Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan
Lampung Tengah, katakabar.com - Surveillance Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Kebun Bekri industri ramah dan berkelanjutan. "Industri ramah lingkungan dan berkelanjutan yang menjadi tuntutan dunia terus dijaga PTPN Group. Salah satu upaya sistematisnya dengan menggandeng lembaga sertifikasi untuk memastikan seluruh proses bisnis dilakukan memenuhi standar prosedur yang disepakati masyarakat internasional," kata Region Head PTPN I Regional 7, Denny Ramadhan saat membuka Audit Surveillance Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Kebun Bekri, di penghujung Januari 2024 lalu, dilansir dari laman Sumatera Post, pada Ahad (4/2). Menurut Denny, seluruh produk yang dihasilkan dari Regional 7, terutama kelapa sawit, yakni komoditas global yang harus memenuhi semua kriteria mutu dan kelayakan dunia. “Mau tidak mau, industri kita sudah berada pada orbit global yang mengharuskan semua aspek, dari hulu hingga hilir memenuhi standar internasional. Makanya audit dan sertifikat RSPO ini kebutuhan untuk menghalau semua hambatan proses dari awal budidaya sampai produk ke tangan konsumen. Artinya, lembaga sertifikasi yang diundang ini harus mengikuti semua rekomendasinya,” jelasnya. Audit Surveillance RSPO yang dipercayakan kepada Lembaga Sertifikasi TUV Rheinland Indonesia dan dipusatkan di Kebun Bekri ini bakal periksa tiga kebun, yakni Kebun Bekri yang memiliki kebun kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit, Kebun Padangratu (kebun kelapa sawit), dan Kebun Rejosari-Pematang (kebun kelapa sawit). "Sesuai jadwal, selama empat hari Tim dari Lembaga Sertifikasi yang berpusat di Jerman menelisik dokumen, data, kondisi lapangan sebagai konfirmasi dari data, respons karyawan, hingga meminta pandangan kepada berbagai stakeholder," ucapnya. Pj Kabag SDM dan Sistem Manajemen, Ronald Sudrajat dan beberapa pejabat utama turut mendampingi Region Head PTPN I Regional 7. Ada tiga Manajer Kebun bakal diaudit, yakni Agus Faroni (Bekri), Rusman Ali Yusuf (Rejosari-Pematang Kiwah), dan M. Zein Shosan (Padangratu) bersama timnya terlihat siap dengan berbagai dokumen dan instrumen yang dibutuhkan. Kepada para Manajer, Denny mengingatkan agar seluruh dokumen yang dibutuhkan Tim Auditor untuk disiapkan secara cepat dan akurat. Untuk tim diminta selalu siaga, jika tim Auditor merasa perlu mengkonfirmasi data atau dokumen dengan kondisi aktual di lapangan. “Sekali lagi, audit ini untuk kepentingan kita agar semua berjalan dengan baik dan sesuai standar. Siapkan dokumen, data, dan pendukung lain yang dibutuhkan dengan cepat dan akurat," bebernya. Kecepatan dan akurasi kita, tutur Denny, menjadi tolok ukur data dan dokumen kita memang siap sehingga tidak mencurigakan. Sebelum turun ke lapangan, tim Audit dari TUV Rheinland Indonesia yang dipimpin Ade Sudiana menjabarkan, ruang lingkup dan teknis survei yang dilakukan. Secara detail Ade menerangkan berbagai aspek yang akan menjadi objek survei, dari aspek dokumen, data, aspek fisik (on farm dan off farm), opini karyawan, kesan dan pandangan masyarakat, hingga aspek sosial budaya lingkungan. “Kami yakin tiga unit Kebun ini, Bekri, Padangratu, dan Rejosari-Pematang Kiwah ini sudah siap semua. Ini Audit RSPO yang kedua di sini. Tahun lalu tiga Kebun ini sudah dapat sertifikat RSPO. Jadi sudah sangat paham," sebutnya. Lebih dari itu, ulasnya, untuk tahun ini kita masih menggunakan RSPO P&C Certification System Year 2020. Artinya, masih sama dengan tahun lalu. Selapas pembukaan, Ade menekankan Sertifikat RSPO adalah instrumen sistem pengendalian operasional suatu proses produksi kelapa sawit yang disepakati secara internasional. Keikutsertaan suatu entitas industri kelapa sawit ke RSPO, kata dia, bersifat sukarela. Tapi, dengan Sertifikat RSPO yang dimiliki, suatu entitas industri kelapa sawit bakal mendapat citra baik dan kepercayaan dari para pihak dalam kaitan proses bisnis yang dijalankan. “Tidak ada regulasi keharusan industri kelapa sawit untuk ikut RSPO, tapi Sertifikat RSPO memberi kepercayaan kepada publik dalam berinteraksi bisnis dengan pihak luar. Selain kaitannya dengan buyer, tapi dengan pemerintah, pasar saham, lembaga terkait seperti LSM lingkungan, organisasi buruh, asosiasi, dan lainnya. Ini salah satu pilar branding bagi perusahaan,” imbuhnya. Pada time schedule yang disampaikan, Tim TUV Rheinland Indonesia menerjunkan lima auditor senior dan melakukan pemeriksaan selama empat hari. Tim mengagendakan peninjauan dan pencocokan data soal tanaman, struktur tanah, limbah, tenaga kerja, upah, perizinan, keselamatan dan kesehatan kerja hingga hubungan antar karyawan. Mereka membuat jadwal untuk bertemu dan mewawancarai stakeholder, seperti kepala desa, tokoh masyarakat, warga yang tinggal di seputar perusahaan, hingga pengelola fasilitas umum. Manajer Kebun Bekri, Agus Faroni dalam sambutan singkatnya sampaikan terima kasih kepada Tim Auditor dari TUV Rheinland Indonesia dalam agenda audit surveillance ini. Dilaporkannya, secara umum kondisi terkini di Kebun Bekri, Padangratu, dan Rejosari-Pematang Kiwah relatif masih sama dengan audit sebelumnya. Meski beberapa aspek nonfisik sudah mengalami perubahan yang lebih baik. “Khusus untuk Kebun Bekri, kami mengelola kebun kelapa sawit secara keseluruhan seluas 4.234 hektar dengan dua unit pabrik, meliputi pabrik Crude Palm Oil (CPO) dengan kapasitas 40 ton per jam dan pabrik Inti Sawit dengan kapasitas 50 ton per hari. Dengan senang hati kami akan membuka diri dan menerima masukan untuk perbaikan ke depan,” tandasnya.
Peniliti USK Ciptakan Mosaic Panel Palm Fronds Dari Pelepah Kelapa Sawit
Banda Aceh, katakabar.com - Peneliti Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh berhasil ciptakan inovasi anyar material bangunan ramah lingkungan dari limbah pelepah kelapa sawit. Adalah tim peneliti dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, yang dipimpin Prof. Akhyar bersama Dr. Asri Gani dan Drs. Ahmad Farhan dari Teknik Mesin dan Pusat Riset Sawit dan Kelapa (PRSK), yang sukses kembangkan inovasi terbaru Mosaic Panel Palm Fronds ramah lingkungan. Mereka menciptakan Mosaic Panel Palm Fronds material papan yang dibuat dari limbah pelepah kelapa sawit yang diolah dengan proses ketam. Panel itu, yakni susunan bilah pelepah sawit yang telah dihaluskan. Inovasi ini telah resmi terdaftar dengan nomor Paten S00202300168. Ketua Tim Peneliti, Prof. Akhyar menjelaskan, Inovasi ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan kayu dalam konstruksi, partisi ruangan, furnitur, dan material arsitektur lainnya terhadap konservasi lingkungan. "Mosaic Panel Palm Fronds hadir sebagai solusi yang ramah lingkungan, ekonomis, dan mudah didapat," ujarnya, kemarin, dilansir dari laman ruangberita.co, pada Selasa (21/11). Pelepah kelapa sawit selama ini dianggap sebagai limbah, kata Prof. Akhyar, padahal dapat menjadi solusi berkelanjutan. Mosaic Panel Palm Fronds tidak hanya mudah didapat dan ekonomis, sebab bersumber dari limbah tapi memiliki dampak positif terhadap lingkungan lantaran mudah terurai. Hal ini menjadikannya pengganti ideal untuk finger joint board atau mosaic wood panel yang menggunakan material kayu dengan kelemahan harga mahal dan tidak ramah lingkungan. Dalam perkembangannya, tutur Prof. Akhyar, pihaknya telah berhasil menciptakan produk meja dan kursi minimalis menggunakan alas dari Mosaic Panel Palm Fronds. Rangka meja dan kursi terbuat dari Baja Hollow yang dipotong dan dibentuk dengan metode pengelasan. Produk ini diproduksi di laboratorium Teknik Mesin USK dengan mitra Badan Usaha Dayah Anak Yatim Pesantren Darul Hikmah Al-Ishlahiyah Al-Aziziah Cot Yang Kuta Baro Aceh Besar, yang dipimpin oleh Abati Tgk Lukmanul Hakim," bebernya. Profesor muda itu berharap, inovasi berkelanjutan ini tidak hanya menjadi langkah signifikan dalam mendukung keberlanjutan lingkungan, tapi membuka peluang untuk pengembangan industri kayu berkelanjutan dengan memanfaatkan limbah sebagai bahan baku utama. Diketahui, Produk inovatif ini hasil dari program penelitian Hibah Hilirisasi Inovasi USK (H2IU) dan Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis, Produk (PKMBP) yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM)-Universitas Syiah Kuala (USK). Hasil Inovasi Mosaic Panel Palm Fronds ini telah dipamerkan dalam Expo 13th AIC 2023 pada November 2023, untuk menandai langkah penting dalam pengembangan industri kayu yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.