Saingi
Sorotan terbaru dari Tag # Saingi
Kita Punya PalmCo, Indonesia Siap Saingi Perusahaan Sawit Terbesar di Asia
Jakarta, katakabar.com - Indonesia telah memiliki PalmCo, sub holding PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Group. Ini Artinya, RI siap bersaing dengan perusahaan sawit terbesar di Asia. Berdirinya PalmCo diyakini berpotensi kuat mengalahkan perusahaan sawit besar di Asia, seperti Sime Darby Plantation Malaysia dan Golden Agri-Resources Singapura hingga perusahaan-perusahaan sawit besar di dalam negeri. Diketahui, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) mengumumkan rencana penggabungan 13 perusahaan di bawah Holding Perkebunan Nusantara menjadi dua Sub Holding, tahun lalu. PalmCo jadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas perkebunan, dan kapasitas produksi komoditas olahan sawit, termasuk hasil panen tandan buah segar (TBS), serta kapasitas produksi crude palm oil (CPO), minyak nabati dan minyak goreng. Head of Industry Regional Research Bank Mandiri, Dendi Ramdani menuturkan, PalmCo memiliki modal utama untuk dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan sawit terbesar di Asia, terutama eksisting lahan yang strategis dari sisi geografis. “PTPN itu istilahnya kalau sektor kelapa sawit kebun kelas satu. Pengusaha-pengusaha kelapa sawit terakhir ini kelas dua dan kelas tiga. Itu dilihat dari kesuburan geografis. Maksudnya geografis, kalau jauh ongkos transportasi dan distribusi mahal. Jadi PTPN ini potensinya besar banget. Simple, asetnya bagus. Kalau perkebunan ya asetnya tanah dan kebunnya,” ujarnya, di Jakarta dilansir dari laman okezone.com, pada Minggu (13/8). Dendi menjabarkan, sesungguhnya sederhana saja melihat potensi PalmCO, dari posisi awal asetnya sudah bagus, terus perbaikan manajemen dan balance sheet (neraca keuangan) sudah mulai dilakukan lewat transformasi perusahaan. Reorganisasi PTPN Group dari banyak perusahaan yang memiliki jenis bisnis sama digabung membentuk sub holding. Dendi membandingkan kebijakan di PTPN dan PT Semen Indonesia yang menggabungkan tiga perusaahan semen “Emang arahnya (pembentukan PalmCo) bagus, seperti di semen. Mereka itukan sebenarnya karakter bisnisnya itu sama. Mereka buat dari beberapa perusahaan, Ada skala ekonomis, semua bergerak dibidang yang sama. Itu yang sebetulnya nanti arahnya ke sana,” bebernya. Untuk aset eksisting dan tanaman tua sebutnya, tinggal dilakukan replanting atau peremejaan tanaman, sehingga produktivitas meningkat. Berikutnya, perbaikan balance sheet, termasuk melanjutkan restrukturisasi utang dari laporan keuangan tahun 2020 yang sedang berjalan. “Balance sheet itu dibagusi. Biar cantik nanti IPO-nya. Utang-utang diberesi. Paling penting adalah perbaikan manajemen, pengelolaan kalau teknis pemeliharaan dan perawatan, sehingga produktivitasnya meningkat,” terangnya. Jika neraca keuangan telah baik, otomatis investasi bakal masuk. Bila diperlukan penarikan utang baru, masih tetap diminati investor karena pinjaman dipastikan digunakan membiayai kegiatan produktif di perusahaan. Satu hal yang tidak kalah penting, tambah Dendi adalah pembenahan manajemen, sehingga semua strategi bisnis berjalan efisien dan konsisten. Selanjutnya, tambahnya lagi, perlu dipikirkan untuk pengembangan hilirisasinya dan memperkuat industri processing. “Kalau kebun sudah produktif, balance sheet sudah bagus dan manajemen mendukung, PalmCo punya kemampuan menarik moral. Jadi, bisa bangun processing industrinya. Tidak berhenti di CPO, tapi bisa ke oleochemical dan produk-produk turunan sawit, nanti arahnya ke sana. Itu pada akhirnya langkah lanjutan ke sana,” ucapnya. Secara umum sambungnya, pembentukan PalmCo ini memberikan harapan baru bagi BUMN perkebunan karena sangat potensial untuk dikembangkan menjadi perusahaan sawit kelas dunia. “Asetnya bagus sekali PTPN itu. Itu Bagus sekali dari sisi kesuburan dan geografis, mereka rata-rata letaknya sangat strategis dan infrastrukturnya sangat strategis. Pergi saja ke kebun PTPN di sekitar Sumatera Utara, kebunnya sangat bagus, memang itu manajemen dan produktivitas yang perlu diperbaiki,” katanya. Tidak hanya letaknya strategis, lahan PalmCo sudah mengalahkan dua perusahaan sawit terbesar di Asia itu. Perkebunan Nusantara (PTPN) V, VI dan XIII akan bergabung ke dalam PTPN IV untuk membentuk sub holding PalmCo, sehingga luas lahan konsolidasi sekitar 600 ribu hingga 700 ribu hektar. Luasan ini lebih besar dibandingkan lahan milik Sime Darby yang terdiri dari land bank seluas 266.488 hektar dan area tertanam 193.758 hektar. Lahan PalmCo lebih luas dari luas tanaman Golden Agri yang diketahui sekitar 485.606 hektar luasnya.