Tulang Punggung

Sorotan terbaru dari Tag # Tulang Punggung

Sinyal dan Telekomunikasi Tulang Punggung Keselamatan dan Kelancaran Operasional KA Tekno
Tekno
Rabu, 30 Juli 2025 | 08:16 WIB

Sinyal dan Telekomunikasi Tulang Punggung Keselamatan dan Kelancaran Operasional KA

Jakarta, katakabar.com - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta atau KAI Daop 1 Jakarta menegaskan pentingnya peran vital bidang Sinyal dan Telekomunikasi atau Sintel jamin keselamatan, keamanan, dan kelancaran perjalanan kereta api. Keandalan peralatan persinyalan dan wesel menjadi komponen utama yang tidak terpisahkan dalam sistem operasional kereta api modern, baik dari sisi pengaturan perjalanan maupun pengendalian lalu lintas KA di lintas dan stasiun. Peralatan persinyalan berfungsi sebagai media komunikasi visual antara Masinis dan Pengatur Perjalanan Kereta Api atau PPKA. Informasi yang tersaji harus terbaca jelas, akurat, dan tegas, baik pada sistem elektrik maupun mekanik. Sementara itu, wesel sebagai pengatur arah jalur kereta api harus berada dalam posisi yang benar, presisi dan selaras dengan sinyal yang ditunjukkan, guna mencegah potensi kecelakaan dan menjamin pergerakan kereta yang aman. “Peran petugas Sintelis sangat krusial dalam merawat dan memastikan seluruh perangkat persinyalan serta telekomunikasi berada dalam kondisi prima. Kecakapan, kedisiplinan, dan konsistensi dalam pelaksanaan perawatan harian, mingguan, bulanan hingga 6 bulanan harus terus dijaga demi tercapainya zero accident,” ujar Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Ixfan Hendriwintoko. Aset Sintel Daop 1 Jakarta: Kompleks dan Strategis Saat ini, terdapat 194 pekerja organik yang tergabung dalam bagian Sintel Daop 1 Jakarta yang bertanggung jawab dalam perawatan berbagai aset vital. Berikut data aset yang dikelola: Wesel: 857 unit Peralatan dalam (elektrik & mekanik): 278 unit Pendeteksi KA (kontak deteksi elektromekanis, track circuit, axle counter): 2.257 unit Pintu Perlintasan: 118 unit Point Lock/Perintang/Pelalau: 24 unit Negative Check Persinyalan Mekanik: 4 unit CTC/CTS: 78 unit Location Case: 292 unit Catu Daya: 212 unit Saluran Kawat: 52 unit Radio Lok: 58 unit Way Station: 133 unit Pusat Kendali: 6 unit Base Station: 45 unit Fiber Optik: 629 unit Telekomunikasi di stasiun: 98 unit Telekomunikasi luar stasiun: 42 unit Telekomunikasi di JPL: 118 unit Persebaran Wilayah Resor Sintel Daop 1 Jakarta Guna mendukung perawatan dan pemeliharaan yang optimal, wilayah kerja Sintel Daop 1 Jakarta terbagi ke dalam 24 Resor dan Unit Pendukung Teknis (UPT), yaitu: 1. Resor STL 1.1 Merak 2. Resor STL 1.2 Serang 3. Resor STL 1.3 Rangkasbitung 4. Resor STL 1.4 Tigaraksa 5. Resor STL 1.5 Serpong 6. Resor STL 1.6 Tanah Abang 7. Resor STL 1.7 Tangerang 8. Resor STL 1.8 Duri 9. Resor STL 1.9 Manggarai 10. Resor STL 1.10 Jakarta Kota 11. Resor STL 1.11 Tanjung Priok 12. Resor STL 1.12 Pasar Senen 13. Resor STL 1.13 Jatinegara

Sektor Kelapa Sawit 'Tulang Punggung' Penerimaan Pajak di Riau Riau
Riau
Jumat, 21 Juli 2023 | 17:20 WIB

Sektor Kelapa Sawit 'Tulang Punggung' Penerimaan Pajak di Riau

Pekanbaru, katakabar.com - Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Provinsi Riau, Ahmad Djamhari menjelaskan, sektor kelapa sawit telah menjadi tulang punggung penerimaan pajak di Provinsi Riau. Dari data semester I tahun 2023, kontribusi dari Wajib Pajak (WP) yang bergerak di sektor sawit mencapai 42,7 persen dari total penerimaan pajak. "Menariknya, pada kategori Pajak Pertambahan Nilai (PPn), WP sawit sumbang 40 persen dari total kontribusi menjadikannya sektor terbesar sokong pendapatan pajak di Riau. Ini menunjukkan betapa pentingnya sektor sawit bagi penerimaan pajak di wilayah Provinsi Riau," ulasnya pada Jumat (21/7) dilansir dari laman media center Riau. Data DJP Riau menunjukkan, penerimaan pajak di daerah tersebut periode Januari hingga Juni 2023 atau semester I tahun 2023 mencapai Rp10,3 triliun, setara 46,5 persen dari total target penerimaan pajak sepanjang 2023 yang senilai Rp22,13 triliun. Rincian penerimaan pajak, yakni dari Pajak Penghasilan (PPH) menyumbangkan 59 persen dari total penerimaan, atau tumbuh 16,14 persen. Sedang, kontribusi dari pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) mencapai 43,50 persen. Memang kata Ahmad, dampak fluktuasi harga sawit menjadi perhatian bagi pemerintah pusat maupun daerah, termasuk Riau. Harga sawit dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti permintaan pasar global dan perubahan kebijakan perdagangan, dapat berdampak pada perkiraan penerimaan pajak di provinsi Riau. Tapi lanjutnya, pemerintah pusat telah menghitung proyeksi perkiraan harga sawit di tahun ini. Pihaknya tetap menyadari situasi di lapangan bisa saja berubah sehingga proyeksi tersebut tidak 100 persen akurat. Meski menghadapi tantangan dari fluktuasi harga sawit, penerimaan pajak di Riau tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif. Hingga saat ini, penerimaan pajak secara total mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,93 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan upaya pemerintah daerah dalam mengelola keuangan publik secara efisien dan efektif, sehingga capaian penerimaan pajak dapat terjaga dengan baik. "Sektor sawit di Riau mencakup perdagangan dan pengolahan. Perdagangan sawit menjadi bagian penting penyumbang penerimaan pajak. Apalagi Riau salah satu provinsi sangat dipengaruhi fluktuasi harga komoditas tersebut," tuturnya. Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah terus berupaya untuk mengoptimalkan penerimaan pajak dari sektor sawit dan sektor lainnya, serta menjaga stabilitas perekonomian daerah. Harapannya, dengan kerja sama yang baik antara seluruh pihak terkait optimis kontribusi sektor sawit terhadap penerimaan pajak di Riau terus meningkat dan memberikan manfaat bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat ke depan.