Ujungbatu, katakabar.com -Tak terasa, sudah 9 tahun Teddy Mirza Dal menjadi orang nomor satu di Partai Nasional Demokrat (NasDem) Rokan Hulu (Rohul), Riau. Ini persis sejak organisasi besutan Surya Paloh ini resmi jadi partai.
Sebagai partai baru saat itu, tak mudah bagi mantan Ketua DPRD Rohul ini untuk meyakinkan orang banyak kalau NasDem adalah partai harapan, partai pembaharuan, partai restorasi.
Maklum, saat itu, selain partai mapan begitu banyak, orang-orang juga sudah mulai banyak yang ogah berpartai.
Tapi itulah Teddy, optimis, berjiwa petarung dan paham soal bagaimana mengambil, memelihara hubungan dengan masyarakat, telah membikin partai ini mendapat tempat.
Buktinya di 2014, kali pertama NasDem ikut Pemilihan Umum (Pemilu), NasDem Rohul langsung bisa menghadirkan Fraksi NasDem di DPRD Rohul. Fraksi itu dihuni oleh 4 orang legislator.
Perolehan itu tentu umpama durian runtuh bagi ayah 4 anak ini. Tapi dalam sekejap, euforia keberhasilan itu meredup, bertukar dengan pemikiran untuk gimana menjaga kepercayaan masyarakat. Sebab Teddy tahu, dapat kursi sebanyak itu tak lain lantaran masyarakat percaya. Kalau enggak...
Alhasil, saban ketemu atau lewat WhatsApp Group, dia selalu bilang kepada semua pengurus, untuk terus menjaga kepercayaan kader dan simpatisan. Lakukan apa yang bisa dilakukan demi orang banyak.
"Jangan bikin mereka kecewa. Kalau kita belum bisa meningkatkan dan menambah jumlah orang untuk percaya, minimal, pertahankan apa yang sudah ada" begitulah pesan Teddy.
Pesan itu rupanya bukan isapan jempol, di Pemilu 2019, NasDem masih bisa bertahan pada jumlah perolehan Pemilu sebelumnya.
"Artinya, masyarakat masih tetap menaruh kepercayaan kepada kami, ini yang harus selalu kami jaga," cerita Teddy kepada katakabar.com tadi pagi.
Lelaki ini mengaku sedang dalam perjalanan menuju Indragiri Hulu (Inhu) untuk menghadiri peringatan HUT NasDem ke-9. Kebetulan untuk Riau, HUT NasDem dipusatkan di 'Negeri Para Raja" itu.
Dua kali sukses mendulang suara di dua Pemilu, pada 2015, NasDem juga berhasil mengantar Suparman-Sukiman jadi pasangan kepala daerah. Waktu itu NasDem berkolaborasi dengan Golkar dan Gerindra.
"Nah, tahun ini kita kembali mengusung calon bupati. Kali ini Sukiman-Indra Gunawan. Partai pengusungnya 2x lipat dari Pilkada lalu. Ada NasDem, Gerindra, Demokrat, PDIP, PKS dan Hanura," rinci Teddy.
Dengan jumlah partai yang lebih gemuk kayak sekarang kata Teddy, enggak ada sebenarnya alasan pasangan yang diusung, kalah.
"Di hitung dari jumlah kursi di DPRD saja, jumlah kursi partai pengusung sudah lebih separoh. Ini berarti jumlah konstituennya lebih banyak," katanya.
Hanya saja, yang namanya politik kata Teddy, selalu dinamis. Jika hubungan tidak terpelihara, bisa saja yang ada akan berkurang.
"Di sinilah kesolidan kita kembali diuji. Bukan hanya untuk mengambil simpati pemilih demi memenangkan Sukiman-Indra, tapi juga meyakinkan mereka kalau mereka tidak salah pilih. Bahwa mereka kelak akan menikmati hasil kemenangan Sukiman dan Indra itu ," kata Teddy.
Untuk yang semacam ini kata Teddy, sebagai pimpinan partai di NasDem, dia yang paling terbebani. Sebab pemimpin adalah mesin sosialiasi pasangan yang diusung dan setelah sukses mengusung.
"Artinya, kalau pasangan yang diusung menang, otomatis tanggungjawab kita menggiring pasangan itu untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat," katanya.
Ini Capaian NasDem Rohul Setelah 9 Tahun
Diskusi pembaca untuk berita ini