Arga Makmur, katakabar.com - Harga tanda buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Bengkulu Utara (BU), Provinsi Bengkulu sempat sentuh Rp3000 per kilogram, tapi belakangan ini di tingkat pabrik terus turun. Selain dipengaruhi kondisi harga minyak sawit mentah atau crude palm oil CPO) di pasar global, rupanya penurunan harga TBS  disebabkan ulah sebagian petani sawit setempat.

Harga TBS di tingkat pabrik kelapa sawit (PKS) di BU saat ini berkisar Rp2.610 hingga Rp 2.900 per kilogram. Penurunan harga terjadi setiap hari sejak pergantian tahun, besarnya mulai dari Rp20 hingga Rp50 per kilogram.

Kalau dibandingkan dengan harga resmi yang ditetapkan Dinas TPHP Provinsi Bengkulu, harga TBS sawit di lapangan terpaut cukup jauh. Soalnya, untuk periode Januari 2025 ini harga penetapan untuk TBS sawit produksi petani bermitra di Bengkulu mencapai Rp3.769 per kilogram.

Menyikapi kondisi ini, Kabid Bina Usaha Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten BU, Safarudin mengatakan, harga TBS produksi petani plasma dengan petani swadaya memang dibedakan oleh PKS, diantara penyebabnya kualitas buah.

Dia mengaku dapat informasi dari pihak PKS saat ini banyak TBS yang dijual petani swadaya buah yang belum matang jadi pemicu pabrik merugi karena rendemennya sangat rendah.

"Kami sudah menelusuri penyebab penurunan harga TBS di lapangan. Ternyata banyak TBS dari masyarakat belum matang. CPO yang dihasilkan rendah, makanya PKS membeli murah," terangnya melalui keterangan resmi, dilansir dari laman EMG, Kamis (16/1).

Sebagai pembelajaran kepada petani, ucapnya, pihak Disbun BU telah meminta pengelola PKS agar tidak membeli TBS sawit mentah. Dia yakin, jika semua PKS menolak buah sawit mentah, maka ke depan petani agar lebih sabar menunggu hingga TBS lebih matang sebelum dipanen.

“Bagi PKS sendiri, langkah ini bisa menjaga kualitas CPO yang dihasilkan dari TBS kelapa sawit yang berasal dari petani,” jelasnya.

Kepada para petani, imbau Safarudin, terutama petani mandiri atau swadaya agar melaksanakan budidaya sawit yang baik, termasuk mengikuti standar panen dengan benar, untuk menjaga kualitas hasil panen.

“Panenlah buah yang benar-benar matang sempurna. Kualitas hasil panen ikut menentukan harga TBS sawit,” harapnya.

Untuk itu, Ia mendorong para petani swadaya bergabung dalam kelembagaan seperti kelompok tani dan koperasi agar bisa bermitra dengan PKS. Dengan bermitra, maka petani akan mendapatkan harga TBS lebih tinggi, sama seperti petani plasma yang mendapatkan harga TBS sebesar yang ditetapkan oleh Dinas TPHP Bengkulu.

“Banyak keuntungan lain jika petani bermitra dengan PKS. Misalnya mendapatkan pelatihan teknis budidaya dan cara panen yang baik dan benar. Selain itu, ada jaminan pembelian hasil panen sawit," tandasnya.