Jawa Barat, katakabar.com - Mantan Menteri Perindustrian, Saleh Husin blak-blakan soal hilirisasi kelapa sawit. Menurutnya, hilirisasi industri kelapa sawit elemen integral dari upaya pengembangan industri yang dianggap sebagai kunci utama dalam meningkatkan perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Jadi dengan menggerakkan nilai tambah di sepanjang rantai pasok, mulai dari produksi hingga pengolahan dan pemasaran produk kelapa sawit, Indonesia dapat memanfaatkan potensi besar dari sumber daya alam untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, dan memperluas pangsa pasar di tingkat global.

"Mau tak mau hilirisasi harus dilakukan," ujar Saleh Husin di sidang promosi doktor di Makara Art Center UI Depok, Jawa Barat, pada Sabtu kemarin, dilansir dari laman sinarharapan, pada Ahad (25/2).

Kata Saleh, hilirisasi industri kelapa sawit bagian dari pengembangan industri yang menjadi kunci peningkatan perekonomian nasional dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

"Hilirisasi memerlukan investasi yang besar, produksi yang efisien dan pengaturan ekspor yang optimal," jelasnya.

Simulasi yang dilakukan Disertasi ini menunjukkan, terangnya, apabila penurunan ekspor produk hulu sebesar 5 persen dan ekspor produk hilir meningkat 15 persen, maka diperkirakan devisa Indonesia akan meningkat sebesar 7 miliar dolar AS per tahunnya.

"Sehingga Produk Domestik Bruto yang merupakan indikator pertumbuhan ekonomi juga akan meningkat. Hilirisasi menjadi produk-produk jadi langsung pakai oleh konsumen seperti kosmetika dan sabun paling mungkin menggunakan minyak kelapa sawit," tuturnya.

Dijelaskannya, minyak sawit produk yang sulit tergantikan oleh minyak nabati lainnya. Karakteristik minyak kelapa sawit paling mudah untuk dijadikan produk-produk turunan.

"Luas lahan yang diperlukan paling kecil sehingga biaya produksi minyak kelapa sawit paling rendah dibandingkan dengan minyak nabati lainnya," bebernya.

Hilirisasi, sambungya, dapat memperbaiki produktivitas dari petani sawit swadaya. Petani swadaya menguasai 42 persen lahan sawit di Indonesia. Namun produksinya masih sangat rendah, yakni 2 hingga 3 ton per hektare per tahun.

"Jadi masih sangat jauh dibandingkan dengan perkebunan besar yang dimiliki oleh perusahaan kelapa sawit yang memproduksi 5 hingga7 ton per hektare per tahun," ulasnya.

Masih Saleh, kebutuhan minyak kelapa sawit untuk memproduksi produk-produk hilir di dalam negeri membuat harga kelapa sawit yang memenuhi standar meningkat. Hilirisasi memaksa petani untuk memproduksi kelapa sawit yang standard dengan produktivitas yang lebih tinggi.

"Hilirisasi memperkuat posisi Indonesia sebagai penjual sawit terbesar di dunia, dengan memperlemah posisi pembeli minyak sawit yang selama ini mendominasi perdagangan sawit internasional," imbuhnya.

Untuk itu, hilirisasi memungkinkan Indonesia untuk memperkecil ekspor ke negara-negara pedagang kelapa sawit, dengan tidak mengurangi produksi nasional, sebutnya.