Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menggulirkan program riset atau penelitian dan pengembangan (litbang) perkebunan kelapa sawit dari aspek hulu hingga hilir sebagai salah satu upaya untuk melakukan penguatan, pengembangan dan peningkatan pemberdayaan perkebunan dan industri kelapa sawit nasional.

“Semakin banyak hasil penelitian yang dihasilkan berdampak positif terhadap produk kelapa sawit Indonesia, bagi petani, dan bagi pasar global,” ujar anggota Komite Litbang BPDPKS, Dr Tony Liwang.

Menurut Tony sapaan akrabnya, dari sebuah riset kelapa sawit diharapkan adanya produk baru.

"Kebanyakan orang hanya mengetahui produk sawit adalah minyak goreng. Padahal banyak produk terbuat dari bahan sawit, seperti sabun, shampo, bahkan helm sepeda motor terbuat dari serat sawit," ulasnya.

Diceritakannya, hampir semua bagian dari pohon sawit dapat menghasilkan berbagai produk hilir. Bahkan nilai tambahnya lebih banyak dari minyak sawit mentah (CPO). Cangkang sawit misalnya banyak diekspor ke Jepang yang dapat menghasilkan filter air.

Selain riset yang outputnya berupa inovasi produk dan teknologi, BPDPKS mendukung riset dari fokus bidang lainnya, seperti model bisnis, model kelembagaan, rekomendasi kebijakan, dan sebuah sistem pengambilan keputusan dalam manajemen perkebunan kelapa sawit, jelasnya.

Masih Tony, program Litbang sudah digulirkan dari tahun 2015 hingga tahun 2022, BPDPKS telah mendanai 279 riset yang melibatkan 950 peneliti di 78 lembaga litbang di Indonesia. Di mana total dana yang telah disalurkan mencapai Rp501,2 miliar.

Di tahun 2023 ini BPDPKS lebih selektif dalam pendanaan riset sawit dengan prioritas riset-riset yang berpotensi untuk mencapai komersialisasi dan dapat dimanfaatkan oleh industri.

Soalnya banyak proposal yang masuk ke BPDPKS, topik dan judulnya hampir sama, seperti masalah ganoderma, tandasnya.