Semarang, katakabar.com - Elaeis Media Group atau EMG buktikan #SawitBaik, gandeng kaum hawa atau ibu-ibu dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau UMKM Semarang untuk belajar olah sawit jadi bolu, keripik, hingga produk kreatif bernilai jual tinggi.

Sawit tidak hanya minyak goreng, tapi juga peluang bisnis bernilai tinggi bagi UMKM dan ibu-ibu kreatif. Elaeis Media Group atau EMG buktikan ini lewat workshop olahan sawit, menunjukkan bagaimana bahan baku lokal bisa diolah menjadi produk inovatif dan menguntungkan.

CEO EMG, Abdul Azis memaparkan, pemahaman terhadap bahan baku sawit jadi kunci keberhasilan.

“Kalau orang Sumatera bisa bikin dua jenis produk, ibu-ibu di Jawa bisa bikin sepuluh. Kreativitas itu akan berkembang, asal kita paham dulu produknya,” ulas Abdul Azis saat membuka workshop di Semarang.

Cerita Abdul Azis, pengolahan sawit yang tepat bisa meningkatkan nilai jual. Satu hektare perkebunan sawit bisa menghasilkan lima ton per bulan. Dengan harga sawit sekitar Rp3 ribu per kilogram, petani bisa meraih Rp15 juta per bulan. Jika diolah menjadi produk turunan, potensi keuntungan bisa lebih tinggi lagi.

“Paling penting adalah pengelolaan yang benar. Sawit bisa menjadi sumber penghasilan tambahan yang stabil bagi UMKM,” imbuhnya.

Lantaran itu, Workshop  Produksi Pangan Berbahan Dasar Sawit di Hotel Quest Simpang Lima, Semarang, mulai Selasa (12/8) hingga Rabu (13/8) sasarannya ibu-ibu dan pelaku UKMK yang serius ingin mengembangkan produk olahan sawit.

Workshop EMG memperkenalkan beragam produk olahan sawit, mulai dari bolu, keripik, hingga kue kering. Peserta diajak untuk berkreasi, menciptakan variasi baru yang bisa dipasarkan.

“Produk sawit itu luar biasa. Dengan kreativitas dan pemahaman yang tepat, UKMK bisa mengolah sawit menjadi bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan,” ucapnya Azis sapaan akrab CEO EMG ini.

Workshop ini bertujuan mendorong minimal 30 persen peserta serius mengembangkan usaha, sehingga cerita workshop tidak berhenti di ruang kelas, tapi berlanjut hingga produk siap dipasarkan.

“Utamanya bukan hanya cerita workshop. Kami ingin hasilnya nyata, yakni UKMK mampu memproduksi, memasarkan, dan mendapatkan keuntungan dari olahan sawit,” tegasnya.

Selain peluang bisnis, terang Azis, EMG juga memberikan edukasi soal nutrisi dan menyisipkan kampanye #SawitBaik untuk menangkal black campaign.

Salah satunya fakta dan mitos tentang sawit yang berbahaya bagi kesehatan karena memiliki lemak jenuh, tapi penelitian menunjukkan lemak ini tidak berbahaya jika diolah dengan tepat.

“Lemak jenuh di sawit tidak menyebabkan kolesterol berlebihan atau penyakit jantung, selama pengolahannya benar. Ini penting supaya UKMK paham dan percaya diri membuat produk,” bebernya.

Teknologi pengolahan sawit, terang Azis, menjaga kandungan vitamin A dan E, sehingga produk olahan tidak hanya lezat tapi juga bernutrisi. Teknologi terbaru memungkinkan vitamin tetap terjaga dan mengurangi emisi karbon. Menurutnya, satu hektare sawit mampu menyerap 64,5 ton emisi karbon, menunjukkan peran sawit dalam mitigasi perubahan iklim.

Dengan pendekatan edukasi, praktik langsung, dan inovasi teknologi, EMG membuktikan bahwa #SawitBaik bukan sekadar kampanye, tapi peluang nyata bagi UMKM. Sawit bisa diolah menjadi produk bernilai tambah, bernutrisi, dan ramah lingkungan.