Limapuluh Kota, katakabar.com - Petani kebun, Ilham 48 tahun sudah puluhan tahun lamanya memelihara tanaman karet, hingga akhirnya terhenti di titik nadir pada satu kesimpulan, saatnya beralih ke komoditas di luar karet.
"Semakin lama tambah semakin tidak ada harapan," ujar petani di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat itu. "Saya sudah 'frustasi' dengan tanaman karet," ujarnya menghela nafas.
Harga jual Rp6.000 per kilogram di tingkat pengumpul, bikin Ilham praktis tidak bisa berharap banyak dari tanaman karet yang dimilikinya. Jangankan berlebih, hasil deresan karetnya tak pernah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarganya.
Setiap hari, kebun karetnya hanya menghasilkan getah karet 10 kilogram. "Kalau cuaca mendukung, berarti setiap hari kebun karet hanya mendatangkan penghasilan Rp60 ribu," ulasnya seperti dilansir dari laman elaeis.co, padabSenin (26/6).
"Bisa apa dengan uang sebanyak itu untuk menghidupi keluarga dengan sejumlah anak?" tanyanya. Apalagi, di antara sejumlah anaknya ada yang sedang menuntut ilmu di bangku sekolah menengah.
Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, banyak kegiatan yang dilakukan Ilham, diantaranya mengolah sawah. Tidak cuma itu, setiap menderes karet ia melakukan pekerjaan apa saja yang bisa menghasilkan uang.
Parahnya lagi, getah karet tidak mungkin dideres setiap hari. Bila musim kemarau misalnya, cara menderes karet harinya diselang-selingi agar batang karet tetap menghasilkan getah.
Di musim penghujan, praktis batang karet tidak bisa dideres. Kalau tetap dideres bisa berakibat fatal bagi batang tanaman, ceritanya.
Di tengah banyak keterbatasan tanaman karet sebagai sumber ekonomi cerita Ilham, sering dihadapkan dengan realitas lain, yakni harga yang sangat jarang berada pada tingkat yang menguntungkan petani.
"Untuk kondisi sekarang, harga ideal karet setidaknya Rp15.000 per kilogran," beber Ilham. Harga sebanyak itu, belum terlalu menguntungkan petani. Paling hanya untuk sekadar pemenuhan dasar,' katanya polos.
Tapi faktanya, harga karet sangat jarang melampaui angka Rp10.000 per kilogran. Paling sering di atas Rp5.000 per kiligram, seperti belakangan ini harga jual cuma Rp6.000 per kilogran," jelasnya.
Ilham mencatat, karet alam pernah mencapai tingkat harga tertinggi, yakni Rp22.000 per kilogram. "Kalau tidak salah di zaman Presiden Pak SBY," kenang Ilham.
Bapak empat anak ini mengaku sudah lama menginginkan komoditas di kebunnya diganti dengan tanaman lain, sawit misalnya. Tapi terbentur modal, investor pun sejauh ini belum ada yang tertarik.
Ia mencontohkan masyarakat di provinsi tetangga, Riau perekonomiannya banyak terdongkrak oleh tanaman sawit.
Kalau di sana sawit bisa tumbuh dengan baik. Lantas, apa kurangnya daerah kita? Imbuhnya.
Frustasi Dengan Karet, Pak Tani Ini Mau Beralih Tanam Sawit Terbentur Modal
Diskusi pembaca untuk berita ini