Jakarta, katakabar.com - Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, fluktuasi harga komoditas global saat ini terkoreksi cukup dalam per November 2023, bila dibandingkan pada 2022 lalu.

Kementerian Keuangan mencatat, harga komoditas global mengalami fluktuasi dipicu geopolitik dan faktor cuaca yang buruk.

Menkeu RI merinci, seperti harga minyak mentah global jenis brent mengalami kontraksi 5,9 persen (year to date/ytd). 

“Harga minyak ini terkoreksi hampir 6 persen, sempat meningkat (di level US$ 80,85 per barel) tapi melemah kembali,” ujarnya saat Konferensi Pers APBN KITA, dua hari lalu, dilansir dari laman kontan.co.id, pada Ahad (26/11).

Dari catatan Menkeu RI, harga natural gas harganya mengalami kontraksi 30,8 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Harga batubara pun mengalami kontraksi 69,7 persen ytd. Harga batubara ini termasuk salah satu yang mempengaruhi perekonomian domestik.

Untuk minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO), kata Sri, mengalami penurunan harga 10,1 persen ytd, dan gandum demikian mengalami penurunan harga 29 persen ytd.

“Berbagai komoditas pangan lain, yakni wheat, soybean dan rice semuanya juga mengalami penurunan. Meski untuk rice, kita lihat cukup tinggi naiknya 2 bulan terakhir. Hal ini dipengaruhi El nino dan dan mempengaruhi inflasi di berbagai negara. Termasuk Indonesia jadi faktor kenaikan inflasi yang perlu diwaspadai,” bebernya.

Harga komoditas wheat atau gandum mengalami kontraksi 29 persen ytd, soybean atau kedelai mengalami kontraksi 3,4 perse  ytd, dan beras mengalami kontraksi 3,2 persen ytd, tambahnya.