Jambi, katakabar.com - Keputusan Menteri Pertanian RI tentang penetapan luas tutupan kelapa sawit Indonesia pada 2019 menunjukkan luas lahan kelapa sawit di Provinsi Jambi mencapai 1.134.640 hektar.

Rincian penguasaannya, perusahaan BUMN mengelola kebun kelapa sawit seluas 23.057 hektar, perusahaan besar swasta seluas 518.869 hektar, dan kelapa sawit milik rakyat dengan luas 592.714 hektar.

Sekilas pandang, data itu mencerminkan betap besarnya kontribusi sektor kelapa untuk perekonomian Provinsi Jambi. Tapi nyatanya, kawasan perkebunan sawit justru menjadi kantong kemiskinan ekstrem.

Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, Sudirman menjelaskan, tercatat total 42.411 ribu masyarakat miskin ekstrem umumnya buruh perkebunan kelapa sawit di Provinsi Jambi.

"Masyarakat tersebar di 11 kabupaten dan kota. Kita selama mendorong sektor perkebunan sawit. Ternyata setelah didalami, banyak para buruh yang bekerja mendodos tapi tak punya lahan sawit," ujarnya dilansir dari laman elaeis.co, pada Selasa (5/9).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi bakal melakukan pembinaan dan memberikan modal kerja dan bantuan peralatan untuk mengangkat taraf hidup buruh kebun kelapa sawit.

"Harus ditolong, sebab pada 2024 mereka harus bisa keluar dari zona kemiskinan ekstrem di Provinsi Jambi," janjinya.

"Buruh perkebunan ini yang belum disentuh, mereka yang sesungguhnya harus bisa ditingkatkan kualitasnya untuk peningkatan produktivitas. Pemilik kebun selama ini yang dilatih, kini giliran buruh kelapa sawit,” terangnya.

Untuk itu, kepada para pekerja perkebunan kelapa sawit bentuk asosiasi tempat berkumpul, seperti koperasi. Soalnya, bantuan pemerintah tidak ke perorangan, tapi kelompok, bebernya.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Agusrizal menimpali, pihaknya telah merancang program Dua Miliar Satu Kecamatan (DUMISAKE) untuk meningkatkan kesejahteraan buruh perkebunan di Provinsi Jambi.

Dana dialokasikan untuk menyediakan sarana dan prasarana bagi penduduk miskin ekstrem yang biasa bekerja atau menjadi buruh lepas di kebun sawit, pinang, dan kebun kelapa.

“Kita bantu peralatan dan mesin. Ada kendaraan roda tiga, gerobak sorong, alat panen manual dan elektrik, mesin rumput, sprayer elektrik, dan sinso ukuran kecil,” ulasnya.

Kepada penerima bantuan kata Agusrizal, bentuk kelompok beranggotan sekitar 20 orang. Nanti diverifikasi untuk memastikan mereka benar warga miskin ekstrem yang jadi buruh harian lepas di kebun.

"Tahun ini bantuan dialokasikan untuk 21 kelompok pekerja di kebun kelapa sawit, 2 kelompok pekerja kebun pinang, dan 2 kelompok pekerja kebun kelapa," tandasnya.