Kepulauan Meranti, katakabar.com - Air setinggi lutut orang dewasa masih genangi rumah-rumah warga di Desa Teluk Buntal, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Sudah sepuluh hari banjir itu bertahan, memaksa ratusan keluarga hidup dalam kecemasan, sementara bantuan dan kepastian datang terlambat.

Warga menduga banjir yang kembali berulang ini bukan semata akibat cuaca, melainkan dipicu aktivitas kanal perusahaan yang beroperasi di sekitar desa. Pembukaan pintu-pintu dan secara bersamaan diduga membuat debit air meluap dan mengalir deras ke kawasan permukiman.

Dampaknya tak kecil. Ratusan hektare wilayah desa terendam. Di Dusun Tiga saja, sekitar 150 kepala keluarga terdampak, dengan sedikitnya 50 keluarga terpaksa mengungsi. Ketinggian air berkisar antara 50 hingga 60 sentimeter, merendam rumah, perabot, hingga akses jalan warga.

Kekecewaan masyarakat pun memuncak. Indra Dewana, warga Teluk Buntal, menyuarakan keresahan yang selama ini terpendam. Menurutnya, perusahaan yang disebut-sebut sebagai penyebab banjir baru turun ke lokasi setelah bencana berlangsung lebih dari sepekan.

“Kami sangat kecewa. Setiap tahun mereka tidak pernah berkontribusi untuk Desa Teluk Buntal. Banjir ini sudah 10 hari, baru sekarang mereka datang,” cerita Indra geram.

Ia menilai perusahaan lebih mengutamakan kepentingan operasional dibanding keselamatan warga. Pembukaan seluruh pintu dam, dari wilayah Kekat hingga Teluk Buntal, disebut membuat air melintas melewati sekitar 10 desa. Tetapi, hanya Teluk Buntal yang mengalami dampak paling parah.

“Desa kami seperti jadi korban paling depan. Airnya lewat banyak desa, tapi yang tenggelam parah hanya Teluk Buntal,” jelasnya.

Di tengah tekanan warga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Meranti akhirnya turun ke lapangan.

Kepala Pelaksana BPBD Meranti, Khardafi, menyebut pihaknya telah melakukan identifikasi penyebab banjir serta meninjau sejumlah titik rawan yang diduga berkaitan dengan sistem kanal perusahaan.
BPBD juga telah memberikan patokan dan rekomendasi kepada pihak perusahaan agar segera mengambil langkah konkret untuk mencegah banjir berulang. Tetapi bagi warga, rekomendasi saja belum cukup.

Masyarakat Teluk Buntal berharap perusahaan tidak hanya hadir setelah bencana berlangsung berhari-hari dan sorotan publik menguat.

Mereka menuntut tanggung jawab nyata, komitmen jangka panjang, serta solusi permanen agar desa mereka tidak terus menjadi langganan banjir setiap tahun.

Bagi warga, air yang merendam rumah bukan sekadar genangan. Ia adalah simbol dari ketimpangan tanggung jawab antara masyarakat yang menanggung dampak, dan perusahaan yang dinilai terlambat bertindak.